Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 18



"Saya tahu kamu marah, kamu benci bahkan kamu muak pada anak saya. Sebagai orang tua, saya merasa jika saya telah gagal mendidik Gaga. Jika berbesar hati, saya mohon maafkan kesalahan anak saya di masa lalu."


Tirta menatap wajah Nirmala dengan penuh harap, berharap jika Nirmala bisa memaafkan Gaga.


"Tidak mudah bagi saya bisa sampai pada titik ini. Di perkosa oleh anak bapak, hamil, melahirkan dan harus membesarkan Shaka tanpa seorang suami atau pun keluarga. Belum lagi hinaan, cacian dan segala macam kata-kata kotor hanya saya telan mentah-mentah. Menurut bapak, apa saya harus memberi maaf pada anak bapak?"


Tirta menghela nafas, melepas kacamatanya lalu mengusap wajahnya.


"Saya mengerti. Jika bukan hari ini, mungkin besok atau lusa kamu bisa membuka hati untuk memaafkan Gaga. Tapi, tolong izinkan Gaga untuk ikut ambil dalam merawat anaknya."


"Saya menghargai bapak karena bapak adalah orang tua. Bagaimana bisa saya harus melihat wajah laki-laki yang sudah merusak hidup saya?"


"Saya tidak memaksa kamu. Paham, saya paham sekali jika luka yang di torehkan Gaga dalam hidup mu tidak akan bisa sembuh. Tapi, tolong jangan pisahkan saya dari cucu saya. Saya mohon."


Nirmala serba salah, ia tak sampai hati jika harus menolak permintaan dari Tirta. Biar bagaimana pun, Tirta tidak bersalah bahkan ia adalah kakek dari Shaka.


"Saya hanya seorang diri di rumah jika Gaga pergi bekerja. Terlebih lagi Gaga suka pergi ke luar kota atau luar negeri urusan pekerjaan. Jadi, saya mohon jangan jauhkan Shaka dari saya sebagai kakeknya."


"Kenapa anda begitu yakin jika Shaka adalah cucu anda pak?" Tanya Nirmala mengetes.


"Wajah Shaka sangat mirip dengan Gaga kecil. Bahkan Gaga memiliki ketakutan pada telur rebus," ucap Tirta membuat Nirmala mengerutkan keningnya.


"Telur rebus?" Nirmala mengulangi ucapan Tirta, "Shaka juga takut bahkan geli melihat telur rebus."


"Lihat Nirmala, ini hanya salah satu kesamaan yang di miliki Gaga dan Shaka."


"Tapi, semua itu tidak berpengaruh untuk saya pak. Berkat ulah anak bapak, satu-satunya keluarga yang saya miliki tega mengusir saya."


"Siapa? kakak kamu?" Tanya Tirta, "bahkan kakak ipar mu rela menjual aib rahasia mu hanya demi uang. Apa itu yang kau sebut keluarga?"


Nirmala terdiam, ia masih ingat betul jika kakak iparnya tidak pernah suka pada dirinya.


"Maaf pak, saya harus kembali ke ruang rawat. Anda boleh menemui Shaka kapan pun yang anda mau kecuali Gaga!"


"Terimakasih Nirmala. Saya yakin kamu perempuan baik."


Nirmala hanya tersenyum, ia kembali ke ruang rawat anaknya setelah mengobrol empat mata dengan Tirta di taman rumah sakit.


"Loh, Nirmala...!"


Langkah Nirmala terhenti saat mendengar suara Sofia.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Sofia dengan wajah angkuh.


"Anak ku sakit dan dia di rawat di sini. Jauh sekali main mu, ngapain kau di rumah sakit ini?" Nirmala bertanya balik.


"Oh, tentu saja aku datang untuk memeriksakan kandungan ku. Aku sedang hamil anak Arwan," ujar Sofia memberitahu.


"Oh, selamat atas kehamilan mu!" Ucap Nirmala.


"Aku tidak membutuhkan ucapan selamat mu. Anak ku akan lahir dari seorang ayah yang tampan dan juga kaya. Tidak seperti anak mu, anak haram yang ayahnya pun entah siapa!" Cemooh Sofia membuat hati Nirmala panas.


"Oh, apa perempuan ini yang kau ceritakan beberapa waktu lalu Sofia?" Tanya Medina.


"Ya, dia perempuan kotor. Dia telah melahirkan anak tanpa suami. Bisa kita sebut jika anaknya adalah anak haram!"


"Aku doakan anak haram mu itu mati...!" Ucap Sofia membuat emosi Nirmala tidak tertahan lagi.


Plak,......


Nirmala menampar keras wajah Sofia hingga membuat wanita itu jatuh.


"Kau,....!" Medina hendak membalas perbuatan Nirmala, ia melambaikan tangannya namun tiba-tiba Gaga menghalanginya.


"Berani kau menyentuh dia, akan ku patahkan tangan mu!" Ancam Gaga.


"Gaga, tapi dia sudah mencelakai sepupu ku. Sofia sedang hamil, perempuan kotor ini sudah membuatnya celaka."


"Sebab kau dia menjadi kotor. Jika buka karena ulah mu malam itu, tidak akan mungkin dia kotor. Tapi, di mata ku dia tidak kotor, aku lah yang kotor." Ucapan Gaga membuat Medina bingung.


"Hai Gaga,....!" Seru Sofia, "kenapa kau malah membela perempuan ini? Dia ini perempuan kotor, dia melahirkan anak tanpa suami." Ujar Sofia sambil mengusap pipinya yang sakit.


"Sekotornya aku, aku tidak pernah berucap kata kotor untuk orang lain. Dengarkan mulut mu sendiri, apa kau bersih? Sehingga kau dengan bebas mengatai orang lain?" Sahut Nirmala yang masih bisa menahan emosinya.


Nirmala tidak mau menanggapi lagi, ia bergegas kembali ke ruangan anaknya.


Sedangkan Gaga, ia masih mencengkram tangan Medina dengan sangat kencang.


"Anak yang kalian sebut anak haram itu adalah anak ku. Upaya mu yang dulu menjebak ku, membuat ku menodai Nirmala. Jadi, jangan sesekali kau mengatai anak ku anak haram jika kalian masih ingin hidup!"


Medina tercengang, ia terkejut tidak percaya saat mendengar ucapan Gaga.


"Aku bisa saja menyeret mu ke penjara. Tapi, aku masih baik hati. Tolong jangan kau pancing lagi emosi ku!"


Gaga melepaskan tangan Medina, ia pergi menyusul Nirmala. Gaga sangat khawatir atas kejadian ini, sudah pasti Nirmala akan semakin membencinya.


"Med, kok bisa Nirmala yang punya anak dari Gaga?" Sofia bingung.


"Sof, jangan-jangan saat Gaga pergi malam itu dia telah meniduri perempuan itu." Medina menepuk jidatnya, ia tidak percaya jika kejadian beberapa tahun yang lalu akan menjadi benalu sekarang.


"Sialan!" Umpat Sofia dalam hati, "jika benar Shaka si anak haram itu adalah anak Gaga, Nirmala akan sangat beruntung bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih tampan dan kaya dari Arwan."


Panas dingin lah Sofia, ia tidak menyangka jika pertemuannya dengan Nirmala kali ini bisa membuatnya berkeringat panas dingin penuh kecemburuan.


"Gaga punya anak. Sejak kapan Gaga punya anak? Ini semua tidak mungkin. Jika semua ini benar, akan semakin sulit bagi ku untuk masuk kedalam keluarga Samudera apalagi aku lah penyebab dari masalah ini."


Medina terduduk lesu, ia syok dengan kenyataan ini.


"Aku yang berjuang orang lain yang menang. Seharusnya aku yang memiliki anak dari Gaga, bukan perempuan itu."


"Kau masih bisa bersanding dengan Gaga. Singkirkan Nirmala dan anaknya, gampangkan?"


"Otak ku buntu, aku tidak bisa memikirkan ide untuk hal itu," ujar Medina.


"Serahkan semuanya pada ku. Aku akan membantu mu wahai sepupu!"


Mendengar hal tersebut, Medina kembali bersemangat. Dalam masalah seperti ini, Sofia selalu bisa di andalkan.