Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 23



Makan malam yang sedikit canggung tapi tidak dengan Dania yang sibuk mengobrol dengan pak Tirta membahas tentang kelucuan Shaka.


"Pah. Besok pagi aku dan Nirmala akan pergi," ujar Gaga memberitahu.


"Wah, kalian kalau mau jalan-jalan ajak papah dong. Masa kakek yang tampan ini di tinggal sih," ujar pak Tirta yang belum tahu mengenai rencana Gaga dan Nirmala.


"Shaka tidak ikut pah. Aku dan Nirmala ada urusan."


"Seriusan Nir?" tanya Dania penasaran.


"Iya. Aku akan mengajak burung gagak ini menemui kakak ku," ujar Nirmala.


"Kau serius Nir?" Dania agak kurang yakin dengan langkah yang di ambil Nirmala.


"Kakak ku harus tahu masalah ini Dan. Dia harus menjelaskan semuanya pada kak Doni."


"Ada baiknya begitu. Baik buruknya pun kakak mu adalah keluarga mu," ujar pak Tirta yang setuju dengan rencana Nirmala.


"Dania, kamu gak usah kerja besok. Ajak Shaka jalan-jalan," pinta Gaga pada Dania.


"Gampang. Jangan lupa.....!" ujar Dania sambil meniup telapak tangannya.


"Dan,....!" Nirmala mencolek Dania.


"Biarin aja Nir. Uang burung gagak ini tidak akan habis jika untuk Shaka."


"Semua uang Gaga bukan miliknya. Semua milik Shaka!" Ucap pak Tirta tegas.


"Ya,...ya,...terserah papah aja. Shaka sayang, ayo ikut ke kamar papah." Ajak Gaga.


"Shaka tidur sama mamah ya nak," rayu Nirmala.


"Shaka mau bobo sama papah," ucap Shaka lalu bocah ini meraih tangan Nirmala. Shaka memohon pada sang mamah agar di izinkan tidur bersama Gaga.


Huft,.....


Nirmala menghela nafas pelan, dengan senyum tipisnya ia terpaksa mengiyakan permintaan sang anak.


"Terimakasih Nirmala," ucap Gaga sambil menatap Nirmala.


Gaga menggendong Shaka masuk ke kamar milik Gaga. Betapa senangnya Shaka, untuk pertama kalinya ia tidur bersama sang papah.


"Shaka senang pah. Shaka bisa bobo ama papah. Tapi, kapan kita bobo bertiga pah?" tanya Shaka dengan polosnya.


"Mamah," jawab Shaka singkat.


Sontak saja Gaga menggaruk kepala tak gatal. Ia bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan anaknya.


Sedangkan Nirmala, untuk pertama kalinya ia tidur sendiri tanpa Shaka. Ada rasa kosong, tapi mau bagaimana lagi, Nirmala tidak boleh egois.


Jam menunjukan pukul delapan malam, Shaka sudah terlelap tidur. Gaga mantap wajah anaknya, wajah polos yang selama ini ia sia-sia kan.


"Ternyata hasil maha karya ku sempurna juga. Padahal malam itu aku tidak mengenal mamahnya," ucap Gaga lalu tertawa.


Gaga mengusap kepala Shaka, ia gemas sendiri melihat wajah tampan dengan bulu mata lentik dan hidung mancungnya.


"Cowok aja gantengnya seperti ini. Bagaimana jika aku memiliki anak perempuan dari Nirmala? Wah, sudah pasti cantiknya gak ketulungan." Gaga mulai berkhayal.


Lain pula dengan cerita pak Tirta, malam-malam begini ia kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Medina yang tanpa merasa bersalah ia masih berani menginjakan kaki di rumah Gaga.


"Gaga ada om?" tanya Medina.


"Ada," jawab pak Tirta singkat.


"Medina mau ketemu sama Gaga om," ujar Medina berusaha bersikap sebaik mungkin di depan pak Tirta.


"Gaga gak bisa di ganggu. Dia sudah tidur sama anak istrinya!"


Medina tercengang tidak percaya.


"Om, Gaga belum menikah. Kapan juga Gaga punya anak?"


Medina pura-pura tidak tahu.


"Pergilah, jangan ganggu Gaga. Dia sedang tidur bersama anak istrinya. Mungkin saja Gaga sedang memproses anak keduanya."


Pak Tirta sengaja membuat Medina cemburu.


"Om, aku gak percaya!"


"Kalau gak percaya ya udah. Saya mau istirahat dulu. Kamu tahu arah pintu keluarkan? Jadi silahkan keluar!" Usir pak Tirta.


Dengan perasaan dongkol Medina meninggalkan rumah Gaga. Medina tahu jika Gaga punya anak tapi ia tidak mau menerima kenyataan tersebut.