Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 34



"Ayo lah Dan, mau ya...!" Gaga membujuk Dania agar ia mau merayu Nirmala untuk tinggal di rumahnya.


"Aduuuh,....mau kerja sehari aja gak bisa. Nanti kita bahas deh, aku mau kerja dulu. Gak enak sama karyawan lain."


"Gak usah kerjalah. Jika kamu dan Nirmala tinggal di rumah ku, aku bisa lebih dekat sama Nirmala. Secara Nirmala hanya menurut dengan omongan mu saja."


"Ribet banget, kalian yang berumah tangga kenapa aku yang repot?"


"Jangan gitu Dan, aku sudah maju sampai sejauh ini. Tidak mungkin aku mundur," ucap Gaga.


"Menurut ku, kalian percuma saja menikah jika tidak saling mencintai."


"Tapi, aku menyukai Nirmala." Ujar Gaga.


"Apa kau bisa berjanji pada ku untuk tidak menyakiti Nirmala?"


Gaga menatap serius wajah Dania.


"Aku tidak pernah main-main," ucap Gaga.


"Aku melihat dan merasakan bagaimana sakitnya Nirmala dalam menjalani kehidupannya sejak mengandung Shaka hingga sekarang. Aku hanya ingin melihat dia bahagia, tidak lebih."


"Di masa lalu mungkin aku penuh dengan kesalahan. Tapi, sekarang aku hanya ingin memperbaiki kesalahan ku dengan cara bertanggung jawab pada Nirmala. Menyukai Nirmala adalah bonus dan mencintai dia adalah pilihan hati ku. Percayalah, aku akan membuat Nirmala dan Shaka bahagia."


"Kalau begitu, baiklah. Aku akan membujuk Nirmala untuk pindah ke rumah mu," ucap Dania membuat Gaga senang.


Dania kembali melanjutkan pekerjaan. Sebenarnya Dania mulai merasa kurang nyaman bekerja di kantor ini karena banyak karyawan lain yang menanyakan kedekatan dirinya dengan Gaga dan Randi.


Sementara itu, Nirmala saat ini sedang berada di apartemen bersama dengan Shaka karena pak Tirta sudah tidak mengizinkan Nirmala untuk bekerja.


Ada rasa bahagia saat melihat Shaka bisa makan enak, punya mainan banyak dan tidur di tempat tidur yang empuk.


"Mamah, papah Gaga benelan papah Shaka?" Shaka tiba-tiba bertanya, "papah Gaga gak ninggalin Shaka lagikan mah?"


"Iya sayang, papah Gaga adalah papah Shaka. Papah gak akan ninggalin Shaka," jawab Nirmala jujur.


"Shaka sekarang boleh dong mah bobonya sama mamah dan papah?" tanya Shaka dengan bahasa bayinya.


Nirmala menggaruk kepalanya tak gatal, ia bingung ingin menjawab apa.


"Siapa yang ngajarin Shaka bertanya seperti ini?" tanya Nirmala lembut.


"Kakek mah. Kata kakek, Shaka boleh bobo sama mamah dan papah."


Huft ......


"Mereka ini sudah meracuni Shaka. Di lawan orang tua, nanti kualat." Batin Nirmala.


"Mamah, jawab dong!" Shaka menarik tangan mamahnya.


"Boleh dong sayang," jawab Gaga yang tiba-tiba ada di sana.


"Hiiidiiih,....sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Nirmala curiga, "jangan-jangan kau menguping pembicaraan aku dan Shaka?"


"Sedikit...!" seru Gaga.


"Dasar burung gagak. Kau memang menyebalkan."


"Mamah jangan malah-malah telus. Kasihan papah!" Ujar Shaka yang langsung memeluk Gaga.


"Iya, mamah jangan marah-marah nanti cepat tua." Gaga menimpali.


"Gagak,......!" Nirmala memutar bola matanya malas.


"Malam ini kamu dan Shaka akan pindah ke rumah ku," ujar Gaga memberitahu.


"Gak, aku gak mau!" Tolak Nirmala.


"Kita ini suami istri Nir, masa harus tinggal terpisah?"


"Kamu tahu jika pernikahan kita ini mendadak. Aku belum siap untuk semuanya."


"Jika menunggu kau siap, itu kapan Nir?"


"Gak, aku mau tinggal di sini aja. Kalau kamu mau tidur sama Shaka, kau boleh menginap di sini."


"Tapi kita satu kamarkan Nir?" tanya Gaga.


"Enak aja!" seru Nirmala.


"Jika tidak satu kamar, masa iya aku tidur di kamar Dania. Ada-ada saja!"


"Iya,...iyaa......tapi ingat ya, di mana kau harus tidur."


"Ya, aku mengerti. Tidak masalah sekarang tidur di sofa, besok atau lusa aku akan tidur di samping mu!"


"Gaga,........!!"