NOT ME

NOT ME
SIKSAAN BERLANJUT



Ketika hewan-hewan itu mendekat, Lucia berusaha lari. Namun, sayang. Kakinya berhasil digigit. Lalu tangan sebelahnya juga.


Tidak bisa ditahan lagi, dia pun menangis sambil menjerit. Sungguh sakit. Belum sempat menghindar, kini perutnya yang digigit lagi. Seperti daging yang diperebutkan. Gadis itu tidak berdaya.


Beruntung, pengawal tadi masuk dan memanggil peliharaannya. Kedua hewan itu jinak pada lelaki itu. Lucia terisak sambil duduk.


“Baru kali ini, Tuan Diego membiarkan seorang penjahat tetap hidup,” ujarnya lalu membawa kedua anj*ng itu keluar.


“Penjahat?” Lucia mengerutkan dahi.


“Aku dibilang penjahat,” ujarnya berulang kali.


Luka di tubuhnya semakin perih. Sungguh, penderitaan ini lebih menakutkan dari pada kematian. Dia hanya bisa menangis. Bahkan kakinya tidak bisa digerakkan lagi. Bekas gigitan di perutnya pun membuat Lucia tidak mampu bernapas.


Semakin bergerak, darah pun mengalir semakin banyak. Karena tak mampu lagi, gadis itu pingsan.


Dari rekaman CCTV, Diego memperhatikan betapa lemah gadis itu. Dia mengirim pesan singkat untuk seseorang.


\*\*\*


Lucia membuka mata perlahan. Ada yang aneh kali ini. Dia merasa tidur di tempat yang empuk dan ruangan yang bersih. Gadis itu berpikir kalau dia sudah mati.


“Aku nggak boleh mati dulu. Aduh, aku harus bertemu keluargaku,” ucapnya perlahan.


Saat ingin bergerak, perutnya terasa sakit. Lucia meringis dan memegang perut. Dia mengerutkan dahi. Kalau terasa sakit, maka dia belum mati.


“Apa yang terjadi denganku?”


Lucia mengangkat tangannya yang telah diperban. Gadis itu tertawa lega. Dia yakin seseorang telah menyelamatkannya.


Meski sakit, dia berusaha duduk dan ingin tahu di mana dirinya berada. Kamar yang sangat mewah.


“Apa mungkin ini rumah keluargaku?”


Lucia mengedarkan pandangan. Tidak ada siapa pun di sana.


“Hati-hati, Nona!” seru seorang pria, membuat Lucia kaget.


“Saya di mana?”


“Anda aman kok di sini. Tolong berbaring lagi,” ujar lelaki yang berpenampilan seperti dokter.


Lucia menurut. Sebelum berbaring, terlihat bayangannya di cermin. Gadis itu semakin kaget karena tubuhnya sudah bersih.


“Sebentar ya!” ujar lelaki itu dan pergi lagi.


Tiba-tiba, seorang wanita berpakaian pelayan masuk membawa nampan berisi makanan. Lucia tersenyum namun tak dibalas.


“Untukku?” tanya Lucia.


“Lalu menurutmu?” wanita itu sinis dan pergi.


Aroma masakan yang lezat membuat Lucia tidak peduli lagi. Dia bangun dan menikmati.


“Siapa pun orang yang telah menyelamatkanku, tidak akan pernah ku lupakan,”


“Baj*ingan itu!” ucapnya kemudian. Teringat wajah Diego.


“Lihat saja, setelah sembuh, aku akan menyingkirkanmu. Aku akan menjadi kuat dan tak terkalahkan!”


“Jika kau masih ingin hidup, jaga ucapanmu!”


Lucia kaget dan berbalik. Mendadak, seluruh tubuhnya lemas.


“Menurutmu, siapa yang berani masuk ke istanaku?” tanya Diego lalu berdiri di hadapan Lucia.


“Semua orang berani, jika kau adalah orang baik!”


Diego tersenyum sinis. “Jadi maksudmu, aku ini orang jahat?”


Diego memperhatikan Lucia dari atas sampai bawah. “Jika aku jahat, maka nyawamu sudah hilang sejak semalam,”


“Justru karena itu kamu malah ingin aku tetap hidup agar menderita. Kau tahu, aku lebih baik mati dari pada hidup di neraka ini!”


“Lancang sekali!”


“Cowok lemah! Beraninya Cuma sama cewek. Kamu itu pengec*t!” sengaja Lucia memaki agar Diego membiarkan dia pergi.


“Aku tidak akan mengotori tanganku dengan menyentuhmu. Terserah mau dikatakan apa. Urusan kita belum selesai!”


Lucia mendengus. Dia membuang nampan di hadapannya agar mengenai kaki Diego.


“Hahaha ... semakin berani ya kamu?”


“Aku tidak punya urusan denganmu. Sekarang, biarkan aku pergi!”


“Hal yang aku benci dari seorang wanita adalah kemunafikan,”


“Jadi ... ibumu juga munafik?” balas Lucia.


“Tutup mulutmu!”


“Kau bilang, wanita kan? Ibumu juga seorang wanita. Apa yang kau bicarakan tadi adalah gambaran umum maka, ibumu juga munafik!”


Tangan Diego gementar ingin menampar wajah Lucia. “Ibuku berbeda dari wanita lainnya. Dia istimewa.”


“Oh ... aku pun harus mengakui diri. Aku mungkin 1000 kali lebih istimewa dari ibumu!”


Hening untuk beberapa saat. Diego sendiri kesal harus berhadapan dengan wanita yang tak punya rasa takut.


“Akibat mulutmu, penderitaan yang luar biasa harus kau tanggung lagi.” Bibir tipis Diego membentuk sudut.


Lucia berusaha menyembunyikan ketakutan itu. Langkah kaki Diego ketika pergi, membuat Lucia merinding.


Ketika sampai di pintu kamar, Diego memerintahkan pengawalnya untuk membawa Lucia ke suatu tempat.


Kali ini, Lucia pasrah. Percuma melawan apa lagi kabur. Dia hanya akan semakin menderita.


Di belakang rumah bak istana itu, terdapat sebuah rumah kecil. Lucia digiring ke sana.


Pintu dibuka dan terdapat banyak sekali ular peliharaan Diego yang dikurung dalam kandang kaca. Lucia kaget dan ingin melepaskan diri. Tapi tubuhnya yang lemah tak bisa melawan.


Dia dilempar masuk lalu pengawal itu mengeluarkan ular-ular dari kandang mereka.


“Kalian semua emang nggak punya hati, ya?”


Pengawal itu tersenyum sinis sambil terus mengeluarkan ular. Berbagai macam jenis ada di sana.


“Harusnya aku tidak perlu susah payah berbicara. Sejak awal kalian itu memang manusia berhati iblis!”


“Tutup mulutmu! Siapa yang menyuruhmu untuk mencuri benda itu, hah?”


Lucia mengerutkan dahi. “Mencuri?”


“Ya! Kau dan temanmu yang mencuri dompet tuan Arsyan. Apa lagi yang mau kau katakan? Penipu!”


Setelah membiarkan ular-ular itu bebas, pengawal itu pergi. Lucia menggeleng dan berusaha menghindar. Ular peliharaan Diego jinak. Namun, Lucia sangat takut dengan ular. Jangankan melihat langsung, sekedar gambar saja, Lucia tidak mampu.


“Aku bisa mati! Tuhan, cabut saja nyawaku. Aku bukan pencuri tapi mereka malah menuduh seenaknya.”


Lucia menangis sambil memeluk lutut. Meski ular-ular itu tidak melukainya, tetapi jantung Lucia hampir copot, saat dililit. Gadis itu menahan nafas. Tubuhnya gementar. Karena sangat takut, dia pun pipis. Sungguh ini lebih menakutkan dari anj*ing semalam.


Diego sangat tenang saat menyaksikan itu dari CCTV. Diteguknya kopi lalu kembali fokus pada Lucia. Sebuah senyum jahat terlukis di wajahnya.


“Kau telah menghina ibuku. Kali ini, aku akan menjatuhkan harga dirimu!”


Diego mengambil ponsel dan menelpon pengawalnya agar membebaskan Lucia. Setelah panggilan itu diakhiri, Diego kembali tersenyum jahat.