
“Selamat pagi Nate.”
Aku yang baru masuk mobil mendengarnya jadi tersenyum malu, membuatku menjadi salah tingkah sendiri. Terlalu manis untuk di dengar sepagi ini dari mulut seorang lelaki. Aku mungkin terbiasa mendengar sapaan ini, namun jika dari lelaki lain rasanya menambah perasaan baikku dipagi ini. Setelah dilihat-lihat hari ini dia berdandan sangat rapih dan tentunya wangi aroma khasnya.
“Selamat pagi juga Kak Jun.” Aku membalas dengan hangat.
“Aku terlalu pagi yah menjemput kamunya?” sambil menengok jam tangannya.
“Tidak kok, aku sudah menunggu Kakak. Malah aku yang berpikir apa Kakak terlalu pagi menjemput aku..” terangku yang merasa tak enak pada Jun.
“Oh, tidak justru aku sedari subuh sudah bangun. Takutnya aku terlambat menjemput kamu ke rumah. Tidak apa-apa Nate...” ucap Jun dengan mimik muka meyakinkanku, aku yang melihat menahan tersenyum sendiri.
(Menggemaskan sekali sih ekspresinya!)
“Mau segera pergi saja?” aku tersenyum memandang Jun.
“Yah, kalau kamu sudah siap?” balas Jun dengan senyum manisnya.
“Yuk kita pergi.”
“Ayah kamu tidak ikut?” tanya Jun yang memperhatikan sekitar.
“Ayah sedang ada acara pekumpulan dengan temannya jadi dia absen menonton Nathan.” Jelasku pada Jun.
“Oh, oke kalau begitu kita pergi sekarang?”
“Yup!” ucapku dengan senyum.
Jun segera menyalakan mobilnya dan mulai berjalan menuju tempat yang akan dituju hari ini.
Sepanjang perjalanan aku merasa gugup sendiri, sesekali aku melirik kearah Jun yang sedang menyetir. Dia hanya diam fokus menyetir dan sesekali berbincang. Mungkin dia juga sedang gugup sama seperti yang aku rasakan sekarang. Entah gugup atau salah tingkah, aku sulit membedakannya. Sumpah tidak ada bosannya aku menatap dia yang rupawan ini.
Entah sejak kapan setiap kali aku memandang wajahnya itu timbul rasa-rasa yang menggelitik di dadaku. Kadang aku berpikir mungkin ini kali yang dinamakan suka pada seorang lawan jenis. Maaf saja aku sedikit tidak peka terhadap reaksi yang timbul ini, karena selama ini aku tidak menjalin hubungan lebih kepada seorang lelaki, hanya sebatas teman atau sahabat seperti Dion. Alasannya karena aku tidak mau para lelaki yang mendekatiku berurusan dengan Natahan dan Ayah.
Mereka terlalu berlebihan jika ada lelaki yang berusaha mendekat padaku. Belum juga lelaki itu mulai mendekatiku, kadang Nathan sudah bersiaga dahulu didepan hasilnya tiba-tiba saja mereka tidak memberikan kabar atau sekedar mengirim pesan lagi padaku.
Aku mencuri-curi pandang kepada Jun lagi, seperti mimpi seorang Jun bisa dekat denganku. Aku merasa kalau aku dan Jun berbeda, berbeda dari berbagai segi sampai detik ini pun aku belum menemukan kesamaan antara aku dan Jun. Tapi, entah kenapa aku selalu saja merasa tertarik oleh pesonannya itu. Aku penasaran juga dengan Jun, apa yang dia pikirkan dan mengapa dia begitu ingin sedekat ini padaku.
Tanpa sadar ternyata Jun tersenyum sambil menyetir, aku yang menyadari segera membuang wajah karena malu. Mungkin saja Jun menyadari dari tadi bahwa aku mencuri-curi pandang padanya.
“Sudah puas melihat wajah aku nya?” Jun melirik padaku sekilas dengan senyum usil dan kembali fokus pandangannya kearah jalan. Aku hanya diam mendengar ucapannya, aku merasa semakin gugup.
“Apa sih...” jawabku yang malu. Jun membalas dengan tertawa kecil sambil tangan kanannya menutup mulutnya, seakan dia menahan diri untuk tidak tertawa lebar.
“Kalau benar juga tidak apa-apa kok, aku suka...” sambil melirik padaku dengan senyum hangat. Aku yang melihat seketika merasa berdebar sendiri, debaran jantungku pun begitu kencang. Untuk pertama kalinya aku merasa tak nyaman seperti ini dengan seorang lelaki.
(Dia merasakan hal yang sama denganku juga tidak sih? Apa hanya aku saja yang terlalu berlebihan?)
Mobil pun memasukin parkiran lapangan baseball tempat Nathan berlatih. Dari kejauhan aku melihat Nathan dan teman-temannya sedang berkumpul. Mungkin mereka akan masuk jika pemainnya sudah lengkap, tapi aku rasa Nathan menungguku karena dari tadi dia memegang ponselnya.
“Itu Nathan?” tanya Jun sambil menunjuk arah yang dimaksudkan.
“Iya. Yuk kita turun..” Ajakku sambil segera bersiap-siap akan turun dari mobil berjalan kearah Nathan.
Jun pun mengikuti perintahku dan jalan mengikuti dibelakangku. Nathan yang menyadari kedatanganku yang tidak sendirian melainkan dengan Jun menyudahi pembicaraan dengan temannya dan segera berlari menghampiriku dengan muka sedikit kesal.
“Iyalah, kenapa?” dengan wajah bingung. Nathan yang kesal mencubit sedikit lenganku, aku membalas dengan memelototinya.
“Hai, Kak Nathan...” sapa Jun dengan senyum, namun Nathan membalas dengan wajah agak garangnya.
“Tidak usah memanggilku Kak, aku bukan Kakak kamu!” dengan nada ketus dan mimik muka datar.
“Oke, Nathan...” balas Jun dengan senyum lagi, Nathan yang mendengarnya terkejut dan melihat seakan-akan Jun senyum mengejeknya. Aku yang melihat mereka berdua hanya membatin sendiri.
(Semoga tidak ribut! Tidak ribut! Tidak ribut! Ya Tuhan tolong!)
“Lebih baik kita masuk ke dalam yuk?” aku merayu Nathan sambil menarik lengannya.
“Yuk..” kata Nathan merespon ajakanku. Jun pun segera melangkah dan berjalan ke sisiku, Nathan yang menyadari segera menahan Jun dengan tangannya.
“Jaga jarak!” perintah Nathan dengan nada menyebalkannya. Jun terhenti dan membalas dengan sneyuman saja. Aku yang melihat hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
(Kekanak-kanakan sekali sih Nathan!)
Kami bertiga pun berjalan memasuki pintu masuk lapangan dan segera berjalan menuju arah lapangan yang sudah disewa. Aku merasa yang merasa lapar melirik ke arah kantin yang tersedia di lapangan untuk membeli cemilan untuk di dalam sambil menunggu Nathan bermain.
“Aku akan membeli cemilan dahulu yah Kak..” ujarku pada Nathan sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
(Semoga saja mereka tidak ribut!)
Nathan dengan melipatkan kedua tangannya memandang kearah Jun seolah-olah sedang mengawasi seorang tahanan. Jun yang melihat gelagat Nathan hanya tersenyum kecil sambil tetap memandang kearah Nate yang sedang dikantin memesan cemilan.
“Sikap kamu yang seperti itu malah membuatku tertawa sendiri loh.” ujar Jun sambil melirik kepada Nathan dan kembali lagi pandangannya pada Nate.
“Memang kenapa? Aku Kakaknya..” balas Nathan dengan menaikkan satu alisnya.
“Kalau kamu bersikap berlebihan, tidak akan ada yang bisa mendekati Natasha. Memang kamu mau, adik kamu sendiri seumur hidupnya?” Jun merubah posisi menghadap Nathan dengan memasang mimik wajah mulai serius. Nathan yang mendengar ucapan Jun merasa agak sedikit kesal.
“Bukan urusan kamu! Kamu tidak akan tahu! Dan tidak akan pernah tahu! Itu bukan urusan kamu! Aku hanya menjaga dia...” belum Nathan melanjutkan Jun sudah memotong ucapannya.
“Tapi dia butuh seseorang untuk menyayangi dan melindunginya selain keluarganya! Dan kamu tidak bisa terus-terusan egois dengan sikap kamu! Kamu pikir dia bisa bahagia jika kamu seperti ini sikapnya dengan dia?” jelas Jun yang begitu serius saat ini dengan Nathan.
“Memang kamu bisa memberikan apa kepada dia? Uang? Kamu kira aku tidak tahu kamu anak siapa?” Nathan pun mulai terbawa dengan suasana.
“Yah kamu pasti tahu aku anak siapa, karena Bapak aku memang orang berpengaruh. Untuk Natasha aku bisa memberikan dia apapun yang dia butuhkan! Terutama kebahagian untuknya, dan kebebasan...” Jun memandang Nathan dengan sangat serius dan tak sadar Nate sudah berada disamping mereka berdua.
“Kebahagian? Kebebasan? Untuk siapa?” tegur Nate dengan wajah bingung sambil memegang cemilan yang dipesannya. Nathan dan Jun berbarengan memandang kearahnya dengan sedikit terkejut. Jun segera menghampiri Nate untuk membantu agar dia tak kesusahan membawa cemilannya.
“Buktikan!” ucap Nathan spontan sambil menatap Jun dengan mimik wajah serius. Jun yang menyadari maksudnya membalas dengan senyuman.
“Pasti....”
Nathan pun melangkah kakinya memasuki lapangan. Aku yang mendengar ucapannya tak paham apa yang dimaksudkan Nathan, sementara Jun aku melihatnya dia hanya tersenyum dan memasang mimik wajah penuh keyakinan.
(Apa yang mereka berdua bicarakan tadi?)
Batinku.
*****