
Thomas membuang kasar asap rokok dari rongga mulutnya. Tangannya sibuk meremukkan sisa rokok pada asbak.
“Aku tahu, pembunuhan ini dilakukan untuk mengancam keberadaan kita.”
France yang duduk di hadapan Thomas ikut berpikir. “Menurutku, Diego tidak ingin melibatkan kita dalam bisnis besar itu.”
“Tentu saja. Jika kita bergabung dalam bisnis mereka, Diego akan mudah kita singkirkan!” Thomas terkekeh.
“Aku suka cara mainnya. Diego memang patut diakui!” puji Thomas.
“Tuan ... Anda mengakui kehebatan Diego?”
“Ya ... oleh sebab itu, kita membutuhkan lawan yang seimbang.” Thomas tersenyum licik.
“Apakah menurut Anda, En adalah lawan yang tepat?”
“Tidak. Tugas En adalah menjaga Clara.”
“Lalu?” France mengerutkan dahi.
“Kali ini, kita main halus. Biarkan mata-mata kita yang mencari kelemahan Diego.”
“Baik tuan. Jadi, apakah kita perlu mencari lawan untuk Diego dari luar negeri?”
“Tidak. Biarkan mata-mata kita yang membunuhnya. Aku yakin, Diego akan terpukul dengan pengkhianatan ini.”
France mengusap dagu sambil berpikir. Dia yakin, Diego tidak semudah itu disingkirkan.
“Aku takut sebelum rencana itu terjadi, dia sudah lebih dulu tahu siapa orang kita.”
“Jangan cemas. Orang itu adalah salah satu anak buah kepercayaannya. Diego tidak akan curiga sama sekali.” Thomas tersenyum licik.
“Baiklah.”
“Jaga Claramu baik-baik!”
“Tentu Tuan.”
“Bagaimana dengan rencana pembebasan Lucia?”
France terdiam sejenak. “Tuan ... sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan anak itu. Semua aku lakukan demi istriku,”
“Maksudmu?”
“Lagi pula anak itu tumbuh di keluarga lain. Aku merasa tidak punya ikatan apa-apa. Berpikir tentang keselamatannya hanya menambah beban!”
Thomas memicingkan mata. Merasa tidak percaya dengan pemikiran France. “Tapi dia putrimu!”
“Ya ... tapi aku tidak berharap dia kembali. Biarkan saja Diego memperlakukan anak itu sesukanya. Anggap saja dia umpan,”
“Kau memang rekan bisnis yang baik. Tapi, kau ayah yang buruk. Tak mengapa, ayah kita pun dulu berlaku kejam pada anak mereka.” Thomas terkekeh lagi.
France berpamitan pergi dari ruangan itu. Jadwalnya siang ini, makan bersama Clara karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Di kediaman France yang mewah, Clara telah mengenakan gaun terbaik pemberian mamanya.
Laura pun sedang menunggu kedatangan France sambil melihat postingan di beranda instagramnya.
“Sayang, kamu mau kado apa dari mama?” tanya Laura yang sedang bersantai dengan putrinya di ruang keluarga.
“Lagi males minta kado ma,” jawabnya jutek.
“Kok gitu?” Laura mengalihkan pandangan pada Clara yang tampak murung.
“Kamu kenapa?” meletakkan ipad pada sofa lalu mendekati Clara sambil mengelus bahunya.
Clara menatap mamanya dengan sorot mata sedih. “Aku boleh nggak minta adikku segera dibebaskan?”
Laura menghembuskan nafas perlahan. “Mama juga pengen sayang. Tapi ... itu bukan perkara yang mudah,”
“Katanya papa orang hebat?”
Laura menggeleng sambil tersenyum tenang. “Papa tetaplah manusia biasa sayang. Ingat, jangan nuntut ini itu sama beliau. Kasihan, papa kamu tuh capek mikirin bisnis,”
“Clara aja sampe sekarang masih bingung sama bisnis papa!”
“Loh ... jangan protes gitu. Kamu tuh beruntung punya segalanya. Semua itu dari hasil kerja keras papa,” bujuk Laura.
Clara menunduk. Dia sedih memikirkan nasib Lucia. Karena pernah menjadi tawanan Diego, Clara tidak bisa membayangkan seperti apa kondisi adiknya.
“Ayo senyum, papa udah datang tuh!” tunjuk Laura kemudian merangkul bahu anaknya.
“Selamat ulang tahun anakku sayang!” ucap France sambil membawa sebuah kue ultah yang cantik.
Clara memberi senyum palsu kemudian balas memeluk papanya. Kue yang dibawa tadi telah diamankan oleh seorang pelayan.
“Kok cemberut gitu?” France mengusap lembut pipi Clara.
“Tadi dikiranya papa nggak bakal datang, kayak tahun kemarin.” Laura mencari alasan.
“Ini papa udah datang sayang!” France merangkul bahu kedua wanita berharganya menuju meja makan.
‘Apakah Lucia juga merayakan ulang tahunnya?’ Batin Clara.
‘Apakah dia juga merasakan kehangatan yang sama?’