
Penerbangan menuju Macau telah dipersiapkan. Jhon, adalah pilot sekaligus sahabat Diego.
Satu-satunya pilot kepercayaan Diego yang selalu menemani kepergiannya.
“Apa semuanya sudah beres?” tanya Diego ketika mereka berjalan menuju bandara.
Jhon tersenyum. Diego mengangguk lalu mengenakan kacamata hitamnya.
Hampir 21 jam penerbangan, sampailah mereka di Bandara Internasional Macau, Pukul 12 siang waktu setempat.
Seorang sopir telah menunggu kedatangan Diego. Lelaki berkebangsaan China yang merupakan anak buah Diego. Bukan hanya di Indonesia, Diego memiliki banyak pengawal dan pelayan di setiap negara tempatnya berbisnis.
Tak perlu menunggu perintah, lelaki itu membawa Diego menuju hotel Lisboa, istana bagi para penjudi dunia dari kalangan atas.
Dengan setelan jas hitam serta kacamatanya, Diego beranjak menuju tempat pertemuan ketika sampai di hotel Lisboa.
Pemilik tempat terkenal ini juga salah satu rekan bisnis Diego. Mereka pun cukup dekat, bisa dibilang sebagai kerabat keluarga jauh.
Begitu sampai di depan pintu utama hotel tersebut, seorang pengawal berlari menghampiri Diego dan mengarahkan majikannya menuju tempat pertemuan.
Seperti mafia pada umumnya, mereka selalu mempunyai ruangan khusus bawah tanah yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu.
“Silakan Tuan!” ucap pengawal itu ketika sampai di depan pintu ruangan rahasia.
Akses untuk masuk pun tidak sembarangan. Diego menunjuk telapak tangannya pada sebuah layar digital yang ada di sebelah pintu.
“Akses diterima!” suara robot dengan bahasa inggris menyambut Diego.
Setelah pintu terbuka, tampaklah 6 orang di sana. 1 di antaranya adalah Arsyan. Diego menunduk kecil sambil tersenyum simpul.
“Oh ... lihat, dia sudah datang!” seru seorang lelaki bertubuh gempal dengan ciri-ciri seperti orang Tiongkok pada umumnya.
“Selamat siang King,” balas Diego sopan.
“Mari, aku sudah menyiapkan tempatmu.” Lelaki yang disebut King tadi, menepuk kursi di sebelahnya.
“Sebuah kehormatan bagi saya!” Diego pun beranjak duduk di sebelah lelaki itu.
King Master, begitu sebutan untuk pemilik kasino sekaligus hotel terbesar di Macau, Lisboa. Dia juga merupakan seorang pemimpin dari bisnis ilegal yang dijalankan Diego serta teman-teman lain dari beberapa negara.
“Penggalian di Mesir berjalan lancar kan?” tanpa basa-basi, Diego langsung membuka percakapan.
Matanya menyorot pada King Master sambil duduk bersandar serta kedua tangan dilipat pada dada.
“Tentu saja semua berjalan lancar. Anak buahmu sungguh hebat, keahlian mereka patut diacungi jempol,” balas King kemudian terkekeh.
“Mereka tidak butuh acungan jempolmu. Mereka butuh bayaran yang tinggi!” tegas Diego.
Suasana mulai menegang. Arsyan tersenyum tipis melihat King yang gugup.
“Berapa pun bayarannya, kau tidak perlu meragukan aku!” terkekeh lagi.
Diego beralih pandang pada keempat teman bisnisnya. 1 dari Amerika, 2 dari Filipina dan yang 1 lagi dari Rusia.
“Apa kalian sudah mendapat bagian?”
“Ya!” jawab Hitler, dari Amerika.
Diego merasa ada yang tidak beres. Dia melirik Arsyan, memberi isyarat.
“Bagianku?”
King master terkekeh diikuti oleh rekan bisnis lainnya.
“Tuan Diego, aku tahu penggalian artefak ilegal ini dilakukan oleh sebagian besar anak buahmu. Tapi, kau juga harus tahu, teknologi yang kita gunakan dari Amerika,” jelas King.
“Lagi pula, banyak anak buahmu yang tewas dan digantikan oleh anak buahku,” tambah Ernezto dari Filipina.
“Siapa lagi yang ingin protes?” Diego memutar jam di tangannya.
“Kami hanya ingin menjelaskan, bukan protes. Dalam hal ini kau hanya bisa mendapat 1/7 dari hasil penggalian.” Adrian dari Rusia pun tak mau kalah.
Diego mengerutkan dahi. “1/7 ... aku juga turut mengeluarkan biaya yang banyak!”
“Tapi aku memberimu berlian terbaik di dunia.” King Master menatap Diego tajam.
“Aku tidak memintanya!” suara Diego mulai merendah.
Semua rekan bisnisnya tahu, sifat Diego. Jika suaranya mulai merendah, maka akan terjadi hal yang buruk.
“Jangan macam-macam, kau berada di wilayahku. Jika aku mau, kau bisa mati dengan Arsyan detik ini juga!”
Sebelum masuk ke ruangan itu, Diego diperiksa terlebih dahulu. Senjata tajam dan api ditinggalkan.
Namun, Diego tidak bod0h. Pena yang tersimpan pada saku jasnya, bukanlah pena biasa. Itu adalah senjata api yang mematikan, dirancang sedemikian rupa agar tidak dicurigai.
Bahkan di dalam dompetnya terdapat Bom berupa lipatan kertas kecil. Selain itu, shuriken (Senjata para ninja Jepang) yang dibuat dalam bentuk kartu ID pun tersimpan rapi.
“Aku tahu, kau tidak akan gentar dengan ancamanku.” King Master terkekeh lagi.
“Kepribadianmu inilah yang membuatku tertarik menjadikanmu kerabat dalam hal apa pun,”
“Termasuk musuh dalam selimut?” jawab Diego santai.
King master bungkam dan mulai melirik keempat rekannya. Sesuatu telah mereka persiapkan.
Diego pun telah curiga. Matanya memberi kode pada Arsyan.
Dalam sekejap, mereka berdua telah ditodong dengan pistol oleh keempat rekan bisnis tadi.
Arsyan mulai gelisah, tapi diancam oleh Diego agar tetap tegar dan berani.
“Lihat, dia bahkan tidak takut ketika maut sudah berada di depannya!” seru King sambil bertepuk tangan. Antara kagum dan mengejek.
Diego pun terkekeh sambil menggeleng. “Justru kau yang harus takut. Bukankah sedih, jika tempat favoritemu ini akan menjadi kuburanmu?”
Ruangan itu dirancang begitu rumit. Tidak ada jaringan sekalipun dari ponsel King Master. Tempatnya pun kedap suara. Sehingga, apa pun yang terjadi di dalam, tidak akan diketahui oleh penjaga yang berdiri di balik pintu sekalipun.
“Tembak!” titah King.
Diego dengan cekatan menghindar lalu berhasil merebut senjata dari Hitler, lalu menodong King.
Senyum jahat merekah. “Jika mereka menembak Arsyan, maka nyawamu taruhannya!”
King master memang pandai berbisnis. Tapi dia bukanlah seorang petarung. Bahkan memegang pistol saja dia tidak tahu. Namun demikian, dia telah membunuh banyak musuh dengan bantuan teman dan anak buahnya.
“Semua bisa kita bicarakan baik-baik,” bujuk King yang mulai gementar.
“Tidak ada lagi sobatku. Kau telah mengancam nyawaku. Mari kita lihat, siapa yang akan tewas?”
“Nyawa bukan permainan.” King Master berusaha tertawa.
Ketika perhatian Diego hanya tertuju pada King, Ernezto mendekat lalu menendang punggung Diego.
King Master bergerak cepat mendekati pintu, tapi Diego lebih cekatan, menembak kaki King.
Diego beralih pada Arsyan yang sedang mati kutu di bawah sandera Adrian dan teman Ernezto.
Tangannya lebih lincah menembak rekan Ernezto hingga tewas. Dengan cekatan ia mengambil shuriken dan melemparnya telak mengenai leher Adrian. Orang Rusia itu tergeletak tak bernyawa bermandikan darah segar.
Tersisa 3 peng3cut itu. Arsyan mengelus dadanya yang bergemuruh.
Hitler merebut senjata Ernezto dan menembak tepat pada lengan kiri Arsyan. Lelaki itu meringis.
Diego mengeluarkan penanya, dan melempar tepat mengenai jantung Hitler.
King master kaget melihat temannya yang tewas dalam sekejap.
“Aku akan memberimu ½ bagian dari hasil penggalian kita.”
“Tidak perlu!” ketika ingin menembak King, Diego ditembak oleh Ernezto pada kakinya.
Diego meringis kesakitan kemudian dengan enteng, melempar shuriken pada leher Ernezto.
Tersisa King seorang. Diego tidak mau memberinya kematian yang mudah.
Diambilnya dasi dari keempat pria yang telah tiada itu. Lalu mengikat King dengan benda tadi.
King yang gemuk cukup kesusahan untuk bergerak.
Diego membuka pintu terlebih dahulu dan mengeluarkan Arsyan. Sebelum keluar dari sana, dia memaksa King menelan 10 lipatan bom mematikan.
Sebelum pintu tertutup, Diego melambaikan tangan sambil tersenyum puas.
King yang telah babak belur hanya bisa menggeleng dan berusaha melepaskan diri. Akibat pergerakan itu, membuat bom dalam tubuhnya meledak.
Tidak ada suara yang terdengar. Hanya goncangan kecil.
“Tahan rasa sakitmu. Kita harus bersikap biasa saja agar tidak dicurigai oleh anak buah King,” jelas Diego sebelum mereka sampai pada pintu keluar yang dijaga pengawal.
Meski sakit, Arsya pun harus berusaha tahan. Begitu juga Diego yang berjalan seperti biasa, meski sedang menahan sakit akibat tembakan pada kakinya tadi.