
"Aduh Nir, kenapa sakit mu tambah parah sih?"
Dania khawatir, ia terus mengompres kening Nirmala.
"Gak tahu juga, mungkin ini efek aku hujan-hujanan seharian kemarin."
"Kalau seperti ini kejadiannya, mending kamu gak usah pulang deh. Kasihan Shaka, dia butuh kamu."
"Iya deh, maafin aku ya Dan. Aku nyusuhin kamu terus."
"Gak usah di pikirin, kamu istirahat aja. Ya udah, aku pergi cari makan dulu. Shaka belum makan malam."
Tidak mau meninggalkan Shaka, Dania memutuskan untuk mengajak Shaka keluar mencari makanan.
Dania sudah menganggap Nirmala seperti adiknya begitu juga dengan Shaka yang di anggap seperti keponakan sendiri.
Meskipun lelah, Dania mengurus Shaka terlebih dahulu sampai bocah itu tidur baru lah ia mengurus Nirmala.
Preteeek.......
Dania menggeprek pinggangnya yang sangat lelah kemudian langsung merebahkan diri di samping Shaka.
"Ah,...nyamannya kasur ini." Batin Dania.
Malam semakin larut, dari segala keheningan ada Gaga yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Mimpi yang sama, wajah yang sama dan tetap panggilan yang sama. Tapi, ada yang beda di mimpi Gaga kali ini, entah kenapa bocah itu meminta gendong pada Gaga.
"Wajahnya sama persis dengan bocah tadi siang. Siapa dia sebenarnya? apa hubungannya sama aku?"
Pikiran Gaga mulai berkelana, di tambah lagi matanya tetap terjaga.
"Tidak mungkin perempuan itu hamil. Aku hanya melakukannya satu kali dan itu pun terpaksa."
"Kejadian itu sudah lama dan tempatnya pun bukan di sini. Tidak mungkin, semua ini tidak mungkin."
Seketika Gaga panik, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa bersalah pada wanita yang sudah ia kotori.
*****Flashback*****
"Aku sudah memberi minuman ini dengan obat perangsang. Siapa pun yang akan meminumnya dia akan merasakan panas dan nafsunya akan terbakar. Aku yakin gebetan kamu pasti akan klepek-klepek sama kamu."
"Terimakasih teman!" Ucap Medina pada Sofia.
Medina dan Sofia adalah saudara sepupu yang memiliki sifat dan karakter sama.
"Ya udah, kamu siap-siap sana di kamar. Aku akan memberikan minuman ini pada Gaga."
"Semoga reuni kali ini membuahkan hasil. Aku sudah bosan menunggu Gaga menyatakan cintanya pada ku. Hanya ini jalan satu-satunya."
"Udah, jangan banyak bicara. Cepat sana!"
Medina bergegas pergi ke kamar hotel, sedangkan Sofia dan beberapa temannya sedang menjalankan misi untuk membantu Medina.
Acara reuni teman satu kelas semasa kuliah di sebuah kota yang memiliki pemandangan pantainya yang indah.
Di hotel yang mewah ini, ada Gaga yang sedang asyik mengobrol bersama teman lama.
"Minumannya mas," ucap seorang pria yang berpakaian karyawan restoran.
"Gak mas, ini masih ada!" Tolak Gaga.
"Sepertinya enak nih, kalau kamu gak mau ya udah. Buat aku aja!" Ujar Randi, jika di luar jam kerja, Randi akan memanggil Gaga seperti teman biasa dan jika sedang di kantor, Randi akan memanggil Gaga dengan sebutan BOS.
"Enak aja....!" Seru Gaga lalu mengambil minuman yang di bawa pria tersebut.
Jam menunjukan pukul sepuluh malam, satu persatu dari mereka mulai memasuki kamar untuk beristirahat setelah seharian pergi jalan-jalan. Tinggallah Gaga sendiri yang pada saat itu Randi sedang pergi ke toilet.
"Kenapa aku berkeringat?" Gaga mulai merasa aneh pada dirinya setelah minum-minuman tersebut.
"Ah, kenapa panas sekali. Sial, apa yang sudah terjadi pada ku? kenapa jadi tegang begini?"
"Gaga, kamu kenapa?" Tanya Medina pura-pura tidak tahu.
"Tolong. Tolong antar aku ke kamar ku!" Pinta Gaga.
Medina tersenyum di dalam hati, bergegas ia mengantar Gaga pergi ke kamar. Tapi, bukan ke kamar Gaga melainkan kamar Medina.
"Gaga, kamu pasti butuh pelepasan bukan?" Ujar Medina, "aku siap melayani mu malam ini sayang." Bisik Medina.
"Sialan kau Medina!" Umpat Gaga, "pasti semua ini ulah mu!" Tebaknya.
"Gaga, ayolah bermain malam ini. Aku mencintaimu, rasakan dulu nikmatnya. Kau pasti akan tergila-gila pada ku!"
Medina menanggalkan semua pakaian, ia berusaha menggoda Gaga yang masih bisa menahan diri meskipun rasanya sudah tidak tertahankan lagi.
"Perempuan gila!" Seru Gaga.
Medina gila, dengan brutal ia memeluk Gaga bahkan mencium bibir Gaga secara paksa. Dengan sekuat tenaga Gaga mencoba menyingkirkan Medina dari tubuhnya.
Bruk,.....
Medina yang di dorong oleh Gaga seketika jatuh menghantam lantai. Dengan cepat Gaga keluar dari kamar Medina. Medina ingin mengejar, tapi ia sadar tidak mengenakan pakaian.
"Aaaaaargggggh......sial. Gagal lagi....!" Medina berteriak, mengamuk dan memaki Gaga.
Sedangkan Gagal, tanpa sadar ia keluar dari hotel. Entah langkahnya panas, ia terus mengeram menahan hasrat yang sudah berada di ubun-ubun. Langkahnya lihai, tanpa sadar Gaga sudah berada di dermaga kapal yang memiliki penerangan minim.
"Hai kau.....!" Seru Gaga dengan suara datar.
Wanita yang sedang melamun meratapi kepergian sang ayah yang menyusul ibunya ke surga itu tiba-tiba saja terkejut melihat Gaga.
"Siapa kau?" Tanya Niramala ketakutan.
"Layani aku, nanti ku beri kau uang!" Ujar Gaga tanpa menunggu jawaban langsung menarik paksa tangan Nirmala.
Gaga gila, tenaganya seketika kuat. Gaga terus menarik paksa Nirmala, memasukan Nirmala ke dalam ruangan kosong yang ada di dermaga. Entah dari mana Gaga tahu jika itu adalah ruangan kosong.
"Lepaskan aku,....tolong....tolong....!" Nirmala berusaha melawan.
"Diam kau!" Sentak Gaga.
Dermaga ini cukup jauh dari pemukiman penduduk. Aktifitasnya pun hanya waktu siang hari dan jika malam akan di tutup.
Nirmala di tampar, membuat wanita ini merintih kesakitan. Gaga dengan beringas melepaskan semua pakaian Nirmala. Hasrat yang semakin memuncak membuat Gaga gelap mata. Di tengah malam dingin dengan hembusan angin pantai yang sedikit landai, Gaga menghabiskan Nirmala, merenggut kesucian wanita yang sama sekali tidak ia kenal.
Nirmala yang beberapa kali di tampar oleh Gaga akibat melawan kini hanya pasrah di saat Gaga dengan brutal menikmati tubuhnya.
Setelah semuanya tuntas, Gaga langsung merebahkan diri di samping Nirmala yang sudah tidak sadarkan diri. Gaga, nafasnya masih naik turun. Menunggu beberapa waktu untuk dia sadar akan segala perbuatannya.
"Sial....!" Umpat Gaga, "siapa yang sudah aku nodai ini?"
Gaga mengacak rambutnya frustasi, ia bingung dan ketakutan di tambah lagi pada saat itu Nirmala belum juga sadarkan diri.
"Apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin nama baik keluarga ku tercoreng."
Sejenak berpikir kotor, pada akhirnya Gaga memutuskan untuk meninggalkan Nirmala seorang diri di dalam gudang kosong yang hanya di terangi lampu pijar.
Gaga kembali ke hotel dalam keadaan kacau, ia langsung pergi mandi untuk sekedar membersihkan diri.
"Dari mana saja kau Gaga? Jam segini baru pulang. Aku mencari mu kemana-mana." Kata Randi yang begitu kesal.
"Rand, aku sudah memperkosa seorang perempuan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gaga panik, dadanya terus berdebar.
"Ah, yang benar kau? Gila kali kau Gaga, jangan becanda. Ini masih malam."
"Aku serius Rand. Semua ini gara-gara Medina, dia biang keroknya!" Ujar Gaga yang kemudian menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Randi. Tentu saja Randi syok, ia juga tidak mau terseret dalam masalah ini, pada akhirnya kedua pria ini sepakat untuk merahasiakan kejadian yang di alami Gaga pada malam ini.