NIRBANA

NIRBANA
Episode 12



“Masa sih kamu tidak ada perasaan? Kak Jun itu benar-benar suka dengan kamu Nate.” ucap Caca sambil berdiri disamping rak buku dengan melipat kedua tangannya. Aku menoleh ke arahnya dan membalas dengan senyum sambil mencari-cari buku yang sedang aku cari.


“Tidak tuh, kan sekedar hubungan Senior dan Junior di kampus saja Ca!” balasku yang masih mencari-cari buku.


“Kalau dia tidak ada rasa dengan kamu untuk apa dia baik mengajak kamu makan siang terus, bertemu dengan Nathan, berkenalan denganku dan Dion, lalu menemani kamu ketika sedang menunggu Nathan, pokoknya banyak lagi deh. Lama-lama aku gemas melihat kamu seperti ini.” keluh Caca sambil memasang muka sebal kepadaku.


“Yah aku sih merasa hanya saja yah sedikit, sedikit sekali...” terangku sambil mempraktekkan melalui jari tangan.


“Hhhhh! Yah sudah kamu ikut kencan buta saja kalau begitu, mau?” tanya Caca yang masih dengan posisinya.


“Tidak usahlah! Memang aku tidak laku? Hahaha..” balasku sambil beranjak pergi meninggalkan Caca menuju rak belakang. Caca membalas dengan memasang mimik muka jengkel. Aku berjalan menuju rak belakang masih mencari buku yang aku maksudkan.


“Novel... Novel... Ah! Itu rak buku novel...” kataku sambil berjalan ke arah yang ku maksudkan.


BRUKKK!!!


Aku tak sengaja menjatuhkan buku yang sedang dibawa seseorang karena ketika aku akan belok ke rak novel terhalang orang yang akan keluar dari jajaran rak tersebut.


“Maaf!” kataku sambil membungkuk untuk mengambilkan buku yang aku jatuhkan di lantai.


“Tidak apa-apa! Salahku juga tak fokus.” balasnya juga sambil membungkuk mengambil buku-buku yang berserakan di lantai. Aku tak sengaja melihat wajahnya dan itu..


“Axel? Kak Axel maksudku.” kataku sambil melihat ke arahnya. Axel yang menyadari langsung melihat ke arahku juga.


“Nate?” balasnya sambil senyum senang. Kami berdua pun saling berpadangan sejenak dan aku menyadarinya karena merasa canggung aku segera berdiri, disusul dengan Axel.


“Silahkan Kak..” ujarku sambil memberikan dua buku yang aku ambilkan.


“Oh, terima kasih Nate.” balasnya sambil senyum.


“Kamu sendiri saja Nate?” tanyanya kembali.


“Oh, aku dengan teman aku kok Kak.” balasku sambil mencari Caca.


“Teman atau kekasih Nate?” godanya kepadaku.


“Teman kok Kak, aku kan tidak punya kekasih hehe.” balasku yang masih canggung.


“Oh, tidak punya kekasih ya? Masa sih? Kan kamu cantik Nate.” jelasnya sambil menggodaku kembali. Aku yang mendengar ucapannya tadi merasa makin canggung dengannya.


“Ah, apa sih Kak menggodaku terus.” bantahku yang berusaha tenang.


“Hehe, tapi kamu memang cantik kok Nate.” balasnya sambil memasang mimik wajah santai. Aku yang mendengar pujiannya itu langsung salah tingkah. Tak ada yang memujiku sejujur itu secara langsung, rata-rata hanya meledekku dan dulu ketika aku punya kekasih pun memujiku hanya ada maunya saja.


“Y-Yah terima kasih Kak!” balasku singkat.


“Nate?” tegur Caca yang posisinya sudah ada di belakangku, dan aku pun menoleh kearahnya.


“Oh, Ca?”


"Aku mencarimu sedari tadi, sudah ketemu tidak?” tanya Caca kembali.


“Tidak ketemu Ca ini baru saja mau kucari. Oh, Ca kenalkan ini teman Kak Nathan, Kak Axel ini Caca dan Caca ini Kak Axel.” kataku sambil mengarahkan tanganku kepada Axel. Caca yang melihat Axel spontan menaruh kedua tangannya didepan mulutnya karena dia masih bingung dengan situasi yang terjadi.


“Hallo..” ujar Axel sambil menjulurkan tangannya kepada Caca.


“Oh, hallo salam kenal yah.” balas Caca yang masih bingung dan melirik ke arahku.


“Dia siapa? Tampan!” bisiknya kepadaku.


“Teman Kak Nathan Ca kan tadi aku berbicara.” balasku sambil berbisik juga.


“Oh, iya! Maaf.” bisiknya kembali dan kali ini Caca melemparkan senyuman kepada Axel dan Axel pun membalasnya juga.


“Jadi ini teman kamu?” tanya Axel sambil melihat kepadaku.


“Iya aku dengan dia Kak datangnya.” balasku singkat.


“Oke.. Oke!! Oh, iya mau sekalian saja minum kopi bersama? Atau mungkin kalian mau makan yang manis-manis di cafe dekat sini?” ujar Axel yang menawarkan kepada kami berdua. Aku dan Caca saling pandang bingung mau menjawab apa.


“A-aa.. Tidak usah Kak sebab kita sehabis dari sini ada keperluan juga.” jawabku segera Caca menunjukkan mimik muka kecewa.


“Yah sudah lain waktu yah! Kalau begitu aku pergi dahulu yah..” ujarnya sambil melihat jam tangannya.


“Iya Kak..” balasku dengan senyum.


“Oh, yah salam untuk Nathan yah! Nanti minggu atau minggu depan aku mampir deh entah ke kantornya atau ke rumah.” ucapnya sambil beranjak pergi.


“Iya nanti aku sampaikan kepada dia.” balasku.


“Oke, dadah Nate dan dadah...” potong Axel sambil melihat ke arah Caca.


“Caca!” sahutnya dengan tegas.


“Yah Caca...” balasnya sambil senyum kepada Caca, dan Axel pun beranjak pergi meninggalkan kami berdua.


Caca langsung menarik-narik lenganku karena kegirangan bisa bertemu dengan laki-laki tampan seperti Axel.


“Aku suka! Aku suka dia Nate!” ujarnya sambil loncat-loncat kecil dan memegang lengannku.


“Yah sudah biasa saja! Sakit Ca, duh! Kamu kan sudah punya kekasih juga!” terangku yang berusah melepaskan tangan Caca di lenganku.


“Ya Tuhan! Dia campuran indonesia dan luar negeri kan? Aku suka Nate! Tak peduli aku dengan kekasihku!” ujar Caca yang masih dengan posisinya.


“Terus kamu mau menyudahu begitu saja dengan kekasih kamu?” tanyaku kembali.


“Yah sudah aku mencari dahulu apa yang akan aku beli. Kamu tunggu sebentar jangan kemana-mana atau memisahkan diri ya!” kataku dengan tegas.


“Ya ampun! Galak sekali sih Ibu ini..” ledek Caca sambil berjalan mengikutiku.


Aku pun fokus kembali mencari-cari buku yang ingin kucari, Caca juga ikut membantu dengan mencarikannya di rak buku sebrangnya.


“Nate ini?” ujar Caca sambil menujukkan buku novel yang dimaksud.


“Ah! Iya Ca! Kemarikan.” ujarku sambil mengambil buku novelnya.


“Masih suka baca serial detektif begitu?” ujar Caca yang melipat kedua tangannya sambil melihatku.


“Iya masih, kan mengkoleksi.” balasku sambil kegirangan.


“Yah sudah bayar yuk! Kan kita mau makan rainbow cake Nate!” terang Caca.


“Yah sudah yuk! Yuk!” ujarku sambil menarik tangan Caca menuju kasir. Aku pun mengantri di kasir, sedangkan Caca berdiri menungguku di luar antrian kasir. Setelah selesai aku dan Caca bergegas keluar menuju tempat yang dimaksudkan. Kami berjalan melewati toko-toko sambil bercanda dan mengobrol seru. Tak terasa kami berdua pun akhirnya sampai di tempat yang di maksud yaitu cafe Oliver.


Nama cafe sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Oliver Hans, kami biasa memanggil dia dengan sebutan Paman bunny dan dia membuka cafe ini tentu saja sudah cukup lama. Menu favorite aku dan Caca disini Rainbow Cake, entah mengapa rasanya berbeda dengan cake di toko-toko lainnya, dan tentu saja Uncle sudah hafal dengan menu yang selalu kita pesan di cafe nya ini.


“Hai Paman!” tegur kami berdua kompak kepada Oliver yang sedang melayani pembelinya.


“Hai Nate! Hai Caca!” balasnya sambil melihat kearah kami berdua dan kembali fokus melayani kembali pembelinya. Sambil menunggu dia selesai melayani pembelinya kami berdua pun segera duduk di bangku yang tersedia dekat jendela cafe. Ini tempat adalah spot terbaik buat kami berdua dan Oliver pun sudah hafal juga. Aku pun membuka ponselku dan tak terasa ada chat masuk, seharian ini aku menggunakan mode silent pada ponselku karena lupa saat berangkat untuk merubahnya.


(Ini siapa? Kok aku tidak menyimpan nomornya di kontakku. Tunggu deh sepertinya aku hafal wajahnya!)


Aku segera membuka profile picturenya dan ternyata...


(Kak Jun?)


Gumamku dalam hati sambil tak percaya dan aku pun segera membuka isi chatnya kepadaku.


08xxxxxxxxxx:


Hai Natasha ini Jun! :)


Maaf yah aku meminta nomor telepon kamu tak secara langsung. Aku meminta nomor kamu ke Wira...


Oh iya Natasha, hari ini kira-kira kamu ada acara?


(Ya ampun! Duh aku jadi salah tingkah begini sih?)


Me:


Hai juga Kak! Iya tak apa-apa kok Kak.


Hari ini kebetulan aku sedang bersama Caca, tapi mungkin sore aku kosong.. Yah kalau Kakak ada waktu...


Balasku yang segera menyimpan nomor Jun di ponselku sambil meletakkan ponselku disamping tanganku. Sesekali aku melihat ponsel menunggu dengan tak sabar balasan dari Jun, sedangkan Caca sedang fokus ke ponselnya juga jadi kami berdua saling sibuk ke gedget masing-masing.


Tring!


Aku segera meraih ponselku dan membuka cepat-cepat chat yang dibalas oleh Jun.


Kak Jun:


Oh oke! Nanti aku jemput dimana?


Balasnya singkat kepadaku, aku pun tiba-tiba menjadi kegirangan sendiri menerima balasan chat dari Jun tanpa sadar Caca sudah melihat ke arahku dengan keheranan.


“Kenapa kamu Nate? Senang sekali sepertinya.” ujar Caca sambil memandangku dengan keheranan. Aku yang tidak ingin Caca mengetahui kalau aku sedang chatting dengan Jun sesegera mungkin aku berbohong kepadanya.


“Oh ini dari Nathan katanya sih dia mau menjemputku, lalu yah dia mau membelikan koleksi figure yang aku inginkan waktu itu Ca.” terangku yang berusaha untuk tidak salah tingkah agar Caca tidak curiga.


“Yah ampun Nate! Sudah besar saja masih koleksi figure kamu!” balas Caca yang ternyata percaya dengan ucapanku tadi. Aku hanya membalas dengan senyum dan segera memebalas chat dari Jun.


Me:


Kalau jemput di cafe Oliver? Kak Jun tahu?


Balasku dengan cepat.


“Kalian mau pesan apa? Maaf yah saya sedang sibuk tadi, hari ini pelanggan sedang banyak.” ujar Oliver yang sudah berdiri di samping kami berdua dengan ramah.


“Hmm, seperti biasa aja yah Paman!” balas Caca singkat. Lalu Oliver pun melihat ke arahku, aku yang masih memegang ponselku segera meletakkannya disampingku.


“Hari ini sedang mau green tea latte saja, tidak usah pakai potongan kue manis!” balasku kepada Oliver dengan senyum.


“Loh?! Kamu sedang diet?” ujarnya sambil keheranan.


“Tidak diet kok! Hanya banyak memakan yang manis-manis itu tidak baik Paman!” balasku sambil memasang mimik muka sedikit mengejek kepada Oliver.


Oliver membalas dengan senyuman “Kamu selalu bisa membuat Paman gemas saja Nate!”. Oliver segera beranjak dari meja kami dan segera menghidangkan menu pesanan kami berdua.


“Seharian ini memang kamu makan yang manis-manis Nate?” ucap Caca heran sambil menopang dagunya dengan tangan.


“Iya! Malah berlebihan sekali hahaha..” balasku kegirangan sambil mengambil kembali ponsel yang tergeletak disampingku dan Jun sudah membalas chat.


Kak Jun:


Oke! Aku jemput jam 5 yah :)


Balasnya singkat. Aku yang menerima chatnya itu mendadak hatiku kegirangan sendiri tapi aku berusaha untuk menahannya agar Caca tidak curiga, jadi aku menyalurkannya hanya dengan tersenyum-senyum sendiri.