
Tanpa sengaja Randi yang sedang menyesap kopi panasnya mendadak tersembur keluar saat melihat Gaga yang baru saja pulang dengan membawa Shaka dan Nirmala juga Dania.
"Kenapa kau ini?" pak Tirta heran, "apa kopi buatan om gak enak?" tanyanya yang belum sadar jika sang cucu ikut pulang bersama Gaga.
Shaka turun dari gendongan Gaga, bocah itu berlari menghampiri Tirta.
"Kakek,.....!" Seru Shaka membuat Tirta kaget. Lebih kaget lagi saat ia melihat Nirmala dan Dania.
"Loh,...loh,....cucu kakek yang paling ganteng." Tirta menggendong Shaka.
"Malam ini Shaka menginap di sini pah," ujar Gaga memberitahu lalu melirik Nirmala.
"Nirmala?" tanya pak Tirta singkat.
"Saya juga akan menginap malam ini. Mana mungkin saya membiarkan Shaka bersama dia," ucap Nirmala terang-terangan.
"Aku tidak akan membawa kabur Shaka. Jadi, jangan selalu berpikir kotor pada ku," sahut Gaga.
"Mana tahu kau kabur membawa anakku. Mengingat masa lalu mu yang sama sekali tidak bertanggung jawab," singgung Nirmala membuat Dania merasa tidak enak hati pada pak Tirta.
"Jika kau ingin, kau boleh menonjok wajah lelaki GAGAL di depan mu itu," ucap pak Tirta membuat semua orang terkejut.
"Nir, kau boleh menghibahkan tonjokan mu itu pada ku. Aku akan memberikan pukulan dahsyat pada Gaga." Sambung Randi.
"Diam kau!" sentak Gaga kesal, "aku akan pergi mandi," ucap Gaga kemudian berlalu begitu saja.
"Kalian benar akan menginap di sini malam ini?" tanya pak Tirta tidak percaya.
"Iya pak. Shaka ingin tidur bersama Gaga," jawab Nirmala.
"Saya bahagia sekali," ucap pak Tirta, "Rumah ini sudah lama sepi. Kalau boleh, tak ada salahnya jika kau dan Gaga berjodoh."
Nirmala langsung membuang pandangannya gugup. Mana mungkin ia menikah dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya ini.
Dania menggaruk kepalanya tak gatal, ia bingung ingin berkomentar apa.
Beberapa saat kemudian, salah seorang pembantu di rumah Gaga mengantar Nirmala dan Dania ke kamar tamu.
"Nir, tidak ada salahnya jika kau dan Gaga menikah. Ku lihat kalian serasi. Yang satu cantik, yang satu ganteng," ucap Dania.
"Apa tidak ada laki-laki lain selain pria bajingan seperti dia? Di mata ku, semua laki-laki sama. Sama-sama brengsek!"
"Tidak semua Nir, hanya sebagian saja!"
"Hati ku begitu sulit untuk menerima laki-laki dalam hidup ku. Entahlah, kejadian malam itu telah mengubur jati diriku."
"Kau begitu keras kepala Nir. Kau berasumsi bahwa kau adalah perempuan kuat, dan itu benar. Tapi, Shaka butuh seorang ayah. Apa kau tega membiarkan dia tumbuh besar tanpa sosok ayahnya?"
Nirmala terdiam, hatinya begitu keras. Bukan salah Nirmala, keadaanlah yang membentuk hatinya yang sekarang.
"Seharusnya kau bisa berpikir kenapa Shaka dan Gaga bisa bertemu secara mendadak seperti ini. Mungkin saja semua sudah di atur oleh semesta Nir."
"Tapi kenapa semesta begitu usil pada ku Dan? Kenapa dia mempermainkan hidup ku seperti ini?"
"Berpikirlah positif Nir, setelah kesedihan akan ada kebahagiaan." ucap Dania yang berusaha mengubah pandangan Nirmala.
"Bagaimana jika setelah kesedihan ada kesedihan lagi?" tanya Nirmala membuat Dania bergeleng kepala.
"Kau terlalu berpikir jauh Nir. Berdoalah yang terbaik untuk hidup ini. Jangan keras kepala Nir, apa kau mau melihat Shaka sedih melihat keadaan mu?"
"Shaka masih kecil, dia belum mengerti tentang apa pun."
"Untuk sekarang Nir, lima tahun yang akan datang dia akan paham kenapa kau seperti ini."
Lagi dan lagi Nirmala terdiam, entah kenapa hatinya mulai memikirkan nasib Shaka di masa yang akan datang.