
Bram membawa sebuah boneka panda sebagai hadiah untuk kekasihnya. Setelah cukup lama tidak bertemu, tentu akan menimbulkan sedikit perdebatan di antara mereka.
Begitulah wanita. Ketika rindu, bukannya bilang, harus ada dulu drama yang menguras emosi.
Sampai di depan kontrakan kecil April, Bram masih merapikan rambut dan mengusap wajah. Setelah dirasa cukup, dia pun beranjak turun.
“April?” ucapnya sambil mengetuk pintu.
Ada yang terasa aneh. Bram melihat motor kekasihnya terparkir di halaman.
“Sayang?”
Berulang kali Bram memanggil, namun tidak ada jawaban sama sekali. Hingga lelaki itu menghela nafas dalam.
“Apa mungkin, April semarah itu?” gumamnya.
Bram mengambil ponsel dari saku celana dan menelpon April. Terdengar deringan dari dalam. Dimatikan segera ponselnya.
‘Ada yang tidak beres!’ batinnya.
“April!” teriaknya lalu mendobrak pintu.
Bruk! Pintu terbuka. Tidak ada tanda-tanda kekasihnya akan keluar.
“April!” serunya kemudian berlari menuju kamar tidur.
Terlihat kekasihnya yang terbaring tak bernyawa lagi. Sekujur tubuh April dipenuhi bilur dan darah. Bram melebarkan mata dan berlari memeluk erat tubuh April.
“April, Bangun!” menepuk pipi kekasihnya.
“Siapa? Siapa yang melakukan ini?” air mata Bram berderai.
Amarah bercampur sedih, membuat tubuh Bram gementar. Matanya berwarna merah.
“B*jingan!” teriaknya.
Bram menggendong April keluar menuju mobil. Luka di sekujur tubuh April masih segar. Bisa dipastikan baru terjadi 2 atau 3 jam yang lalu. Bram berharap kekasihnya masih bisa terselamatkan.
“Jangan takut sayang! Kamu masih bisa hidup!” ujarnya sambil menghidupkan mobil.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Bram mengendarai mobilnya. Lelaki itu tidak peduli lagi dengan rambu-rambu lalu lintas.
Bram meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Dok, ke rumah kak Diego, sekarang!”
“Aku sedang dalam keadaan darurat,” ucapnya lagi.
“Apa?” Bram membulatkan mata.
Dokter pribadi keluarga mereka sedang berhalangan. Akhirnya, ia membawa April ke rumah sakit terdekat.
Begitu tiba, para perawat dan dokter bergerak cepat membawa April ke UGD.
“Maaf tuan, Anda tidak masuk!” seorang perawat menahan langkah Bram dan menutup pintu.
Bram mondar-mandir di depan pintu UGD sambil mengusap wajah berulang kali.
‘Aku pastikan, jika April meninggal, maka b*jingan itu juga harus membayar!’ batinnya.
30 menit menunggu, keluarlah dokter bersama timnya.
“Bagaimana dok?” tanya Bram.
Wajah pria tua itu terlihat kecewa. Bahkan untuk berbicara pun tidak sanggup. Dia hanya bisa menggeleng.
“Kami telah berusaha tuan,” jelas seorang perawat. Bram terdiam dan bersandar di dinding.
“Anda terlambat. Nyawa wanita itu bisa tertolong jika dibawa ke sini 1 jam sebelumnya,” tambah dokter itu.
“Tuan, luka di sekujur tubuhnya cukup parah. Sepertinya dia sangat menderita sebelum kematiannya,”
“Tidak!” Bram menangis dan berlari masuk.
Tubuh April telah ditutupi kain putih. Lelaki itu berlutut di dekat mayat April dan menangis.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dilihatnya, dari nomor tak dikenal.
“Hallo!” ucapnya dingin.
Suara di seberang terkekeh. Kesedihan di wajah Bram mendadak berubah jadi benci. Dia tahu siapa lelaki itu.
“Katakan pada kakakmu, ancamannya sama sekali tidak mempan. Jika dia masih ingin menggangguku, korban selanjutnya adalah, istri dan anak-anak dari Arsyan!”
“Kep*rat!” belum sempat habis kalimat itu, panggilan telah dimatikan.
Bram membanting ponselnya hingga hancur. “Aku akan membayar kematianmu, April!”
***
Thomas tersenyum puas. Lelaki berusia 40an itu memanggil pelayannya untuk membakar rokok yang telah berada di mulutnya.
“Aku rasa, Bram akan menjadi kelemahan Diego kali ini,” ucapnya dingin.
“Tuan, Anda tahu kan, sejahat apa Bram?” ujar France, orang kepercayaan Thomas.
Diego dan Thomas adalah mafia besar yang saling membenci. Kini, sebuah rahasia bisnis Thomas berada di tangan Diego. Dia berniat untuk menghancurkan Thomas dengan cara melaporkannya pada negara.
Bahkan keluarga mereka pun telah lama bermusuhan. Salah satu pembunuh keluarga Diego juga adalah ayah Thomas. Sebagai balasan, Diego berhasil menghancurkan bisnis keluarga Thomas.
Namun, bagi Diego, itu semua belum cukup. Sampai kapan pun, dia akan menjadi bom yang menghancurkan kehidupan Thomas serta keluarganya.
“Kirimkan salamku pada Diego. Jangan lupa, sertakan juga rekaman pelac*r itu, sebelum dia mati!”
“Baik, Tuan!” ucap France mantap lalu berpamitan pergi.
Thomas kembali tersenyum licik lalu menarik rokoknya dengan nikmat.
“Kita lihat, siapa yang akan hancur?”