
Shaka melambaikan tangannya saat sang kakek pulang. Sebelum gelap tadi pak Tirta menelpon Nirmala untuk menanyakan di mana dia berada sekarang.
"Shaka pergi kemana aja tadi?" tanya Nirmala pada anaknya.
"Kau juga. Bisa-bisanya hilang kabar seharian.Menyebalkan!" Nirmala kesal pada Dania.
"Tadi pagi aku berangkat kerja. Tapi, saat siang pak Tirta meminta ku untuk menemani Shaka di mall."
"Ya sudah. Ayo masuk!"
Mereka kemudian masuk kedalam apartemen. Betapa terkejutnya Nirmala dan Dania saat melihat Gaga yang tidur di sofa ruang tamu.
"Papah,.....!"
Shaka berlari menghampiri Gaga. Gaga terbangun, ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Nirmala.
"Shaka dari mana sayang?" tanya Gaga dengan suara serak khas bangun tidur.
"Gagak jawab aku!"
Gaga menoleh ke arah Nirmala.
"Sejak siang tadi," jawab Gaga lesu.
"Pergi sana," usir Nirmala.
"Mamah, jangan usir papah," ucap Shaka.
Shaka langsung naik ke atas pangkuan Gaga.
"Jam berapa sekarang?" tanya Gaga.
"Tujuh malam," jawab Dania.
"Papah mau pulang dulu ya sayang," ujar Gaga berpamitan.
"Kenapa pulang?" tanya Shaka tampak kecewa, "kata kakek mamah dan papah sudah boleh tinggal bersama." Celoteh Shaka dengan bahasa bayinya.
Gaga melirik arah Nirmala.
"Nanti mamah mu yang galak itu marah sama papah," ucap Gaga pelan.
"Ngomong apa kamu?" tanya Nirmala ketus.
"Mamah gak boleh galak sama papah!" Shaka menatap tajam mamahnya.
"Nir,....!" Gaga menggelengkan kepalanya, memberi kode agar ia tidak meladeni Shaka.
"Papah pulang ya sayang," pamit Gaga sambil mengusap wajah anaknya.
"Gak boleh pulang. Shaka mau bobo sama papah dan mamah!" rajuk bocah itu.
"Udahlah Nir, ngalah sama anak. Lagian kalian sudah sah," ujar Dania membela Shaka.
"Kau pun sama saja. Menyebalkan!"
Tiba-tiba saja Shaka menangis, bocah ini memeluk Gaga tak mau lepas. Nirmala sejenak terdiam melihat Shaka yang sebelumnya tidak pernah semanja ini.
Gaga berusaha menenangkan Shaka, membujuk bocah ini agar berhenti menangis.
"Terkadang kita sebagai orang tua harus rela mengalah demi kebahagiaan anak. Nir, aku tahu jika kau pernah kecewa, marah dan benci sama Gaga. Tapi, semua ini terjadi di luar kendali Gaga. Kau juga harus mengerti akan itu semua."
Dania berusaha menasehati Nirmala.
"Ayo Shaka, ikut sama tante ya,....!"
Dania menggendong Shaka, mengajak bocah itu masuk kedalam kamarnya.
"Duduk Nir. Aku mau bicara!"
Nirmala menurut, ia duduk di samping Gaga.
"Sekarang terserah kamu. Jika kau tidak terima pernikahan ini, aku akan mentalak mu. Jika kau ingin melihat Shaka bahagia, ayo kita lanjutkan. Aku juga tidak bisa memaksa mu. Aku sadar aku salah."
"Apa laki-laki seperti mu bisa di percaya lagi setelah apa yang kau lakukan pada ku?"
"Kau boleh membunuh ku jika aku bersikap jahat pada mu," jawab Gaga.
"Kau tenang di surga dan aku membusuk di penjara. Begitu maksud mu?"
"Bukan begitu maksud ku Nir. Itu hanya sebuah pribahasa."
"Jangan salahkan aku. Salahkan keadaan yang mendidik ku menjadi seperti sekarang," ucap Nirmala.
"Jika kau masih membenci ku, setidaknya kita bisa bersandiwara di depan Shaka. Kau tidak mungkin mematahkan harapan anak mu sendiri bukan?"
Huft,.....
Nirmala menghembuskan nafas pelan lalu menatap Gaga.
"Kita jalani sajalah. Aku sudah tidak tahu lagi ingin melakukan apa," ucap Nirmala, "kau boleh menginap di sini malam ini."