NOT ME

NOT ME
DIEGO TERLUKA



Bram mendapat info, kalau perang telah berakhir dan semuanya sesuai rencana.


“Bagaimana?” tanya dokter Johan cemas.


“Semuanya berjalan lancar!”


“Akhirnya. Apakah Thomas dan France mati?”


Bram mengangkat kedua bahu. “Kakak tidak memberitahu itu,”


Perbincangan kedua pria itu tidak menarik perhatian Lucia sedikit pun. Wajahnya pucat. Wanita itu masih memikirkan kedua orang tuanya.


“Apakah kita akan melakukan itu?” tanya Johan pada Bram sambil melirik Lucia.


“Kita tunggu sampai kak Diego datang!”


“Baiklah.”


Hampir 30 menit menunggu, datanglah Diego dengan wajah pucat.


Kedua putri Arsyan telah diamankan oleh para pelayan.


“Tuan!” seru Johan sambil berlari memeluk Diego.


Ternyata peluru yang menembus lengan Diego, beracun.


Tubuhnya mulai lemah dan bibirnya biru. Bram berusaha menggedong tubuh kakaknya lalu membaringkan di sofa.


Lucia masih tidak peduli. Justru dia berharap agar saat itu juga Diego mati. Wanita itu benci pada lelaki yang tega membunuh ayah dan ibunya.


Untung saja ruangan Diego dirancang sangat modern. Bram dan Johan hanya perlu menekan remote lalu bagian dinding ruangan itu bergerak. Hanya dalam sekejap, ruangan buku telah berubah menjadi sebuah kamar pasien dengan fasilitas yang lengkap.


Lucia melebarkan mata tak percaya. Dinding kayu berwarna coklat, kini berubah putih bersih. Wanita itu terus bertanya dalam hati, ke mana perginya rak-rak buku serta sofa dan meja kerja Diego. Dari mana juga munculnya alat-alat medis ini?


Bram dan Johan sibuk menyedot keluar racun itu. Untung saja Diego memiliki daya tahan tubuh yang kuat, sehingga respon tubuhnya juga cepat dalam mengusir keluar racun itu.


Ketika operasi kecil itu selesai dilakukan, Bram dan Johan menarik nafas lega. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh mereka.


“Butuh waktu berapa lama agar kakak bisa sadar?”


“Kurang lebih 1 jam. Biarkan obat pereda sakit itu bekerja,”


“Lihat, ketakutanku melebihi segalanya.” Bram menunjukkan telapak tangannya yang berkeringat.


Lucia tak percaya, malam ini dia menyaksikan perasaan kasih itu di antara para 1blis.


“Jadi ... kalian pun takut jika kehilangan orang terdekat?”


Bram dan Johan berbalik ke arah Lucia. Kecemasan tadi membuat mereka lupa akan kehadiran wanita itu.


“Kami pun manusia, Nak.” Johan tersenyum canggung.


Lucia tertawa tapi air mata mengalir. “Lalu, kenapa kalian seenaknya membunuh ayah dan ibuku?”


Bram menelan ludah. Diego telah berpesan bahwa Lucia tidak boleh tahu kebenaran ini.


“Bukan tuan Diego yang ...,” ucapan Johan ditahan oleh Bram dengan mengangkat tangannya.


“Untuk saat ini, kamu tidak perlu mengerti!” tegas Bram lalu menarik paksa Lucia keluar.


“Lepaskan aku, peng3cut!”


Telinga Bram terasa panas mendengar cacian itu.


“Pembunuh!” jerit Lucia sambil merontak.


“Apa maumu?!” Bram melebarkan mata.


“Aku ingin membunuh b4jingan itu!” balas Lucia gementar.


Bram tersenyum sinis. “Jaga ucapanmu jika kau masih ingin hidup!”


Lucia diseret paksa oleh pengawal menuju kamarnya.


Wanita itu didorong kasar hingga tersungkur di lantai. Perutnya membentur keras lantai. Lucia menjerit kesakitan sambil memegang perut.


Terasa sulit baginya untuk bangkit. Lucia memperhatikan area kakinya, takut kalau ada darah yang keluar. Beruntunglah tidak.


Dengan susah payah ia mendekati tempat tidur lalu berbaring di sana. Nafasnya tersengal dengan keringat membanjiri seluruh tubuh.


Tatapannya hampa pada langit-langit kamar. Air mata kembali berjatuhan saat mengenang jasad ayah dan ibu.


“Tuhan ... mengapa orang sebaik mereka dibiarkan mati dengan tidak layak?”


Lucia terus menangis hingga larut malam. Kelelahan akhirnya membawa dia hanyut dalam mimpi-mimpi buruk.