
Hari ini aku rapat kembali dari sore sampai sekarang sudah jam 9 malam masih dikampus karena menurut Rere harus ada pematangan yang serius untuk persiapan acara nanti.
Nathan dan Ayah sudah meneleponku terus karena khawatir aku masih dikampus. Rasanya mengantuk dan jenuh sekali dari sore tidak selesai-selesai rapatnya.
Aku melihat ke anak-anak lain juga merasakan hal yang sama. Akhirnya jam 9.30 malam aku pun selesai rapat dan aku segera menelepon Nathan untuk menjemputku.
Aku pun berjalan dan menunggu Nathan ditangga gedung rektorat kampus, yang lain sudah banyak yang pamit pulang.
“Nate? Menunggu siapa?” tegur Vania kepadaku.
“Oh aku menunggu dijemput Kakakku Van..” balasku yang sambil duduk.
“Mau aku temani tidak?” tanya Vania kembali kepadaku.
“Tidak usah Van! Sudah malam juga besok kamu kan ada kelas pagi.” balasku kembali yang merasa tidak enak jika Vania menemaniku, walaupun kostan dia dekat kampus.
“Yakin? Tidak apa-apa nih?” tanyanya kembali padaku. Aku hanya membalas dengan anggukkan sambil tersenyum. Vania pun mengerti isyarat yang aku maksudkan.
“Hati-hati yah!” ucapnya kembali sambil melambaikan tangannya kepadaku. Aku membalas melambaikan tangan kepada Vania, aku melihat dia pun berjalan menuju gerbang kampus.
Aku masih menunggu Nathan menjemput. Suasana kampus malam hari agak seram, suasana sudah semakin sepi. Ada rasa takut dalam diriku, sekilas aku melihat ternyata di ruangan gedung A masih melihat lampu ruangan masih menyala.
(Pasti anak Paduan Suara deh! Biasanya mereka jam segini masih latihan.)
Terdengar suara anak-anak paduan suara yang masih latihan juga.
(Nah kan benar! Nathan lam juga ya, tak seperti biasanya. Mana sepi lagi di kampus)
Dari kejauhan aku melihat ada yang berjalan menghampirku.
(Siapa tuh?)
Semakin dekat, semakin jelas dan ternyata itu Jun.
“Natasha? Tidak pulang kamu?” tegur Jun sambil melihat jam tangannya yang kemudian menghampiriku dan sekarang ikut duduk disampingku. Aku melihat disekujur tubuhnya banyak keringat, aku yakin pasti dia habis main basket di lapangan kampus belakang.
“Tidak Kak, aku sedang menunggu dijemput.” jawabku dengan ramah.
“Oh menunggu siapa? Kakak kamu yah?” tanya Jun kembali sambil mengipas-ngipaskan ke arah badannya.
“Iya Kak aku menunggu Kakakku..” balasku yang masih melihat ke arahnya. Jun pun menyadarinya dia pun segera bersikap salah tingkah di depanku.
“Bau bukan Nate? Maaf yah aku habis main basket tadi diajak dengan anak-anak jurusan lain..” ucapnya sambil memasang muka tak enak.
“T-tidak Kak! Tidak bau kok...” balasku sambil malu-malu.
(Tidak bau Kak, malah wangi ini aku menciumnya >,<)
“Masih lama menunggu Kakak kamu?” tanya Jun kembali sambil meneguk air yang dari tadi dibawanya.
“Tidak tahu, semestinya sih dia sudah sampai. Mungkin dia terkena macet...” balasku sambil melihat ke layar ponselku.
“Oh..., aku temani kamu yah? Kasihan kamu malam-malam sendiri. Tidak masalah kan?” ujar Jun sambil menoleh kepadaku. Aku menoleh juga kepadanya dan sekilas aku melihat wajahnya yang masih basah oleh keringatnya dengan jelas. Entah bagaimana hari ini aku benar-benar melihat wajah Jun dengan jelas.
“O-oke Kak...” balasku yang malu sambil memalingkan wajahku yang tadi saling bertatapan.
Tak lama mobil yang ku kenal pun tiba. Itu Nathan! Dia membawa mobil dengan sedikit mengebut memasuki gerbang kampusku.
“Itu Kakak kamu?” tanya Jun sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
“Sepertinya sih..” balasku yang masih ragu. Tak lama mobil tersebut pun berhenti di depan gedung rektorat dan ternyata benar itu Nathan dengan wajah paniknya.
“Nateeee???!!!!!” ujarnya sambil berlari panik ke arahku. Aku dan Jun segera beranjak diri dari tangga rektorat. Nathan pun segera menghampiriku sambil memelukku.
“Nateeee!!!! Maaf lama!!” ujarnya sambil memelukku dengan wajah panik.
“Yah oke Kak, tak apa...” balasku yang menepuk-nepuk pundaknya. Nathan pun melepaskan pelukannya dan menoleh ke sampingku ternyata ada orang lain selain aku.
“Oh Kakaknya Natasha yah? Maaf Kak aku Jun teman satu jurusannya Natasha...” jelas Jun sambil senyum kepada Nathan.
“Siapa dia?” tanya Nathan kepadaku.
“Oh dia Jun Kak, dia Kakak dua tingkat diatas ku. Aku pernah menceritakannya dengan Kakak?” tanyaku kembali kepada Nathan.
“Jun? Oh yang suka dengan adikku bukan?” balas Nathan polos. Aku malu mendengar ucapannya itu lalu segera mencubit pinggangnya.
“AAAAAA.........!!! Nate.. Nateeeeee!!” teriaknya. Jun pun tersenyum melihatnya.
“Bukan Kak! Dia hanya 'kakak tingkatku' saja kok..” kataku lagi dengan nada penekanan.
“O-oke.. Oke..” balasnya sambil mengelus-elus pinggangnya.
“Yuk pulang..” ajakku kepada Nathan sambil melihat jam tanganku.
“Oke yuk!”
“Terina kasih yah Kak Jun sudah menemani aku sebentar tadi..” ujarku dengan tak enak. Jun membalasnya dengan tertawa ringan.
“Hahaha, tidak apa-apa Natasha. Ini sudah malam juga..”
Nathan pun melihat kami berdua dengan pemikiran yang menduga-duga. Dia pun menoleh ke arah Jun dengan wajah seriusnya.
“Terima kasih banyak yah! Maaf jadi mengganggu waktu kamu..” tambahnya kepada Jun dengan sungguh-sungguh.
“Oke Kak tidak masalah..” balas Jun santai.
Aku pun segera berpamitan kepada Jun.
“Kak Jun aku pergi dahulu yah..” ujarku.
“Oke hati-hati Natasha...” balasnya kembali.
Aku dan Nathan segera berjalan menuju mobil. Ketika mobil kami sudah berjalan meninggalkan gerbang kampus aku melihat dari kaca spion Jun masih berdiri didepan rektorat. Entah bagaimana aku kok merasa Jun makin kesini makin dekat dengannku. Secara tidak langsung pun aku telah menerima kehadiran Jun.
“Dia yang suka dengan kamu?” tegur Nathan sambil fokus menyetir. Aku melirik ke arahnya dengan pandangan sebal.
“Bukan Kak kan sudah aku bilang dia hanya Kakak tingkat aku aja..” balasku dengan nada sebal.
“Kalau memang kamu dengan dia tidak ada hubungan, kenapa juga dia peduli sampai menemani kamu begitu?” timpalnya kembali. Aku terdiam mendengar ucapannya tersebut sambil melihat ke luar kaca mobil.
Yah aku memang teman sama Jun... tapi memang itu gak lebih. Kalau aku pikir Nathan tidak salah sih mendunga bahwa Jun memang suka denganku, tapi aku tidak mau terlalu berpikir macam-macam begitu.
“Aku sayang dengan kamu Nate! Aku cuma khawatir saja, aku berlebihan yah?” Nathan tiba-tiba berbicara seperti itu kepadaku sambil fokus menyetir. Aku pun langsung menoleh ke arahnya.
“Aku tahu kok Kak..” balasku sambil senyum kepadanya, Nathan pun melirik kepadaku dan membalas senyumanku.
“Tapi aku serius Nate dia sepertinya suka dengan kamu!” ujar Nathan yang masih bersikukuh.
“Kak? Oh yah ampun! Terserah kamu mau berbicara apa, aku dengan dia benar-benar tidak ada hubungan spesial. Kalau pun aku ada hubungan dengan dia aku pasti akan memberitahukan kamu terlebih dahulu! Oke?” terangku yang sudah mulai jenuh mendengar pembicaraan yang sama berkali-kali dengan Nathan.
“Yah kalau sampai dia jadi kekasihmu dan dia macam-macam dengan kamu, aku orang pertama yang akan menghajarnya!” ujar Nathan dengan bersungguh-sungguh.
“Suka-suka kamu saja Nathan...” balasku yang sudah malas memperpanjanganya. Nathan melirik ke arahku sambil tertawa terkekeh.
*****
“DION!!!!” teriakku padanya sambil tengah berlari menghampirinya. Dion pun menungguku ditengah taman kampus yang panas.
“Cepat sih Nate!” teriakknya kepadaku yang sudah bosan menunggu. Aku pun segera berlari secepat yang aku bisa.
“Hhhhh... Hhhhhh... D-Dion!” ujarku yang masih terenggah-enggah sambil memegang pundak Dion.