Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 25



"Aku minta maaf," ucap Gaga, "aku benar-benar minta maaf."


Huft,......


Nirmala menarik nafas panjang lalu menghembusnya pelan.


"Sudahlah. Mungkin saja ini sudah takdir ku," sahutnya pasrah.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Gaga.


"Ikut pulang bersama mu. Apa lagi?, bukankah kau mau bertanggung jawab atas diri ku?"


"Iya, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku. Menikahi mu pun aku mau!" Ujar Gaga.


Nirmala melirik tajam, lalu berkata.


"Dalam mimpi mu!"


Nirmala beranjak dari duduknya, naik ke atas kapal yang sebentar lagi akan berlayar.


"Sebenarnya, jika di lihat kakak ipar mu itu sangat membenci mu. Kenapa?" tanya Gaga penasaran.


"Memang seperti itu. Sebelum ayah dan ibu ku meninggal, mereka tidak setuju jika kakak ku menikah dengan kak Hesti."


"Ku pikir kakak mu belum tahu jika istrinya sudah menjual aib mu hanya demi uang."


"Biarkan lah. Aku sudah tidak peduli lagi. Kak Hesti hanya ingin berkuasa di rumah kami. Entah apa tujuannya!"


Gaga melipat kedua tangannya, di dada. Memandang wajah cantik dengan anak rambut yang bermain di wajah Nirmala. Angin laut berhembus berirama, entah kenapa Gaga semakin terpesona melihat Nirmala.


"Kenapa melihat ku terus? ku colok mata mu!" kesal Nirmala.


"Kamu cantik. Aku tidak bosan melihat wajah mu," ucap Gaga membuat Nirmala merona malu.


"Jangan macam-macam. Akan ku tendang kau ke laut!" Ancam Nirmala membuat Gaga tertawa.


Kapal berlayar, kali ini arus gelombang tidak begitu kencang. Nirmala tampak biasa saja setelah bertemu dengan kakaknya.


"Apa ini? Jangan....!" Nirmala menepis jaket yang di selimutkan Gaga padanya.


"Pakai jaket ini. Nanti kau masuk angin," ujar Gaga.


"Aku tidak butuh!" Tolak Nirmala.


"Kau ini keras kepala. Cepat pakailah."


"Pemaksaan. Kau dan Shaka sama saja!" kesal Nirmala. Shaka, bocah itu jika ada maunya harus segera di kabulkan, jika tidak Shaka hanya akan diam tanpa ingin bicara dengan siapa pun.


Tanpa terasa Gaga dan Nirmala tiba kembali di kota mereka. Mereka harus melakukan perjalanan kurang lebih dua jam menuju rumah.


"Kita istirahat di sini dulu. Aku lapar, ayo cari tempat makan." Ajak Gaga.


Di tempat ini, satu-satunya tempat makan yang mewah hanyalah restoran milik Arwan.


"Kita makan di rumah saja. Aku ingin cepat pulang," ujar Nirmala yang sebenarnya menghindari masuk kedalam restoran tersebut.


"Aku benar-benar lapar. Jika lapar, aku tidak bisa fokus menyetir mobil. Ayo,....!"


Gaga menarik tangan Nirmala, mau tidak mau Nirmala ikut bersama Gaga.


Saat memasuki restoran, tiba-tiba saja ada seseorang yang melepaskan genggaman tangan Gaga dan Nirmala.


"Siapa kau?" tanya Gaga, "kenapa kau menghalangi kami?"


"Nir, kemana saja kau selama ini? Mas kangen sama kamu!" Arwan ingin memeluk Nirmala tapi dengan cepat Gaga menghalanginya.


"Kau ini siapa, kenapa tiba-tiba mau main peluk aja?"


"Dia mantan bos ku. Aku pernah bekerja di sini sebelumnya," ujar Nirmala memberitahu Gaga.


"Bos....?" Gaga merasa aneh melihat sikap Arwan pada Nirmala.


"Nir, kenapa kau meninggalkan mas? Mas cinta sama kamu. Kenapa kamu pergi gak kasih tahu sama mas?" Arwan berusaha penjelasan.


"Duh mas. Kamu sudah menikah, tolong jangan mendekati aku. Aku tidak mau berurusan dengan mu lagi," ujar Nirmala lalu menarik tangan Gaga mengajak pria itu pergi.


Arwan mengajar Nirmala, ia tidak peduli jika dirinya sudah menikah.


"Aku tidak mencintai Sofia. Hanya kamu yang mas cinta Nir," ucap Arwan menghentikan langkah Nirmala.


Nirmala tidak peduli, ia kembali menarik tangan Gaga seperti anak kecil menuju mobil.


Nirmala bisa bernafas lega saat ia sudah berada di dalam mobil.


"Dia pacar mu kah?" tanya Gaga penasaran.


"Sudah ku bilang dia bos ku," jawab Nirmala dengan wajah kesal.


"Sepertinya dia menyukai mu."


"Kau ingat perempuan yang berdebat dengan ku di depan rumah sakit?" tanya Nirmala mengingatkan.


"Iya, aku ingat."


"Itu istrinya!" Jawab Nirmala singkat.


"Sepupunya Medina. Aku ingat, saat aku menunggu di luar, Medina memperkenalkannya pada ku. Namanya Sofia."


"Ternyata ingatan si burung gagak ini bagus juga," ucap Nirmala.


Gaga hanya bisa mencengir, ia kemudian melajukan mobilnya untuk mencari tempat makan yang lain.


"Ingat mu tentang makan juga bagus juga!" Ujar Nirmala saat mobil berhenti di tempat makan sederhana.


"Aku lapar lah. Ayo keluar!"


Gaga dan Nirmala masuk ke dalam tempat makan. Mereka bagai suami istri tapi nyatanya bukan.


"Banyak juga makan si burung gagak ini," tegur Nirmala.


"Kau ini ternyata banyak bicara juga!"


"Suka-suka aku lah!" Seru Nirmala, "sebenarnya aku masih muak melihat mu. Aku benci sekali melihat mu tapi mau bagaimana lagi, kau selalu ada di depan mata ku."


"Kau ini kalau bicara nusuknya sampai ginjal."


"Kalau bukan karena Shaka, aku tidak akan mungkin mau melihat wajah mu!"


"Untung aku sedang lapar. Jadi, semua ucapan mu sudah ku telan kenyang masuk kedalam perut."


Nirmala memutar bola matanya kesal, antara marah dan benci ia sudah tidak bisa mengungkapkan.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau memberi nama belakang Shaka dengan nama ku?" tanya Gaga penasaran.


"Kebetulan aja kali. Aku sama sekali tidak mengenal mu. Memangnya nama Dewangga itu milik mu saja kah?"


"Jawaban mu ini sungguh membuat ku ingin....!!!" Gaga gemas sendiri.


"Ingin apa?" tanya Nirmala, "cepat selesai makan mu. Aku ingin cepat pulang. Kasihan Shaka menunggu ku."


Bergegas Gaga menyelesaikan makanannya. Selesai makan dan minum, Gaga langsung membayar kemudian melanjutkan perjalanan mereka.


Pukul delapan malam Gaga dan Nirmala tiba di rumah. Itu pun Shaka sudah tidur. Nirmala langsung pergi mandi begitu juga dengan Gaga.


"Bagaimana hasilnya Nir, apa kakak mu bisa menerima mu kembali?" tanya Dania penasaran.


Nirmala menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Nir?"


"Mungkin kakak sudah terhasut oleh kak Hesti," jawab Nirmala sedih.


"Kakak ipar mu itu benar-benar minta di lempar ke laut merah sana," ucap Dania yang kesal.


"Sudahlah Dan. Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi dari kakak. Entah kenapa aku merasa lega setelah pulang dari sana. Kenapa ya Dan?"


"Itu karena kau datang bersama dengan Gaga. Sebajingannya dia, tapi Gaga ada niatan mau bertanggung jawab."


"Tapi tetap saja aku masih belum terima atas perbuatannya."


"Jika dia mengajak mu menikah bagaimana Nir, apa kau mau?" tanya Dania benar-benar penasaran dengan jawaban Nirmala.


"Aku tidak berniat untuk menikah. Hidup berdua dengan Shaka sudah cukup bagi ku."


"Jangan bicara seperti itu Nir. Mana tahu kau dan Gaga ada jodoh."


"Terserah kau lah Dan, aku mau istirahat dulu."