Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 39



"Kamu cemburu?" Gaga menggoda Nirmala.


"Hiidiih,....siapa yang cemburu?" Nirmala tidak mengakui.


"Itu tadi,....!"


"Tadi kenapa?" Nirmala pura-pura tidak tahu.


"Tadi kamu mengakui ku sebagai suami. Kamu cemburu ya ada perempuan lain yang mencium suami mu yang tampan ini?"


"Dasar burung Gagak. Aku hanya menyelamatkan mu dari rasa malu. Apa kau tidak lihat jika kau tadi jadi bahan tontonan?"


Gaga menoleh ke sekelilingnya, lalu berkata. "Perasaan cuma ada beberapa orang saja. Bilang aja kamu cemburu."


Nirmala mendengus kesal, ia langsung menyantap makanannya sambil menatap tajam ke arah Gaga.


"Awas nanti matanya copot loh!" Tegur Gaga.


Sontak saja Nirmala memutar bola matanya malas.


"Kau ini sebenarnya cantik, tapi galak banget!"


"Lama-lama ku colok mata mu sama garpu ini," ucap Nirmala kesal.


"Jangan, nanti aku tidak bisa melihat kecantikan mu!" Gaga menggombal.


"Ya Tuhan, semoga Shaka tidak seperti pria di depan ku ini," ucap Nirmala geram.


Gaga tertawa, senang sekali mengusili Nirmala.


"Gaga, berhenti tertawa!"


"Iya,..iya sayang. Ayo makan!"


"Gagak!!"


"Bercanda! Sayang sama istri sendiri apa salahnya coba?"


"Sayang kepada ibu dari anak ku!"


Gaga semakin menjadi-jadi.


"Terserah kau!" Seru Nirmala kesal.


"Anak laki-laki akan gentengnya kelewatan. Yuk bisa yuk bikin anak cewek. Pasti cantiknya persis kamu," ucap Gaga yang semakin melantur kemana-mana.


Nirmala menarik nafas panjang lalu memejamkan matanya sejenak.


"Kau pikir segampang itu kah?" tanya Nirmala dengan suara dingin, "Shaka adalah anak tanpa cinta. Kau pasti tahu akan hal itu."


"Dan aku berjanji pada mu, Shaka akan tumbuh besar dengan penuh cinta dari kita. Orang tuanya!"


"Aku tidak yakin akan hal itu," ujar Nirmala.


"Aku sangat yakin. Kau saja yang tidak mau melepaskan ikatan di hati mu. Aku memang bersalah, tapi kau juga berhak memaafkan ku." Sahut Gaga. "Jika kau tidak menginginkan aku dengan Shaka. Baik, aku akan mundur. Rasanya kebencian mu pada ku begitu dalam. Aku yakin pada mu jika kau bisa membesarkan Shaka seorang diri dan membahagiakan dia."


Gaga beranjak dari kursinya, meninggalkan makanan yang belum sempat ia makan. Entahlah, ada perasaan yang tidak bisa Gaga jelaskan.


Nirmala termenung sejenak, ia mengingat kembali Shaka yang sekarang begitu bahagia memiliki seorang ayah dan kakek.


Gaga kembali ke kamar, tidur di sofa dengan menghadap sandaran. Nirmala yang baru masuk memperhatikan Gaga, hening tak ada suara.


"Gaga,.....!" Panggil Nirmala tapi Gaga tak menjawab. "Gaga,.....aku mau bicara!" Tetap saja Gaga tak menoleh dan menjawab.


"Gaga,.....!" Teriak Nirmala kesal, "kau tidak berhak marah pada ku. Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan setelah kejadian itu. Aku di usir kakak ku, hamil sendiri tanpa suami, di cemooh, di hina bahkan kelahiran Shaka pun aku begitu menderita merasakan rasa sakit tanpa di dampingi keluarga. Bekerja sambil membawa anak. Belum lagi di hina Shaka di ejek anak haram, gak punya papah. Apa kau tahu rasanya?"


Nirmala jatuh ke lantai, duduk lemas di sana. Air matanya tumpah ruah mengingat bagaimana sakitnya ia di masa lalu.


Mendengar tangisan Nirmala yang keras memilukan, Gaga bangun kemudian menghampiri Nirmala lalu memeluknya erat. Nirmala menangis dalam pelukan Gaga, memukul pria ini dengan sekuat tenaga.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku salah," ucap Gaga yang juga menangis.


Erat pelukannya, membiarkan Nirmala memukul dirinya. Menumpahkan segala sesak dan beban di dada.