
Kami bertiga pun akhirnya telah naik semester, tahun ini kami sudah memasuki tahun ketiga dalam perkuliahan. Sementara Jun sudah masuk tahun terakhir yang sudah mempersiapkan untuk praktik kerja lapangan, sidang dan wisuda. Di semester tahun ini pun Jun diperkirakan hanya sesekali saja kekampus karena semua nilai mata kuliahnya sudah memenuhi syarat. Jun akan datang jika ada keperluan mendesak berhubungan dengan administrasi kampus.
Aku dan Jun belum bertemu kembali setelah hari terakhir kami bertemu. Dia hanya rutin menelepon dan menchattingku saja tanpa bertemu. Untuk statusku dengan Jun tidak ada yang mengetahuinya kecuali sahabatku Dion, Caca dan mungkin Wira. Karena setiap dia bertemu denganku berpapasan di lingkungan kampus dia hanya mendeham-deham sambil tersenyum meledekku.
“Cieeee, yang sudah menjadi sepasang kekasih dengan Kak Jun. Akhirnya yah! Sekian lama agak susah juga kan kamu pekanya dengan dia!” ejek Caca yang duduk sampingku.
“Apa sih? Bikin malu saja..” balasku dengan menepak pundak Caca.
“Belikan jajan kita berdua dong..” celetuk Dion yang merangkul aku dan Caca.
“Nanti saja bawel...” kataku yang menjewer kupingnya.
“Ah tidak seru! Momen pas nih, soalnya sekalian kita merayakan kenaikan semester baru. Jadi tidak terlalu padat jadwal kuliahnya..” terang Dion yang tak sabar.
“Iya sih, Jajan di Mang Ucup saja yuk? Membeli es kopyor saja." tambah Caca yang mulai mengompori.
“Ini kan masih pagi?” tolakku halus.
“Justru masih pagi, Mang Ucup tidak ramai..” jawab Caca yang mulai menarik lenganku untuk berdiri, dibantu oleh Dion yang menarik lenganku satunya lagi.
“Gila kali nanti sakit perut bagaimana?!” bantahku kembali.
“Tinggal minum obat sakit perutnya saja sih..” balas Dion cuek.
Aku mau tak mau pun menuruti mereka berdua dan berjalan menuju tempat yang dimaksudkan. Kedua lenganku sudah dikunci oleh mereka berdua, sehingga aku tidak bisa kabur dari mereka.
Sesampainya disana kami bertiga pun memesan Es Kopyornya yang sudah terkenal, biasanya jika sudah agak siang sedikit warung Mang Ucup ini akan ramai, karena memang Es Kopyor yang dijualnya juara untuk rasanya! Sehubungan kami datang masih pagi maka suasana warungnya sepi, maka kami bertiga memutuskan untuk minum langsung ditempat dan segera mencari tempat ternyaman menurut versi kami bertiga.
“Nate?”
“Hm?”
“Kamu setelah lulus dari sini mau kerja dimana?” tanya Caca memulai pembicaraan denganku.
“Hm, aku punya cita-cita ingin pergi bekerja ke Paris kalau diberikan kesempatan Ca..” jawabku sambil melihat padanya. Namun Caca merengutkan dahinya sedikit kekecewaan dalam raut wajahnya, sedangkan Dion dia masih terdiam menyimak ucapanku selanjutnya.
“Kok jauh sekali?” tanya Caca yan penasaran.
“Yah aku ingin bekerja disana Ca, aku ingin bekerja diperusahaan fashion disana. Kamu tahu sendiri Paris terkenal dengan apanya. Sekaligus aku ingin mencari beasiswa untuk melanjutkan S2 disana Ca...” terangku yang berambisi. Caca hanya terdiam saja mendengar penjelasanku.
“Berarti akan susah untuk bertemu dong kita?” celetuk Dion sambil menyedot Es nya.
“Kan masih bisa video call Ca...” jawabku santai.
“Pasti berbeda dong Nate..” ujar Caca.
Aku terdiam sejenak mendengarnya begitupun Caca dan Dion juga.
“Tapi, aku dengan Dion tidak mungkin kok menghalangi cita-cita kamu. Asalkan kita masih bisa berkomunikasi satu dengan yang lainnya..” lanjut Caca sambil tersenyum.
“Yah jangan sampai kita putus komunikasi yah..” tambah Dion sambil merangkul kami berdua.
“Yah tidak dong..” ucapku dengan membalas peluk balik.
“Tapi Kak Jun sudah tahu tentang cita-cita kamu yang ini?” celetuk Caca penasaran.
“Yah tidaklah, sekarang bertemu dengan dia saja belum semenjak dia menyatakan perasaan dia denganku..” balasku dengan posisi menggaruk rambut yang tak gatal.
“Kok bisa?” sahut Dion.
“Yah dia sibuk, mungkin...” jawabku seadanya.
“Kamu yakin tidak sih dia tuh benar-benar melakukan pernyataan suka kepada kamu Nate?” timpal Caca kembali yang masih tak yakin.
“Sepertinya sih...” aku membalas dengan tak yakin juga.
“Ah gila kamu!” ujar Dion sambil menjitak lembut kepalaku.
“Sial kamu!” balasku dengan memukul bahu Dion.
Caca terdiam sejenak.
“Eh, bukannya hari ini ada pelepasan praktik kerja lapangan yah untuk Senior tingkat akhir kita?” ujar Caca sambil menepuk kedua tangannya.
“Pelepasan apa sih Ca? Kamu kira mereka ayam dilepas..” celetuk Dion yang menggoda Caca.
“Aku serius Dion ih!” jawab Caca sambil menepuk pundak Dion.
“Yah tahu Ca, sakit sih kenapa kalian berdua senang memukulku..” protes Dion yang sekarang duduk agak menjauh dari kami berdua.
“Hahahaha...” kompak aku dan Caca mentertawakannya.
“Tapi serius ih aku...” ucap Caca kembali.
“Sebentar aku cek pesan masuk di ponselku dahulu...” kataku sembari mengeluarkannya dari tas.
“Loh untuk apa?” tanya Caca bingung.
“Memastikannya lah, kan semalam dia mengirim pesan padaku hanya aku sudah setengah ngantuk tidak sadar apa yang sedang dia kirim ke aku...” terangku yang masih membuka ponsel.
“Bisa begitu yah..” ujar Dion sambil menopang dagunya.
Aku sibuk membuka pesan masuk di ponselku dan benar saja ternyata semalam Jun memberikan info bahwa besok atau hari ini akan datang ke kampus untuk acara pelepasan Senior tingkat akhir untuk praktik kerja lapangan.
“Benar saja dong ada infonya dan aku baru sadar haha..” ucapku girang. Caca dan Dion saling pandang sambil memasang muka mengejek.
“Apa aku ucap, kamu mau mengahmpiri dia tidak?” usul Caca padaku.
“Tidak lah untuk apa?” tanyaku bingung.
“Menyesal kamu nanti jarang bertemu dengan dia.” Goda Caca sambil beranjak diri.
“Ah biasa saja..” jawabku dengan muka mengejeknya.
“Yah dia tidak tahu Dion bagaimana rasanya terpisah jauh walau hanya praktik kerja lapangan..” ejek Caca kembali sambil mengompakkan Dion.
“Rindu berat Nate, berat...” ledek Dion yang menimpali Caca.
“Ah apa sih kalian berdua...” kataku yang menyusul mereka berdua.
“Hahahaha.” Caca tertawa puas meledekku.
“Rese!” jawabku.
“Kamu sengaja menunggu aku?” tanya Jun yang duduk di hadapanku sambil menopangkan dagunya.
“Kurang lebih?” jawabku sambil tersenyum sok manis.
“Terharu loh aku.” Balasnya sambil memegang dadanya, bergaya sok lebay.
“Kak, berlagak menggemaskan!”
“Hahahaha...” tawanya renyah.
“Sudah makan?” tanyanya Jun memastikan.
“Belum.”
“Mau pesen apa?” tawarnya sambil melihat menunya.
“Kentang?”
Jun menatapku, “Cuma mau itu saja?”
Aku membalas dengan anggukan, Jun pun segera memanggil pramusaji di kafe tersebut dan memesan menu yang sudah ditentukan.
“Ada kuliah?”
“Ada, hanya dosennya tidak masuk. Mungkin karena awal masuk perkuliahan kembali..”
“Yah tidak aneh sih, kebiasaan begitu untuk beberapa dosen.” jawab Jun santai.
“Jadi bagaimana Kak persiapan untuk praktik kerja lapangannya?” tanyaku. Jun melihatku terdiam sejenak, lalu mencubit hidungku.
“Kamu peduli yah tentang praktik kerja lapangan aku?” tanyanya dengan tersenyum.
“Iyalah.”
“Yah sejauh ini sih lancar saja hehe.” ucapnya dengan membuang muka sekilas padaku.
“Semangat Kak!” kataku dengan memberikan isyarat kedua tangan mengepal bersamaan.
“Tentu! Terima kasih...” balasnya dengan tersenyum manis.
(Diebetes deh aku setiap hari melihat dia senyum seperti ini! Tidak menyangka juga lelaki yang berada dihadapanku sekarang kekasihku!)
Batinku. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri karena memikirkan apa yang kubayangkan.
“Kenapa senyum-senyum begitu? Sedang memikirkan apa? Hayoo...” goda Jun dengan senyuman nakal.
“Tidak apa-apa Kak!” bantahku yang segera membuang muka agar Jun tak sadar. Namun Jun memperhatikanku terus, melihatku menatapku lekat-lekat.
“Pasti memikirkan aku yah? Kenapa aku tampan sekali? Atau kalau tidak kok bisa kamu menjalin kasih denganku?” ucap Jun dengan menebak-nebak. Aku yang merasa hampir semua yang dia ucapkannya betul sesuai apa yang aku pikirkan pun membuang muaka sedikit karena mendadak muka ku panas karena menahan malu. Aku hanya membalas dengan pura-pura berdehem.
“Kamu batuk?” tanya Jun yang khawatir.
“Tidak Kak.” jawabku
“Yakin?”
“Iya.”
“Oke, tuh kentang kamu sudah akan datang! Dimakan dahulu..” ucapnya yang melihat pramusaji yang datang menghampiri dan menghidangkannya.
“Wow, Kak Jun benar tebakannya!” pujiku sambil tertawa sedikit meledeknya, Jun membalas dengan tersenyum.
Aku memakan kentang pesananku, sedangkan Jun menikmati minuman yang dipesannya.
“Kapan-kapan kita makan di warung tenda lagi yuk?” ajakku pada Jun sambil menikmati kentang goreng.
“Boleh, asal jangan kasih aku makan lele saja hehehe...” balasnya dengan senyum mengejek.
“Yah tidak! Nanti aku kasih tempat makan enak deh..” ucapku dengan yakin.
“Yah aku tunggu kejutannya!” balasnya sambil tersenyum manis.
(Tampannya!)
Gumamku dalam hati dengan bangga.
“Oh yah, kamu sudah bercerita ke Ayah dan Nathan kalau kita?” tanya Jun dengan mimik wajah ragu untuk menanyakannya padaku.
“Tidak, tapi secepatnya aku akan bercerita kepada mereka!” ucapku menegaskan.
“Jangan terburu-buru! Aku hanya menayakan saja dengan kamu, kalau pun kamu tidak siap bercerita aku tak mempermasalahkannya kok Natasha...” ungkap Jun sambil senyum meyakinkanku.
“Yah tidak apa-apa Kak! Cepat atau lambat mereka pun akan tahu maka dari itu sebelum mendengar dari orang lain aku sendiri yang aku memberitahukannya..” jelasku dengan sangat yakin.
“Okey! Ku tunggu kabar baiknya yah! Atau kamu mau denganku menberitahukannya?” tanyanya kembali.
“Tak usah! Aku takut nanti tiba-tiba Nathan menggamuk didepan Kak Jun!” tolakku yang membayangkan ekspresi Nathan menggamuk.
“Hehehehe...” tawa Jun dengan renyah.
“Kok ketawa?” tanyaku kebingungan.
“Tak apa-apa! Kamu lucu Natasha! Berasa mimpi aku menajdi kekasih kamu!” ucapnya dengan senyum menggoda.
(Tuhannnn!!!! Jantung ini tak kuat melihatnya!)
Batinku sambil memegang dada dengan kedua tanganku, entah mengapa rasanya jantung ini begitu berdegup dengan kencang.
(Lemah kamu Natasha! Lemaaahhh!!!!)
Batinku dengan masih posisi yang sama.
“Kamu kenapa?” tanya Jun yang bingung dengan gerak gerikku.
“Tidak apa-apa, hanya entah kenapa sekarang jantung aku berdegup kencang banget Kak!” jawabku dengan polos.
Jun hanya tersenyum mendengar ucapanku, “Sama dong! Ku pikir hanya aku saja!”
*****