
"Aku rindu sama Shaka. Kapan kita pulang?" Tanya Nirmala yang sibuk merapikan pakaiannya.
"Kapan-kapan aja kita pulang," jawab Gaga dengan santainya.
"Loh, kok gitu?"
"Kita pulang harus bawa adik untuk Shaka!" Racau Gaga.
"Tidak. Aku belum siap jika harus memiliki anak lagi." Tolak Nirmala dengan tegas.
"Kenapa?" Tanya Gaga dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Shaka baru saja merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang ayah. Aku tidak ingin kasih sayangnya terbagi. Biarkan dia menikmati hari-harinya."
"Tapi,.....!!"
"Jangan memaksa ku!" Ucap Nirmala dengan wajah dingin.
Gaga yang melihat raut wajah Nirmala berubah dingin langsung terdiam. Nirmala yang kembali acuh memilih keluar dari kamar hotel.
"Mau kemana dia?, aduh Gaga. Dasar bodoh. Kenapa kau membuatnya marah?"
Gaga mengerutuki dirinya sendiri. Pria ini kemudian menyusul Nirmala yang ternyata berjalan-jalan santai di area sekitar hotel.
"Maafkan aku," ucap Gaga yang tiba-tiba ada di samping istrinya.
"Jangan di bahas!" Sahut Nirmala. "Aku mau cari bakso dulu!"
"Aku punya bakso dua. Mau gak?" Gaga menawarkan.
"Bakso apa?" Tanya Nirmala dengan polosnya.
"Ini,....!!" Tunjuk Gaga ke arah bawah membuat Nirmala menarik ulur nafasnya.
"Dasar burung Gagak. Kenapa isi kepala mu selalu kotor hah?"
Nirmala yang hendak mencubit lengan Gaga tapi dengan capat Gaga berlari untuk menghindari cubitan tersebut.
Tentu saja Nirmala mengejar, mereka berlari-lari di trotoar. Hilang sudah rasa marah Nirmala berkat candaan dari Gaga.
"Udah ah. Aku lelah!" Seru Nirmala yang terduduk lelah dengan nafas ngos-ngosan.
"Jadi makan baksonya?" Tanya Gaga.
"Jadilah. Aku lapar!"
"Tapi ini sudah malam, apa masih ada yang buka?"
"Gak tahulah. Cari aja dulu!"
Mau tidak mau Gaga menuruti kemauan Nirmala. Keringat yang membasahi wajah Nirmala sungguh membuat Gaga tergoda.
"Kenapa melihat ku terus?" Tegur Nirmala.
"Semua laki-laki sama aja. Kalau lihat yang bening matanya langsung jelalatan!"
"Memuji salah, tidak memuji lebih salah. Perempuan maunya apa sih?"
"Mau uang yang banyak!" Jawab Nirmala asal tapi Gaga menanggapi dengan serius.
"Ini,....!!" Ujarnya seraya menyodorkan dua buah kartu.
"Untuk apa?" Tanya Nirmala heran.
"Katanya mau uang yang banyak. Ambil kartu ini, isinya uang!"
"Gak, aku hanya bercanda tadi." Tolak Nirmala.
Gaga meraih tangan Nirmala lalu meletakan kedua kartu tersebut di atas telapak tangannya.
"Aku gak mau pegang beginian. Ini terlalu banyak, aku tidak mau."
"Simpan aja. Kamu istri ku, jadi kau berhak atas apa yang aku miliki sekarang. Gunakan dengan baik ya...!" Ucap Gaga sambil mengusap lembut pucuk kepala Nirmala.
"Bakso....so bakso....so....!!"
Tiba-tiba saja tukang bakso lewat. Dengan capat Gaga menghentikan tukang bakso tersebut.
"Bakso dua bang!" Pesan Gaga.
"Ok...!!"
Nirmala menghembuskan nafas pelan, lalu menyusul Gaga yang lebih dulu menghampiri tukang bakso.
"Silahkan mbak, mas!"
"Makasih bang," ucap Gaga dan Nirmala bersamaan.
Mereka menikmati semangkuk bakso. Setelah sekian lama, akhirnya Nirmala bisa juga makan dengan santai seperti ini.
Setelah selesai makan mereka langsung kembali ke hotel karena hari semakin larut malam.
"Heran sama Dania, kenapa dia tidak ada menghubungi ku?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku hanya ingin bertanya kabar Shaka. Tapi Dania tidak membalas juga!"
"Itu arti dia pengertian. Dania tidak mau mengganggu kita."
"Bilang saja kau yang kesenangan!" Seru Nirmala.
"Tidurlah. Sudah malam!"
Gaga menarik Nirmala masuk ke dalam pelukannya. Nirmala yang sebenarnya menolak akhirnya mau juga.