
Malam semakin larut, tapi Nirmala masih betah duduk di sofa. Sudah tak terhitung lagi ia menguap karena menahan kantuk.
Dengan setia pula Gaga menemaninya, bahkan sampai sekarang pun mereka berdua belum mandi.
"Aku mau mandi. Tubuh ku gatal!"
Gaga bangkit dari duduknya hendak pergi ke kamarnya.
"Aku juga mau mandi," ucap Nirmala, "tapi pakaian ku ada di kamar tamu. Dania benar-benar sialan!"
"Aku punya beberapa pakaian baru. Kau bisa memakainya untuk malam ini."
Nirmala memutar bola matanya malas. Hatinya benar-benar jengkel dengan ulah Dania.
Mau tidak mau Nirmala ikut ke kamar Gaga. Setelah masuk ke dalam kamar, Nirmala terkejut saat melihat tas miliknya berada di atas tempat tidur Gaga.
"Apa-apaan mereka ini. Pasti papah mu sudah merencanakan ini semua dengan Dani," ucap Nirmala kesal.
"Sekarang papah ku papah mu juga. Pergilah mandi lalu istirahat. Kau pasti lelah."
Huft,......
Nirmala membuang nafas kasar, ia kembali melirik Gaga dengan tajam.
"Awas aja ngintip," ucap Nirmala sambil menunjukan kepalan tangannya.
"Iya, lagian itu kamar mandi punya kunci. Kau bisa mengunci dari dalam."
"Bisa-bisanya aku menikah dengan orang yang aku benci. Menyebalkan. Talak aku Gaga!"
"Cepat atau ku lempar kau ke kolam!" ancam Gaga.
Nirmala menghentakkan sebelah kakinya sebelum pergi ke mandi. Gaga menunggu di balkon kamarnya, angin malam begitu dingin menusuk kulit. Sejenak Gaga memikirkan apa yang terjadi barusan.
"Benarkah aku sudah menikah?" Gaga bertanya di dalam hatinya, "apa Nirmala bisa mencintai ku sedangkan dia sangat membenci ku?"
Wuuuuussss........
Gaga menengadah ke atas, menatap langit dengan kilatan petir saling menali.
"Langit, bisakah kau beri aku jawaban. Apakah Nirmala akan mencintai aku?"
Duuuaaaar,......
Sambaran petir begitu keras, Gaga terkejut dan ia buru-buru masuk kedalam.
"Jawaban apa itu?, kok menakutkan sekali?" gerutu Gaga.
"Kau ini benar-benar burung Gagak. Suka bicara sendiri, stres!"
"Jangan banyak bicara. Istirahat sana. Sudah malam!"
Gaga pergi menuju kamar mandi, sedangkan Nirmala duduk di sofa lalu merebahkan diri di sana.
"Dania sialan. Dia benar-benar ingin di hajar. Awas saja dia besok!"
Terus mengomel, tanpa sadar Nirmala terlelap. Gaga yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh ke arah Nirmala. Wanita yang baru saja menjadi istrinya ini sudah terlelap tidur.
Tak sampai hati, Gaga menggendong Nirmala memindahkannya ke atas tempat tidur sedangkan dirinya tidur di atas sofa.
Tidak ada malam pertama, bahkan Gaga sendiri tak berani tidur di samping Nirmala meskipun tempat tidur itu adalah miliknya sendiri.
Hujan turun dengan begitu deras, semua orang terlelap dalam mimpi masing-masing. Begitu juga dengan Shaka yang nyenyak tidur bersama dengan sang kakek.
Pukul dua malam, Gaga terbangun karena haus. Ia menuju nakas, tempat di mana air minumnya selalu ada di atas sana.
Melihat wajah Nirmala yang begitu teduh, sejenak Gaga terdiam sambil memandang wajah cantik Nirmala yang membuat candu.
"Uh, cantiknya. Berjuta kali pun kau meminta cerai dari ku,tidak akan ku kabulkan," batin Gaga lalu tersenyum menang.
Gaga menarik selimut, menyelimuti Nirmala setelah itu kembali ke sofa untuk melanjutkan tidurnya. Sejak bertemu dengan Shaka, sudah tidak ada lagi mimpi aneh yang menghantui Gaga.