
Sesuai dengan ucapannya Nathan benar-benar mengantarkanku dan sekarang kami berdua duduk berhadapan di meja perpustakaan, dengan santai dia menungguiku sambil membuka ponselnya dan sesekali melihat ke arahku untuk memastikan. Aku yang dari tadi mendapat perlakuan seperti anak kecil darinya hanya bisa memasang muka malas dan tetap fokus mencari bahan materi untuk tugasku minggu depan.
Aku pun menyadari beberapa Mahasiswi melihat ke arah Nathan dengan gerak gerik mencari perhatiannya. Aku tahu Nathan tipikal orang yang dari penampilan memang menarik terutama untuk wanita. Tak heran kalau selama ini dia selalu dikelilingi oleh perempuan entah itu sekedar ingin berteman dengannya atau ada maksud lebih. Nathan acuh menanggapi semuanya dan tak peduli, apalagi sekarang dia tetap fokus mengawasiku seakan-akan aku ini memang hanya mencari alasan saja belajar di perpustakaan karena sudah punya kekasih. Kekasih saja aku tidak punya!
“Masih mau disini? Menunggu aku?” tanyaku sambil melihat kepadanya dengan nada dan muka ketus.
“Masihlah..., tak masalah sampai malam juga.” balasnya masih fokus dengan ponselnya. Aku yang melihat tingkahnya tersebut sudah tidak mau berkomentar panjang lagi. Aku melanjutkan untuk fokus mengerjakan semua tugasku.
“Menurut kamu Clarissa bagaimana Nate?” tiba-tiba Nathan menanyakan hal tersebut padaku. Aku menghentikan sebentar, lalu melihat ke arahnya ternyata Nathan sudah melihat kepadaku dengan memasang muka yang sedang menunggu jawaban dengan serius. Aku menyunggingkan senyum kepadanya seolah-olah mengejek.
“Serius Kakak mau tanya seperti begitu ke aku?” tanyaku kembali memastikan.
“Iyalah! Kamu adikku masa iya aku tidak boleh meminta pendapat kamu!” balas Nathan dengan muka sebal.
“Hmm, kata Ayah ukuran cupnya terlalu besar..” balasku santai sambil mengerjakan tugasku. Nathan terkejut mendengar jawabanku tadi sambil memasang mimik muka konyolnya dia masih tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.
“Oh yah ampun! Kalian berdua kotor!” balasnya dengan ekspresi konyolnya, aku hanya memadang kepadanya dengan datar lalu melanjutkan kembali mengerjakan tugasku.
“Kata Ayah loh bukan kata aku!” tegasku kembali sambil fokus.
“Harus banget Ayah menilai begitu? Dan kamu juga ikut setuju?” terangnya kembali sambil berekspresi.
“Yah Kakak menanyakan pendapat dengan aku, yah aku menyampaikan pendapat Ayah. Tapi menurutku Clarissa termasuk wanita mandiri dan pintar sih Kak, yah serasilah Kakak dengan dia..” terangku sambil memukul-mukulkan puplen ke wajahku. Nathan menerima penjelasannku dengan wajah datarnya.
“Serius serasi? Kalau aku memberanikan diri untuk melamar dia bagaimana?” tanyanya kembali dengan menunjukkan ekspresi bersungguh-sungguh, aku yang melihatnya memasang muka tak menyangka bahwa Nathan dan Clarissa ingin kejenjang serius.
“Serius? Harus sekarang juga aku jawab?” jawabku yang masih tak yakin.
“Yah! Jawab cepat!” perintahnya sambil menopangkan dagunya.
“Tidak mau berkomentar!” jawabku tegas.
“Bertanya kepada Ayah saja!” tambahku lagi.
“Hhhhh...!!!!! Kalau dengan Ayah aku tidak siap Nate... Sebab kan...”
“Natasha?” tegur seseorang dari arah belakangku, aku segera menoleh dan..
“Kak Jun?” ujarku sambil tak menyangka. Nathan yang tidak melanjutkan ucapannya itu segera memasang muka agak dewasa karena ada Jun. Aku menoleh ke arah Nathan, dan dia membalas hanya dengan tatapan tidak suka kepada Jun. Aku menoleh ke arah Jun, dan dia membalas dengan senyum ramahnya.
(Yah Tuhan! Aku bingung!)
“Mau duduk Kak?” tawarku sambil berdiri dan memindahkan barang-barangku. Nathan segera berdiri dan duduk disampingku, aku yang berdiri disampingnya pun bingung.
“Duduk disitu saja!” ujar Nathan sambil menunjuk tempat duduk yang tadi dia duduki. Jun pun membalas dengan ramah.
“Oke...” balas Jun dengan ramah sambil berjalan ke tempat duduk yang dimaksudkan dan aku segera duduk kembali. Aku menoleh kepada Nathan, dia membalas dengan ketus dan tak acuh kepadaku. Aku yang tak enak dengan suasana ini memulai pembicaraan dengan Jun.
“Kak Jun sendiri? Ada apa Kak ke perpustakaan? Mau mengerjakan tugas juga yah?” tanyaku yang berusaha mencairkan suasana, aku menoleh kepada Nathan dia masih memasang muka ketus.
“Iya aku mau mencari materi untuk tugas mata kuliah minggu depan...” balasnya dengan ramah.
“Ah alasan! Bilang saja mau bertemu dengan adikku. Yah kan?” ucap Nathan yang tiba-tiba dengan spontan.
“Sudah sih Kak..” balasku karena tak enak dengan Jun.
“Yah tak apa-apa kan?” jelas Jun kepada Nathan.
“Memang kamu ada keperluan apa dengan adikku?" tanya Nathan kembali dengan ketus.
“Yah, aku kan kebetulan saja lewat dan melihat Natasha. Tak masalah kan kalau aku menyapanya saat ini?” terang Jun dengan santai dan ramah.
“Ah udah sih Kak tidak usah memanjangkan hal seperti ini..” aku segera menengahi mereka karena aku tak mau Nathan tiba-tiba berfikir hal yang tidak-tidak. Nathan membalas dengan melihatku dengan tatap tajam, sedangkan Jun melihat ke arah kami berdua dengan tampang bingung.
“Natasha kamu juga mengerjakan tugas untuk mata kuliah minggu depan?” sambung Jun yang mengubah topik sambil melihat ke arah buku materi kuliah yang dimaksud.
“I-Iya Kak..” jawabku
“Aku mencari buku ini juga! Kamu ternyata yang sudah menemukan dahulu, aku mencari referensi di buku ini isinya bagus juga loh menarik. Boleh aku pinjam kalau kamu sudah selesai?” jelas Jun sambil senyum melihatku, aku salah tingkah dengan tatapannya itu. Lain hal dengan Nathan yang melihat aku salah tingkat segera menghalangi dengan buku tepat di depan wajahku. Aku menoleh kepadanya dengan kesal, Nathan membalas dengan acuh tak peduli. Aku segera menyingkirkan buku yang menghalangiku.
“Boleh Kak!” jawabku singkat, Jun membalas dengan senyuman.
Bzzt! Bzzzt! Bzzzzzztttt!!
Suara ponselku berbunyi aku sengaja memakai mode getar karena tidak ingin mengganggu konsentrasiku. Aku melihat siapa yang menelepon dan itu Ayah! Aku segera mengisyaratkan kepada Nathan dan Jun untuk pergi sebentar keluar perpustakaan untuk mengangkat teleponnya.
“Memang Kakak mau saya jadi pacar Natasha?” tanya Jun balik kepada Nathan dengan memasang muka ramah. Nathan bingung menjawab pertanyaan Jun dia pun menjadi salah tingkah.
“Y-Ya kan aku cuma tanya saja! Aku tidak mau adik aku satu-satunya disakiti apalagi dipermainkan, kamu suka yah bilang suka kalau kamu tidak suka jangan pura-pura baik atau manis didepan dia..” balas Nathan sambil melirik ke arahku yang masih fokus menerima telepon Ayah.
“Kakak akan tahu kok jawabannya nanti...” ujar Jun memasang mimik muka senyum. Nathan yang melihat merasa semakin tak yakin dengan ucapannya itu.
“Ah!! Denger yah aku tidak suka mengancam teman-teman Nate! Intinya aku orang pertama yang akan menghajar kamu kalau sampai Nate nangis atau tersakiti!!” tegas Nathan sambil menunjuk jari telunjuknya kepada Jun.
“Silahkan...” balas Jun singkat tanpa merubah mimik wajahnya.
“Hei kalian tidak ribut kan?” tanyaku yang baru selesai menerima telepon Ayah dan menarik bangku untuk duduk kembali. Nathan hanya diam, sedangkan Jun merespon hanya dengan senyuman manisnya.
“Tidak kok Natasha..” ucap Jun, namun Nate masih kurang yakin dia melirik ke arah Nathan.
“Yah tidak berantem kok Nate...” ucap Nathan sambil mengangkat kedua tangannya.
“Oh iya Natasha nanti kalau kamu sudah selesai mau makan yang manis-manis? Aku ada tempat yang sesuai deh untuk kamu..” tanya Jun kepadaku. Nathan yang mendengar langsung protes tidak suka.
“Dia langsung pulang! Tidak mampir-mampir dulu!” tegas Nathan sambil menopang kembali kedua tangannya. Jun melirik ke arahku, aku yang bingung mau jawab apa menjadi salah tingkah.
“Hmm, yah tadi Ayahku menelepon katanya sih hari ini aku dan Kakak tidak boleh pulang terlambat. Jadi maaf yah Kak Jun lain kali saja...” ujarku dengan mimik muka yang merasa tak enak.
“Tidak apa-apa kok Natasha, kan masih bisa di hari lain..” terang Jun dengan ramah.
“Yah sudah mau pulang sekarang?” tanya Nathan yang segera berdiri menghadapku.
“Memang harus sekarang perginya? Tugasku belum selesai Kak..” terangku sambil memasang muka ketus kepada Nathan. Jun hanya memperhatikkan kami berdua dengan muka heran, sambil menoleh ke arah jam tangannya.
“Wow sepertinya aku harus pergi!” kata Jun sambil berdiri dari bangkunya dengan melihat jam tangannya.
“Loh? Aku tidak mengusir Kakak kok!” balasku tak enak sambil memegang kedua lengannya, Jun melihat tindakan yang aku lakukan. Aku yang tersadar langsung melepas pegangan tanganku ke lengan Jun.
“Tidak, tak apa-apa! Aku ada perlu kok Natasha..” jawabnya sambil senyum, aku yang canggung membalas senyumnya itu.
“Oke! Aku pamit yah Natasha sampai berjumpa kembali, dan Kak Nathan senang bisa berkenalan dan bertemu..” ujarnya dengan senyum dan beranjak pergi meninggalkan kami berdua. Aku segera menyuruh Nathan untuk duduk kembali karena tugasku belum selesai.
“Kamu tahu kadang aku khawatir dengan laki-laki yang mencoba medekat kepada kamu! Kalau aku berlebihan aku bersikap sebagai Ayah. Bukannya aku tidak suka loh dengan dia!” terang Nathan yang sudah duduk disampingku dengan wajah serius sambil melihat pandangannya kedepan. Aku yang mendengar ucapannya menoleh ke arahnya.
“Aku cuma berteman saja kok dengan dia, tidak lebih.. Kakak tidak usah khawatirkan yang berlebihan! Nanti aku susah mendapatkan teman, Kakak mau aku tidak punya teman?” belaku sambil fokus kembali mengerjakan tugas.
“Hhhhh!! Oke aku tidak akan berlebihan kok tapi kalau dia sampai menyakiti kamu aku yang akan menghajar dia duluan!” balas Nathan sambil mengepalkan tangannya, aku yang melihat hanya membalas dengan tersenyum meledeknya.
“Dahulu juga seperti itu kok dengan Tian, nyatanya kamu yang malah diomeli dengan Papanya Tian.” kataku sambil tetap memasang mimik meledek.
“Itu kan waktu kecil kalau sekarang Tian menggangu kamu yah aku akan benar-benar mengahajarnya!!” katanya lagi sambil posisi menghadapku, aku yang menoleh hanya membalas dengan menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Oh iya, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan teman Kakak!” ujarku yang merubah topik.
“Siapa?” tanya Nathan heran.
“Hmm, siapa yah? Duh aku lupa! Itu loh Kak yang waktu kecil dia ompong, ingat tidak?” ucapku yang berusaha mengingat-ingat kembali, Nathan hanya mengerenyitkan dahinya. Aku pun berusaha untuk mengingat-ingat namanya.
“Siapa? Leo? Nika? Fajar?” balas Nathan yang mencoba membantu karena dia pun tak ingat siapa saja teman dia waktu kecil yang giginya ompong karena semua temannya rata-rata pada ompong semua ketika kecil.
“Bukan! Bukan! Duh, awalnya huruf A. Aku lupa!!” kataku sambil memejamkan mataku.
“A? Andri? Anjas? Ara? Oh! Axel? Axel Gunawan?” ujar Nathan yang masih mencoba membantuku.
“Ah!! Benar! Axel! Yah Axel Kak...” jawabku dengan girang.
“Bertemu dimana? Dia kan semestinya ada di Paris..” balas Nathan yang masih bingung.
“Yah dia baru pulang katanya dan mau bertemu Kakak sepertinya tidak sempat.. Aku bertemu di tempat makan waktu itu dengan Dion ketika jam istirahat.” terangku dengan lugas.
“Oh begitu, oke nanti coba aku menghubungi dia deh..” balas Nathan sambil melihat ponselnya dan aku kembali fokus mengerjakan tugasku. Sekilas aku masih bertanya-tanya dalam hati tentang Jun. Aku berfikir makin kesini Jun makin dekat denganku sering mengajak makan, menemaniku waktu aku sedang menunggu Nathan atau teman-temanku, mengajakku pergi ke tempat yang dia sukai, dan dia memperlakukanku dengan lembut selayaknya aku kekasihnya.
(Dia benar tidak suka denganku kan? Kok aku menjadi kepikiran kalau dia suka karena dia ingin menjadi kekasihku? Ah! Nate kok kamu bodoh sih? Berpikir berlebihan...)
Gumamku dalam hati sambil memukul-mukul kepalaku, aku tak menyadari ternyata Nathan dari tadi melirik memperhatikan tingkahku itu.
*****