
"Kenapa kau membawa ku sini?, apa yang akan kau lakukan pada ku hah?" tanya Dania yang curiga pada Randi.
"Hanya ingin membahas tentang Nirmala," ujar Randi.
"Kenapa dengan Nirmala?, dia baik-baik saja!"
"Apa kau ingin melihat Nirmala dan Shaka bahagia?" tanya Randi.
"Ya, tentu saja!"
"Bantu aku untuk menyatukan Nirmala dan Gaga. Kalau bisa sampai menikah."
"Duh, berat!" Dania menggaruk tengkuk lehernya.
"Apanya berat?"
"Sudah bosan rasanya aku menasehati Nirmala agar dia mau menikah. Tapi, kecelakaan yang di sebabkan Gaga membuat Nirmala trauma."
"Justru dari itu bantu aku," ucap Randi lalu menghembuskan nafas pelan.
"Rasa-rasanya kita semua baru saja bertemu. Tidak akan mungkin seseorang seperti Gaga mau dengan perempuan seperti Nirmala," ucap Dania yang ragu.
"Selain Medina, Gaga tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun."
"Sebenarnya aku juga kasihan melihat Shaka yang tumbuh besar tanpa seorang ayah. Tapi, jika Gaga mau bertanggung jawab, aku akan mendukung dia. Asal dengan satu syarat!"
"Aku sangat paham syarat itu. Tentu sana jangan menyakiti Nirmala untuk kedua kalinya."
"Sebab Gaga, hati Nirmala keras. Pandai-pandai dia lah untuk merayu Nirmala," ucap Dania.
Randi dan Dania pun merencanakan sesuatu untuk membuat Gaga dan Nirmala bersatu.
Beda lagi dengan Nirmala dan Gaga yang sedang makan siang berdua di tempat sepi. Bukan sepi karena makanan tidak enak melainkan sepi karena Gaga sengaja menyewa satu tempat.
"Apa kau masih marah pada ku?" tanya Gaga memulai obrolan.
"Jangan terlalu membenci, nanti jadi cinta loh." Goda Gaga.
Nirmala memutar bola matanya malas, "rasa-rasanya aku ingin meremas wajah mu yang tidak tahu diri itu."
"Remaslah jika itu membuat mu puas. Kau bebas menampar ku, memukul ku," ucap Gaga dengan wajah serius, "selain dengan dirimu. Aku tidak pernah melakukan apa pun pada perempuan."
Nirmala tertawa sinis, meletakan kedua sendoknya.
"Omongan dari laki-laki seperti mu itu tidak bisa di percaya," ucap Nirmala yang menatap tajam Gaga.
Gaga juga meletakan kedua sendoknya lalu melipat kedua tangan di dada.
"Malam itu aku benar-benar tidak sengaja. Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya pada mu?"
"Kau tidak tahu bagaimana rasa jadi aku. Aku di buang, di jauhi bahkan di hina. Shaka di caci di katai. Di mana kau?, apa kau ada niatan mencari aku?"
"Aku salah Nir. Aku memang salah. Jujur saja, bayangan wajah Shaka hampir setiap malam datang dalam mimpi ku. Sejak malam itu hidup ku tidak tenang."
Nirmala mengusap air mata yang tanpa terasa jatuh membasahi pipi.
"Tapi, berkata kesalahan di antara kita aku jadi tahu sifat keluarga ku. Sedih aja gitu, saat kita jatuh bahkan butuh sandaran tapi keluarga kita malah membuang kita."
Gaga terdiam, sadar sekali dirinya bersalah atas hidup Nirmala.
"Aku benar-benar minta maaf Nir. Kau boleh membenci ku tapi tolong maafkan aku."
Nirmala menatap wajah pria yang sama seperti wajah Shaka. Membayang Shaka yang akhir-akhir ini begitu bahagia, Nirmala mulai bimbang akan hatinya.
"Aku butuh waktu. Pertemuan kita terlalu mendadak. Aku belum siap memaafkan mu," ucap Nirmala.
"Katakan jika kau sudah siap," ujar Gaga.
Nirmala hanya tersenyum tipis, ia kembali melanjutkan makan siangnya begitu juga dengan Gaga. Selesai makan siang, Nirmala dan Gaga tidak kembali ke kantor melainkan pulang kerumah.