NIRBANA

NIRBANA
Episode 25



Dion pun selesai melakukan pemanasan yang kemudian dipanggil oleh anggota timnya untuk segera berkumpul karena pertandingan akan segera dimulai.


“Aku ber tanding dahulu yah! Awas kamu Caca jangan membuat masalah yah? Doakan semoga jurusan kita menang biar sehabis ini kita bisa makan-makan...” ucap Dion padaku dan Caca.


“Dion semangat!” ucap kami berdua kompak sambil memberikan tanda semangat padanya. Dion membalas dengan memberikan acungan jempol.


“Eh, Dion itu apa sih?” ucap Caca menunjuk ke arah bajunya.


“Ah apa?” jawabnya mencari-cari apa yang dimaksudkan Caca.


“Sini, sebentar!” perintah Caca. Dion pun menuruti apa yang diperintahkan, dia menghampiri Caca dan membungkuk sedikit kepadanya.


“Sudah...” Caca mengambil label yang masih tertempel di kaos Dion.


“Ya ampun, sombong! Baru membeli kaos baru dia...” celetukku dengan mengejek Dion.


“Apa sih, sirik saja.” balas Dion dengan ekspresi senang.


“Ya ampun sombong sekali Nate, sampai lupa melepaskan label di kaos barunya.” tambah Caca yang mengejekknya.


“Orang kaya sih bebas yah!” candaku sambil tertawa. Caca dan Dion pun ikut tertawa bareng, karena aksi ledek meledek ini.


Dion berpamitan dan melambaikan tangannya pada kami berdua. Tanpa sadar aku melihat ke arah Siska, dia masih memperhatikan kami berdua dan kali ini ekspresi wajahnya tak suka.


(Dia cemburu?)


Batinku berbicara, namun segera aku tepis karena tak mau ambil pusing.


Pertandingan berlangsung sudah masuk 30 menit untuk babak pertama, skor yang dihasilkan pun seri. Waktu istirahat diberikan hanya 10 menit, Dion menghampiriku dan Caca. Aku melihat dari kejauhan Jun melihat padaku dengan menenggak minuman botol sambil tersenyum. Aku yang melihat membalas dengan senyum manis padanya, namun hanya sesaat karena tiba-tiba saja wanita jurusanku berebutan untuk memberikan minum pada Jun. Dia hanya menolak dengan halus dan meladeni sikap wanita-wanita yang berbuat terlalu manis dihadapannya itu.


“Lihatin Kak Jun yah?” tegur Dion yang duduk disampingku sambil menenggak minumannya.


“Apa sih membuatku terkejut saja.” ungkapku yang kaget, dan salah tingkah.


“Mengaku saja sih, cieee...” ejek Caca sambil menyenggolkan bahunya pada bahuku. Aku hanya merespon dengan tersenyum.


“Dion, sini aku lap keringet kamu.” rajuk Caca yang sudah memegang handuk bersih. Dion pun menuruti dan mendekatinya.


“Idih, malas sekali lihat tingkah kalian berdua!” celetukku dengan mimik wajah mengejek.


“Kita harus memberikan pelayanan yang baik Nate! Supaya Dion menang dan kita bisa makan-makan, hahaha...” balas Caca sambil mengelap Dion.


“Kamu baik ada maunya sih...” balas Dion sambil menepak halus betis Caca. Dia hanya membalas dengan tertawa renyah.


“Coba saja kamu sadar dengan perasaan aku Ca..” tambah Dion kembali.


“Aku sudah mempunyai kekasih Dion! Ingat batasan-batasan...” balas Caca sambil mengunyeng-unyeng kepala Dion dengan handuknya.


“Bawa perasaan saja nih Dion mulai kan...” tambahku dengan mengejeknya, kami bertiga kompak tertawa senang.


Tak kerasa sudah 10 menit waktu istirahatnya, maka dimulai kembali untuk pertandingan babak kedua. Semua anak-anak lelaki yang bermain berkumpul, mengatur strategi, dan mulai memasuki lapangan kembali. Aku melihat ke arah Jun, begitupun dia melihatku dan refleks aku mengepalkan tanganku memberikan tanda semangat kepadanya. Dia yang memahami membalas dengan anggukkan dan dari jauh membalas ucapan “Oke..” lewat isyarat mulutnya. Aku membalas dengan tersenyum.


“Curi-curi pandang melulu, Nate!” ledek Caca yang dari tadi memperhatikkan juga. Aku yang terkejut hanya membalas dengan menepak halus pahanya, dia merespon dengan tertawa kecil.


Kami berdua pun fokus kembali ke pertandingan, tak lupa memberikan semangat kepada yang sedang bertanding. Tanpa sadar ternyata Siska menhampiri kami berdua, dan sekarang duduk di dekat kami. Aku yang menyadari menyenggol sedikit bahu Caca, dan dia melihat apa yang ku maksudkan.


“Kenapa Sis disini?” celetuk Caca yang tak suka kehadiran Siska.


Siska terdiam sesaat melihat Caca, "Wanita genit sekali yah kamu?”


Caca yang mendengar ucapan Siska tersebut melotot kepadanya tanda bahwa dia tak terima dengan ucapannya.


“Maksud kamu apa?” balas Caca yang saat ini saling berhadapan dengan Siska. Aku menahan Caca dengan memegang pundaknya agar dia tak ribut. Aku memastikan sekitarku, mereka yang duduk dekat kami masih tidak menyadari karena masih fokus memberikan semangat. Sekitaran kami pun masih berisik dengan teriakan juga.


“Yah kamu wanita kegenitan! Terlalu menggoda-goda diri kamu kepada Dion.” ucap Siska dengan memperjelasnya.


“Gila yah kamu? Tapi seenggaknya aku tahu malu dan tidak posesif seperti kamu!” balas Caca yang tak mau kalah.


“Kamu pikir aku tidak memperhatikan dirimu sedari tadi kepada Dion? Genit sekali dengan Dion.” ucap Siska yang semakin memanas.


“Yah kenapa? Dion sahabat aku! Suka-suka aku dong! Kamu siapa dia?” balas Caca yang tak kalah memanas.


“Ca, ingat pesan Dion jangan mencari masalah!” tegurku dengan berbisik pelan padanya. Siska yang melihatku pun berceloteh seenaknya.


“Kamu juga sama dengannya yah? Sama-sama genit dengan Kak Jun!” ucap Siska yang masih tak puas.


“Sana sih! Buat apa kamu datang kesini? Kalau kamu suka dengan Dion tidak usah seperti ini sikap kamunya! Yang ada nanti Dion tidak suka ke kamu!” tegur Caca yang merasa tak suka dengan sikap Siska.


“Bukan urusan kamu!” jawabnya dengan lantang.


Seketika orang yang berada dekat sekitaran kami berdua pun memperhatikan langsung. Dari kejauhan Dion sudah memperhatikkan ke arah kami berdua walau dia sedang bermain basket. Aku memberikan kode palsu ke Dion, bahwa kami baik-baik saja. Dion pun segera menfokuskan diri untuk bertanding kembali. Aku lanjut dengan tetap menegur Caca untuk tak membuat masalah.


“Ca kamu kan baru selesai dari hukuman skors!” tegurku dengan berbisik kembali.


Caca terdiam sesaat, lalu dia pun menghela nafas berat.


“Sana deh Siska aku tidak mau membuat keributan dengan kamu!” ucap Caca dengan menyuruhnya pergi. Namun Siska yang masih tak puas tetap diam disitu dan tak menggubris ucapan Caca.


“Aku ingatkan kamu yah Caca untuk tidak bersikap genit atau centil dengan Dion lagi! Kalau kamu masih seperti itu lagi kepada Dion kamu akan mendapatkan hal yang tak bagus!” ancam Siska dengan muka seriusnya. Caca yang tak suka dengan ancaman pun sudah tak bisa menahan dirinya lagi.


“Kamu akan berbuat apa? Melakukan apa kepadaku hah?” tantang Caca sambil melipatkan kedua tangannya.


Siska terdiam sejenak memperhatikan Caca.


“Tidak usah kamu bertingkah kalau Dion itu milik kamu!” lanjut Caca kembali dengan nada kesal. Siska yang mendengar ucapan Caca segera menapar pipi kanannya. Aku yang melihat refleks menahan tangan Siska agar tak berkelanjutan kembali.


“Gila kamu?” tegurku pada Siska dengan mimik wajah masih terkejut. Namun Siska tak menggubrisku, dia pun menggunakan tangan sebelahnya untuk menapar pipi kiriku.


“APA?!!” teriakku yang tak menyangka.


Caca melihat padaku dengan wajah yang sudah murka, dia pun menjambak rambut Siska. Pertama karena Siska menaparnya dan kedua sahabatnya yaitu aku kena tamparnya juga.


“Wanita sakit jiawa yah kamu! Posesif ke sahabatku Dion! Menamparku! Dan tadi menampar sahabatku Nate! Mau kamu apa ******?!!!” teriak Caca yang masih menjambak Siska dengan kesal. Siska yang tak terima diperlakukan seperti itu pun membalas dengan menjambak rambut Caca.


“ARGHHH!!!” teriak Caca yang kesakitan.


Suasana sekarang menjadi memanas beberapa ada yang berusaha melerai Caca dan Siska, begitupun aku dengan posisi masih memeluk pinggang Caca agar dia menghentikan apa yang dia lakukan sekarang.


Namun beberapa justru ada yang meneriaki untuk terus berlanjut.


Pertandingan basketnya pun mendadak dihentikan karena insiden ini. Dion pun segera berlari menghampiri aku dan Caca untuk memisahkan.


“Dion!” teriakku.


Dion segera menarik Caca untuk menjauh dari Siska. Caca pun melepaskan jambakan tersebut dan Dion masih posisi memeluk Caca. Semua anak-anak sudah berkumpul melingkar menyimak pertarungan antara Siska dan Caca.


“Ca sudah, Ca..” tegur Dion dengan posisinya.


“Lepaskan! Dia kurang ajar Dion!” ucap Caca yang masih emosi.


Aku menahan badan Caca juga agar dia tak maju dan menjambak Siska kembali. Siska yang sudah dilepaskan oleh Caca itu pun, memegang rambutnya yang kesakitan.


“Wanita bar-bar kamu!” umpat Siska yang masih kesal pada Caca.


“Wanita ******!” balas Caca yang kesal juga.


“Berhenti ribut-ributnya! Dan kamu Siska aku harus berbicara dengan kamu!” tegur Dion dengan wajah serius. Siska yang mengetahui bahwa Dion mulai marah dan tak suka merasa ketakutan sendiri. Dia menatap Caca dengan tatapan menusuk tak suka, Caca membalas dengan memberikan telunjuk tengahnya. Dion yang menyadari segera menurunkan tangan Caca tersebut agar tak berkelanjutan kembali.


“Semua bubar!” perintah Wira yang membubarkan semua anak-anak. Pertandingan basketnya pun tak bisa dilanjutkan karena sudah kacau gara-gara keributan ini.


“Ikut aku!” ajak Dion pada Siska.


“Jaga Caca yah Nate!” perintah Dion padaku.


“Oke.” balasku dengan memegang lengan Caca.


“Jangan menambah keributan lagi kamu!” perintah Dion pada Caca dengan muka serius.


“Yah.” balas Caca dengan muka cemberut.


Dion pun beranjak pergi bersama Siska ke tempat yang lebih tenang untuk saling berbicara satu sama lain. Aku masih duduk menemani Caca dan mengecek pipi yang ditampar oleh Siska dan merapihkan rambutnya yang dijambak.


“Gila yah wanita kalau ribut seram, yah tidak Jun?” celetuk Wira sambil berjalan pergi meninggalkan aku dan Caca.


Jun hanya terdiam dan melihatku ke arahku dengan jarak yang agak jauh. Aku yang sadar hanya merespon dengan terpaksa tersenyum kecil, dan Jun melihat dengan ekspresi datar. Dia pun membalikkan badannya melanjutkan jalannya kembali, menyusul Wira yang ada di depannya.


*****