NIRBANA

NIRBANA
Episode 3



“Aku pulang! Ayah? Ayah?”


“Selamat datang sayang!” balas Ayah yang sedang memotong sayuran di depan kompor.


“Hei Ayah! Sini aku bantu.”


Aku segera menghampirinya dan menaruh tasku di kursi dapur. Aku segera mencium pipi Ayah dan membantunya memotong-motong sayuran.


“Gimana hari ini?” tanya Ayah yang mulai percakapan.


“Yah masih sama seperti hari-hari biasa, hari ini aku ketiduran di kelas Pak Wisnu hehehe.” kataku sambil tertawa. Ayah pun mencubit pipiku.


“Ayah sudah bilang jangan tidur terlalu malam!!”


Aku pun mengusap-ngusap pipi yang tadi di cubitnya.


“Nathan mana Ayah?” tanyaku sambil menoleh kanan kiri mencarinya.


“Dia hari ini pulang agak terlambat, tapi dia sudah bilang kalau akan bergabung makan malam bersama dengan kita.” jawab Ayah yang masih fokus memotong-motong sayuran.


“Pasti dia kencan dahulu dengan dengan siapa itu?”


“Clarissa?” balas seseorang.


Aku segera menoleh ke arah sumber suara tadi.


“Nathan! Hahahaha.” kataku yang ketahuan membicarakan dirinya.


“Heh anak kecil jangan suka sok tahu kamu! Memanggil namaku saja kebiasaan tidak pakai 'Kakak' lagi. Terus tidur saja masih takut gelap sok-sokan membicarakanku dengan Bapak Tua ini.” jawab Nathan yang segera menghampiri aku dan Ayah.


“Heh anak muda! Jangan sok tua! Bangun tidur saja masih suka dibangunkan oleh Ayah. Biarpun Ayah sudah tua, tapi tenaga Ayah masih banyak untuk memukul kepala kamu!” balas Ayah yang langsung memukul pelan kepala Nathan.


Nathan pun tertawa terkekeh sambil mencium pipi Ayah.


“Malu tuh sama umur, udah tua masih juga manja dengan Ayah.” balasku dengan wajah mengejek.


Nathan pun menghampiriku sambil mencubit pipiku.


“ADUUUUHHH!! NATHANIEL! Rese!” teriakku sambil memukul-mukul pundaknya.


“HAHAHAHA!”


Dia Nathaniel Canvill atau Nathan adalah Kakak kandungku satu-satunya. Dirumah ini hanya ada kami bertiga saja yaitu Aku, Ayahku Henry Canvill, dan Nathan.


Ibuku? Ibuku Lily Canvill dia sudah lama meninggalkan kami bertiga, saat itu Ibu meninggalkan kami karena sakit komplikasi yang dia derita. Saat itu, umurku baru 5 tahun dan Nathan 10 tahun. Tak banyak yang aku ingat ketika Ibuku meninggal, yang aku ingat hanya dia berpesan bahwa Kamu harus menjadi wanita hebat dan mandiri! Selalu tersenyum dan berbuat baik kepada sesama.


Terdengar mungkin seperti hal yang konyol, namun ketika Ibu meninggal ucapan Ibu tersebut selalu teringat-ingat di kepalaku. Nathan saat ini sudah bekerja di perusahaan swasta yang sudah berkembang baik. Untuk umurnya saat ini terbilang beruntung karena dia sudah diangkat menjadi kepala bagian dan sudah mempunyai anak buah. Dari tampilan luarnya mungkin dia agak sedikit konyol dan kekanak-kanakan, namun Ayah dan Ibu selalu mendidik dia untuk menjadi pribadi yang mandiri, luas, bertanggung jawab, dan tentunya cerdas.


Selama ini dia yang selalu bertanggung jawab dan menjaga diriku kalau aku dalam masalah. Bisa dibilang dia adalah Ayah keduaku setelah Ayah. Untuk Ayahku, ya Ayah sudah berjuang untuk mencapai tahap saat ini. Ayah harus mengambil peran ganda menjadi Ibu untuk kami berdua. Setelah Ibu meninggalkan kami, Ayah memutuskan untuk tidak menikah kembali. Alasannya karena Ayah ingin lebih fokus untuk merawat kami dan menjaga kami. Aku terharu dengan perjuangan Ayah! Setiap akhir pekan atau kalau tidak ada kuliah pagi selalu menyempatkan diriku untuk membatu Ayah di Toko Rotinya.


Ayah mungkin punya pegawai yang cukup untuk Tokonya, namun terkadang menjaga Toko bersama dengan Ayah membuatku cukup untuk menghabiskan waktu dengannya. Aku sekedar hanya ingin membatu, tetapi Ayah suka melarangku untuk membantunya. Alasannya selalu saja bilang habiskan waktu kuliahmu untuk bergaul sayang, nanti akan ada waktunya kamu untuk membantu Ayah! Itulah Ayahku! Selalu menutupi dirinya, dia tidak mau terlihat capek dan lelah mengurus kami berdua. Jadi aku bisa apa?


“Tidak dimakan sayurnya Nate?” tanya Ayah yang membuyarkan lamunanku.


Aku pun melihat ke piringku, masih tersisa sayuran yang belum ku makan.


“Mau kok.” jawabku sambil meneruskan kembali memakan sayurannya.


Ayah hanya memandangku dengan datar.


“Hari ini kerjaan kamu bagaimana Nathan?” tanya Ayah kembali, namun kali ini kepada Nathan.


Nathan yang sedang asik mengunyah pun segera menelan makanan yang ada di mulutnya.


“Lancar kok, tapi biasalah kalau kerjaan selalu ada saja kendalanya.” jawab Nathan santai sambil menikmati makan malamnya.


“Ingat pesan Ayah jangan terlalu keras dengan anak buahmu.” balas Ayah sambil minum.


“Oke Ayah.” jawab Nathan singkat.


“Dan Nate?”


Aku pun menoleh ke arah Ayah.


“Yah?” jawabku.


“Fokus dengan kuliahmu!” kata Ayah sambil tersenyum kepadaku dan aku pun menjawabnya dengan senyum khasnya.


Aku pun melanjutkan kembali makan malamku, begitu pun dengan Nathan.


“Ngomong-ngomong siapa itu Clarissa?” tanya Ayah dengan santai sambil makan buah.


Aku terdiam sebentar, sedangkan Nathan langsung tersedak. Aku dan Nathan pun menatap satu sama lain dengan terkejut dan menoleh ke arah Ayah dengan kompak.


“Ayah?” jawab Nathan sedikit panik dan kaget.


“Ayah cuma mau tahu saja kok.” balas Ayah dengan mimik muka lucu. Tak sengaja aku pun tertawa terkekeh, Nathan langsung menginjak kakinya ke kakiku dan spontan aku pun berteriak.


“ADUH!! SAKIT!!” sambil menoleh kepada Nathan dan dia pun membalas dengan memelototkan matanya.


“Jadi siapa itu Clarissa?” tanya Ayah kembali.


Nathan pun salah tingkah seakan-akan dia tidak mau berbicara kepada Ayah.


“Yah, dia..” kata Nathan sambil ragu-ragu.


“Ayah menunggu...” jawab Ayah dengan santai.


“Oke, jadi aku dan Clarissa hanya sebagai...” potongnya lagi yang masih ragu-ragu.


“Kekasih?” tembak Ayah kepada Nathan.


Nathan pun langsung salah tingkah.


“Ah! Ayah harus aku cerita dia itu siapa?” tanya Nathan kembali dengan ekspresi yang konyol.


“Yah tentu! Dia kekasihmu kan?” balas Ayah lagi dengan yakin.


“Bukan! Bukan! Bukan! Dia bukan kekasihku Ayah!” jawab Nathan dengan bersungguh-sungguh.


Ayah pun melihat Nathan dan menaikkan alisnya matanya.


“Jangan bohong!” jawabnya dengan tegas.


“Yah aku dan dia, kami tidak beradu kasih Ayah!” bela Nathan dengan nada pelan.


“Apa??”


“Aku dan dia masih pendekatan Ayah!” jelas Nathan dengan tegas.


Ayah pun menghela nafas dengan berat.


Nathan pun melihat Ayah sambil menarik nafas.


“Bukan Ayah! Dia dan aku masih sebatas teman. Yah teman dekat tapi tidak sedekat seperti seorang kekasih, tapi bukan kekasih juga karena tidak seperti sepasang kekasih. Ayah pasti taulah maksudku?” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman.


Ayah hanya tersenyum.


“Akhir pekan ini Ayah dan Nate akan ikut kamu latihan baseball.” balas Ayah yang langsung segera berdiri dari tempat duduknya dan merapihkan piring kotor miliknya.


Nathan dan aku saling berpandangan, tetapi Nathan jauh lebih terkejut ketika mendengarnya.


“Ayolah Ayah! Ini tidak lucu, aku sudah dewasa Ayah.” renggek Nathan kepada Ayah.


Ayah pun menggerak-gerakkan telunjuk tangannya memberikan isyarat bahwa itu bukan alasan untuk menghindar.


“Ayah tidak mendengarkan semua ucapanmu itu.” balas Ayah yang langsung segera pergi meninggalkan aku dan Nathan di meja makan.


*****


“Ayah itu sepertinya yang namanya Clarissa.” kataku yang sambil mengarahkan pandangan Ayah dengan wanita yang sedang berjalan dengan Nathan.


Ayah pun melihat dari kejauhan.


“Menurutmu bagaimana Nate?” tanya Ayah kepadaku sambil menoleh.


Aku pun melihat Ayah “Cantik..”


“Menurut Ayah?” sambungku kembali.


“Menurut Ayah dia cantik, supel, ramah, dewasa, lumayan cerdas jadi dia menyeimbangkan pembicaraan Nathan, dan tentunya anakku ini agak sedikit berlebihan mencari ukuran cup dadanya.” jawab Ayah sambil menekukkan dahinya.


Aku pun yang menyadari apa yang dimaksudkan Ayah pun segera memukul pundaknya.


“Ayah!” kataku dengan memelototkan mata.


Ayah membalas dengan tertawa terkekeh.


Nathan pun segera menhampiri aku dan Ayah, dia pun segera menarik lengan wanita yang bersamanya.


“Oke! Pasti kalian sudah bisa menebak ini siapa. Tapi aku perkenalkan secara resmi saja yah. Ayah dan Nate ini Clarissa teman terlalu dekatku, dan Clarissa ini Ayah...” kata Nathan dengan mengarahkan tangannya kepada Ayah.


“Hallo Bapak Henry Canvill, senang bertemu denganmu secara langsung.” kata Clarissa yang menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ayah.


Ayah pun menerima jabat tangannya dengan senyumnya.


“Senang bertemu denganmu juga Clarissa, Nathan banyak cerita tentangmu.” balas Ayah sambil melirik ke arah Nathan. Nathan membalasnya dengan senyuman.


“Nathan juga banyak cerita tentang Bapak, dan tentu saya suka dengan roti buatan Bapak. Aroma dan rasanya itu Pak yang membuat saya ketagihan.” kata Clarissa sambil tersenyum lebar.


“Hahahahaha..., kamu memang yah tahu akan rasa! Terima kasih atas pujiannya.” balas Ayah dengan senyumnya kembali.


“Ouhh! Oke kurasa cukup. Nah Clarissa ini Adikku namanya Natasha atau kamu bisa panggil dia Nate.” ujar Nathan sambil mengarahkan tangannya kepadaku.


“Hallo Clarissa, senang bertemu denganmu.” Aku pun tersenyum lalu segera menyodorkan tangannku kepadanya untuk berjabat tangan dengannya.


Clarissa pun menerima jabat tangannku sambil tersenyum.


“Senang bertemu denganmu Natasha, Nathan banyak cerita tentang kamu.”


Aku pun tersenyum mendengar ucapannya tersebut.


“Dia memang suka berlebihan.” jawabku sambil menyungingkan senyuman kepada Nathan.


Nathan membalas dengan tatapan mengejek.


“Oke, Ayah dan Nate duduk disini yah! Aku dan Clarissa akan ke sana.” kata Nathan menunjuk tangannya ke arah yang dimaksud.


“Oke! Semangat Nathan.” balas Ayah dengan memeluk Nathan dan Nathan pun membalas pelukan Ayah.


Mereka berdua pun berpamitan pergi meninggalkan kami berdua. Aku dan Ayah pun segera duduk mengambil posisi untuk melihat Nathan latihan Baseball. Aku melihat dari kejauhan Clarissa mencium pipi Nathan sebelum latihan, dan Clarissa pun duduk di bangku pemain menunggu Nathan sambil memegang minuman untuknya.


“Kau tahu Ayah tak pernah mempermasalahkan semua tipe wanita yang Nathan bawa ke rumah atau yang dia kenalkan kepada Ayah. Hanya saja Ayah ingin Nathan benar-benar menemukan wanita yang bisa cocok dan menyeimbangkan segala jenis pemikirannya itu. Intinya yang menerima Nathan apa adanya, tapi terkadang Ayah merasa sedikit khawatir kepadanya. Menurut kamu Ayah berlebihan sebagai orang tua?” tanya Ayah yang memulai percakapan kepadaku dengan wajah serius sambil menoleh ke arahku.


Aku pun tersenyum mendengarkan ucapan Ayah tersebut. Aku tahu beban Ayah pasti berat, harus menggantikkan peran Ibu juga. Jadi kupikir itu adalah hal wajar yang bisa dia lakukan sebagai orang tua.


“Ayah tidak berlebihan. Itu namanya Ayah sayang Nathan kok.” balasku sambil merangkul lengan Ayah dan menyandarkan kepalaku dibahunya. Ayah menerima rangkulanku sambil mencium kepalaku.


“Aku rindu Ibu.”


Aku tiba-tiba saja mengatakan hal itu kepada Ayah. Ayah segera menoleh ke arahku sambil mengusap-usap kepalaku yang masih bersandar di bahunya.


“Ayah juga rindu Ibumu.” balas Ayah yang masih mengusap-usap kepalaku.


“Kalau Ibu masih ada mungkin seru.” tambahku.


Aku segera beranjak dari bahu Ayah dan duduk menghadapnya.


“Aku rindu Ibu bukan berarti Ayah tak baik merawat aku dan Nathan. Aku hanya rindu dengannya, Ayah tau kan maksudku kalau kita berkumpul bersama-sama dengan lengkap dan melihat Nathan yang sekarang sedang latihan Baseball pasti akan lebih seru.” kataku dengan melihat wajah Ayah yang ternyata sudah memasang raut muka sedih.


Ayah tersenyum kepadaku.


“Ayah mengerti maksud kamu.” balas Ayah dengan senyumnya dan segera menoleh ke arah Nathan.


“Kalau Ibu masih ada pasti sekarang Ibu yang paling bawel tentang Clarissa.” kata Ayah sambil tersenyum terkekeh.


“Oh, yah?” jawabku penasaran.


“Yah tentu! Ibu itu paling berisik sama kamu dan Nathan. Dia pasti akan berkomentar 'Clarissa kerja apa? Umur berapa? Sekolah lulusan mana? Ada niat untuk serius dengan Nathan? Bertemu dengan Nathan dimana? Nathan centil tidak? Nathan sok bersikap dingin tidak? Orang tuanya kerja dimana? Rumahnya dimana?'” Ayah pun melakukannya sambil bertingkah konyol dan itu membuatku ingin tertawa.


“Hahahaha STOP Ayah! Hahahaha..” kataku yang sudah tidak kuat melihat kekonyolan Ayah.


“Oke, oke.” Ayah pun menghentikannya.


Aku segera memeluk Ayah.


“Tetap jadi Ayah yang seperti ini yah! Walaupun Ibu sudah tak ada, tapi Ayah bisa mengambil perannya kok walau tak sesempurna Ibu.”


Ayah membalas pelukanku.


“Tentu Natasha si Teddy Bear Ayah.” jawabnya sambil mecubit hidungku.


Aku tahu terkadang aku rindu Ibu, tapi aku punya Ayah jadi biar pun Ibu tidak ada aku bisa kok merasakan sosok 'Ibu' pada Ayah.


“Kita kunjungi yuk?” ajakku kepada Ayah.


Ayah hanya membalasnya dengan tersenyum kepadaku.


*****