NIRBANA

NIRBANA
Episode 21



Aku sedang berjalan menuju perpustakaan dan dari kejauhan aku melihat Dion sedang berjongkok bersembunyi di semak-semak. Aku yang bingung dengan tingkahnya segera menghampirinya.


“Kamu kenapa Dion?” tegurku sambil menepuk pundaknya.


Spontan Dion yang sedang jongkok terjatuh ke belakang dan sekarang posisinya sedang duduk di tanah. Aku yang tak enak segera mengulurkan tangan dan membantunya agar kembali berdiri.


“Sial kamu Nate!” ungkap Dion dengan nada sebal.


“Maaf, kamu kenapa sih?” kataku sambil memperhatikan.


“Aku bersembunyi.” Jelas Dion yang masih melihat kanan kirinya.


“Dari?”


“Siska..”


“Kenapa?” jawabku dengan menaikkan satu alis.


“Tadi di kelas dia tiba-tiba mendekatiku Nate! Dan dia menyatakan sukanya ke aku!” jelas Dion yang masih melihat sekitaran, takut tiba-tiba Siska muncul di hadapannya.


“Loh lalu?” lanjutku.


“Lalu yah aku malas Nate, sekelas melihat ke arah kita berdua. Yah sudah aku keluar dari kelas, aku tidak mau anak-anak salah sangka dengan apa yang dilakukan Siska.” Jelas Dion sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


“Lanjut...”


“Dia mengejarku Nate dengan teriak-teriak memanggil namaku! Aku menjadi panik diperlakukan seperti itu, akhirnya aku lari dan bersembunyi disini. Lalu kamu mengejutkan aku Nate..” terang Dion dengan mimik muka sebalnya ke aku.


“Gila yah Siska, semakin lama semakin terobsesi dengan kamu! Kamu tidak mau berbicara baik-baik dengan dia? Kalau sebenarnya kamuntidak suka dengan sikapnya itu.” ungkapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Entah...” jawab Dion sambil menaikkan kedua bahunya.


“Caca tahu?”


“Tidak cerita dengannya, nanti saja aku yang menceritakannya.” jelas Dion.


“Yah sudah sekarang kamu akan kemana?” tanyaku sambil melihat Dion.


“Tidak tahu, aku malas masuk kelas lagi. Kamu ada kuliah?” Dion balik bertanya padaku.


“Aku sudah selesai, sekarang aku berniat akan ke perpustakaan ingin meminjam buku untuk mencari referensi tugas Bu Maria.” jelasku sambil menunjukkan materi kuliah.


“Ke Mall saja yuk? Temani aku Nate, aku benar-benar malas masuk kelas.” Ajak Dion dengan menarik lengan kananku.


“Loh jangan! Aku mau meminjam buku dahulu Dion...” protesku sambil memasang mimik muka menolak.


“Yah ampun, nanti dahulu ke perpustakaannya. Aku antarkan kok santai...” bujuknya padaku dengan gigih.


“Rese yah kamu tuh kalau sudah ada mau nya..” dumelku yang mengikuti Dion, dia pun tersenyum puas karena sudah bisa membujukku untuk mengikuti maunya.


Kami berdua pun berjalan menuju Mall yang tak seberapa jauh dari kampus kami. Sesampainya disana hal yang di lakukan Dion pertama kali adalah main ke arena game yang memakai koin di setiap permainannya. Dia memaikan semua mainan yang berada disana, sedangkan aku? Aku hanya memperhatikannya seolah-olah aku ini pengasuh yang sedang mengawasi anak majikan bermain.


“Kamu kemarilah bergabung bermain denganku!” ajak Dion menyuruhku, yang posisi aku sedang duduk di belakang permainan yang sedang Dion mainkan.


“Tidak mau, kalau kamu ingin main yang itu aku mau!” tunjukku pada permainan dance cover.


“Oke, yang kalah belikan makan siang?” tantang Dion dengan muka yakin.


“Boleh, seminggu tapi yah?” tantang balikku.


“Oke!” jawab Dion dengan mantap.


Kami berdua berjalan menuju permainan tersebut, disitu kami memilih lagu yang sesuai untuk kita mainkan. Mulailah kita bermain, awalnya aku agak canggung memainkannya karena sudah lama. Namun aku bisa menyesuaikan dengan rhitme lagunya, berbeda dengan Dion dia yang dari awal sudah bersemangat jadi dia terlalu menggebu-gebu.


Sekilas aku meliriknya dia beberapa kali melakukan kesalahan, aku hanya menyungingkan senyum kecil sambil memasang muka mengejek padanya. Sampai akhirnya yang memenangkan permainan tersebut adalah aku, hahaha karena dia banyak kesalahan dalam menirukan gaya dancenya. Aku tertawa girang karena selama seminggu akan dibelikan makan siang olehnya, hitung-hitung aku bisa menabung dari uang makan siangku. Aku mengejeknya dengan memberikan mimik muka konyol, sedangkan Dion hanya cemberut tak terima jika dia kalah.


“Aku lelah Nate, jadi aku membiarkan kamu menang..” sanggahnya dengan muka sebal.


“Alasan!” balasku sambil menjulurkan lidah tanda mengejeknya.


“Rese!” balasnya dengan memukul halus pada kepalaku, aku membalas dengan tertawa terkekeh.


“Nate? Dion?” tegur seseorang yang berada dibelakang kami.


Kami berdua spontan menengok, “Caca?!”


“Kamu kenapa ada disini?” tanya Dion


“Yah memang kalau di skors tidak boleh aku pergi ke mall?” tanya Caca kembali.


“Enak yah, menjadi kamu Caca..” ungkap Dion balik


“Enak juga kamu bisa kuliah!” balasnya balik.


“Nah, tapi kalian berdua bukannya masih ada kuliah?” tanyanya kembali dengan muka bingung sambil menunjuk kami berdua.


“Tidak” jawab Dion.


Aku langsung menggelepak bahunya.


“Aw!” ungkap Dion sambil memengan bahunya yang aku gelepak.


Caca memicingkan kedua bola matanya karena melihat tingkah Dion tersebut.


“Kamu bolos yah?” tanyanya dengan mimik muka menginterogasinya.


“Tidak, hanya absen saja.” ungkapnya mengeles.


“Sama saja sih!” gelepak Caca pada bahu Dion.


Dion yang merasa kesakitan pun protes, “Bar-bar ih kalian berdua!” protesnya sambil mengelus-elus bahu yang berkali-kali di gelepak.


“Kamu?” tanya Caca kembali pada Dion.


“Yah tidak kenapa-kenapa.” balasnya sambil berusaha perlahan pergi.


“Jangan menghindar.” tarik Caca pada lengan Dion.


“Dia habis dikejar Siska Ca!” ucapku sambil melihat Dion, menisyaratkan bahwa dia harus cerita pada Caca.


“Kok bisa?” tanya Caca bingung.


“Loh, memang Caca tidak kamu ceritakan tentang Siska?” ungkapku yang bingung juga.


Dion hanya membalas dengan tersenyum kepaksa tanda bahwa dia bersalah, aku yang menyadari responnya tersebut menarik nafas dan menepuk jidatku. Caca masih terlihat bingung dengan respon kami berdua.


“Kalian kenapa sih?” tanyanya yang semakin penasaran.


Aku melirik Dion tanda apakah aku boleh memulai cerita dahulu, namun Dion merespon dengan menggelengkan kepalanya.


Dion mengajak Caca dan aku untuk duduk di sebuah kafe mall, disitu baru Dion menjelaskan semua pada Caca dari awal hingga kejadian hari ini tentang Siska. Respon Caca ternyata diluar dugaan dia sangat terkejut ternyata Siska sebegitu menyeramkannya pada sahabatnya Dion.


“Gila yah itu wanita! Mungkin dia harus ke dokter kejiwaan yah?” ungkap Caca yang masih tak percaya.


“Entah, tapi sebisa mungkin aku tak mau ada urusan dengan dia.” balas Dion sambil mengaduk-adukan minumannya.


“Tapi kamu harus berbicara dengan dia Dion!” ucapku yang memang itu harus dilakukan.


“Nanti Dion di apa-apakan Nate.” protes Caca.


“Yah kalau tidak begitu Siska akan begitu terus, memang Dion mau menghabiskan masa kuliah dengan selalu diteror olehnya?” jelasku agar semua selesai.


“Yah aku sih tidak mau.” ucap Dion dengan mimik muka merenung.


“Besok aku temani kamu!” ungkap Caca menawarkan diri.


“Tidak ah! Ditemani dengan kamu yang ada nanti akan menjadi keributan! Kamu juga sedang di skors nanti kalau ribut-ribut kembali semakin bertambah hukuman skors kamu!” tolak Dion


“Yah jangan dikampuslah! Kan bisa diajak berbicara di luar kampus?!” ungkap Caca kembali.


“Yah tapi sama saja, nanti timbul keributan di luar kampus tiba-tiba tersebar sampai ke ruang komisi disiplin beritanya.” Balas Dion yang masih gigih.


“Yah tidaklah, kok kamu aku bantu tidak mau sih?” tanya Caca dengan nada tak suka.


“Yah setiap dengan kamu pasti ribut-ribut kan! Aku tidak mau kamu terkena hukuman dan ujungnya kamu tertunda kuliahnya. Nanti kamu tidak bisa lulus bersama-sama bagaimana?” jelas Dion dengan meyakinkan.


“Tidak akan, aku diam saja deh kalau begitu! Kalau bisa aku kasih jarak.” lanjut Caca yang masih gigih juga.


“Lebih baik aku dengan Nate saja ditemaninya.” tawar Dion sambil meihatku.


“Aku sibuk.” balasku yang menolak.


“Loh kok kamu begitu? Bukannya bantu aku sih?” protes Dion padaku,


“Yah itu Caca mau membantu kamu, Dion!” balasku kembali.


“Tidak jadi aku traktir loh itu makan siangnya selama seminggu, mau kamu?” ancam Dion dengan muka mengejek.


“Lah kok begitu? Curang!” protesku dengan nada tak suka.


“Suruh siapa tidak mau membantuku?!” ancamnya kembali.


“Yah, rese kan!” balasku dengan muka tak suka.


“Jadi bagaimana ini masalah Dion?” ucap Caca dengan melihat aku dan Dion. Kami pun hanya saling pandang satu sama lain.


*****