
“Oh tidak apa-apa Kak.” balas Tiara ramah.
“Perkenalkan ini Nate.” tunjuk Dion pada Nate. Tiara pun mengulurkan tangan kanannya pada Nate.
“Tiara.”
“Nate.”
“Nah, kalau ini perkenalkan Caca.” lanjut Dion yang mengenalkan Caca. Tiara mengulurkan tangan kanannya kembali.
“Tiara.”
“Caca.” balasnya dengan mimik muka ketus. Dion menyenggol pundaknya pada pundak Caca, dan Caca pun membalas dengan tatapan tak suka pada Dion.
“Kakak sedang sibuk?” tanya Tiara yang memperhatikan sekitar.
“Yah akan ada kuis, mangkanya kita fokus belajar sekarang.” jelas Dion dengan tersenyum.
“Aku mengganggu dong?” tanya Tiara yang tak enak.
“Tidak apa-apa kok santai..” balas Dion yang menenagkan Tiara.
“Yah kamu mengganggu!” celetuk Caca dengan ketus.
“Ca!” tegur Dion dengan menepak lembut paha Caca.
“Apa?” balas Caca dengan mimik muka tak sukanya.
“Tidak usah begitu juga.” ujar Dion dengan nada pelan agar Tiara tak mendengar.
“Yah memang benar kok. Kita kan sedang belajar Dion..” tegur Caca dengan nada sedikit kencang, sengaja dia melakukannya agar Tiara mendengarnya.
“Yah tapi..” belum Dion melanjutkan Tiara sudah mengetahui situasi yang sedang terjadi dia pun memotong ucapan Dion tersebut.
“Tidak apa-apa Kak! Aku juga ada keperluan kembali kok.” sanggah Tiara yang segera menyudahi pertemunnya dengan Dion.
“Maaf yah Tir!” balas Dion dengan mimik muka tak enak.
“Tidak apa-apa Kak!” balasnya dengan tersenyum manis. Dion terpikat dengan senyuman tersebut dia pun segera membalas senyuman yang Tiara luncurkan itu.
“Yah sudah, oh yah boleh aku minta nomor kamu?” ungkap Dion dengan menyodorkan ponselnya. Tiara pun menerima ponsel yang diberikan oleh Dion tersebut dan kemudian mulai mengetik nomornya.
Caca memperhatikan dengan tatapan sinis tak suka, aku yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala memberikan isyarat padanya untuk tak bersikap seperti itu. Caca yang mengetahui maksud isyaratku pun memberikan wajah cemberutnya dan segera membuang muka. Aku hanya menarik nafas dengan berat melihat kelakuannya itu.
“Ini yah Kak nomorku!” ucap Tiara sambil mengembalikan ponsel Dion.
Dion yang menerima segera menyimpan nomor Tiara, “Terima kasih yah!” sambil tersenyum.
“Yah Kak, sama-sama! Aku pergi dahulu yah, Kak Dion juga silahkan belajar kembali untuk kuisnya.” ucap Tiara dengan menyudahi.
“Oke, hati-hati kamu!” balas Dion yang sok manis.
“Yah Kak!” balasnya dengan melambaikan tangannya pada Dion dan kemudian meninggalkan kami bertiga. Dion masih terkesima dengan Tiara, dia masih memperhatikan Tiara dari jauh.
“Sudah sih, tidak lelah apa itu mata kamu!” celetuk Caca yang tak suka sambil membalikkan materi untuk kuis.
“Kamu kenapa?” ucap Dion yang menengok pada Caca.
“Aku? Tidak kenapa-kenapa.” balas Caca dengan ketus dan masih fokus membolak-balikkan materi kuliahnya.
Dion hanya melihat kelakuan Caca tersebut, “Kalau tidak apa-apa semestinya kamu tidak begitu bersikapnya.” tegurnya sambil tetap dengan posisinya.
“Aku kenapa? Aku kan hanya menyudahi kamu dan wanita itu. Kita sedang belajar!” balas Caca yang tak mau kalah.
“Kamu cemburu?” tanya Dion langsung menjeblakkan padanya. Caca yang mendengarnya terkejut dan segera menoleh memandang tak sukanya pada Dion.
“Aku tidak cemburu!” tegas Caca.
“Yah lalu apa?” tanya Dion dengan mimik muka jengkel melihat Caca.
“Aku tidak cemburu! Aku sudah punya kekasih! Dan aku tidak mungkin suka dengan kamu Dion!” jelas Caca dengan mimik muka ketus.
“Oh iya, aku melupakan tipikal kamu Ca! Maaf! Yah aku mengganggap tadi memang salahku deh..” ucap Dion yang merapihkan materi kuliahnya dan segera beranjak pergi dari kami berdua.
“Di, mau kemana? Kan belum selesai ini belajarnya!” tegurku menahan lengannya.
“Aku tidak berselera belajar disini, aku mau fokus sendiri dahulu. Maaf!” balas Dion dengan melirik ke arah Caca, kemudian menepis tanganku yang menahannya.
“Di! Diooonnn!!” ucapku dengan sedikit berteriak, namun Dion tak menggubris ucapanku tersebut.
Aku yang sebal segera menoleh pada Caca, “Kamu kenapa sih?” tanyaku memastikan.
“Yah aku memang kenapa?” tanya Caca menyanggah dengan pura-pura membuka materi kuis.
“Kamu kalau cemburu jujur saja Ca!” tegurku dengan sebal.
“Tidak mungkin lah...” balas Caca yang masih dengan posisi sama tak menggubrisku. Aku yang tak suka melihat situasi seperti ini tak mau membahasnya kembali.
“Terserahlah!” kataku dengan nada tak suka, kemudian melanjutkan kembali belajar. Caca terdiam mendengarnya, dan kini dia sudah tak fokus kembali untuk belajar materinya.
*****
“Selamat pagi?” tegur Jun yang menyapaku di dalam mobil sambil tersenyum. Aku yang baru masuk menyambutnya juga dengan membalas senyumannya tersebut.
“Selamat pagi juga.” ucapku sambil menutup perlahan pintu mobil Jun dan menggunakan sabuk pengaman.
“Cantik sekali kamu hari ini.” ucap Jun memujiku sambil memperhatikanku.
“Biasa saja ah.” balasku dengan malu.
(Ih, digoda saja pagi-pagi! Malu kan aku.)
Gumamku sendiri dalam hati yang menahan senang agar mukaku tak memerah karena malu.
“Tidak, serius dengan apa yang aku ucapkan tadi! Terutama ditambah dengan jepit rambutnya, bagus sekali kamu!” celetuk Jun yang memperhatikan jepit rambut yang aku kenakan. Aku yang menyadari bahwa jepit rambut ini pemberian dari Axel langsung tak ingin membahasnya.
“Yah, terima kasih!” balasku dengan tak mau memanjangkannya.
“Kamu membelinya dimana? Serasi sekali dipakai oleh kamu!” tanya Jun kembali dengan memperhatikan.
“Ini...” kataku yang tak melanjutkan dahulu karena berpikir apakah nanti Jun akan marah atau tidak jika tahu sebenernya.
“Yah?” tanya Jun dengan mimik muka bingung.
“Ini... sebenarnya...” kataku yang masih ragu untuk melanjutkan.
“Hm?” kata Jun dengan memberikan senyuman padaku.
“Ini sebenarnya diberikan oleh teman Kak Nathan untukku..” ucapku dengan ragu dan pelan. Aku melihat ke arah wajahnya menantikan reaksi yang akan dia berikan untukku.
“Oh yah? Siapa?” tanya Jun dengan raut muka tanpa ekspresi. Aku menelan ludah karena aku yakin dia tak suka mendengarnya.
“Namanya...Axel. Aku diberikan ini karena awalnya aku membantu dia untuk mencarikan kado ulang tahun untuk temannya, dan aku tak sengaja melihat ini... Dan tak menyangka kalau ternyata dia membelikan untukku...” terangku dengan bersungguh-sungguh.
Jun terdiam sejenak, “Boleh kamu lepas saja tidak?” tanya dengan nada tegas dan tak suka.
“Kenapa? Ini hanya jepit rambut saja kok!” sanggahku dengan mimik muka bingung.
“Yah awalnya mungkin jepit rambut, nanti berkelanjutan dengan yang lain.. Dan aku tak suka dengan hal itu.. Aku laki-laki dan aku tahu trik lelaki seperti apa.” Jelas Jun sambil melepaskan jepit rambut yang berada dirambutku, dan membuka kaca mobilnya untuk melemparkannya ke arah semak-semak yang tak jauh dari tempat kami berdua.
“Yah? Kamu tak suka aku begitu?” ucap Jun dengan wajah serius dan nada tegas.
“Tidak. Cuma...” belum aku melanjutkan Jun memotong ucapanku.
“Aku bisa membelikan kamu kok, malah lebih bagus, lebih mahal dan yang pasti lebih berharga dibandingkan yang tadi.” Jelas Jun sambil menatapku dengan dalam. Aku yang melihat sikapnya itu tertunduk sejenak karena aku merasa Jun sangat-sangat berbeda dari Jun yang aku kenal sebelumnya.
“Kamu kenapa?” tanya Jun yang menggunakan tangan kanannya untuk meraih daguku.
“Tidak apa-apa.” kataku singkat tak mau memperpanjang.
“Oke. Kalau begitu kita mau pergi kemana?” ucap Jun yang kembali tersenyum manis padaku.
“Hm..., yuk kita pergi! Kebetulan aku mau ke suatu tempat kok.” ajakku pada Jun.
“Apa tuh?” tanya Jun memastikan.
“Toko buku!” jawabku tanpa basa basi. Jun hanya memberikan mimik muka aneh padaku setelah mendengar apa yang kuucapkan tadi.
“Kamu serius? Aku pagi-pagi menjemput kamu, dan kamu mau ke toko buku?” tanya Jun memastikan kembali tapi masih dengan mimik wajah yang aneh.
“Yah iya! Aku serius. Memang salah yah?” kataku dengan memastikan jika keputusan untuk pergi ke toko buku itu tak aneh.
“Tidak salah, hanya kita kan bukan pasangan yang gila belajar juga Natasha! Dan lagi ini jam berapa? Memang sudah ada toko buku yang buka?” tanya Jun sambil menunjukkan jam tangannya padaku.
“Ih, ini berbeda dari yang lain Jun! Mangkanya yuk ikuti aku saja!” pintaku padanya sambil memegang pergelangan tangannya. Jun yang melihat tindakanku hanya tersenyum tanpa protes dia pun mengikuti kemauanku.
“Oke.” katanya sambil menyalakan mobilnya dan berjalan mengikuti kemaunku tadi.
Sesampainya kami berdua pun disebuah tempat, Jun memparkirkan mobilnya di trotoar dan aku segera mengajak Jun untuk turun dari mobil.
“Yuk!” kataku dengan senyum sumringgah.
“Disini?” kata Jun memastikan sekitar dan menanyakan ulang padaku.
“Yah disini. Kamu tidak pernah ke daerah seperti ini bukan?” tanyaku memastikan pada Jun.
“Tidak.” Balasnya singkat, jelas dan mantap.
“Tenang ada aku! Aku sudah sering kok datang kemari.” kataku dengan percaya diri kepadanya.
Jun melirik sedikit padaku dengan pandangan mengejek, “Yah memang ada kamu, tapi kemana harga diriku coba sebagai lelaki kalau menjaga kamu saja tidak bisa?” balasnya dengan senyum mengejek.
“Ih kamu!” ucapku sambil mencubit halus lengannya dan memasang muka cemberut. Jun yang melihatku hanya membalas dengan tertawa terkekeh.
“Yah sudah yuk turun! Nanti kamu semakin cemberut ke aku.” Ajak Jun sambil mencubit hidungku dan membuka pintu mobil di sisinya. Aku pun segera mengikutinya juga.
“Arahnya kemana?” tanya Jun yang melihat sekitaran.
“Itu kesitu!” tunjukku pada gang kecil yang dimaksudkan.
“Masuk ke situ?” tanya Jun memastikan kembali.
“Iya.” ucapku dengan yakin. Jun pun menghampiriku dan meraih pergelangan tanganku untuk segera berjalan ke tempat yang dimaksudkan. Kami berdua pun berjalan dengan posisi aku di depan dan Jun dibelakang untuk menjagaku. Namun posisi tetap tangan Jun memegang lenganku memastikan agar aku tak kenapa-kenapa.
“Sudah sampai.” Ucapku dengan tersenyum menoleh pada Jun yang berada dibelakangku.
“Waw, ada toko buku semenarik ini disini yah?” ungkap Jun dengan mimik muka terkesima.
“Yah. Kamu tak nyangka kan? Aku sudah berlangganan datang kesini dan kebetulan sekali aku suka dengan tampilan serta pelayanannya disini.” Ucapku dengan mempromosikannya.
“Kamu marketing tempat ini yah? Lancar sekali sih kamu mempromosikannya!” ejek Jun sambil memasang mimik muka mengejekku.
“Ih serius!” balasku dengan meyakinkan Jun.
“Iya, iya...” balasnya yang tak ingin memperpanjang kembali.
Aku membuka pintu toko buku dan Jun segera berubah mimik mukanya, “ Natasaha ini toko buku apa ruang baca sih? Kok bisa senyaman ini sih suasananya!” tanya Jun yang masih tak yakin.
“Yang kamu lihat ini ruang baca sekaligus kafenya, dan kalau kamu mau membeli bukunya kamu bisa langsung menunjukkan buku yang kamu maksudkan ke petugas disana.” Ucapku sambil menunjuk tempat yang dimaksudkan.
“Oh begitu, baru yah ada toko buku dengan konsep seperti ini.” ungkap Jun yang masih kagum.
“Yah, mangkanya tempat ini agak terpencil karena disini mengambil konsep kenyamanan dan keheningan gitu.” Ucapku yang masih mempromosikan dengan menggebu-gebu.
“Kamu sepertinya marketing sales disini deh aku yakin!” ungkap Jun dengan tertawa mengejekku.
“Ih tidak!” jawabku dengan tegas sambil mencubit lengannya.
“Sakit loh! Galak kamu.” Ejek Jun sambil mengusap-usap lengannya.
“Yah kamu mengejekku saja terus!” celotehku dengan memasang bibir cemberut.
“Iya aku bercanda! Jangan serius-serius sekali ah! Cukup hati aku saja yang serius ke kamu.” goda Jun kembali padaku.
“Godain saja terus!” protesku pada Jun.
“Hahahaha, kok bisa yah aku sebahagia ini dengan kamu!” ungkap Jun yang kemudian menyosorkan bibirnya dan mendarat dengan cantik di pipi kananku. Aku yang menerima ciuman pipi pertama kali darinya terkejut.
“Jun!” kataku dengan kaget.
Jun membalas dengan tersenyum, “Aku bisa kok memberikan lebih dari sekedar cium pipi.” godanya sambil membisikannya padaku. Aku yang mendengarnya hanya merinding membayangkan yang hal yang tidak-tidak.
“Ah kamu jahil sekali!” ucapku dengan masih merinding dan berjalan pergi meninggalkannya yang puas tertawa terkekeh sehabis menggodaku tadi.
(Bisa yah dia sejahil ini denganku!)
Gumamku sendiri.
*****
“Ini Ca minuman kamu.” ucapku yang baru datang dari kantin sehabis membelikan minuman untuk Caca yang sedang fokus membuat tugas di bawah pohon sekitaran kampus.
Pandangan Caca masih fokus ke depan tertuju ke arah Dion dan Tiara. Aku mengecek apa yang Caca lihat dan setelah itu aku melihat ke arahnya. Terlihat muka Caca yang tak suka Dion berbincang asik dengan Tiara yang nun jauh disana.
“Yah sudah tidak usah berlebihan melihat ke arah mereka berdua.” tegurku pada Caca dengan cuek sambil membuka materi tugas. Caca yang tak terima dengan ucapanku itu segera melirik cepat padaku dengan muka kusut.
“Apa sih Nate? Hanya memantau saja kok aku! Takut terjadi kejadian seperti Siska saja.” Sanggah Caca padaku, aku hanya melirik sekilas padanya.
“Tapi pandangan kamu itu dengan Tiara tidak seperti pandangan ke Siska!” jelasku kembali sambil tetap fokus membuka materi tugas.
“Memang pandangan aku kenapa kalau dengan Tiara? Mata aku tetap dua nih, biasa saja tidak macam-macam!” ujar Caca sambil mengambil cermin yang berada di tasnya untuk memastikan sendiri.
“Tidak begitu juga kali Frederica!” ucapku yang sebal melihat tingkahnya itu.
“Yah memang bagaimana Natasha?” balasnya dengan muka bingung.
Aku menghela nafas sejenak, “Kamu tuh cemburu lihat mereka berdua!” jelasku dengan menahan kesal padanya.
“IH! Tidak mungkin!” balas Caca dengan lantang dan tegas.
“Yah tapi aku melihatnya seperti itu Caca.” jelasku kembali.
“Ih tidak mungkin aku cemburu!” jawab Caca dengan tegas kembali.
“Siapa yang cemburu?” tiba-tiba Dion menyahuti apa yang Caca ucapkan. Ternyata Dion menyudahi pembicaraan dengan Tiara dan segera menghampiri kami berdua.
Aku terdiam, tak ingin menjawab. Dion melirik ke arahku, aku hanya menggangkat kedua bahuku dan melanjutkan kembali pada fokusku.