Noda Nirmala

Noda Nirmala
Chapter 24



Suasana hening, Nirmala dan Gaga tak saling bicara saat mereka berada di dalam mobil yang sama.


"Kita tidak bisa membawa mobil mu naik kapal. Kapalnya kecil," ujar Nirmala kemudian berlenggang menaiki kapal.


Gaga mengekor di belakang Nirmala, ia menurut saja.Cuaca sedikit buruk, hembusan angin laut sangat kencang. Belum la kapal berlayar, Nirmala sudah memijat kepalanya pusing.


"Apa kau mual?" tanya Gaga sembari menyodorkan sebotol air mineral.


"Terimakasih," ucap Nirmala.


"Nah,....!" Gaga memberikan sebutir obat untuk Nirmala.


"Obat apa ini?" tanya Nirmala curiga.


"Minumlah agar kau tidak mabuk laut," ujar Gaga yang perhatian pada Nirmala.


"Mencurigakan!" seru Nirmala.


"Kenapa kau curiga pada ku? Jangan-jangan kau berpikir jika obat ini bisa membunuh mu ya?" tebak Gaga.


"Dan setelah itu kau akan membuang ku kelaut!" Timpal Nirmala.


"Pemikiran mu tentang aku selalu saja jelek. Entah kapan bagusnya?"


"Sebab siapa aku menjadi seperti ini?" tanya Nirmala membuat Gaga terdiam sejenak.


"Cepat minum!" titah Gaga sambil menarik tangan Nirmala dan meletakan obat tersebut di atas telapak tangan Nirmala.


Gaga duduk sedikit jauh dari Nirmala, tapi ia terus memperhatikan Nirmala. Hembusan angin membuat rambut Nirmala kocar kacir ke sana kemari. Gaga semakin terpesona memandang ibu dari anaknya itu.


"Wajahnya tidak membosankan. Hanya saja dia galak!" Batin Gaga.


Setengah jam berlalu, akhirnya kapal yang mereka tumpangi tiba di dermaga juga. Nirmala langsung turun, tidak memperdulikan Gaga yang sibuk mencarinya di atas kapal.


"Benar-benar perempuan aneh. Masa aku di tinggal di atas kapal!" Gaga bergeleng kepala melihat Nirmala yang berjalan jauh meninggalkan dermaga.


Dengan cepat Gaga turun, ia berlari mengejar Nirmala.


"Kenapa kau meninggalkan ku?" tanya Gaga dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku tidak mau melihat tempat di mana kau menodai ku!" jawab Nirmala dengan suara datar.


"Aku minta maaf," ucap Gaga.


"Rumah ku di depan sana. Cepatlah!" Nirmala kembali melanjutkan langkahnya.


Tak banyak bertanya, Gaga hanya menurut saja.


Setibanya di depan rumah, Nirmala ragu untuk mengetuk pintu rumahnya.


"Kenapa?" tanya Gaga heran.


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Nirmala lalu mengetuk pintu.


Tak ada jawaban, tapi Nirmala tetap memanggil nama sang kakak.


"Itu siapa?" tanya Gaga saat melihat motor masuk kedalam halaman.


"Itu kakak ku!" Jawab Nirmala singkat.


Doni melepas helmnya, begitu juga dengan Hesti. Wajah Hesti langsung masam saat melihat Nirmala.


"Mau apa kau pulang?" tanya Hesti dengan wajah tak bersahabat.


"Ini juga rumah ku. Aku berhak pulang!" Sahut Nirmala.


"Mau apa lagi kau pulang Nir?" tanya Doni, "kurang puaskah kau mempermalukan keluarga kita?"


"Kami datang baik-baik. Bisa kita bicara?" Sambung Gaga.


"Siapa kau?" tanya Doni pada Gaga.


Doni membuka pintu, membiarkan Nirmala dan Gaga masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


"Aku tetap menolak adik mu tinggal di sini mas. Dia adalah aib bagi kita," ucap Hesti yang menghasut Doni.


"Diamlah. Ayo masuk!" ajak Doni.


Gaga melihat rumah Nirmala sangat besar bahkan paling besar di antara rumah yang lain. Banyak foto-foto seperti aktivitas sosial, Gaga bisa menebak jika yang ada di dalam foto pasti orang tua Nirmala.


Sedikit cerita, Nirmala dan Doni adalah anak dari pasangan Guntara dan Mailina. Orang tua meraka sangat di segani di oleh masyarakat karena ayah Nirmala pernah menjabat sebagai kepala daerah di sana bahkan berkat ayah Nirmala, ekonomi di daerah mereka semakin maju.


"Cepat katakan, mau apa kau pulang?" tanya Doni yang sampai sekarang masih tidak terima.


"Bicara baik-baik. Jangan membentak Nirmala!" Sahut Gaga membuat Doni kesal.


"Dia laki-laki yang sudah menodai ku dulu kak," ucap Nirmala memberitahu.


"Aku datang untuk bertanggung jawab," timpal Gaga.


"Setelah sekian lama kenapa baru sekarang kau datang untuk bertanggung jawab?" tanya Hesti yang suka sekali ikut campur.


Gaga kemudian menjelaskan apa yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Meskipun hati Nirmala sakit saat mendengar penjelasan Gaga, tapi ia berusaha sabar.


"Gawat. Jiika mas Doni termakan omongan laki-laki ini, Nirmala pasti akan kembali pulang ke rumah ini," batin Hesti.


"Apa pun alasan kalian, aku tidak akan menerimanya. Aku tidak akan mungkin menerima Nirmala kembali dalam keluarga ini. Dia adalah aib bagi kami," ucap Doni sungguh sangat menyakiti perasaan Nirmala.


Tanpa terasa, air mata Nirmala kembali jatuh membasahi pipi.


"Tidak bisa seperti itu dong. Nirmala tidak salah, aku yang salah. Dan juga aku datang untuk bertanggung jawab," ujar Gaga yang tidak terima.


"Sudah ku bilang, aku tidak menerima alasan kalian!" tegas Doni.


"Kak, kakak gak bisa seperti ini dong. Aku juga berhak tinggal di rumah ini," ucap Nirmala membuat Hesti kalang kabut.


"Kamu tu sadar gak Nir, kamu udah buat kakak kamu kecewa. Jika ayah dan ibu kalian masih hidup, sudah pasti mereka akan jauh lebih kecewa pada mu." Hesti memperkeruh keadaan.


"Diam kau!" bentak Gaga dengan sorot mata tajam, "kau pasti Hesti. Kau tidak berhak ikut campur!"


"Aku berhak ikut campur, Nirmala adik ipar ku. Kau, kau siapa? kau hanya laki-laki pecundang yang sudah merusak hidup Nirmala."


"Kak Hesti, bisakah kakak diam. Aku tahu selama ini kakak lah yang sudah menghasut kak Doni untuk membenci ku," ucap Nirmala yang sudah tak tahan.


"Jaga bicara mu Nir!" bentak Doni tidak terima, "kau itu kotor. Kau itu aib. Aku tidak akan membiarkan kau tinggal dan mengotori rumah peninggalan orang tua kita," ucap Doni membuat Hesti tersenyum penuh kemenangan.


"Kakak tidak berhak mengatur ku seperti itu. Aku ini korban!" tegas Nirmala.


"Nirmala benar, dia hanyalah korban. Aku lah yang salah!" timpal Gaga.


"Jika kau ingin bertanggung jawab, pergi dan bawa aib keluarga kami ini." Ucapan Doni membuat Nirmala terkejut. Bagaimana bisa kakak tega mengatakan hal seperti ini padanya.


"Kak,....!" lirih Nirmala.


"Pergilah!" Usir Doni.


"Seharusnya kau berterimakasih pada kami yang sudah menutup aib mu rapat-rapat di sini. Aku malu memiliki adik ipar yang kotor seperti mu," ucap Hesti yang benar-benar tidak tahu diri.


Gaga bangkit dari duduknya, menarik tangan Nirmala.


"Ayo kita pergi Nir. Mau di maafkan atau tidaknya terserah. Yang penting aku sudah beritikad baik datang kemari," ucap Gaga.


"Kak,....!" Lirih Nirmala penuh harap.


"Ayo Nir. Untuk apa kau berlama-lama di sini. Ingat Shaka yang sedang menunggu kita pulang!"


"Ya, pergilah. Aku tidak ingin melihat mu lagi. Jangan pernah kau datang ke rumah ini lagi. Ku harap ini yang terakhir kalinya!"


Nirmala hanya bisa menangis, rasanya ia tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata. Bahkan ia membiarkan Gaga menyeret tubuhnya keluar dari rumahnya sendiri.