Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 19



Hanya dua hari Shaka di rawat di rumah sakit, pada akhirnya bocah tampan ini pulang juga. Tirta tertegun sejenak menatap kontrakan yang tak seberapa besar yang ada di depannya ini.


"Kalian tinggal di sini?" Tanya Tirta.


"Iya pak. Kami tinggal di sini," jawab Nirmala.


"Maklum pak, cari yang sesuai isi kantong." Sahut Dania.


"Kemasi barang kalian. Ikutlah dengan ku!" Titah Tirta.


Nirmala dan Dania saling pandang heran.


"Ikut kemana pak?" Tanya Dania penasaran.


"Pah, papah akan mengajak mereka tinggal bersama kita?" Tanya Gaga juga penasaran.


"Mata mu!" Seru Tirta, "jika mereka ikut tinggal bersama kita, kau pasti akan kegirangan."


"Lalu?" Gaga semakin bingung.


"Mereka akan tinggal di salah satu apartemen milik papah," ujar Tirta.


"Maaf pak, kami tidak bisa. Kami akan tinggal di sini saja," tolak Nirmala.


"Tidak, kali ini saya akan egois. Saya tidak ingin cucu saya ini tinggal di tempat seperti ini. Lihatlah pemabuk itu, bisa saja dia mencelakai kalian kapan pun yang dia mau." Tirta menuju ke arah pria yang sedang meracau karena mabuk.


"Papah benar, sebaiknya kalian pindah saja." Timpal Gaga yang setuju dengan ide sang papah.


Nirmala melirik tajam, ingin sekali rasanya ia memukul wajah pria yang tanpa dosa dan bersalah di hadapannya ini.


"Mamah!" Shaka meraih tangan Nirmala.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya Nirmala langsung menggendong Shaka.


"Shaka mau main ama kakek," ucapnya polos.


"Tapi Shaka harus istirahat sayang," ujar Nirmala.


Bibir tipis Shaka sedikit manyun, menandakan jika ia merasa sedih karena keinginannya tidak terkabul.


"Shaka boleh main sama kakek. Ayo sini, kakek gendong!"


Dengan cepat Shaka mengulurkan kedua tangannya meminta gendong pada Tirta.


"Pak tua ini sangat pandai mengambil hati Shaka. Kau yang papahnya saja sama sekali tidak berguna!" Bisik Randi benar-benar membuat telinga Gaga gatal.


"Kemasilah barang kalian, saya akan menunggu di mobil." Ujar Tirta yang langsung masuk kedalam mobil bersama Shaka.


"Nir, bagaimana ini?" Tanya Dania.


"Entahlah Dan, ikuti saja alurnya!" Jawab Nirmala pasrah.


"Boleh aku membantu kalian membereskan barang-barang?" Gaga berusaha bersikap baik pada Nirmala.


"Aku tidak butuh bantuan mu. Pergi sana!" Usir Nirmala.


Nirmala mengajak Dania masuk, kedua wanita ini membereskan barang-barang mereka. Hanya Randi yang membantu, sedangkan Gaga hanya berdiri tidak di anggap oleh mereka.


Setelah membereskan semua barang dan memasukannya kedalam mobil Gaga, mereka langsung pergi menuju apartemen yang di maksud oleh pak Tirta.


"Wah, mewah sekali tempat ini. Nir, apa aku bermimpi bisa tinggal di tempat seperti ini?" Dania tidak percaya jika ia bisa tinggal di tempat seperti ini.


"Melihat-lihatlah dulu. Jika kalian tidak suka tempat ini, saya masih ada unit yang lain," ujar pak Tirta membuat Dania terkejut.


"Bapak ini sekaya apa sih?" Tanya Dania penasaran.


"Gak kaya sih, tapi adalah warisan untuk Shaka jika besar nanti."


"Pah, Shaka tidur. Biar aku membawanya ke kamar," ujar Gaga.


Nirmala membawa Shaka masuk kedalam kamar, sedangkan Dania tetap berada di ruang tamu dengan perasaan yang tidak enak.


"Bisa kita bicara berdua?" Ujar Dania meminta pada Gaga.


"Bisa!"


Gaga dan Dania keluar, sedangkan Randi dan pak Tirta mengobrol sendiri di ruang tamu.


Gaga dan Dania pergi ke taman yang berada kawasan apartemen.


"Mendengar cerita mu dari Nirmala, sebenarnya kau tidak salah. Kesalahan mu hanya meninggalkan Nirmala di saat kau menodainya dulu. Lihatlah, berkat kesalahan mu itu kau sudah membuat hati seseorang mati," tutur Dania, "oh. Jika di luar begini aku tidak akan bersikap sopan pada mu."


"Aku mengerti," ucap Gaga.


"Karena kau, Nirmala tidak ingin mengenal laki-laki lebih dekat. Kau sudah menutup hatinya."


"Jika dia tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain, setidaknya dia bisa membuka hati untuk ku."


"Tidak semudah itu. Aku kenal betul Nirmala. Lagian, kau pasti hanya menginginkan anak mu saja kan?"


"Aku tidak seperti itu," bantah Gaga, "jujur saja, selama ini aku di hantui dengan apa yang aku perbuat beberapa tahun lalu. Di saat aku melihat Shaka untuk pertama kalinya, ada rasa yang tak bisa aku jelaskan di dalam hati ini. Di tambah lagi wajah Shaka sangat mirip dengan bocah yang selalu mengganggu mimpi ku."


"Saran ku, jangan menyerah untuk menaklukkan hati Nirmala. Aku tidak memihak kepada siapa pun, aku hanya ingin melihat Shaka bahagia memiliki keluarga yang lengkap."


"Tapi, kebencian Nirmala pada ku sudah mendarah daging. Apa aku bisa menaklukkan hatinya?"


"Jika kau berusaha pasti bisa. Jika tidak ya tanggung sendiri resikonya."


"Mau kah kau membantu ku?"


"Kalau aku mampu ya ku bantu, yang penting usaha mu dulu. Ya sudah, aku mau naik!"


Gaga duduk sendiri di taman, ia tidak bisa menghapus bayangan wajah Nirmala tanpa senyum di kepalanya. Gaga di buat dilema pada masalahnya sendiri.


"Aku yakin papah mu memiliki rencananya sendiri. Om Tirta pasti mengerti bagaimana perasaan Nirmala sekarang. Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja." Kata Randi yang berjalan menghampiri Gaga.


"Banyak omong kau ini," ucap Gaga kesal.


"Apa kau menyukai Nirmala?" Tanya Randi, "dia cantik loh!"


"Pertanyaan mu ini tidak ada yang lain kah?"


"Aku serius Gaga. Apa kau hanya menginginkan Shaka tanpa bertanggung jawab pada ibunya?"


"Aki tidak seperti itu. Jika aku hanya menginginkan Shaka, aku bisa merebutnya dari jalur hukum."


"Wah, bisa-bisa kau di bunuh Nirmala jika kau melakukan hal seperti itu."


"Jujur saja, Nirmala cantik. Siapa sih laki-laki yang tidak tertarik padanya?" Ujar Gaga.


"Padahal malam itu otak mu sedang tidak sadar, bisa-bisa kau dapat barang bagus seperti itu. Bagaimana jika kau dapat ranting tua, aku yakin bukan seperti ini alur masalahnya."


"Di banding Medina, aku lebih memilih Nirmala. Lihatlah hasil karya terlarang ku bersama Nirmala, sangat tampan dan juga berkharisma."


"Bangganya sekali kau. Aib kok di banggakan, aneh!"


"Diam kau!" Sentak Gaga, "siapa sih mau seperti ini?"


"Berjuanglah demi mendapatkan maaf dari Nirmala. Sekerasnya batu, jika terkena air akan terkikis juga.


"Ran, cari tahu lagi bagaimana latar belakang keluarga Nirmala. Aku penasaran dengan masa lalu keluarganya."


"Ya, ya,....nanti aku akan meluncurkan anak buah kita."


"Cari tahu latar belakang kakak iparnya yang tega menjual aib Nirmala pada mu juga. Entah kenapa aku merasa jika dia sangat tidak menyukai Nirmala."


"Baiklah!"