
“Kebiasaan kamu lambat deh!” ujar Dion dengan nada ucapan yang masih sebal karena aku lama keluar kelasnya.
“O-oke! Hhhhh... Hhhh... Yuk pergi.” kataku yang segera berdiri tegak untuk segera beranjak pergi.
“Yuk!” ucap Dion sambil mengambil tasku dan dia membawakannya untukku.
Kami berdua pun berjalan menunju parkiran motor. Disana panas sekali karena cuaca sedang panas-panasnya, jadi aku menunggu Dion di bawah pohon dekat pintu keluar di parkiran motor. Aku melihat dari kejauhan Dion masih mencari-cari motornya. Akhirnya motor Dion pun menemukannya dan aku dipanggil olehnya untuk menuju ke tempatnya yang sedang berdiri. Aku segera menghampiri Dion sambil berjalan santai.
“Kenapa?” tanyaku kepada Dion sambil menutup kepalaku dengan topi miliknya.
“Air dong aku haus!” ujar Dion yang sambil duduk di motornya. Aku segera mengambilkan minum yang berada di dalam tas dia.
“Nih..” ujarku sambil menyodorkan minum kepadanya. Aku menunggu dia meminum air yang ku berikan tadi, tanpa sengaja aku menoleh ke arah lain. Dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang aku kenal dia mendadak buang muka setelah melihat ke arahku dan beranjak pergi dengan temannya.
(Siska? Mengapa tadi dia seperti panik sekali melihat ke arahku?)
“Nate? Bisa pegang dahulu? Jangan melamun kamu!” ujar Dion sambil menyodorkan air yang sudah diminumnya kepadaku.
“Ih dingin!” balasku dengan sebal dan segera mengambil minumnya tersebut dan memasukkan kembali ke dalam tas Dion.
“Lihat siapa sih?” ujarnya sambil memerhatikkan arah yang dari tadi aku maksud.
“Lihat Siska tidak tadi?” ucapku kepada Dion sambil menunjuk tempat yang tadi.
“Kenapa memang?” tanya Dion santai.
“Dia kenapa sih? Kok tadi sepertinya melihat ke arah kita sudah begitu tidak sengaja aku melihat ke arahnya, dia malah membuang muka sudah begitu jalan saja dengan temannya..” jelasku kepada Dion karena heran.
Dion hanya membalas dengan menghela nafas.
“Jawab sih malah diam..” tegurku yang memukul bahunya.
“Biasa mungkin dia salah paham, kan tidak aneh..” jawab Dion tak peduli.
“Loh? Memang kamu ada hubungan apa dengan Siska?” tanyaku kembali karena penasaran.
"Aku sih malas yah untuk membahas masalah lama, cuma dahulu dia pernah suka denganku dan pernah menyatakan suka ke aku..” terang Dion sambil termenung.
“Serius Dion???!! Kok tidak cerita denganku dan Caca?” balasku yang terkejut mendengar penjelasan Dion tadi.
“Malas habisnya mau membahas juga tidak penting.” terang Dion kembali sambil bersiap-siap mau mengeluarkan motornya.
“Eh... Eh... Ini kan ceritanya belum selesai!!” tegurku yang mengikuti di belakang motornya.
“Cepat! Nanti terlanjur ramai saja itu tempat makannya! Mau kamu gagal kembali makan disana?” tanyanya kembali sambil menoleh ke belakang.
“Iya... iya... ini aku mau naik motor kamu kok!” ujarku dengan sebal. Aku segera naik ke atas motornya.
Aku pun berpegangan ke pinggang Dion dengan sangat kencang. Ini pertama kalinya aku mencoba menaiki motor karena dari aku masih kecil Ayah ataupun Nathan tidak pernah mengijinkan aku untuk menaikinya. Awalnya aku berusaha bersikap biasa aja, lama-lama Dion membawa motornya kencang. Aku pun spontan berteriak karena takut!
“AAAAAAAAAKKKKKK!!!!!! DIOOOONNNNNNNN!!!” teriakku begitu kencang Dion pun panik dan segera memberhentikan motornya ke pinggir jalan.
“Kamu kenapa sih? Membuat aku terkejut saja!” ujar Dion dengan kesal.
“Aku takut!” terangku dengan gugup sambil memegang erat pinggangnya.
“Kamu pernah kan menaiki motor?” terang Dion kepadaku dengan memastikan.
“P-Pernah kok!” ujarku yang masih gugup dan memegang erat kedua tanganku ke pinggang Dion.
“Benar nih kamu pernah? Terus kenapa kamu takut?” ujar Dion memastikan kembali dengan wajah cemas.
“Pernah! Aku pernah menaiki motor! Naik saja sudah begitu aku turun kembali tidak sampai 5 menit!” terangku dengan nada sebal kepada Dion.
“Eh tunggu.. tunggu! Kenapa kamu tidak berbicara sedari tadi?” ujar Dion dengan nada kesal sambil menoleh ke belakang menghadapku. Aku melihat wajah Dion sambil memasang mimik muka konyol. Dion pun melihatku dengan menahan geli.
“Tidak tahu!!” balasku yang masih memasang mimik muka konyol sambil menahan tangis.
“Yah sudah aku akan membawanya perlahan saja deh. Jangan berteriak yah kamu! Awas kalau kamu berteriak, nanti aku turuni kamu tengah jalan juga...” ujar Dion yang mengancamku. Aku hanya membalas dengan anggukan kepadanya. Dion pun menyalakan kembali motornya, lalu kami pun berjalan secara perlahan. Aku berusaha menahan diriku agar tidak berteriak, untungnya Dion memang membawa motornya jadi perlahan.
(Kalau Kak Nathan tahu aku bisa terkena marah dia!)
Sekitar 20 menit pun motor kami sampai, seharusnya kalau Dion mengebut bisa sampai kurang dari 10 menit. Aku segera turun dari motornya dan berdiri dipinggir parkiran motor menunggu Dion yang memparkirkan motornya. Dion pun melepaskan helm dan merapihkan rambutnya yang agak berantakan, Dion segera berjalan menghampiriku.
“Jangan bilang Kak Nathan yah?” ujarku pada Dion sambil tertawa ketakutan. Dion langsung melihat kerahku.
“Tidak akan! Bisa dibunuh aku dengan Kakak kamu!” jawabnya sambil berjalan menuju pintu masuk tempat makan yang kami tujukan.
Tempat makan yang kami datangi ini masih baru dibuka, kami bertiga memang kompak hari ini akan datang ke sini bersama-sama. Namun Caca mendadak demam dan dia tidak masuk kuliah maka dari itu hanya aku dan Dion yang bisa datang. Tempat makan ini cukup populer di media social katanya tempatnya enak dan rasanya juga tak kalah sama dengan tempat makan lain yang populer. Beruntung hari ini mungkin tidak sepenuh seperti biasanya jadi sekarang aku dan Dion bisa makan ditempat ini.
“Mau pesen apa kamu?” tanya Dion sambil melihat-lihat menunya, sedangkan aku masih sibuk membolak-balikkan buku menunya.
“Tidak tahu Dion, mau sama denganku saja tidak?” tanyaku kembali sambil melihat ke arahnya.
“Tidak! Aku juga ingin menyicipi menu lain..” jawab Dion dengan mimik muka antusiasnya. Aku membalas dengan wajah yang meledeknya. Kami berdua akhirnya memesan menu makanan setelah itu kami berdua berjalan menuju meja yang kosong dan tinggal menunggu pesanan kami datang. Sambil menunggu aku memulai kembali pembicaraan mengenai hubungan dia dan Siska yang sempat tertunda.
“Jadi kamu dan Siska ada hubungan apa?” tanyaku tiba-tiba sambil menatap wajah Dion. Dion membalas dengan membuang muka.
“Bukan hal penting kok..” balasnya singkat.
“Tapi kok muka kamu langsung begitu?” tanyaku kembali sambil melihat mimik mukanya yang tidak enak. Dion melihat kepadaku dan menghembuskan nafas panjang.
“Hhhhhhh............!!! Aku bercerita dengan kamu, tapi jangan bercerita kembali dengan Caca yah?” ujarnya memberikan syarat kepadaku.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Sebab Siska membawa-bawa Caca dan aku tidak suka karena tak ada sangkut pahutnya juga.” jelas Dion yang masih saling pandang kepadaku dengan wajah serius.
“Yah sudah...” ucapku yang tak mau memperpanjang.
“Jadi.....dahulu ketika awal-awal masuk kuliah aku mengenal dia karena ada satu mata kuliah Nate, lalu awalnya aku kan memang biasa saja menggangap teman kepadanya, dia pun awalnya seperti itu.” terang Dion sambil serius menjelaskan.
“Lalu?”
“Yah lalu aku tidak tahu sejak kapan dia menjadi obsesi kepasaku...”
“Oh Tuhan! Tak menyangka... Lalu?” pintaku pada Dion dengan terus fokus.
“Yah waktu itu kamu ingat tidak ketika kita makan di kantin kampus? Ketika waktu kejadian Caca tidak sengaja menumpahkan tumisan capcay ke baju kemejaku? Lalu Caca bersikeras ingin membersihkannya walau ketika itu banyak sekali anak-anak jurusan lain?” terang Dion yang berusaha mengingatkan aku dengan kejadian yang di maksudkan. Aku pun teringat dengan kejadian tersebut.
“Hmm, yah aku ingat! Lalu?” pintaku kembali.
“Yah, ternyata ditempat itu ada Siska dan dia melihat Caca yang berdekat-dekat dengan aku. Dia berpikir Caca suka denganku dan dia berpikir kembali kalau Caca sedang bersaing untuk mendapatkanku...” jelasnya kembali.
“Lah? Caca sudah mempunyai kekasih Dion! Memang Siska tidak tahu?” terangku sambil memasang wajah yang keheranan.
“Maka dari itu Nate! Ternyata Siska tidak tahu Caca mempunyai kekasih. Akhirnya Caca ketika itu sempat mau dihadang oleh Siska, tapi aku tahu dan akhirnya bisa aku cegah...” jelasnya sambil memasang muka sedih. Tak lama makanan kami pun diantarkan oleh pramusajinya.
“Yah sudah ku katakan dengan Siska bahwa sedikit saja kamu menyentuh teman atau sahabatku, aku tidak akan mau kembali mengenal kamu Siska...” jelasnya dengan nada serius, aku pun terdiam mendengar penjelasan Dion tadi.
“Jadi untuk saat ini Siska kalau melihat kamu dengan wanita lain suka merasakan cemburu tak jelas?” ujarku sambil minum air yang ku pesan.
“Yah begitu...., mangkanya kamu abaikan saja kalau melihat dia melakukan hal-hal aneh. Bukan hal penting juga kok, untuk saat ini juga dia masih saja salah paham tak jelas. Pacarku juga bukan...” ucapnya dengan tak peduli.
“Yah sudah sekarang makan cepat! Jam 2 kan kita masih ada kuliah lagi juga...” ujarku sambil mulai makan, Dion pun segera makan mengikutiku. Aku masih berfikir ternyata Siska selama ini suka dengan Dion, sedangkan Dion tidak mau menceritakan kepadaku atau Caca. Menurutku Dion melakukan itu hanya untuk melindungi aku dan Caca yang mempunyai hubungan sangat dekat dengannya.
Kami pun segera beranjak dan berjalan menuju pintu keluar tempat makan tersebut. Dion berjalan didepannku aku mengikutinya di belakang. Di parkiran tiba-tiba ada yang menepak pundakku dari belakang, aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang.