NIRBANA

NIRBANA
Episode 26



"Nathan kamu masih dimana?"


"Yah, 15 menit lagi aku sampai di kampusmu!"


"Oke."


Aku menutup telepon dari Nathan untuk memastikan dia sudah sampai dimana untuk menjemputku. Aku menunggunya di taman dekat rektorat kampus, sambil sesekali memegangi pipiku yang sedikit kesakitan karena di tampar oleh Siska. Aku sesekali mengaca memalui laya kamera ponselku memastikan tidak bengkak atau terlihat oleh Nathan dan Ayah.


(Kalau Ayah atau Nathan tahu dia pasti akan murka! Dan akan jadi panjang.)


Batinku.


“Nate?” tegur seseorang yang menghampiriku dan sekarang duduk sampingku.


“Kak Jun?” balasku yang terkejut dia datang tiba-tiba menghampiriku.


“Sedang menunggu siapa?” tanyanya memperhatikan sekitaran.


“Menunggu dijemput Kak.” balasku dengan tersenyum.


"Dijemput oleh Kakak kamu?” tanyanya kembali untuk memastikan.


“Iya.” jawabku.


Jun membalas dengan tersenyum, “Ini..” sodornya padaku.


Aku melihat sebentar apa yang dia sodorkan padaku, dan di dalam plastik tersebut berisikan obat cream untuk luka lebam.


“Untuk aku?” tanyaku memastikan.


“Iyalah, masa untuk aku?” jawabnya dengan muka konyol.


“Hehe, terima kasih loh Kak.” jawabku dengan malu-malu.


“Tak masalah, yang terpenting kamu tidak kesakitan lagi.” balas Jun dengan mengelus halus pipiku yang kena tampar Siska. Aku yang menerima sikapnya itu mendadak merasakan jantung berdegup kencang dan wajahku memerah karena malu. Aku memalingkan wajahku sedikit agar Jun tak sadar bahwa aku malu.


Jun yang mengetahui, segera menghentikannya.


“Ehm, maaf.” ucapnya dengan membuang wajah juga karena tak enak. Kami berdua menjadi salah tingkah satu sama lain.


“Hm, Nate?” ucap Jun yang memulai agar tak canggung kembali.


“Y-yah?” jawabku dengan malu-malu.


“Kalau kamu ada waktu akhir minggu ini, mau tidak kamu temani aku pergi ke suatu tempat?” ujar Jun dengan muka malu-malu sambil menatapku.


“Akhir minggu ini aku kan menjadi panitia di dies natalis kampus Kak.” balasku


“Oh begitu, yah sudah besoknya setelah acara kamu ada waktu?” tanyanya kembali yang masih gigih.


“Belum tahu Kak, tapi nanti aku kabari kalau aku bisa.” ucapku yang memberikan harapan pada Jun. Dia membalas dengan tersenyum manis.


“Ehm!” tiba-tiba ada yang memberikan kode, dan itu Nathan yang sudah berdiri dihadapan kami berdua. Aku langsung beranjak berdiri, begitupun dengan Jun.


“Sore, Kak.” sapa Jun pada Nathan dengan sopan.


“Sore.” jawab Nathan dengan nada juteknya.


“Aku pamit dahulu yah Nate!” ucap Jun yang menyadari bahwa aku akan segera pulang.


“Iya Kak, terima kasih yah?” kataku dengan senyum.


“Iya.” Balas Jun sambil tersenyum manis.


Nathan hanya memperhatikan kami berdua yang saling berbuat manis satu sama lain. Wajahnya seolah-olah sudah tak kuat melihat hal seperti ini.


“Ah, mataku!” celetuk Nathan yang mengejek.


Aku melotot padanya karena aku tau dia sedang mengejek. Jun pun pamit dan dia pergi meninggalkan aku dan Nathan. Dari kejauhan aku masih bisa melihat badannya yang sangat bagus untuk dilihat tersebut. Tinggi badan yang proposional sesuai dengan berat badannya serta warna kulit putihnya dan rambut hitam tebalnya itu sungguh menggoda walau hanya dilihat dari belakang.


“Sudah sih, tidak sakit apa itu mata kamu?” ejek Nathan yang menyadarinya.


“Berisik!” balasku dengan mencubit perut Nathan.


“Aw!” sambil mengusap-usap perutnya.


“Yuk!” ajakku pada Nathan dengan menarik lengannya.


Namun Nathan terhenti sejenak, “Ini kenapa pipi kamu?” sambil memegang pipiku.


“Aw!” ucapku yang kesakitan.


“Siapa yang melakukan ini kepada kamu?” tanya Nathan panik.


“Siapa?” tanyanya tegas.


“Temanku.” jawabku yang sedikit ketakutan.


“Iya siapa?” tanyanya kembali dengan wajah serius.


“Aku ceritakan nanti di mobil! Yuk pulang, nanti Ayah lama menunggu kita untuk makan malam.” rajukku pada Nathan.


“Oke, awas kamu kalau tidak cerita!” ancamnya dengan muka serius.


“Iya.” kataku dengan segera menarik lengan Nathan.


Aku dan Nathan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dan segera berjalan menuju parkiran mobil.


“Apa yang kamu bawa?” tanya Nathan yang memperhatikan bungkusan plastik yang sedang kupegang-pegang.


“Oh, ini? Obat untuk luka lebam.” jawabku santai.


“Dari siapa?” tanyanya kembali.


“Yah siapa lagi?” jawabku dengan tersenyum jahil.


Nathan pun menyadari yang kumaksudkan, “Berlagak manis itu lelaki.” celetuknya dengan mengejek


“Sirik.” jawabku dengan tertawa kecil.


“Aku rindu Ibu, Nathan.” Tambahku sambil melihat padanya. Nathan membalas dengan tersenyum padaku.


“Dasar si anak manja!” ejeknya dengan memencet hidungku.


“Biarkan saja!” balasku dengan menjulurkan lidah.


“Nanti kita ke makam Ibu.” ucap Nathan menghibur


“Iya, aku sudah lama.” jawabku dengan menatap lurus.


Kami berdua pun segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area kampus menuju arah rumah.


*****


“Van, bagaimana seksi dekorasi sudah siap untuk acara lusa?” tanya Rere yang sedang mengecek keperlengkapan masing-masing seksi.


“Aku rasa sudah sih Re..” balas Vania memastikan kembali catatan yang sedang dia cek.


“Serius nih? Jangan sampai dekorasi kita kekurangan bahan jadi tidak menarik pengunjung. Soalnya lusa sudah acaranya! Aku harap kita bisa kontribusi maksimal walau sekedar buat kafe bertema rumah hantu...” terang Rere yang meyakinkan kembali.


“Yah serius, mungkin aku dengan anak-anak hanya butuh beberapa anak laki untuk memasang itu dekorasi di langit-langitnya...” tunjuk Vania ke arah yang dimaksudkan, Rere pun melihat arah tersebut.


“Oke sip! Aku mungkin mencari sukarela dari jurusan kita..” Rere pun mengacungkan jempolnya pada Vania tanda bahwa dia puas dengan hasilnya, Vania membalas dengan mengacungkan jempol. Rere meninggalkan tempat acara menuju luar untuk mencari sukarelawan laki-laki dari jurusan Manajemen untuk membantu seksi dekorasi. Dia pun memasuki kelas yang kebetulan habis diisi oleh kuliah jurusan kami.


“Permisi boleh minta bantuannya untuk lelaki yang memang senggang atau tidak ada mata kuliah berikutnya untuk membantu seksi dekorasi untuk mendekor ruangan yang besok akan digunakan acara jurusan kita? Mohon bantuannya...” ujar Rere dengan lantang didepan anak-anak. Semua mendengarkan apa yang diucapkan oleh Rere, dan segera meresponnya.


“Fi, bukannya kamu seksi dekorasi juga yah?” bisik seseorang disampingnya.


“Iya tapi sudah keluar aku, tidak pantas juga...” balas Fiona dengan nada ketus.


“Kamu malas yah karena ada Nate?” tanyanya kembali.


Fiona hanya melirik dengan mata sinisnya dia menjawab “Tentu...”


Fiona segera berjalan ke arah keluar kelas karena sudah muak. Namun langkahnya terhenti oleh suara yang sangat dia kenal meresepon Rere untuk menjadi sukarelawan membantu seksi dekorasi.


“Aku Re!” Jun segera mengangkat tangannya, tanda bahwa dia bersedia membantu seksi dekorasi. Fiona yang mendengar memasang mimik wajah yang tak suka.


“Ini pasti bercanda! Sialan juga si Nate..” celetuk Fiona yang kesal dan segera pergi keluar dari kelas.


“Oke! Total jadi ada enam orang yah yang membantu? Nanti kalian langsung saja yah ke tempatnya, sudah pada tahu kan? Kalau begitu terima kasih, ditunggu kehadirannya segera..” tutur Rere yang segera pamit keluar ruangan.


Yang berada dikelas itu pun segera membubarkan diri untuk meanjutkan aktifitas mereka selanjutnya. Tak terkecuali Jun dia segera merapihkan materi kuliahnya dan bergegas keluar kelas untuk ke tempat yang dimaksudkan Rere.


“Cepat-cepat sekali sih bos!” tegur Wira dengan mengejek Jun.


“Biar cepat selesai jugalah, sana kamu masuk kelas! Masih ada kuliah lagi kan?” perintah Jun dengan wajah mengejek.


“Duh, gaya sekali nih orang. Susah sih yang lagi dekat dengan wanita.” Wira membalas dengan mengejek kembali.


“Hanya perasaan kamu saja mungkin yah, dasar usil..” balas Jun dengan memasang muka mengejek Wira lagi.


“Hahaha, sial kamu yah! Yah sdah sana sebelum di ambil yang lain..” ucap Wira menepuk pundak Jun, dan Jun hanya membalas dengan tertawa.