NIRBANA

NIRBANA
Episode 35



Dion memoleh kearah Caca, “Kamu sedang cemburu?” tanya Dion memastikan apa yang dia dengar pada Caca.


“Loh siapa juga yang membahas tentang cemburu?” sanggah Caca dengan mengkerutkan dahinya sambil membuang wajah sedikit dari Dion.


“Tadi aku mendengar cemburu-cemburu tuh.” ucapnya memastikan kembali pada Caca.


“Tidak membahas hal seperti itu kok, bukan begitu Nate?” tanya Caca dengan menyenggolkan bahunya padaku.


“Ih aku tidak tahu! Aku sedang fokus untuk tugas kuliahku sendiri.” bantahku yang tak mau mencampuri.


“Nate?” tanya Dion sambil melihatku.


“Tidak tahu aku Dion, tidak tahu..” kataku yang tetap mengalihkan tak mau berurusan.


“Yah sudah deh, mungkin telingaku saja mungkin yang salah mendengar tadi. Lalu tak mungkin juga yah ada percemburuan diantara kita bertiga. Kan kita sudah sahabatan sedari lama, yah tidak?” jelas Dion sambil duduk dihadapan kami berdua. Aku terdiam mendengar ucapan Dion, sambil membalas dengan mendeham. Caca yang mendengar langsung terdiam dan pura-pura sibuk.


“Loh kok respon kalian seperti ini sih? Benar tidak sih yang aku ucapkan tadi?” tegur Dion kembali.


“Iya Di.., iya.” jawabku singkat.


Dion melihat ke arah Caca, dia membalas hanya dengan senyuman saja.


“Kalian masih mengerjakan tugas untuk besok?” tanya Dion melihat ke arah tumpukan kertas.


“Iya, kamu sudah selesai?” tanyaku membalasnya.


“Sudah kok, oh yah ngomong-ngomong tadi aku mengobrol sebentar dengan Tiara. Ingatkan kalian?” ucap Dion dengan semangat.


“Yah tadi aku melihat kamu kok. Lalu kenapa?” jawab Caca dengan nada tak suka.


Dion melirik ke Caca, “Aku akan pergi berkencan dengannya!” ucapnya dengan senyum lebar.


Caca mengerenyitkan dahinya, “Kok bisa?” tanyanya dengan tak yakin.


“Yah bisa saja! Aku mencoba untuk mengajaknya berkencan dan ternyata dia bisa untuk keluar akhir minggu ini denganku.” balas Dion yang masih senang.


Aku melirik ke arah Caca, aku melihat ekspresi wajahnya tak suka.


“Tapi memang akhir pekan ini kita tidak ada acara Nate? Ada kan yah? Buaknnya kita akan menonton di bioskop?! Yah kan?” ucap Caca dengan menarik-narik lenganku dengan mimik wajah mengisyaratkan aku harus menjawab ‘Yah' dari pertanyaannya itu.


“Tidak ada Ca.” balasku, Caca memolototiku.


“Ayahku berulang tahun!” jawabku tegas.


Caca langsung memasang wajah sedih melihatku, “Oh yah? Yahh!” katanya dengan kecewa.


“Ayah kamu berulang tahun? Wah sayang sekali aku tidak bisa hadir! Maafkan aku yah, seharusnya aku menginggatnya, atau mungkin aku batalkan saja yah pergi berkencan dengan Tiaranya??” ucap Dion yang kemudian segera mengambil ponsel dari sakunya. Aku yang melihatnya segera mencegah dengan menahan lengannya, dan Caca yang senang mendengarnya tiba-tiba memgerucutkan bibirnya ke arahku.


“Tidak apa-apa Dion! Ini hanya kumpul keluarga saja kok. Kamu dan Caca tidak hadir pun tak apa-apa. Lagi pula kamu kan akan berkencan dan sudah berjanji dengan Tiara. Masa dibatalkan begitu saja? Tidak apa-apa santai saja, oke?” balasku dengan tersenyum meyakinkan Dion untuk tak khawatir tidak bisa hadir di acara ulang tahun Ayah. Lalu aku menoleh ke arah Caca, dan dia pun masih memberikan ekspresi wajah yang sama kepadaku.


“Maaf yah Ca! Kan bisa di lain hari, yah tidak?" kataku sambil menepuk pundaknya.


“Hm, yah aku paham!" balasnya dengan senyum terpaksa, namun aku merasa tak nyaman melihatnya.


“Memang kamu tidak ada agenda? Semisal kencan dengan kekasihmu Ca?” tanya Dion yang berusaha bertanya untuk mengalihkan kekecewaan Caca.


“Tidak, kekasihku sibuk!” jawab Caca dengan nada ketus pada Dion.


“Oh yah sudah, mungkin akhir pekan ini kamu istirahat saja Ca! Yah hitung-hitung 'me time' untuk dirimu.” usul Dion yang masih berusaha agar Caca tak kecewa.


“Iya.” balas Caca dengan acuh.


“Kok aku merasa gugup yah akan berkencan dengan Tiara? Padahal masih beberapa minggu lagi, jangan-jangan aku ada benar ada rasa dengan dia?!” ucap Dion sambil memegang dadanya dengan tangan kiri.


“Tidak mungkinlah!” sahut Caca yang tak suka mendengarnya.


“Kok? Kan namanya dengan lawan jenis Ca!” balas Dion dengan mimik wajah bingung.


“Yah tidak mungkin saja sudah titik! Mungkin kamu lapar, jadi jantungmu beedegup lebih cepat dari biasanya.” katanya dengan ketus lagi.


“Loh memang seperti itu yah Ca? Aku baru tahu.” balas Dion dengan wajah bingungnya.


“Sudah Di, sudah... kamu kan dengan Tiara baru saja beberapa kali bertemu. Ada benarnya ucapan Caca barangkali kamu memang belum makan? Atau mungkin kamu gugup karena pengaruh cuaca saja? Hari ini, terutama disini cuaca panas!” balasku sambil melihat ke arah Caca, dia membalas dengan mengerucutkan bibirnya kembali padaku.


“Iya mungkin yah! Yah sudah kita beli es krim saja bagaimana? Yuk?” ajak Dion sambil beranjak berdiri.


“Iya yuk! Aku juga sudah tinggal sedikit lagi ini tugasnya, bisa ku lanjutkan dirumah saja.” kataku dengan membereskan.


“Kamu tidak mau Ca?” ajak Dion sambil melihat Caca yang tak bereaksi.


“Sudah yuk cepat! Dari pada semakin ‘panas’ saja Ca!” ajakku sambil menarik lengannya, Dion pun menarik lengan Caca satunya lagi.


“Ih yah sudah, yah sudah...” katanya dengan terpaksa.


Kami bertiga segera berjalan menuju arah kantin, untuk membeli es krim. Aku tak suka ada disituasi macam seperti ini, setidaknya dengan memakan es krim bisa sedikit ada ketenangan diantara Caca dan Dion. Yah siapa tahu kan? Kurasa Caca menyukai Dion hanya tidak mau saja dia mengakuinya.


*****


“Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun... Selamat ulang Tahun Ayah dari kita berdua!!" ucapku dengan lantang sambil mengecup pipi kanan Ayah, sedangkan Nathan mencium pipi kiri Ayah.


"Hahahaha, sudah.. sudah... Terima kasih anak-anakku sayang! Ayah terharu mendapatkan kejutan seperti ini dari kalian." ucap Ayah sambil memeluk kami berdua secara bersamaan.


"Aku semestinya bersyukur Ayah karena bisa dilahirkan menajdi Putra Ayah. Memiliki Ayah yang bertanggung jawab, peduli dengan keluarga dan tentu saja sayang denganku dan Nate." balas Nathan dengan haru dan memeluk sangat erat pada Ayah.


"Aku juga bersyukur telah memiliki Ayah, sepertimu. Entah aku akan kehilangan kalau kamu tidak berada disisiku Yah, I Love You more and more..." kataku dengan meneteskan air mata dan menciumi pipi Ayah dengan memeluknya.


"Terima kasih anak-anakku, kalian berkah Tuhan yang aku miliki yang dititipkan lewat rahim Ibumu, Lily. Ayah menyangi kalian berdua.." balasnya yang menahan untuk menitikan air matanya didepanku dan Nathan.


Kami bertiga saling peluk erat satu sama lain. Pagi ini kami spesial memberikan kejutan kembali padanya, ini kejutan kedua. Setelah semalam sudah diberi kejutan, namun tak lanjut lama karna kita tahu Ayah sudah sangat lelah saat malam.


"Oh yah, Clarissa dimana? Katanya dia akan datang Nathan?" tanya Ayah yang menyadari bahwa Clarissa belum kunjung datang.


"Tadi sih dia bilang 10 menit lagi sampai, sudahlah tak apa. Tunggu saja yah, dia pasti akan datang kok Yah.." kata Nathan dengan mengusap pelan punggung Ayah.


"Oke baiklah, lalu untuk Jun. Dia bagaimana? Mau datang?" tanya Ayah padaku kali ini memastikan.


"Tadi dia bilang sudah mau sampai, cuma kok tidak ada yah aku menunggu kabarnya.." kataku dengan melihat ponsel, untuk memastikan.


Tak beberapa lama bel rumah berbunyi, aku segera bergegas menuju arah pintu rumahku. Dan...


"Hai, Nate?" sapanya padaku dengan ramah.


"Oh, Hai Kak Clarissa.." balasku dengan senyum.


"Aku telat?" tanyanya memastikan.


Clarissa pun segera memasuki rumah, namun...


"Kak Jun?" kataku dengan senang.


"Hai?" balasnya yang sedang berjalan menghampiriku yang berada didepan pintu dan Clarissa pun terhenti sejenak.


"Nate itu siapa?" tanyanya dengan menunjuk ke arah Jun.


"Oh dia, kekasihku Kak." kataku dengan senyum, yang disusul Jun sudah berdiri di sampingku.


"Yah ampun ini serius?" katanya dengan mimik wajah tak menyangka.


"Yah tentu." jawabku dengan tersenyum sambil merangkul lengan Jun.


"Oke, selamat sayangku Nate. Ngomong-ngomong, aku Clarissa kekasih Kakaknya Nate, Nathan." ujar Clarissa dengan segera menyodorkan tangan pada Jun.


"Aku Jun, Junior Lee Salim." katanya dengan ramah dan sopan.


"Yah Tuhan, kau kah anak pengusaha Gusti Agung Salim yang terkenal itukah?" ujar Clarissa dengan mimik wajah tak menyangka.


"Hmm, yaaa begitulah." jawab Jun dengan mimik wajah menutupi kebeneran yang ada, bahwa ada yang menyadari dia anak seseorang yang dikenal masyarakat luas.


"Oh, oh.. tak menyangka aku bisa berkenalan dengan putranya!" ucap Clarissa yang masih takjub dengan Jun.


"Iya, bukan hal besar kok." ucap Jun dengan merasa agak sungkan sendiri.


Selang tak lama Nathan pun datang menghampiri kami yang berada diluar dan belum kunjung juga masuk ke dalam rumah.


"Kok tidak masuk sih? Ada apa?" ucap Nathan yang mengecek, dan dia terkejut Jun benar-benar hadir.


"Loh? Kamu benar datang juga? Kupikir hanya wacana saja!" ucap Nathan yang sedikit menyeleneh.


"Iya, aku menepati janjiku saja." balas Jun dengan senyum ramah, tanpa membalas ucapan Nathan tadi.


"Sayang kamu tahu? Kalau kekasih Nate itu anak pengusaha Gusti Agung Salim?" ucap Clarissa memastikan pada Nathan.


"Aku sudah tahu sayang.." ungkap Nathan sambil melihat kearah Jun dengan pandangan tak suka.


"Kamu serius? Kok kamu tidak bercerita kepada aku?" ucap Clarissa masih tak percaya bahwa ternyata Nathan sudah mengetahuinya.


"Yah untuk apa aku harus cerita dengan kamu?" terang Nathan melihat kepada Clarissa dengan mimik wajah keheranan.


"Ih kamu! Aku kan kekasih kamu! Masa hal seperti ini saja sampai tak cerita." protes Clarissa dengan mencubit bahu Natahan.


"Iya maaf sayang, maaf.." balas Nathan dengan mengusap-usap bahu yang di cubit oleh Clarissa.


(Yah ampun, benar ternyata yang di ucap oleh Caca waktu tempo hari. Sialnya aku menggangap tak penting.)


Batinku yang diam-diam ternyata terkejut juga.


"Maaf yah aku jadi membuat heboh pagi-pagi dirumahmu. Semestinya aku lebih dahulu memperkenalkan diriku, bukan seperti ini." bisik Jun diam-diam padaku.


Aku menoleh padanya, "Tidak apa-apa." kataku membalasnya dengan berbisik juga.


Ayah menyadari bahwa dia ditinggalkan sendiri di dalam rumah, maka ia pun menghampiri kami semua didepan karena penasaran.


"Hei kalian semua tega meninggalkan kusendiri didalam? Ada apa sih? Ayolah masuk! Ayah kan yang sedang berulang tahun, masa Ayah diabaikan? Atau jangan-jangan kalian sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai Ayah?" ucap Ayah dengan berjalan menghampiri kami semua.


"Bukan begitu, Clarissa tadi terkejut dan baru tahu kalau...Tunggu- tunggu! Apakah Ayah tahu kalau..." belum juga Nathan selesai, Ayah sudah memotong ucapannya.


"Yah, Ayah sudah tahu..!" ucapnya dengan melirik Natahan.


"Sudah tahu apa? Aku kan belum menjelaskan arah pembicaraannya Ayah.." ujar Nathan dengan keheranan.


"Yah, Ayah tahu kalau Jun itu siapa.." balas Ayah dengan melirik Nathan kembali.


"Ayah serius?" ucap Nathan memastikan.


"Yah tentu, kamu kira Ayah tidak mencari tahu terlebih dahulu? Siapa lelaki yang menyukai putriku? Mau anak siapa pun dia aku tak mempermasalahkannya, bagiku tetap sama! Dia manusia, makan nasi bukan makan emas." balas Ayah dengan melihat kepada Jun, Jun membalas dengan tersenyum.


"Yah sudah ayo masuk! Kalian semua nyaman diam diluar seperti ini? Cuaca lagi tak bagus, nanti kalian sakit." lanjutnya yang kemudian berjalan untuk masuk ke dalam rumah lagi.


Kami pun saling pandang semua dan menyudahi kehebohan yang terjadi, kemudian berjalan mengikut Ayah memasuki rumah.


"Ayah selamat ulang tahun! Ku doakan yang terbaik untukmu.." ucap Clarissa dengan menjabat tangan Ayah.


"Terima kasih Clarissa, semoga kamu selalu bahagia juga dengan Nathan yah." balas Ayah dengan menepuk-nepuk punggung tangan Clarissa, dia pun membalas dengan senyum.


"Selamat ulang tahun, Bapak Henry Canvill dan terima kasih telah mengundangku diacara ulang tahunmu ini. Suatu kehormatan bisa bergabung denganmu Pak." ucap Jun dengan sopan dan ramah pada Ayah.


"Hahahaha, tidak usah kamu berbicara formal denganku. Panggil saja dengan sebutan 'Ayah' padaku, dan terima kasih sudah datang yah! Aku pikir kamu sibuk, karena ini hanyalah acara kecil-kecilan keluargaku saja." jelas Ayah dengan sangat ramah.


"Yah walaupun ini kecil-kecilan tapi aku sangat menghargai atas undangannya Pak...maaf maksudku Ayah, yang diberikan padaku melalui Natasha." balas Jun dengan mimik wajah senang.


"Yah terima kasih pokoknya, tapi kamu begitu menyukai putriku yah? Sampai kamu meluangkan waktumu itu." tanya Ayah dengan pandangan tegas pada Jun.


Jun tersenyum, "Tentu, aku sangat menyukai putrimu.." balasnya dengan mantap melihat ke arah Ayah.


Aku yang melihat dan mendengar ucapan Jun seketika merasakan panas di wajahku, entah mengapa aku begitu malu dan senang. Jantungku tak henti-hentinya berdegup kencang setelah mendengarnya. Nathan pun melirik padaku, aku membalas dengan mimik wajah mengejek padanya. Dia membalas dengan memalingkan wajah, sambil tersenyum sinis mengejekku.


"Yah sudah, yuk kita makan! Kebetulan hari ini acaranya hanya makan bersama keluarga saja yah, hahaha." ucap Ayah yang mempersilahkan semuanya ke meja makan untuk duduk.


"Oh, yah Ayah.. Ini kado untukmu.." ucap Clarissa dengan memberikan papper bag kepada Ayah.


"Yah ampun nak, tak usah repot-repot. Kamu sudah datang saja Ayah sudah senang." balas Ayah yang sungkan menerima kado dari Clarissa.


"Tak apa-apa, aku sengaja memberikan kado ini untukmu. Mungkin saja bermanfaat untuk kesehatmu, kudengar dari Nathan akhir-akhir ini Ayah suka sulit untuk tidur." jelas Clarissa.


"Yah mungkin karena kerjaan di toko, Ayah suka membawa pulang ke rumah. Jadilah badan kurang istirahat." jelas Ayah yang kemudian meletakkan papper bagnya.


"Permisi, ini kado untukmu. Maaf kalau tidak sesuai dengan seleramu Ayah.." ucap Jun yang kemudian menyodorkan papper bagnya pada Ayah.


"Yah ampun Jun! Ini sangat berlebihan.." ucap Ayah yang mengetahui merk yang tertulis di papper bagnya. Aku pun menyadarinya dan terkejut juga, dan langsung melirik pada Jun. Jun membalas dengan tersenyum padaku.


(Gila mungkin untuk dia ini tak seberapa harganya, tapi buatku pegap-pegap juga harus memberikan merk sebranded ini kepada Ayah)


"Tidak apa-apa ini tidak seberapa Ayah, dan aku memang ingin memberikannya padamu." balasnya dengan masih sopan.


"Baiklah, terima kasih Jun. Yah sudah yuk kita mulai saja acara makan-makannya." ucap Ayah yang kemudian berjalan menuju meja makan, diikuti dengan kami semua.


Kami berkumpul bersama, mengobrol, dan bersenda gurau satu sama lain. Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dan terasa lebih hangat. Mungkin karena saat ini ulang tahun Ayah dirayakan dengan pasangan kita masing-masing.