
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela, menyadarkan Lucia dari tidurnya.
Dia merasa ada yang aneh. Tubuhnya terasa lelah. Seketika, Lucia bangkit lalu mengedarkan pandangan.
“Ini ...!” Lucia melebarkan mata lalu menyentuh tubuh sendiri.
“Jangan-jangan?”
Lucia berusaha mengingat kejadian semalam. Tidak bisa dijangkau.
“Apa yang terjadi?”
Lucia tahu, sesuatu yang tidak dinginkan sudah dibuat oleh Diego. Apalagi ini kamar lelaki itu.
Bangun dalam keadaan telanjang dan lelah. “Ah ... kenapa aku sebodoh ini?” Lucia memukul kepalanya dengan tangan.
Sekarang dia tidak bisa keluar dalam keadaan tel4njang. Jam dinding di kamar Diego menunjuk pukul 10. Diego pasti sudah pergi.
Lucia berjalan menuju kamar mandi lalu membersihkan diri di sana. Gaun yang dipakai semalam terletak di lantai kamar mandi. Masih basah dan tidak mungkin dipakai lagi.
Selesai membersihkan diri, Lucia terpaksa memeriksa lemari pakaian Diego. Ketika dibuka, wanita itu kagum.
Pasalnya, yang dibuka itu bukan lemari pakaian biasa. Ini terlihat seperti toko pakaian dan aksesoris khusus pria.
“Gak nyangka, Diego punya persediaan pakaian sebanyak ini,” gumamnya.
Setelah berputar, tidak ada satu pun pakaian yang bisa dikenakan. Lucia terpaksa mengambil salah satu kameja putih Diego lalu mengenakannya. Cukup panjang hingga menutup sampai bagian lututnya.
“Aku tidak mungkin keluar dengan penampilan seperti ini,”
Lucia memperhatikan penampilannya di cermin.
Sedangkan dari kejauhan, Diego tersenyum sinis melihat Lucia yang bertingkah seperti orang bodoh.
“Tuan mengawasinya?” tanya Arsyan ketika masuk ke ruangan Direktur.
Diego hanya melirik tanpa jawaban. Lalu kembali fokus pada laptop yang masih menayangkan rekaman CCTV.
“Menjauh dariku!” menatap marah pada Arsyan.
“Anda harus menandatangani surat ini tuan,”
“Simpan saja di situ tanpa harus ikut melihat laptopku!”
Arsyan memperbaiki kacamata lalu berdehem. “Saya tidak bermaksud tuan,”
“Pergi!”
“Pergi ke mana tuan?” Arsyan melongo. Jika di kantor, ruangannya sama dengan Diego. Karena tugasnya adalah selalu berada di dekat sang Direktur utama.
“Ke mana saja. Aku ingin melihat aktivitas Lucia.”
“Tunggu!” Diego menghentikan Arsyan saat ingin membuka pintu.
“Ada apa tuan?”
“Urus pernikahanku segera. Minggu depan, aku dan Lucia harus berdiri di depan altar!”
“Secepat ini tuan?”
“Jangan bertanya lagi.” Menatap tajam asistennya.
Arsyan menelan ludah lalu berpamitan pergi. Semua memang akan berjalan lancar jika ada uang.
Setelah asistennya pergi, Diego sibuk memperhatikan Lucia tanpa peduli dengan berkas tadi.
***
Johan dan Bram diam tanpa ekspresi saat Arsyan mengatakan keinginan Diego.
“Aku pikir kakak tidak akan mau menikahinya,”
“Ya ... apa mungkin Tuan Diego jatuh cinta pada Lucia?” Johan menatap Arsyan.
“Entah!” jawab Arsyan bimbang.
“Ya sudah. Sekarang kita harus bisa mengurus surat dan mengatur jadwal untuk kursus kilatnya. 1 minggu bukan waktu yang lama.” Bram berdiri lalu mengajak Arsyan untuk pergi.
“Lalu apa tugasku?” Johan seperti ingin ikut.
“Jaga rumah dan tetap awasi Lucia. Dia masih sakit!” Arsyan menunjuk jendela kamar Diego.
“Tapi tuan Diego melarangku untuk dekat dengan Lucia.”
Bram dan Arsyan berhenti lalu berbalik. “Sungguh?”
Johan bungkam. Matanya membulat. Padahal Diego mengancamnya untuk mengatakan hal itu.
“Kakak melarang paman untuk ...,”
“Tidak salah lagi!” Arsyan mengusap wajah.
“Ayo paman. Mungkin lebih baik kita urus segera pernikahan ini!”
Johan masih meragukan perihal perasaan Diego terhadap Lucia. Selama ini mereka tahu, Diego tidak mau menikah dan hidup dengan wanita.
“Kalau memang benar. Maka Lucia adalah wanita hebat!”