NOT ME

NOT ME
PERANG PART II



Diego bersama rombongannya masuk ke dalam ruangan senjata yang terletak di bawah ruangan penampung ular.


Rumah Diego terdapat banyak ruangan bawah tanah sebagai tempat persembunyian barang-barang ilegal.


Geby pun turut serta dalam peperangan ini. Diraihnya senjata api M16 terbaik yang dikirim langsung dari Amerika. “Aku rasa ini cukup!” ucapnya mantap sambil memainkan alis pada Diego.


Sedangkan Diego mengambil senjata api FN FAL serta dua buah revolver yang disisipkan di pinggangnya.


“Siapkan banyak peluru cadangan!” tegasnya.


Semua pengawal berseru. Masing-masing bersiap dan memilih senjata terbaik menurut mereka. Bahkan ada yang membawa bom dalam bentuk lipatan kertas kecil.


Puluhan mobil sedan milik rombongan Diego telah pergi meninggalkan istana itu. Tersisa Bram dan beberapa pengawal serta para pelayan wanita.


Lucia dan dokter Johan telah aman di ruangan pribadi Diego.


Kepergian Diego dan rombongannya diantar oleh kegelisahan Bram. Dia takut kalau terjadi sesuatu dengan kakaknya.


“Jika memang harus berakhir, aku pun siap mati malam ini juga!” ucapnya dingin.


***


Kabar tentang perang itu telah diketahui oleh Thomas. Dari beberapa orang kepercayaan Diego, ada mata-mata Thomas.


Para pengawalnya pun telah siap siaga. Namun, mereka mengatur siasat agar tidak dicurigai musuh.


“Mari kita buktikan, siapa yang licik!” gumam Thomas dari lantai paling atas rumahnya.


Terlihat dari kejauhan cahaya mobil rombongan musuh telah mendekat. Thomas hanya perlu memberi isyarat agar para pengawalnya melancarkan rencana.


Sesuai aba-aba. Ketika mobil pertama berjarak 500 meter dari pagar rumahnya, Thomas meniup pluit yang tergantung di lehernya.


Serangan pertama dimulai. Para penjaga gerbang melempar bom dan berhasil menghancurkan 3 mobil terdepan.


Diego berada pada mobil kesepuluh. Lelaki itu tidak cemas sedikit pun. Raut wajahnya semakin memancarkan hasrat untuk membunuh Thomas secepat mungkin.


“Ada pengkhianat di antara kita!” ujarnya.


Geby yang menyetir mobil berbalik dan menatap Diego. “Menurut tuan siapa?”


“Kita akan tahu nanti!”


“Sekarang, perintahkan kepada semua turun dari mobil. Kita harus mencari jalan pintas. Biarkan mobil-mobil itu berjalan maju!” titah Diego kemudian mulai lompat dari mobil.


Geby mengangguk lalu berbicara melalui headset yang terpasang di telinganya.


Ledakan beruntun pun terjadi. Mobil-mobil tanpa pengendara itu saling menabrak.


Kurang dari 10 menit, Diego beserta anak buahnya berhasil memasuki kawasan rumah Thomas.


Perang yang mematikan pun tak dapat dihindari. Banyak korban berjatuhan.


Diego yang gesit berhasil membunuh banyak musuh. Langkah kakinya panjang menuju rumah utama Thomas.


Keadaan rumah itu kosong. Meski di luar sangat ribut, Diego mampu mendengar langkah kaki Thomas yang mendekat dari arah belakang.


“Selamat malam sobat!” ucapnya santai sambil memegang secangkir teh lalu duduk di sofa.


Diego berbalik dengan tatapan dingin dan menakutkan.


“Simpan senjatamu. Mari kita berdamai!” ucap Thomas sambil meniup asap tehnya.


Diego melirik cangkir yang telah diletakkan di atas meja itu.


“Duduklah! Semua masih bisa kita bicarakan baik-baik,” Thomas terkekeh seolah mengejek.


Thomas melambaikan tangan sambil tertawa. “Tenang saja. France tidak akan melukai mereka.”


Diego mulai mencurigai sesuatu.


“Letakkan senjatamu!” ucap France dari lantai atas.


Kedua putri Arsyan sedang ditodong senjata oleh pengawal Thomas. Gadis-gadis kecil itu menangis ketakutan sambil berpelukan.


Diego melirik mereka sesaat lalu kembali menatap Thomas yang duduk manis di depannya sambil membaca koran.


“Aku pikir kau akan menikmati tehmu sambil membaca,”


Thomas melirik Diego. “Aku suka orang pandai seperti kamu, Diego!”


“Letakkan senjatamu, br3ngsek!” seru France yang semakin mendekati Diego.


Empat orang pengawal Thomas pun telah mengepung Diego dengan senjata mereka. Lelaki itu masih bersikap dingin. Tidak ada ketakutan yang terlihat di matanya.


“Tenang France! Ancamanmu tidak akan membuatnya takut.”


“Bagaimana jika aku membunuh salah satu dari mereka?” ancam France.


“Jangan lupa, putrimu sedang aku tawan juga,” ujar Diego tenang.


“Sepertinya kau sudah kehilangan banyak orang Diego!” Thomas berdiri dan mendekati kedua putri Arsyan.


“Paman Diego ...!” jerit kedua gadis itu bersamaan saat Thomas mendekat.


“Letakkan senjatamu!” France mulai menekan pelatuk dan mendekatkan pistol ke kepala putri terkecil Arsyan.


Diego mengaku kalah. Diletakkan senjata tadi beserta pelurunya. Kini dia dalam posisi pasrah dengan tangan diangkat ke atas.


Thomas dan France terkekeh. Namun, dalam hitungan detik terjadi sesuatu yang tak terduga.


Diego dengan gesit mengambil cangkir tadi lalu menyiram isinya tepat pada wajah France.


Ternyata itu bukanlah teh. Diego tahu itu adalah cairan keras yang sengaja disiapkan demi menjebak dirinya.


Lalu dengan gesit Diego berhasil merangkul kedua anak Arsyan. Aksinya itu berhasil memberi celah pada pengawal Thomas untuk menembaknya.


France masih meraung kesakitan, sementara Thomas telah menghilang.


Tembakan yang mengenai bahu kiri Diego membuatnya cukup kesakitan.


Namun, dia juga berhasil membunuh keempat pengawal itu hanya dengan satu gerakkan.


Revolver yang tersembunyi di balik perutnya ternyata berguna.


Dua gadis kecil itu menangis ketakutan tatkala melihat darah segar mengalir di sekujur lengan Diego.


Dia mulai cemas harus melakukan apa sekarang? Ingin mengejar Thomas, tapi nyawa kedua gadis ini akan terancam.


France yang masih meraung kesakitan di ruangan itu sambil memegang wajahnya.


Niat Diego untuk membunuh France diurungkan.


“Kau akan lebih menderita jika hidup tanpa mata!” ucapnya sambil tersenyum kecut.


Dengan gagah Diego merangkul kedua putri Arsyan lalu keluar dari rumah itu.


Sesampainya di luar, Diego memberi isyarat kepada Geby dan pasukannya untuk mundur.


Meski belum sepenuhnya puas, Diego merasa cukup senang. Dia hanya kehilangan sedikit pengawal.