
"Dan, tadi aku lihat Shaka di ajak pergi sama pak Randi. Gak salah tuh?" Dion penasaran.
"Iya, seharian ini Shaka di ajak main sama pak Randi dan pak Gaga. Aku merasa tidak enak hati."
"Dan, apa kau tidak merasa jika wajah Shaka dan pak Gaga sangat mirip. Hidung, mata, bibir dan alis bahkan raut wajahnya saja sama."
"Sebenarnya iya, tapi aku takut untuk bersuara."
"Iya, bisa-bisa kita di pecat!" Sahut Dion, "ya udah. Ayo ku antar pulang. Kasihan Shaka, dia terlihat lelah."
Dion pun mengantarkan Dania dan Shaka pulang ke kontrakan. Setibanya di kontrakan, Dania melihat keadaan Nirmala yang sepertinya sudah membaik.
"Loh Dan, banyak banget mainan Shaka. Kamu jangan suka manjain Shaka," ujar Nirmala.
"Ya ampun, aku tuh gak manjain Shaka. Semua mainan ini di belikan sama bos ku," kata Dania membuat Nirmala kaget.
"Loh, maksudnya bagaimana?"
"Ya maksudnya semua mainan ini di belikan sama bos ku alias pemilik perusahaan tempat aku kerja," jelas Dania membuat Nirmala terkejut.
"Udahlah Nir, gak usah kaget gitu. Bos kami itu baik, setiap minggu kami selalu di berikan bonus." Timpal Dion agar Nirmala tidak kepikiran.
"Kamu udah sehatan Nir?" Tanya Dania.
"Udah. kalau aku sakit terus kasihan kamu Dan," ujar Nirmala.
"Ya udah.Aku pulang dulu ya," ujar Dion berpamitan.
"Iya, hati-hati di jalan!" ucap Nirmala dan Dania bersamaan.
"Kamu istirahat aja Nir, biar aku yang mandiin Shaka."
"Gak usah Dan, aku aja. Kamu pasti capek."
"Udahlah Dan, aku udah sehat kok!"
"Kalau begitu, kamu menghangatkan makanan ini aja. Biar aku mengurus Shaka."
Nirmala mengiyakan, meskipun di hatinya ia merasa tidak enak hati sudah merepotkan Dania.
Malam telah datang, di ruangan sederhana tanpa meja dan kursi Dania dan Nirmala juga Shaka makan bersama-sama. Shaka anak yang pintar, ia bisa makan sendiri. Selesai makan malam, Shaka yang kelelahan langsung terlelap tidur.
"Nir,....!"
"Iya Dan, kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa kok!"
"Kenapa sih? kamu kok aneh gini?" Nirmala heran.
"Kamu gak ada niatan untuk menikah?" Tanya Dania ragu.
"Memangnya ada laki-laki yang mau terima aku dan anak ku?" Nirmala balik bertanya.
"Ya harusnya ada dong. Shaka butuh seorang ayah. Ku lihat tadi dia sangat senang bisa bermain dengan bos ku."
"Bos mu itu kurang kerjaan. Bisa-bisanya main sama Shaka!"
"Apa impian mu sekarang Nir?" Tanya Dania. Begini lah rutinitas Nirmala dan Dania sebelum tidur, mereka saling mengobrol.
"Aku ingin hidup ku lebih baik lagi agar aku bisa memberikan kehidupan yang nyaman untuk Shaka. Dengan keadaan status yang seperti ini, aku tidak pernah bermimpi terlalu tinggi."
"Bermimpilah setinggi mungkin Nir. Urusan tergapai atau tidaknya itu urusan Tuhan. Setidaknya kita sudah berusaha."
"Untuk sekarang cukuplah melihat Shaka sehat dan bahagia, sudah lebih dari cukup untuk ku."
"Sesekali bertanyalah pada anak mu perihal perasaannya Nir. Meskipun Shaka belum tahu arti, aku yakin dia memiliki sebuah impian."
Huft,.....
Nirmala menghembuskan nafas kasar, bukanlah ia tidak memikirkan nasib Shaka, tapi mau bagaimana lagi? keadaannya Nirmala seperti ini.
Malam semakin larut, kedua perempuan ini sudah terlelap tidur. Bunyi petir yang menggelegar membuat Nirmala kaget, ia langsung memeluk anaknya.
"Maafkan mamah yang tidak bisa memberikan mu kehangatan yang utuh nak. Semoga mamah bisa memberikan mu kebahagiaan meskipun kamu tidak memiliki seorang ayah." Ucap Nirmala di dalam hatinya.
Hujan turun deras di malam gelap yang panjang. Nirmala kembali tertidur sambil memeluk anaknya.
Sementara itu, ada Gaga yang seperti biasa terbangun saat tengah malam. Lagi dan lagi, ia di hantui oleh mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang menggangu tidurnya.
"Bocah itu Shaka," ucap Gaga, "tapi, apa hubungannya Shaka dengan mimpi ku? kenapa dia selalu datang di dalam mimpi ku?"
Gaga meneguk habis segelas air putih yang selelau tersedia di atas nakas.
Pukul satu malam, Gaga belum kembali terlelap. Bayangan wajah Shaka yang dingin dengan tatapan penuh kebencian begitu menusuk hati Gaga.
Malam telah berganti pagi, dengan mata yang masih mengantuk mau tidak mau Gaga harus bangun dan bersiap-siap pergi ke kantor.
"Gak tidur lagi?" Tanya Tirta.
"Iya pah," jawab Gaga singkat.
"Mimpi anak kecil itu lagi?"
"Ya begitulah!"
Tirta menatap anak Gaga dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Jujur pada papah, apa kamu pernah membuang bibit mu sembarangan?" Tanya Tirta serius.
Seketika wajah Gaga berubah gugup.
"Apa sih pah? Gak lah, gak mungkin aku seperti itu."
"Jangan bohong Gaga. Jika tidak, kenapa kamu selalu mimpi seperti itu?"
"Biasanya juga gak pernah, baru sekarang-sekarang aja."
"Jangan coba-coba bohong sama papah. Kamu pasti tahukan akibatnya?"
"Gaga berangkat ke kantor dulu pah!" Ujar Gaga yang tak ingin memperpanjang masalah.
Tirta membuang nafas kasar, sebagai seorang laki-laki dan ayah yang memiliki pengalaman yang lumayan, ia paham jika sang anak sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Setibanya di kantor, entah kenapa hati Gaga tiba-tiba ingin melihat Shaka. Bergegas ia naik kelantai enam karena jam segini biasanya Dania ada di sana.
Liar mata Gaga mencari bocah yang baru kemarin akrab dengannya namun tidak ada.
"Pak, kok melamun?" Tegur Dania memberanikan diri karena sejak beberapa menit yang lalu Gaga hanya berdiri diam di depan lift.
"Kamu sendiri?" Tanya Gaga datar.
Dania mengerutkan keningnya bingung, "iya pak. Saya kerja sendiri."
"Eeem,...Shaka gak ikut?" Tanya Gaga kembali membuat Dania bingung.
"Mamahnya sudah sehat pak. Jadi, Shaka gak ganggu saya kerja lagi."
Gaga terdiam, entah kenapa ia merasa kecewa saat tak mendapati Shaka di kantornya.
"Ya udah, lanjut kerjanya!" Ujar Gaga langsung di iyakan oleh Dania.
Gaga masuk kedalam ruangannya, selang beberapa waktu Randi datang menyusul.
"Gimana Ran,...?" Tanya Gaga membuat Randi bingung.
"Apanya gimana?" Randi bertanya balik.
"Apa kau sudah menjalankan apa yang aku tugaskan pada mu?" Tanya Gaga memperjelas.
"Aku belum mendapat kabar dari anak buah ku. Lagian, kenapa kau tiba-tiba sibuk ingin mencaritahu tentang orang lain?"
"Sejak kapan kau banyak tanya Ran?" Gaga kesal.
"kau tidak takut jika om Tirta tahu kebusukan mu?" Tanya Randi membuat Gaga terdiam.
"Maka dari itu, aku ingin memecahkan arti mimpi ini sebelum papah tahu dan menghajar ku."
"Lagian, kenapa kau ini bodoh sekali? kenapa kau meninggalkan perempuan itu dulu hah?"
Sekarang Randi yang kesal.
"Aku panik Ran, aku tidak ingin nama keluarga ku tercoreng."
"Kau hanya memikirkan nama baik keluarga mu tanpa memikirkan nasib perempuan itu dan keluarganya. Karmanya saja yang belum kau terima sekarang!"
"Kau mendoakan ku kah?"
"Sedikit!" Seru Randi benar-benar kesal.