
Clara berusaha mengontrol emosi saat mereka memasuki lift. En sendiri tidak menyimpan curiga apa pun.
Ketika masuk ke dalam mobil, Clara pun siap melepaskan segala amarahnya.
“Kamu pasti lihat semua yang aku lakuin selama ini!” selidiknya sambil menatap En dari arah belakang.
En tidak menggubris tuduhan itu. Dia memilih fokus pada kemudi.
“Berhenti!” perintah Clara.
Seolah tidak mendengar, En semakin menambah kecepatan.
Clara membuka sepatu lalu memukul tepat pada tengkuk En.
Mobil direm mendadak. En mengerang kesakitan sambil memegang leher bagian belakangnya.
“Sakit?” Clara melebarkan mata lalu turun dari mobil.
Ternyata dia mengambil posisi duduk di sebelah En.
“Aku benci orang tuli!” ucap Clara sambil melipat kedua tangannya pada dada.
En mencengkeram erat setir mobil seraya menatap benci Clara.
“Bawa aku pada tempat yang aman. Ada banyak yang harus aku tanyakan padamu!”
“Tempat teraman bagimu adalah rumah sakit jiwa!” balas En dingin.
Clara menatap lawan bicaranya tajam. “Jaga ucapanmu, pengawal!”
En tersenyum sinis sambil menggeleng. Lelaki itu kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Clara tidak protes sama sekali. Dia tahu, semakin dilarang, orang ini akan semakin berbuat.
Pilihan terbaiknya adalah diam. Sedangkan En semakin menjadi. Dia menambah kecepatan mobil agar melihat ketakutan di wajah Clara.
Gadis itu melirik En kesal. “Jawab aku, setiap saat kau mengawasiku kan?”
En diam dan tetap fokus pada kemudi. Clara menghela nafas.
“Bahkan saat aku tel4njang, kamu memperhatikan itu, iya kan?”
En menginjak rem secara mendadak. Diliriknya wanita itu sambil menggeleng.
“Ya ... aku lihat semuanya!”
Clara menelan ludah. “Jadi ... kamu lihat dong!” memegang dadanya yang mulai bergemuruh.
“Semuanya!” En menyembunyikan tawa di wajahnya.
Spontan tangan Clara memukul En. Lelaki itu hanya menangkis demi menghindari pukulan tersebut.
“Kamu pikir aku ini wanita apa, hah?!”
“Asal kamu tahu ya, aku masih suci lahir batin. Berani-beraninya kamu manfaatin keadaan!”
“Aku bakalan lapor ke mama dan papa. Liat aja, kamu bakal dipecat!” jerit Clara karena terlalu kesal.
Gadis itu kemudian menyilangkan tangan di dada. Pikirannya mulai menerka yang tidak-tidak.
Clara menatap En sambil mengerutkan dahi. “Jadi kamu senang setelah melihat semua?”
Clara ingin membuka sepatu lagi, tapi En lebih dulu menahannya. “Lepasin tanganku!”
“Ayolah Nona muda. Ini hanya tugasku sebagai pengawal pribadimu.” En berusaha menahan tangan Clara.
“Tapi kamu senang. Buktinya kamu tertawa pas aku tanya kan?”
“Aku bisa jelaskan semuanya. Jadi, ini membuat kamu stress?”
Clara melemah. Gadis itu menatap En, berusaha mencari kebenaran dari matanya.
“Kenapa aku harus percaya sama kamu?”
“Karena aku layak dipercaya. Nona tahu kan, Tuan France tidak mudah percaya pada orang lain. Jika aku mendapatkan hal itu, berarti Nona tidak perlu ragu!”
“Jelaskan sekarang!” Clara melepaskan tangannya dari genggaman En.
Posisi duduk mereka sudah seperti biasa. Untuk tidak mempersulit keadaan, En memutar mobil menuju rumah France.
“Hei ... aku minta penjelasan, kenapa malah putar balik?”
“Karena penjelasannya ada di rumah. Kamu tidak akan percaya jika aku bercerita.”
“Jadi kamu minta aku buat nuntut penjelasan itu dari papa dan mama?”
En menghela nafas sesaat lalu kembali fokus pada jalanan. Semua pertanyaan Clara sama sekali tidak dihiraukan. Gadis itu semakin kesal.
Mobil yang dikendarai En dan Clara pun sampai di rumah France.
“Ikut aku!” ajak En yang turun lebih dulu.
Clara menggeleng kecil. Lelaki itu tidak membuka pintu seperti pengawal lain. Gadis itu menurut saja.
En mengajak Clara menuju ruangan pribadinya yang berada di belakang rumah France.
Sebuah ruangan berukuran 5 x 5 m dengan fasilitas lengkap.
“Dulu ini gudang,” jelas Clara.
En tidak peduli. Baginya ini tempat ternyaman.
“Apa penjelasannya?” Clara menatap tajam En yang justru mendekati meja kerjanya.
“Penjelasannya ada di sini!” ucap En sambil menunjuk laptop.
Clara mendekat. Pada layar laptop, terdapat hasil rekaman CCTV yang terhubung langsung ke kamarnya. Namun, disensor dengan inframerah.
“Aku lihat semua yang kamu lakukan,” jelas En dengan nada mengejek.
Raut wajah Clara berubah canggung. “Baguslah!” jawabnya ketus.
En tersenyum simpul lalu menatap layar laptopnya.
“Sekarang, kita harus periksa ke psikiater,” ujar Clara kemudian berjalan lebih dulu.