
Aku dan Dion pun berjalan setengah berlari untuk mengejar Caca. Dion yang masih tidak tahu pokok permasalahan pun menanyakan kepadaku sambil terus mencari Caca.
“Ada apa kalian berdua tuh? Dan Fiona kenapa?” tanya Dion padaku. Aku masih bingung untuk menjelaskan kepadanya.
“Cari Caca dahulu saja! Baru nanti aku jelaskan ke kamu Dion!” pintaku yang masih fokus mencari Caca.
“Aku mau tahu sekarang!” ujar Dion sambil menahanku sebentar. Aku yang melihat wajahnya pun hanya bisa menahan tangis karena takut untuk menjelaskan kepadanya.
“Aku..” potongku yang berusaha menahan tangis.
Dion masih tetap menungguku penjelasanku.
“Aku bohong dengan Caca!” ujarku sambil menitikkan air mata. Dion yang melihatku merasa iba dan segera memelukku.
“Kamu bohong apa?” tanya Dion dengan posisi masih memelukku.
“Aku bohong kalau kemarin aku pulang dengan Nathan, sebenernya aku bertemu dengan Kak Jun.” jelasku yang menangis di pelukkan Dion.
“Kenapa kamu bohong?” tanya Dion sambil melepaskan pelukannya dariku dan aku menatap wajahnya sesaat.
“Aku mau menjelaskan ke Caca tapi waktunya tidak tepat! Aku hanya tidak mau kamu atau Caca berfikir Kak Jun ada perasaan denganku!” terangku sambil mengusap air mataku.
“Kalau aku jadi Caca aku bakalan marah juga kok Nate! Kita tuh sahabat tapi kenapa masalah begitu saja kamu tidak mau jujur!” ujar Dion sambil memegang kedua bahuku.
“Maaf tapi aku belum mau menceritakannya! Kalau sudah waktunya pasti akan bercerita kok!” jelasku sambil masih menitikkan air mata.
“Tapi kapan? Itu kan hanya praduga kamu dengan Caca saja! Kalau memang benar Kak Jun ada rasa lebih dengan kamu yah tidak masalah Nate!” ujar Dion kembali dengan mimik muka serius. Aku hanya terdiam mendengar ucapannya itu, aku tak bisa lagi berkat-kata aku menyadari yang aku lakukan salah semua.
(Yang dikatakan Dion benar! Aku harus segera minta maaf dengan Caca!)
“Lalu kalau Fiona kenapa?” tanyanya kembali yang sekarang membantu mengusapkan air mataku.
“Dia menunjukkan foto aku dengan Kak Jun waktu kemarin di restaurant!” terangku.
“Loh kok bisa sih? Berarti dia berada disana dong?” tanya Dion sambil mengerenyitkan dahinya.
“Mana aku tahu!” jelasku.
“Loh? Nate kenapa? Nangis?” tegur Wira yang sedang lewat bersama temannya.
“Ah tidak Kak! Hanya saja mataku terkena debu saja!” jelasku yang segera mengusap mata.
“Sedang berselisih yah kalian bedua?” tanya Wira sambil menunjuk kepada Dion.
“Oh tidak Kak! Ini tidak seburuk yang Kakak lihat!” jelas Dion lagi yang salah tingkah.
“Serius? Kalian berdua tidak bohong kan?” tanya Wira kembali yang masih tak puas.
“Iya Kak!” jawabku dan Dion kompak.
“Kak aku mau pergi dahulu yah!” kataku sambil menarik lengan Dion.
“Oh oke Nate!” balas Wira dengan ekpresi bingung.
Aku dan Dion segera berjalan cepat untuk segera meninggalkan Wira. Aku kembali fokus mencari Caca, begitu pun dengan Dion. Aku berusaha untuk menelepon ke ponselnya pun dimatikan. Aku merasa bersalah dan khawatir dengan Caca.
“Dion kita ke rumah Caca yuk?” ajakku pada Dion.
“Kasih waktu dahulu saja Nate untuk Caca!” balas Dion yang mencoba menenangkan aku.
Aku masih tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan Caca dan menjelaskannya.
(Ca, tolonv angkat teleponku!)
Gumamku dalam hati yang sambil mencoba untuk menghubunginya. Namun berulang kali aku mencoba hasilnya masih sama yaitu nada telepon yang tidak tersambung.
“Aku masuk ke kelas dahulu yah?” ujar Dion sambil melihat jam tangannya.
“Kamu masih ada kelas?” tanyaku sambil melihat kepadanya.
“Iya masih ada, kamu segera pulang saja Nate!” balas Dion yang mengusap-usap punggungku.
“Yah sudah aku pulang saja!” kataku dengan berat hati. Aku segera beranjak pergi meninggalkan Dion menuju gerbang kampus.
“Iya aku kabari kamu! Yah sudah sana hati-hati kamu Nate..” ujar Dion. Aku membalas dengan melambaikan tangan kepadanya. Aku pun segera berjalan menuju gerbang kampus, disusul dengan Dion yang juga segera berjalan menuju kelasnya. Sepanjang perjalanan aku berjalan di trotoar diluar kampus masih saja terpikir dengan kejadian tadi. Aku masih merasa tak enak hati dengan Caca dan Dion. Semestinya aku jujur saja pada mereka berdua. Aku pun menyesali semua yang aku perbuat.
*****
“Hari ini kamu mau di toko saja Nate?” tegur Ayah padaku yang dari tadi melamun di meja dekat kaca toko rotiku.
“Hmm, iya Ayah..” balasku singkat sambil menopang dagu. Ayah yang melihat aku tak bersemangat menyadari bahwa aku ada masalah. Ayah pun segera menarik kursi yang berada didepanku dan sekarang posisi kami saling berhadapan. Aku tak suka Ayah begitu mengamati dan memperhatikanku. Aku tak mau Ayah tau masalahku dengan Caca.
“Kamu kenapa?” tanya Ayah sambil melihat kedua tangannya sambil tetap fokus melihat ke arahku. Aku melirik sedikit ke arahnya sambil tetap membuang muka kepadanya.
“Tidak ada apa-apa..” balasku singkat sambil menggaruk-garuk kepala.
“Bohong!” kata Ayah kembali yang tak percaya.
“Hhhhh..., nanti saja aku menceritakannya! Aku sedang tidak ingin Ayah.” balasku sambil kembali fokus pandanganku kepada jendela toko.
“Kamu berselisih dengan Caca?” tanyanya kembali sambil meletakkan tangannya di pipiku. Aku yang menerima sikap lembutnya itu tak tahan, aku sekuat mungkin menahan agar tidak menangis di hadapannya.
“Tidak kok Ayah..” balasku singkat.
Aku masih tak mau menceritakan yang sebenarnya pada Ayah tentang masalahku dengan Caca. Aku hanya ingin Ayah tau bahwa aku baik-baik saja dengan Caca.
(Maaf yah Ayah aku tidak jujur!)
“Hhhhh....., yah sudahlah kalau begitu..” ujar Ayah sambil berdiri dan mengusap-usap kepalaku. Aku hanya diam menerima perlakuannya itu tanpa banyak berkata lagi. Ayah berjalan menuju tempat kasir karena pelanggan sudah banyak yang berdatangan. Aku masih duduk di tempatku sekarang sambil memandang kosong ke jendela toko.
“Kok sendiri saja? Nathan mana?” tegur Axel yang ternyata sudah duduk dihadapannku. Aku memasang wajah terkejut karena aku tak menyadari kapan Axel datang.
“Kenapa? Muka kamu jelek sekali Nate!” kata Axel kembali sambil tertawa.
“Kak Axel kapan datangnya? Kok aku tidak tahu?” tanyaku yang sekarang duduk berhadapan dengannya.
“Aku sudah datang dari 5 menit yang lalu, kamu terlalu fokus melamun sampai tidak sadar aku masuk toko..” jelas Axel sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Oh, maaf yah Kak! Tapi kok Kak Axel tidak datang kemari?” tanyaku kembali.
“Aku memang mau mampir ke toko roti Ayahmu dan aku lupa-lupa ingat sampai aku lihat kamu di jendela toko. Aku lihat nama toko rotinya adalah “Lily Bakery” sudah jelas itu nama mendiang Ibumu, jadi aku yakin ini toko roti milik Ayahmu..” jelas Axel dengan wajah cerianya.
“Sudah bertemu Ayah?” tanyaku sambil melihat ke arah kasir.
“Oh belum sih, beliau ada disini?” jawab Axel sambil mencari-cari Ayahku.
“Ayah dikasir dia sedang sibuk dengan pelanggannya..” kataku sambil menunjuk ke arah Ayah. Axel pun menoleh untuk melihat dan Ayah pun melihat ke arah kami berdua. Ayah hanya memberikan senyuman kepada Axel sepertinya dia masih tak ingat kepada Axel, begitupun dengan Axel membalasnya dengan tersenyum kepada Ayah.
“Ayahmu masih bersemangat bekerja yah.” ujar Axel yang tetap melihat Ayah dan kemudian kembali duduknya dengan posisi menghadapku.
“Iya dia tidak pernah merasa lelah! Padahal sudah ada pegawai yang ikut membantunya.” jelasku sambil menopang dagu.
“Kamu kenapa? Kok dari tadi melamun saja?” tanya Axel kembali.
“Tidak apa-apa kok Kak hanya yah kadang kan orang ada saja masalah.” jelasku dengan acuh.
“Nathan mana? Dia sudah tidak suka datang ke toko?” tanya Axel yang mengalihkan topik.
“Dia hari ini ada kencan dengan wanita spesialnya.” kataku yang masih acuh dengan Axel.
“Wow!! Nathan sekarang sudah memiliki kekasih? Siapa? Kamu kenal dengan kekasihnya Nathan?” tanya Axel yang bersemangat, aku yang melihat tingkahnya tersenyum kecil.
“Aku kenal dengan kekasih Kak Nathan, waktu itu sekali aku bertemu dengan Ayah juga. Namanya Clarissa, entahlah mereka berdua memang menjalin kasih atau sekedar suka-sukaan saja. Kak Axel tahu sendiri kan selera Nathan seperti apa?!” jelasku sambil mengusap-usap pipiku sambil bertingkah lucu.
“Pfft! Yah aku tahu selera Nathan seperti apa. Kamu kenapa sih usap-usap pipi begitu? Gatel? Panas? Atau kenapa?” ujar Axel yang merasa risih dengan tingkahku.
“Apa sih Kak, iseng doang aku usap-usap begini.” jawabku yang masih mengusap-usap.
“Hahaha, seperti apa saja kamu bertingkah seperti itu! Sudah jangan begitu.” kata Axel yang kemudian menarik lengannku agar tidak melakukan seperti itu kembali. Aku yang merasakan tangannya yang lembut dan dingin menyentuh tanganku.
(Tangannya seperti bayi! Lembut sekali! Tapi dingin juga, dia bukan vampire kan?)
Aku segera membuang muka karena merasa tak nyaman.