Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 47



Setelah satu minggu Nirmala dan Gaga menikmati masa liburan, akhirnya mereka kembali pulang juga. Nirmala memeluk Shaka erat, tapi bocah ini berontak dan lebih memilih memeluk Gaga.


"Shaka, siapa yang ngajarin kamu seperti itu hemm?" Tanya Nirmala sembari mencubit pipi anaknya.


"Shaka kangen papah," ucap bocah itu.


"Shaka gak kangen sama mamah nak?"


Shaka menggelengkan kepalanya, tentu saja hal ini membuat Nirmala geram.


"Aku berani sumpah jika aku tidak pernah mengajari Shaka yang bukan-bulan," ucap Dania pada Nirmala.


"Papah juga!" Sahut pak Tirta.


"Oleh-oleh buat Shaka mana pah?" Tanya Shaka sambil mengulurkan tangannya.


"Ada dong. Papah belikan mainan bagus untuk Shaka."


"Horeeee......!!" Shaka girang, "om Randi tante, ayo main sama Shaka!" Ajak bocah itu.


"Iya. Ayo sayang!" Randi langsung mengajak Shaka pergi ke halaman depan untuk memainkan mobilan barunya. Dania juga mengikuti, mereka bertiga main bersama-sama.


"Gaga, Nirmala....!!"


"Iya pah!"


"Kemarin kalian hanya menikah secara agama. Kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?" Tanya pak Tirta.


Gaga dan Nirmala saling pandang kebingungan.


"Kapan Gaga?" Tanya pak Tirta mengulangi.


"Besok lusa pah!" Jawab Gaga tegas.


"Apa kalian akan menyelenggarakan pesta?" Pak Tirta bertanya lagi.


Lagi-lagi Gaga menoleh ke arah Nirmala.


"Kalau aku sih, terserah Nirmala aja pah!" Jawab Gaga.


"Aku malu jika harus di adakannya pesta," ujar Nirmala membuat Gaga dan pak Tirta langsung paham.


"Kalau begitu tidak usah. Nanti saja kita bikin pesta besar saat acara khitan Shaka." Kata pak Tirta yang memberikan saran.


"Ya sudah kalau begitu aku dan Nirmala akan beristirahat sebentar," ujar Gaga yang langsung menarik tangan Nirmala mengajaknya ke kamar.


Pak Tirta hanya bisa menatap punggung mereka lalu melepas kacamatanya.


"Aduh. Ternyata aku sudah tua, sudah punya cucu dan mantu. Apa masih pantas jika aku menikah lagi?"


Pak Tirta cekikan sendiri dengan ucapannya. Ia kemudian menyusul Shaka yang masih asyik bermain di luar.


"Randi....!!" Panggil pak Tirta.


"Iya om, ada apa?" Tanya Randi sambil menemani Shaka bermain.


"Om lihat kau dan Dania cocok. Kenapa kalian tidak pacaran saja?"


Sontak saja ucapan pak Tirta membuat Randi dan Dania saling pandang.


"Cocok banget loh. Wajah kalian mirip, di tambah lagi kalian berdua momong Shaka. Terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia," ucap pak Tirta dengan senyum lebarnya.


"Wah, om ini kalau bercanda suka gitu. Hanya teman om," ucap Randi malu-malu.


"Gak ada yang mau sama dia pak. Apaan, suka ngancam-ngancam orang!" Ujar Dania sinis.


"Dan kau itu kalau ngomong suka bikin darah tinggi. Asal mangap aja!" Sahut Randi.


"Om dan tante kok bertengkar?" Celetuk Shaka yang memandang bergantian pada Randi dan Dania.


"Main sama kakek aja yuk," ujar pak Tirta lalu mengajak cucunya masuk ke dalam.


"Dasar pohon randu. Sana pergi," usir Dania kesal.


"Kau itu donat. Enak banget ngatain orang!" Sahut Randi juga kesal.


"Pohon randu, kasur kapuk!"


"Donat,....donat....donat kentang!!"


Randi dan Dania saling ejek.


"Iya. Kalian kenapa sih?" Tanya Nirmala yang ikut keluar.


"Ini si pohon randu. Bikin kesal aja!"


"Lah, donat itu harusnya lemah lembut ini kok kasar!"


"Jangan saling membenci, nanti jadi cinta loh!" Ucap Gaga dari atas.


"Daras burung Gagak!!" Seru Randi dan Dania bersamaan.


"Nah, itu barengan!" Sahut Gaga dengan tawanya.


Nirmala mencubit lengan Gaga.


"Sakit. Kenapa mencubit ku?"


"Dania itu tidak suka bercanda. Jangan menggodanya terus!" Ujar Nirmala memberitahu.


"Sama aja seperti kau. Di ajak bercanda tapi tidak bisa!" Sahut Gaga kemudian bergegas masuk kedalam.


Huft,......


Nirmala ikutan kesal, wanita ini menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.


"Belilah pakaian baru. Jangan memakai kaos oblong terus," ucap Gaga pada istrinya.


"Kenapa?, apa kau tidak suka dengan penampilan ku?"


"Bukan tidak suka. Hanya saja aku tidak rela jika ada laki-laki lain yang melihat bentuk buah kelapa mu itu."


Nirmala langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Dasar mesum!" Seru Nirmala.


"Bukan mesum sayang. Aku tidak rela aja kamu di lirik laki-laki lain."


Belum juga Nirmala menyahut, salah satu asisten rumah tangga memberitahu jika di luar ada keributan. Gaga dan Nirmala langsung turun ke bawah.


"Aduh,....Dania ribut sama siapa itu?" Nirmala berlari, menghampiri Dania yang saat ini sedang di lerai oleh Randi.


Ternyata Dania adu jambak dengan Medina. Tenaga Dania cukup kuat, pada akhirnya Medina jatuh terjungkal di buatnya.


"Gaga, lihat perempuan udik ini. Dia sudah melukai ku," adu Medina sambil menangis.


"Aku tidak akan menghajar mu jika mulut mu tidak kurang ajar. Bisa-bisanya kau mengatai Shaka anak haram di kandangnya sendiri. Di mana letak hati nurani mu hah?"


"Kenapa kau selalu mengusik hidup ku hah?, apa kau tidak memiliki malu?" Suara Gaga terdengar dingin.


"Aku dan anak ku tidak memiliki masalah dengan mu. Tolong jangan mengganggu hidup ku!" Ujar Nirmala membuka suara.


"Pergilah sebelum ku lempar kau ke penjara!" Ancam Gaga membuat Medina tanpa basa basi langsung pergi dari rumah Gaga.


"Hai,...kau jago juga berkelahi. Kau pasti lelah, aku akan mentraktir mu siang ini." Kata Randi yang langsung menarik tangan Dania, mengajak wanita itu pergi entah kemana.


Sedangkan Gaga dan Nirmala kembali ke kamar mereka.


Sofia, wanita yang sedang berbadan dua ini tidak pernah merasakan bahagia dalam rumah tangganya. Arwan, pria ini sama sekali tidak peduli pada Sofia.


"Kapan kau akan menyentuh ku mas?" Tanya Sofia penuh harap.


"Apa kurang puas saat kau dan mamah menjebak ku hah?"


"Semua ini demi kebaikan kita sekarang. Aku hamil anak mu. Beri aku perhatian mas," ucap Sofia dengan nada lesu.


"Dalam mimpi mu!" Seru Arwan.


"Kau harus ingat mas, Nirmala sudah memiliki suami. Harusnya kau bisa melupakan ****** itu."


"JAGA BICARA MU SOFIA!! Bentak Arwan dengan nada tinggi membuat Sofia ketakutan.


"Kau itu perempuan, tapi kenapa kau tidak bisa merasakan perasaan perempuan lain. Mulut mu itu sama sekali tidak terdidik, sukanya cuma menghina orang lain saja!"


Arwan muak pada Sofia, pria ini beranjak pergi dari kamarnya. Sofia hanya bisa menangis, sungguh keras hati Arwan.


"Jika Nirmala hidup, mas Arwan pasti akan memikirkan ****** itu. Nirmala, kenapa kau tidak mati saja!!"


Sofia mengamuk, mengacak tempat tidurnya. Mencintai Arwan, Sofia bagai memeluk pagar berduri. Sungguh sakit, karena sang suami hanya mencintai wanita lain.


"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan mas Arwan kembali pada Nirmala," ucap Sofia penuh dendam.