
Kerja seharian membuat Lucia sangat lelah. Wanita itu berbaring sambil mengusap perutnya yang mulai membesar. Usia janinnya kini memasuki 4 bulan.
Meski raga lelah, tapi hatinya tetap bahagia. Ada semangat yang terus bertambah seiring bertambah usia janinnya. Lucia berjanji akan menjadi sosok ibu terbaik, meski mungkin tidak mampu memberikan segalanya.
Sebelum tidur, wanita itu masih memuji sang Pencipta melalui doa singkat. Hatinya merasa tenang jika mengadukan segala keluh kesahnya pada Tuhan.
Saat akan menutup mata untuk peristirahatan malam ini, terdengar pintu diketuk kasar. Lucia bangun lalu merapikan rambut dan hendak membuka pintu, dia tahu itu pasti Dewi.
Ternyata dia terlambat. Salimah sudah lebih dulu membuka pintu. Namun, terdengar olehnya suara pria yang tidak asing.
“Di mana Lucia?” Bram membawa masuk Dewi.
Salimah kaget lalu memeluk erat anaknya. “Apaan sih ibu?” Dewi mendorong Salimah di hadapan Bram dan dua pengawalnya.
“Apa kau tidak bisa bersikap lembut pada ibumu?” Bram tidak suka jika ada anak yang bersikap kasar pada orang tua.
Dewi menatap ibunya kesal lalu masuk ke kamar.
Lucia kaget saat Dewi masuk dengan wajah cemberut.
“Ternyata kamu berasal dari keluarga kaya. Kenapa datang ke sini lalu membuat aku yang kesusahan?”
Beberapa hari belakangan, Dewi dikurung di rumah Diego sebagai jaminan kalau Salimah mau melakukan perintah Bram. Meski demikian, tidak ada yang menyiksa Dewi. Dia bahkan diberi kamar yang mewah serta makanan yang cukup.
Gadis itu hanya tidak bisa menerima kalau Lucia berasal dari kalangan atas. Sejak awal kedatangan Lucia, dia benci wanita itu tanpa alasan.
“Maaf, aku tidak mengerti maksudmu,” Lucia menatap bingung Dewi.
“Kami jadikan dia jaminan, untuk mengawasimu!” Bram masuk dengan wajah datar.
“Bukankah urusan kita sudah selesai?”
Bram tertawa sinis. “Aku pikir urusan kita kali ini jauh lebih panjang!”
“Pengawal!” Bram melirik kedua lelaki bertubuh atletik itu.
Lucia menggeleng sambil berusaha menghindar. “Tidak!”
Dalam situasi seperti ini, harusnya dia menangis. Bukan karena diculik, tapi pengkhianatan yang dilakukan Salimah. Lucia berusaha menahan air mata kecewa itu.
“Nak ... maafkan ibu,” ucap Salimah lirih sebelum Lucia dibawa pergi.
Wanita itu hanya menelan ludah tanpa menoleh sedikit pun pada ibu angkatnya. Pelupuk matanya telah penuh oleh air yang siap meluncur bebas.
Bram tersenyum puas pada Salimah. “Terima kasih sudah mau bekerja sama. Aku akan memberimu uang yang banyak!”
“Terima kasih Bu,” ucap Lucia seketika.
Demi menutupi kekecewaan itu dia berusaha menatap wajah Salimah. Terlihat jelas di mata itu, dia sangat terluka.
“Aku punya sejumlah uang yang tidak dipakai. Itu pemberian anak buah Diego. Kalian bisa memakainya,” Lucia tersenyum kecut. Tak disangka, orang sebaik Salimah tega berkhianat hanya demi uang.
Salimah tertunduk lalu menangis. Sulit untuk menjelaskan semua ini. Lucia terlanjur benci padanya.
“Sudahi drama ini Lucia. Mari kita pulang, kak Diego sudah merindukanmu!” Bram tersenyum sinis lalu berjalan lebih dulu menuju mobil.
Tidak ada perlawanan sama sekali. Lucia tahu, sampai kapan pun dia akan dihantui Diego. Tidak akan ada satu pun yang bisa melindunginya dari kejahatan Diego.
Malam ini, Bram cukup puas melihat kelemahan di mata Lucia.
“Aku pikir kau akan melawan seperti biasanya,” ejek Bram ketika mereka masuk ke dalam mobil.
Lucia membuang wajah. Menatap langit malam yang cerah tanpa bulan. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut Lucia. Untuk kali ini dia tidak ingin tahu penyebab dirinya ditangkap lagi.
“Lakukan sesukamu. Bukankah aku ini sampah di mata kalian?” suara Lucia terdengar lembut tapi cukup menggigit.
Bram menatap Lucia. Dia sendiri tidak mau membuat Lucia menderita lagi, lantaran sedang mengandung keponakannya.
Tidak ada lagi perbincangan di antara mereka sampai tiba di istana indah tapi dihuni para 1blis. Begitulah sebutan Lucia.
Bahkan kedatangan Lucia pun ditunggu oleh Diego. Lelaki itu tersenyum lebar melihat Lucia tiba dalam keadaan baik-baik.
“Selamat datang mempelaiku,” sambut Diego hangat.
Lucia tidak menunjukkan wajah kaget. Dia hanya diam dan bersikap dingin.
“Bawa dia ke kamarnya. Mempelaiku harus mengingat kejadian indah antara kami waktu itu.”
Diego memperhatikan langkah Lucia yang digiring para pelayan wanita.
“Apa kakak sudah mendapatkan info terbaru?” selidik Bram.
Diego tersenyum. “Kita tidak perlu menunggu hasil tes DNA itu lagi. Sekarang aku tahu, Lucia adalah anak France!”
“Bagaimana bisa?”
“Panjang ceritanya. Aku sendiri yang mencari tahu semuanya. Sekarang, orang tua angkat Lucia sedang dalam perjalanan ke sini,”
“Secepat ini kak?” Bram melebarkan mata kemudian menggeleng sambil bertepuk tangan.
“Ternyata tidak sia-sia kakak membaca buku selama ini,”
Diego hanya melambaikan tangan dan berlalu ke kamar.
“Mau ke mana kak?”
“Tidur. Aku harus menyiapkan tenaga untuk wawancara besok.”
Bram balas melambaikan tangan pada Diego.