Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 14



"Shaka sayang. Shaka di sini dulu ya, mamah mau kerja dulu. Jangan nakal, nanti gak mamah belikan es krim loh."


"Iya mamah," jawab Shaka singkat.


Sama seperti Dania, Nirmala di tempatkan di lantai lima hanya saja Dani memegang dua lantai. Dengan penuh semangat Nirmala melakukan pekerjaannya.


Hari mungkin masih pagi, belum ada karyawan yang datang tapi Nirmala dan Dania harus datang lebih awal.


"Nir, aku akan pergi ke lantai enam. Tidak apa-apakan jika ku tinggal sendirian?"


"Iya Dan, tidak apa-apa!"


Tinggallah Nirmala sendiri membersihkan setiap sudut ruangan. Sesekali ia melihat Shaka yang asyik dengan mainannya.


Begitu juga dengan Dania yang sibuk membersihkan ruangan Gaga.


"Gimana, apa kamu betah kerja di kantor saya?" Tanya Gaga sungguh sangat mengejutkan Dania. Entah sejak kapan Gaga masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Bapak, mengejutkan saja."


Gaga celingukan seperti menceritakan sesuatu.


"Kamu sendiri?" Tanya Gaga membuat Dania bingung.


"Iya pak, saya sendiri. Ada apa ya pak?" Dania bertanya balik.


"Ku dengar teman mu baru saja di terima kejar. Di mana dia?"


"Oh Nirmala. Ada pak, dia di lantai lima." Jawab Dania.


"Jika dia bekerja, siapa yang akan menjaga Shaka?" Tanya Gaga pura-pura tidak tahu.


"Shaka ikut mamahnya kerja pak. Jangan pecat Nirmala ya pak, kasihan dia. Shaka juga anak baik, pasti dia tidak nakal."


"Tidak, saya tidak akan memecat orang yang mau mencari rezeki apa lagi itu untuk keluarganya. Tidak apa-apa jika kau mengajak Shaka ke ruangan saya. Saya senang bermain dengan Shaka."


"Nanti deh pak, kalau pekerjaan saya sudah selesai, saya akan mengajak Shaka bertemu bapak."


"Lebih baik sekarang aja. Kasihan dia gak punya teman, lagian saya gak sibuk-sibuk amat."


Dania sedikit terkejut.


"Jangan pak, nanti merepotkan bapak!"


"Gaga ini senang anak kecil, Jadi kau jangan khawatir. Ajak saja Shaka ke sini," sambung Randi yang barus saja masuk.


"Baik pak!"


Dengan perasaan bingung Dania kembali ke lantai lima untuk menjemput Shaka. Untung saja Nirmala tidak banyak bertanya.


"Shaka jangan nakal ya sayang," pesan Dania sebelum masuk ke dalam ruangan.


Dania membuka pintu, saat itu ada hal yang membuat semua orang terkejut terutama Gaga.


"Papah,.......!" Seru Shaka berlari ke arah Gaga.


Dania seketika membuang wajah, ia takut jika Gaga akan marah.


"Pak. Maafin Shaka," ucap Dania panik, "Shaka sayang, itu bukan papah Shaka nak."


Shaka yang mendengarkan ucapan Dania mendadak sedih. Matanya berkaca-kaca membuat hati Dania sakit melihatnya.


"Gak kok. Shaka boleh panggil om dengan sebutan papah. Om gak akan marah," ucap Gaga menenangkan Shaka.


"Papah Shaka di mana ante?" Tanya Shaka dengan polosnya, bibir mungil Shaka manyun seperti menahan tangis.


Dania menggaruk kepalanya tak gatal, entah sejak kapan bocah ini mengerti tentang pertanyaan seperti ini.


Ada perasaan bersalah yang di rasakan Gaga. Jika benar Shaka adalah anak kandungnya, Gaga benar-benar benar-benar lelaki gagal.


"Kalau kamu mau lanjut kerja, lanjut aja. Gak apa-apa kok Shaka tinggal sama saya," ujar Gaga.


"Serius nih pak?" Tanya Dania tidak enak hati.


Mau tidak mau Dania meninggalkan Shaka bersama Gaga dan Randi. Untung saja Shaka mau di ajak oleh kedua pria ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Randi mulai bingung.


"Mengajaknya bermain sambil.....!"


Randi langsung paham, ia dan Gaga mengajak Shaka bermain. Jelas terlihat di wajah Shaka jika bocah ini sangat bahagia.


Lelah bermain Shaka terlelap tidur. Gaga menatap wajah Shaka, wajah polos tanpa dosa yang sangat mirip dengannya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Randi.


"Rasa-rasanya aku ingin menemui perempuan itu. Tapi, apa yang harus aku lakukan saat bertemu dia?"


"Ajak dia bicara baik-baik!" Seru Randi.


"Tolong atur pertemuan ku dan dia," titah Gaga.


Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Gaga, ternyata Dania yang ingin menjemput Shaka.


"Shaka tidur, dia ada di dalam." Gaga memberitahu Dania.


"Itu pak, mamahnya Shaka ada di luar ingin menjemput anaknya." Kata Dania memberitahu, sontak saja Gaga dan Randi terkejut.


"Apa teman saya bisa masuk pak?" Tanya Dania semakin membuat Gaga panik karena ia belum siap untuk bertemu Nirmala.


"Oooh,....i-ya,....bisa kok!" Ujar Gaga yang mau tidak mau mengizinkan Nirmala masuk.


Dania bergegas keluar untuk memanggil Nirmala sedangkan Gaga buru-buru pergi ke kamar mandi untuk bersembunyi.


"Permisi pak," ucap Nirmala.


"Eh, iya. Silahkan!" jawab Randi kebingungan.


"Loh, pak Gaga kemana pak?" Tanya Dania.


"Anu,....itu,...ke kamar mandi. Kebelet katanya!"


"Saya ambil anak saya ya pak," ujar Nirmala.


"Oh, silahkan!"


Nirmala menggendong anaknya yang terlelap tidur dari siang hingga sore hari.


"Kami pulang dulu pak. Maaf sudah merepotkan," ucap Dania sedangkan Nirmala hanya diam saja.


Nirmala dan Dania kemudian pulang, setelah di rasa kedua perempuan itu keluar dari ruangan, buru-buru Randi memanggil Gaga keluar.


"Kenapa harus sembunyi?" Tanya Randi kesal.


"Entahlah, aku tiba-tiba merasa takut. Saat di mall beberapa waktu yang lalu, aku melihat Nirmala terkejut saat melihat ku."


"Berbuat saja tidak takut. Giliran mau tanggung jawab aja takut!" ketus Randi yang benar-benar kesal.


"Wah, kau ini kalau ngomong yang gampang!"


Sementara itu, sejak kejadian beberapa hari yang lalu di rumah Gaga, ia merahasiakannya dari sang mamah. Hari ini Medina kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Sofia yang sengaja ia panggil untuk datang ke rumahnya.


"Masalah beberapa tahun silam, Gaga menuntut balas pada ku Sof. Bagaimana ini?" Medina panik.


"Gila betul, setelah sekian lama kenapa baru sekarang hah?"


"Aku juga tidak tahu. Aku nyaris mati di cekik sama Gaga."


"Masalah mu ini jangan coba-coba membawa nama ku. Semua ini salah mu, kau terlalu teledor. Bodoh sekali."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Sof?" Tanya Medina bingung.


"Ya apa? aku juga tidak tahu! Jauh-jauh memanggil ku ke sini hanya untuk mengurus masalah mu. Menyebalkan!" gerutu Sofia.