NOT ME

NOT ME
KEKHAWATIRAN DIEGO



Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Diego memilih putar balik ke rumah. Moodnya untuk jalan-jalan telah rusak.


Bukan hanya Bram, semua pengawal di rumah kaget dengan kedatangan Diego dan Lucia.


“Bagaimana bisa ini disebut jalan-jalan?” sambut Bram saat Diego turun dari mobil.


“Bawa pel4cur itu kembali ke kamarnya!” ucap Diego yang berlalu tanpa peduli dengan adiknya.


Bram memperhatikan wajah kakaknya. “Jalan-jalan semacam apa yang kurang dari satu jam?” tanya Bram sambil berusaha mengejar langkah Diego.


“Aku muak. Harusnya aku tidak perlu menuruti perkataanmu!”


“Ada apa ini kakak?”


“Berhenti mengikuti aku!” Diego menatap marah pada Bram lalu berjalan menuju kamarnya.


Bram kebingungan. Lelaki itu hanya mengangkat bahu kemudian mencari kesibukan akhir pekan di luar rumah.


Sementara itu, Lucia masih duduk di dalam mobil sambil mencerna cacian Diego tadi.


Mau sekuat apa pun pertahanannya, Lucia tetaplah gadis rapuh. Hatinya akan sakit bila dilontarkan dengan kata-kata begitu. Mungkin, lebih baik dipukul dengan fisik dari pada cacian.


Lucia hanya menghela nafas lalu mengusap air mata dan berjalan keluar.


Udara segara menyambutnya. Ini baru pukul 9 pagi. Lucia memilih mengitari taman yang diperhatikan selama ini dari jendela.


Tidak ada yang bisa menahan langkah Lucia. Diego sendiri yang memerintahkan itu. Diam-diam, dia mengawasi pergerakan Lucia dari CCTV.


“Tetap awasi dia, tanpa harus menahan langkahnya. Biarkan dia menikmati udara di luar ruangan!” begitu perintah Diego.


“Siapa yang Tuan kasihani, anak Anda atau wanita itu?” tanya Johan ketika mereka sedang duduk di ruangan pribadi Diego.


“Tidak ada!” jawabnya datar lalu meneguk kopi hitam.


Johan menyipitkan mata. “Lalu?”


“Aku hanya ingin memberinya sedikit kebebasan. Lagi pula dalam waktu dekat, aku akan menikahinya,”


“Tuan? Apa saya salah dengar?” Johan melebarkan mata.


Diego menggeleng. “Mari kita lihat, seperti apa reaksi France.”


“Oh ... balas dendam,”


“Aku akan membuat Lucia jatuh cinta padaku. Lalu, kita bikin dia dilema. Hahaha ...,”


“Anda seperti tidak ada puasnya membuat wanita itu menderita.”


“Ini belum seberapa dokter Johan. Dia masih harus membayar banyak atas perbuatan Orang tuanya!” sorot mata Diego menunjukkan kebencian yang sangat besar.


“Baiklah tuan. Kapan pernikahannya akan dilaksanakan?”


“Bulan depan. Urus semuanya!”


Johan mengangguk paham lalu menulis perintah itu pada buku catatan kecilnya.


“Ini bukan tugasmu. Katakan pada Arsyan dan Bram!”


“Tentu saja Tuan,” jawab Johan agak gugup.


“Pergi! Aku ingin sendirian.”


Johan berdiri dan sedikit menundukkan kepala kemudian pergi.


Diego kembali fokus pada laptop sambil mengusap dagu, menatap tajam pada sosok Lucia.


Tampak, wanita itu sedang mengelus perut sambil menatap langit yang cerah.


Angin semilir menyentuh rambut hitam panjangnya dan memainkan perlahan. Diego tersenyum menikmati keindahan makhluk Tuhan yang satu ini.


Lucia memejamkan mata perlahan. Udara yang dihirup memberikan kesegaran baginya.


Tiba-tiba, sesuatu terjadi pada perutnya. Lucia merasakan sakit yang luar biasa. Wanita itu menunduk menatap perut.


“Kok sakit? Ini kan belum saatnya,”


Nafasnya mulai memburu. Lucia berusaha bangkit namun terjatuh dan menindih perutnya sendiri, menambah kesakitan tadi, sampai ia pingsan.


Diego yang melihat itu langsung berlari menghampiri Lucia, diikuti oleh beberapa pengawal.


Tubuh yang mungil itu digendong menuju kamarnya.


“Panggil dokter Johan!” titahnya sambil berlari kecil.


Diego takut terjadi sesuatu pada anaknya. Darah segar mengalir dari sel4ngkangan Lucia yang membuatnya kaget.


“Astaga ... ada apa ini?” Diego mendekati Lucia yang telah pucat.


Dokter Johan berlari masuk ke kamar majikannya. Diego tersentak lalu mempersilakan Johan memeriksa Lucia.


“Dia memerlukan perawatan segera, Tuan!”


“Segera siapkan!” desak Johan kemudian menggendong Lucia menuju ruangan perawatan yang ada di rumah itu.


Darah yang masih mengalir itu merembes ke baju dan tubuh Diego.


Lucia kembali sadar saat sakit diperutnya bertambah. Saat itu tubuhnya masih dalam dekapan Diego yang tengah berlari menuju ruang perawatan.


Sekilas terlihat oleh Lucia, ketakutan di wajah Diego. Wanita itu kemudian pingsan lagi karena banyak darah yang telah keluar.


Dengan cekatan dokter Johan dan para perawat mulai memeriksa dan memasang alat medis pada tubuh Lucia.


Diego berdiri di sudut ruangan menyaksikan itu. Melihat Lucia yang terbaring lemah seperti ikut sakit hatinya. Bukan karena dia menyukai gadis itu, tapi perasaan bersalah kembali menghampiri.


“Andai, Papamu tidak membunuh keluargaku, pasti semua akan baik-baik saja,” gumamnya.


“Dia membutuhkan donor darah!” kata Johan pada perawatnya.


Diego memilih pergi dari ruangan itu. Kenangan buruk tentang kematian keluarganya kembali terbayang.


Masih teringat olehnya, saat kepanikan yang terjadi ketika mendengar kabar itu dari Bram. Menangis saja tidak cukup rasanya.


Demi mencari ketenangan, Diego pergi ke salah satu tempat favoritenya. Sebuah Club minuman miliknya yang dikelola oleh Geby.


Di tempat itu ada ruangan yang telah disiapkan hanya untuknya. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin Diego.


Sebelum ke sana, dia telah menghubungi Geby terlebih dahulu untuk menyiapkan beberapa botol minuman kesukaannya.


Club itu biasanya dibuka pukul 7 malam sampai pagi. Namun, kedatangan Diego terlalu cepat. Ini masih jam 11 siang. Bahkan Geby sendiri tidak berada di sana. Tapi, perintah sang tuan tidak bisa ditolak.


Geby telah menyiapkan semua sesuai keinginan Diego. Sehingga majikannya tidak perlu marah.


Orang-orang terdekatnya tahu, Diego akan minum jika sedang merindukan keluarganya yang telah tiada.


Sesampainya di sana, Diego duduk bersandar pada sofa kulit lalu memijat dahi.


“Geby!” panggilnya.


Geby yang berdiri di depan pintu berlari masuk. “Ada apa Tuan?”


“Carikan aku seorang penghibur yang pandai memijat,”


Geby menelan ludah. Sudah hampir 1 tahun, Diego akhirnya meminta itu lagi.


“Baik tuan!”