NIRBANA

NIRBANA
Episode 23



Jun meletakkan ponsel di meja depannya dengan merebahkan badan di sofa ruang tv. Hari ini entah kenapa ada rasa senang yang dirasakan, tidak seperti biasanya. Jun hanya senyum-senyum sendiri sambil memejamkan mata karena masih tidak menyangka.


(Manis sekali sih seharian ini.)


Gumam Jun sendiri dalam hatinya yang masih senang.


“Tuan muda?” seseorang masuk ke dalam ruang tv.


“Hmm?” Jun yang mendengar hanya menyahutinya sambil tetap dengan posisinya.


“Tuan besar ingin berbicara dengan tuan muda.” ujarnya kembali, Jun membuka satu matanya untuk melihat siapa yang menghampiri.


“Oh, Kak Choi..” balasnya dan kembali menutup mata sambil dengan posisi sama.


Choi merupakan asisten kepercayaan dari Ayah Jun sendiri. Dia sudah bekerja dari Jun masih kecil, bisa dibilang Choi sangat loyal dan setia terhadap Ayah Jun. Apa yang diperintahkan oleh Ayah Jun pati Choi akan segera mengerjakannya segera, apapun itu.


“Untuk apa?” lanjutnya kembali dengan nada malas.


“Masalah bisnis kedapannya tuan muda..” terangnya yang masih dengan sopan menjelaskannya. Jun yang muak mendengar tentang hal tersebut pun segera bangkit dengan posisi duduk saat ini.


“Memang tidak ada bahasan lain selain itu?” ujar Jun dengan nada kesal.


“Tuan besar hanya ingin memastikan bahwa tuan muda bisa memilih bisnis yang sesuai keinginan tuan besar, yang baik dan bisa membesarkan nama besar keluarga Salim..” ujar Choi dengan nada tegas.


“Memang apalagi yang harus dibesarkan? Semua orang tahu siapa keluarga Salim!” ucap Jun yang sudah kesal dengan sikap Ayah.


“Tuan hanya....”


“Aku akan pergi! Bilang pada Ayah, aku akan pulang ke apartement dan tidak akan pulang ke rumah utama jika dia masih ingin ikut campur akan masa depanku.” Segera Jun berdiri dan mengambil handphone sambil berjalan keluar dari ruang tv menuju pintu keluar rumah untuk ke parkiran mobil.


Choi berusaha mengejarku untuk menahan agar tidak pergi dari rumah, namun Choi kalah cepat darinya. Jun segera memasuki mobil dan menyalakan mobilnya, melaju pergi meninggalkan rumah utama.


Dia pun mengambil ponsel segera menghubungi Wira dan mengarah kepadanya untuk menghampirinya. Ternyata dia berada di sebuah kafe bersama dengan beberapa teman-teman seangkatan. Jun yang baru sampai segera memparkirkan mobil dan masuk ke dalam kafe. Jun pun menelpon Wira sambil melihat sekitar, dan dari kejauhan Wira melihatnya dan melambaikan tangannya pada Jun. Dia membalasnya dan Wira segera menghampiri, berpamitan dengan yang lainnya yang memaklumi bahwa Jun hanya ingin berdua dengan Wira.


Jun dan Wira segera memilih lantai atas kafe yang dikhususkan untuk tamu yang memesan minuman alkohol.


“Sedari tadi kamu disini?” tanya Jun sambil duduk dan memesan minum pada pramusaji kafe.


“Baru sajan30 menit.” jawab Wira yang ikut duduk dan memperhatikan Jun.


"Kamu kenapa lagi?” tanya Wira kembali yang sudah paham maksud kedatangan Jun. Dia hanya membalas dengan tersenyum pada Wira.


“Biasa...” katanya dengan datar.


“Bapak kamu?” tanyanya kembali yang sudah hafal.


Jun membalas dengan senyum.


“Kan aku sudah berbicara dengan kamu, buat apa juga sih kamu kabur-kabur seperti ini? Sudahlah kamu tegaskan kepada Bapakn kamu, kalau kamu tidak mau diatur-atur dengannya..” ucap Wira dengan posis melipatkan kedua tangannya.


“Sudah aku tegaskan! Dan Ibuku juga sudah berbicara dengan Ayah, tapi dia masih gigih dengan pemikirannya.” Jun menjawab dengan posisi kedua tangan didahi seperti memijat-mijat.


“Lalu?”


“Yah ini hasilnya..”


“Tidak kamu coba dengan mendekati Bapak kamu secara baik-baik?”


“Tidak!”


“Buang-buang waktu...” tambah Jun, Wira hanya menengguk minuman yang sudah disajikan pramusaji kafe.


“Dia boleh mengatur aku dahulu ketika masih kecil. Mengatur sekolah dan kuliah aku juga tapi, aku tidak mau diatur untuk urusan masa depan. Aku punya pemikiran lain tentang bisnis apa yang akan aku tekuni. Aku tahu aku masih muda, masih belum terlalu paham tentang berwirausaha. Namun, untuk selama ini aku selalu mengikuti dia setiap momen acara di perusahan supaya aku belajar sedikit-sedikit dari dia.” terangku yang ikut menenggak minumannya.


“Kamu anak tunggal, itu jelas susah!” Wira membalas dengan menenggak miumannya lagi.


“Yah tapi begitu kan kondisinya? Anak tunggal harus mengikuti kemauan orang tuanya? Kalau aku menjadi kamu, aku pasti akan mau saja menuruti perintah Bapak kamu tuh... Enak loh.” dengan wajah Wira yang mengejek.


“Cih, berbicaranya sih enak! Rasakan saja bagaimana kamu kalau menjadi diriku...” balas Jun dengan nada ketus sambil minum.


“Serius, kalau bisa aku ingin tuh bertukar posisi dan nasib dengan kamu...” jawab Wira dengan wajah jahilnya.


“Tukar saja nih dengan pantat aku!” balas Jun sambil berdiri mengejeknya. Wira hanya tertawa melihat tingkah Jun.


“Senang kamu sekarang?” ujar Jun kembali pada Wira.


“Tidak usah tegang-tegang, nanti gila kamu!” ujar Wira yang mengejeknya.


“Rese kamu...” dengan wajah ketus Jun. Wira hanya membalas dengan tertawa terkekeh.


“Ngomong-ngomong minggu depan ingin datang ke dies natalis kampus?” tanya Wira sambil menaikan alisnya satu.


(Die Natalis? Kalau tidak salah Nate kan panitia yah?)


Pikir Jun dalam hatinya.


“Datang yuk buat hiburan saja sih. Kita juga tidak jadi panitia, namun adik tingkat kita. Mereka sepertinya akan membuat kafe bertema hantu-hantu begitu. Yakin tidak ingin datang? Bisa mencuci mata sedikitlah kita..” balas Wira santai sambil senyum jahil.


Jun terdiam sejenak.


“Hmm, liat suasana aku dahulu deh..” balasnya dengan sedikit akting.


“Ada Natasha kok! Dia kan panitia, masa tidak ingin melihat dia?” ucap Wira dengan nada mengejek sambil menenggak minumannya. Jun hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


“Pakai baju cosplay hantu! Siapa tahu dia cantik dan seksi, hahaha...” lanjut Wira kembali dengan masih memanas-manasi Jun.


“Otak kamu sedangkal itu?”


“Apa? Aku kan hanya menjelaskan saja hahaha. Kan kita sebagai lelaki memang tidak ada pikiran kearah sana juga apa?” jawab Wira yang berakting sambil mengejek Jun.


“Santai saja kali...” sambungnya sambil memasang muka mengejek. Jun segera melemparkan bantal yang ada di belakangnya kearah muka Wira, dan dia membalas dengan tertawa puas.


Wira sudah dianggap seperti keluarga Jun, kami pun sudah memahami satu sama lain. Maka dari itu tidak ada rahasia diantara kami berdua. Awalnya Wira merasa tak percaya pada dirinya sendiri bisa berteman baik dengan Jun anak dari keluarga terpandang disini, karena kami berdua berbeda status akan sosial tapi itu bukan sebagai pengalang untuk Jun berteman dengan Wira. Jun juga sejak berjumpa dan mengenal Wira lebih jauh sudah merasa nyaman.


"Kamu tidur saja denganku di apartement..” ajak Jun pada Wira.


“Kamu tidur disana sekarang?” tanya Wira meyakinkan dulu.


“Menurut kamu?” ucap Jun sambil beranjak berdiri sambil berjalan ke arah meja kasir untuk membayar. Wira terdiam sejenak dan tersenyum, dia pun beranjak berdiri menghampiri Jun.


“Kita bertanding game playstation dahulu yah?” sambil merangkul Jun dengan tertawa kecil. Jun hanya melihatnya sambil tersenyum.


“Yang kalah bayarkan minum yah?” tantang Jun.


“Boleh, tapi kamu kalau kalah menyatakan perasan kamu yah?” tantang balik Wira.


“Ke siapa?” tanya Jun dengan yang pura-pura.


“Hmm, siapa yah?” ejek Wira sambil pergi meninggalkan Jun.


Jun membalas dengan tertawa senang dan segera mempercepat langkahnya untuk mengejar Wira yang ada di depannya.


(Jadi harus menang apa kalah nih?)


Bisik hati kecil Jun.


*****