
"Ku dengar Nirmala butuh pekerjaan yang di izinkan bisa membawa anak," ujar Randi memberitahu.
"Tahu dari mana kau?" Tanya Gaga tidak percaya.
"Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Dania dengan seorang temannya di loby kantor."
"Lalu, apa hubungannya dengan ku?"
Plak,....
Randi yang kesal memukul kepala Gaga.
"Kenapa bodohnya kau ini sampai ke dasar lautan hah?" Sentak Randi kesal, "Nirmala butuh pekerjaan. Kenapa kau tidak memberinya pekerjaan bodoh!"
"Kau pikir dia akan mau jika aku memberinya pekerjaan?" Gaga balik kesal, "jika benar dia perempuan yang aku nodai itu, tidak akan mungkin dia mau menerima pekerjaan dari ku. Kau yang bodoh!"
"Gaga,...Gaga,....wajah mu memang tampan tapi daya otak mu sama sekali tidak bisa berpikir. Kau kan bisa menghindari dia sambil mencaritahu Nirmala lebih dalam lagi."
"Atur saja, terserah kau. Aku ingin melakukan sesuatu!" Ujar Gaga memberitahu.
"Katakan pada ku, apa yang akan kau lakukan?"
"Masih ku pikirkan, nanti saja setelah aku yakin."
"Hai bajingan sialan. Aku ingin memberi mu pendapat, bisakah kau dengarkan aku?" Tanya Randi dengan wajah serius.
"Pendapat apa?"
"Bagaimana jika kau melakukan tes DNA secara diam-diam. Menurut ku, hanya itu jalan satu-satunya untuk membuktikan semua ini. Kau harus ingat, Shaka sangat mirip dengan mu."
"Untuk masalah tes DNA itu gampang. Masalahnya, bagaimana cara kita mendapatkan bahan untuk di tes?"
"Iya juga, Dania pasti tidak akan mungkin mengajak Shaka ke kantor lagi." Randi mulai memikirkan caranya.
"Aku punya ide," ucap Gaga.
"Ide apa?" Tanya Randi penasaran.
"Berikan dia pekerjaan di kantor. Kau aturlah bagaimana caranya agar dia bisa bekerja di kantor." Titah Gaga.
"Katanya tadi kau tidak ingin dia melihat mu. Bagaimana sih?"
"Aku bisa menghindar. Yang penting kita bisa mendapatkan bahan untuk tes DNA."
"Jika kau tidak bisa menemukan perempuan itu, jangan salahkan papah jika papah akan mencoret nama mu di warisan!" Ancam Tirta.
"Pah,...papah gak bisa gitu lah." Protes Gaga.
"Apanya yang gak bisa? kau adalah laki-laki paling bajingan dan seorang pecundang Gaga. Papah tidak pernah mendidik mu seperti itu."
Tirta kembali geram pada anaknya sendiri.
"Pah, aku ini anak papah loh. Kok papah suka sekali mengatai ku?"
"Masih untung kau di katai. Rasa-rasanya jika papah turutkan, sudah sejak kemarin papah menghajar mu!"
"Om bisa marah juga ternyata!" Seru Randi.
"Kau pun sama saja!" Bentak Tirta, "sudah tahu Gaga salah, kau malah ikut berpihak padanya."
Sontak saja Randi tertunduk diam.
"Randi pulang dulu om," pamit Randi bergegas pulang.
Tinggallah Gaga sendiri yang terus di mendapatkan ceramah dari papahnya.
"Pah, udah deh. Ngoceh mulu, nanti darah tingginya naik!"
"Sebelum mengomeli mu, papah sudah minum obat penurun tekanan. Jangan coba-coba kau menghindar dari masalah ini."
"Papah ini memang kocak. Aku tidak akan lari dari masalah. Bahaya!"
"Kenapa? Apa karena kau takut tidak kebagian warisan?"
"Ya gak gitu juga pah!"
"Pah, jangan dong. Pah,.....!"
Gaga merengek, mengekor di belakang papahnya yang pergi menuju kamar.
Duaaaar,.....
Gaga terkejut saat pak Tirta menutup pintu dengan kencang.
"Terserah, di lawan nanti kualat. Tidak di lawan sungguh membuat hati ini dongkol!" Ujar Gaga kemudian pergi ke kamarnya.
Malam semakin larut. Saat Gaga baru saja terlelap tidur, ia kembali terbangun.
"Jika dia benar anak ku, darah daging ku, ku mohon beri jalan terbaik untuk kami," ucap Gaga sedih. Jika sedang sendiri seperti ini, Gaga merasa sangat bersalah sekali. Ada rasa gelisah dan ketakutan yang selama ini di sembunyikan oleh Gaga.
Semakin larut, pukul dua malam barulah Gaga tidur. Masih sama, Gaga kembali bermimpi seperti biasanya. Bocah kecil yang terus memanggilnya papah, wajah-wajah yang sangat mirip dengan Shaka.
Malam telah berganti pagi, Gaga segera berangkat ke kantor untuk menghindari sang papah yang sudah pasti akan menekannya kembali.
"Pagi pak," sapa Dania sedikit menundukkan kepala.
"Pagi juga," balas Gaga sedikit lesu, langkah Gaga terhenti sejenak lalu ia menghampiri Dania.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dania.
"Di mana keponakan kamu itu?" Tanya Gaga membuat Dania heran.
"Ada pak, sama mamahnya!" Jawab Dania.
"Kok gak kamu ajak ke kantor lagi?"
"Ya gak lah pak. Memangnya kenapa ya pak?"
"Eh, gak kenapa-kenapa kok. Dia lucu dan menggemaskan!"
"Oh, begitu ya pak!"
"Hemm,...ya udah lanjut kerja lagi."
Gaga kembali melanjutkan langkahnya. Setibanya di dalam ruangan, Gaga memilih tidur di kamar pribadi miliknya yang ada di dalam ruang kerjanya.
Pukul delapan pagi, Randi baru saja tiba di kantor dan tidak mendapati Gaga di ruangannya langsung masuk begitu saja ke dalam kamar pribadi Gaga.
"Wah,...wah,...si bos ini enak sekali tidur sedangkan aku bersusah payah menyelesaikan masalahnya. Enak sekali...!" Belum apa-apa Randi sudah kesal duluan.
"Jangan ganggu aku Ran. Aku tidur jam dua malam, biarkan aku tidur sebentar."
"Kau ini, aku sedang mengatur rencana agar Nirmala bisa bekerja di kantor ini tapi kau malah tidak peduli. Sebenarnya aku ini niat menyelesaikan apa tidak?"
"Jangan menghakimi Randi bajingan. Kau tahu sendiri aku tidak bisa tidur jika malam. Sana keluarlah!" Usir Gaga.
"Ayo lah Gaga. Jika Nirmala bekerja di sini secepatnya, maka akan cepat bagi kita untuk melakukan tes DNA."
Gaga geram, mau tidak mau ia bangun dan duduk dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk.
"Mata mu merah sekali, kerasukan jin mana kau ini?"
"Dia benar Shaka, tadi malam jelas sekali jika Shaka ada dalam mimpi ku. Sebenarnya aku yakin jika dia anak ku. Tapi, kita harus tetap memastikannya."
"Lalu kenapa kau masih bisa leyeh-leyeh seperti ini hah?"
"Aku benar-benar lelah Rand. Setiap malam aku tidur sangat larut,"
Randi membuang nafas panjang, ada rasa iba juga melihat Gaga seperti ini.
"Dan ini, Medina melaporkan mu pada polisi atas tindakan penyerangan. Masalah apa lagi yang kau buat hah?"
"Layani saja apa maunya. Aku akan memberi pelajaran untuk Medina."
Sementara itu, Dion merasa sangat senang sekali saat atasannya mengatakan jika Nirmala bisa bekerja di kantor ini. Randi juga tidak perlu memikirkan banyak cara untuk menarik Nirmala bekerja di kantor ini karena sebelumnya Dion sudah berusaha atasannya untuk memberikan pekerjaan pada Nirmala.
Buru-buru Dion menemui Dania untuk memberikan kabar bagus ini. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Dion karena ia bisa membantu temannya yang kesusahan.