NIRBANA

NIRBANA
Episode 29



Aku terdiam sejenak memandang cermin yang berada dihadapanku. Aku masih memikirkan ucapan Jun saat kemarin. Aku tak tahu apa yang dimaksudkan olehnya padaku. Aku tahu mungkin kata-kataku terlalu kasar mengenai ‘kekasihnya’ wanita jurusan Manajemen, tapi menurutku memang itu fakta! Selama ini Jun baik kepada semuanya, dia perhatian kepada semua wanita yang ada di jurusanku.


Aku tidak merasa dia membeda-bedakan kepada yang lainnya terkecuali denganku akhir-akhir ini. Aku merasa dia ingin dekat denganku, peduli denganku, khawatir denganku, dan mengajakku makan terus? Itu yang kurasakan, apa mungkin benar yang dikatakan Caca dan Dion kalau Jun memang menyukaiku? Hanya saja aku yang masih naif untuk mengakuinya dan berusaha tidak sadar akan hal tersebut? Kalau aku cerita dengan Nathan pasti dia akan sangat marah. Kalau aku ceritakan dengan Caca dan Dion? Mereka pasti puas mengejekku, sedangkan aku butuh solusi.


“Hhhhhh, sebal rasanya..” gumamku pelan.


“Kamu sebal kenapa?” aku menoleh ke sumber suara yang dimaksudkan.


“Ca?” Caca hanya membalas dengan menaikan satu alisnya.


“Sebal kenapa?” lanjutnya kembali sambil menarik kursi untuk duduk disampingku.


“Hmmm..” Caca menatapku dengan serius, aku semakin gugup dan takut untuk cerita jika dia bersikap seperti itu.


“Ca, jangan melihat ke aku seperti itu ah..” pintaku yang menutup wajah Caca dengan tanganku.


“Yah memang kenapa? Mau menyampaikan sesuatu ke aku saja ragu begitu..” bela Caca yang melepaskan tanganku dari wajahnya.


“Yah aku tidak tahu akan bercerita dari mana dahulu...” jelasku dengan menunduk.


“Masalah apa dahulu memang?” tanya Caca santai.


“Hmmm, lawan jenis?” ucapku sambil tersenyum paksa.


“Jun?” katanya secara gamblang.


“Aduh tolong deh, begitu kelihatannya aku sampai kamu menebak langsung begitu ke aku?” terangku yang kesal.


“Iyalah, selama ini memang siapa lelaki yang berani mendekati kamu secara langsung dan terus-terusan? Belum apa-apa juga sudah pada mundur karena Nathan kan? Sedangkan dia, sudah dicereweti ketika bertemu Nathan beberapa kali pun masih maju...” terang Caca sambil memaikan kukunya.


“Iya sih....” aku tak berani beralasan lagi padanya.


“Kenapa memang?” tanya Caca kembali.


Aku pun menceritakan kepadanya tentang kejadian kemarin kepada Caca. Dia fokus mendengarkan ceritaku, dan ketika aku selesai bercerita dia membalas dengan menghembuskan nafas yang begitu berat.


“Kamu tuh sakit kepala apa? Atau pernah kebentur kepala kamu?” ucap Caca pedas karena kesal dengan apa yang kuceritakan.


“Kenapa sih? Kesal begitu..” balasku yang bingung.


“Nate? Natasha Canvill? Jun itu suka dengan kamu!” tegasnya sambil melipatkan kedua tangannya. Aku yang mendengarnya Cuma terdiam sejenak, dan...


“Tidak mungkinlah!” balasku polos. Caca jengkel melihatku dia pun mencubit pipiku.


“Kalau dia tidak suka dengan kamu, untuk apa dia capek-capek mendekati kamu? Mengajak kamu makan terus? Meluangkan waktu dia untuk menemani kamu? Dan kemarin dia membantu kamu? Untuk apa Nate? Kalau dia tidak ada tujuan tertentu seperti pendekatan diri ke kamu! Jelas?” tukas Caca yang sudah tak sabar dan menggangap Nate tidak peka dalam hal ini. Aku terdiam masih mencerna ucapan Caca.


“Untuk kamu yang berpikir dia ‘kekasihnya’ anak jurusan Manajemen. Kamu terlalu menyakiti dia Nate! Jelas-jelas dia tidak suka kamu berbicara seperti itu! Dia memang fokus ke kamu saja, dan Jun memang tidak pernah membelikan makan secara perorang ke anak-anak lain. Cuma ke kamu saja Nate! Sadar!!” tambah Caca yang berusaha menyadarkanku.


Aku terdiam dan mulai menyadari beberapa hal yang masuk akal dan yah aku mengakui memang Jun selama ini baik padaku. Aku tak mau terlalu percaya diri menyangka dia memang menyukaiku, namun setelah apa yang Caca ucapkan itu benar semua.


“Terus aku harus apa?”


“Kamu balas semuanya Nate...” aku memandang Caca masih menunggu ucapannya lagi.


“Dengan tulus...” sambungnya, aku membalas tersenyum pada Caca.


“Nate make up nya sudah selesai?” tanya Rere yang muncul di pintu ruangan.


“Yah sudah..” balasku memastikan kembali.


Rere melihat kearah Caca, “Kamu kenapa Ca disini?”


“Bertemu Nate lah..” balasnya sambil melihat Nate.


“Jangan terlalu lama disini, kalau urusan kamu sudah selesai keluar yah? Maaf ini kan ruangan khusus panitia..” tegur Rere padanya dengan muka santai.


“Oke sip!” balas Caca singkat. Rere pun meninggalkan ruangan, tersisa aku dan Caca.


Kami berdua pu saling berpandangan dan menahan tawa. Aku dan Caca segera keluar ruangan dan aku berjalan menuju anak-anak panitia lainnya untuk briefing.


“Good luck Nate!” semangat Caca padaku.


“Thank you...” balasku dengan senyum.


Caca bergegas keluar untuk menghampiri Dion, dan aku melakukan brifieng terlebih dahulu. Hari ini ada acara Dies Natalis universitasku dan kebetulan jurusanku membuat kafe bertema rumah hantu, tapi kostum yang digunakan malah lebih seperti pesta halloween.


Aku yang selaku panitia seksi dekorasi pun dimintai tolong untuk berdandan seperti ini, kebetulan orang di seksi acara kekurangan wanita berdandan ala penyihir ini. Aku menggunakan kostum penyihir ini, agak terlihat berebihan dengan riasannya. Namun jika tidak berlebihan tidak akan menarik pelanggan untuk berkunjung ke kafe.


Sehari ini aku sibuk sekali melayani pelanggan yang masuk. Aku pikir tidak akan ramai ini kafe yang kami buat, namun diluar ekspetasi kami semua. Tiba waktunya aku untuk istirahat, aku diberikan waktu satu jam oleh Rere. Rasanya tangan dan kakiku pegal sekali untuk hari ini.


Sambil makan aku membuka ponselku, mengecek siapa tau ada telepon atau pesan masuk dari Nathan atau Ayah. Namun yang kulihat hanya pesan dari Axel.


(Axel? Pasti dari Nathan deh! Mungkin dia yang memberitahukan nomorku.)


Kak Axel:


Nate, apa aku mengganggu?


Aku membalas chat Axel.


Me:


Sedikit, tapi ada apa Kak?


Tring!


Axel membalas pesan dariku dengan cepat, ternyata dia sedang online. Mungkin saja dia dari tadi ternyata menunggu pesan balasan dariku.


Kak Axel:


Sorry! Aku hanya ingin mengajakmu ke sebuah toko akhir pekan ini kalau kamu tidak sibuk. Kebetulan temanku wanita, sedang berulang tahun. Mungkin kamu bisa memberikan saran padaku? Kado apa yang cocok untuknya..


“Memang teman wanita dia tidak ada lagi yang bisa dimintai pendapat?” gumamku sendiri sambil melihat pesannya.


Me:


Oke, akan aku kabari kalau aku senggang.


Tring!


Kak Axel:


Oke!! Aku tunggu kabar baiknya :)


Aku menutup aplikasi pesan dan melanjutkan kembali makan. Belum juga aku selesai makan ada seseorang yang menghampiriku.


“Sendiri saja Nate?” tegur Wira yang melihatku dan segera menghampiri, duduk disampingku saat ini.


“Iya Kak.” Balasku dengan menggeser duduk.


“Wajah kamu asam sekali sih seperti jeruk hahaha.” celetuk Wira dengan mengajakku bercanda.


“Tisak Kak aku hanya lelah saja sepertinya, maklum kan kafe ramai sekali tidak menyangka aku juga.” Balasku yang menutupi apa yang sedang aku pikirkan.


“Yakin? Mungkin ada yang mau aku ceritakan ke aku Nate?” tanya Wira tiba-tiba saja sambil melihatku.


Aku terdiam sesaat, “Tidak ada Kak.” ucapku dengan tersenyum menutupi,Wira menyadari dan dia juga membalas dengan tersenyum mengejeknya padaku.


“Sepertinya hari ini aku melihat dua orang wajah asam seperti ini deh. Sedih yah...” celetuk Wira dengan mimik muka agak mengejek.


“Yang satu sudah cantik-cantik dandan tetep saja asam kecut, yang satu lagi berlagak dingin tapi uring-uringan tidak jelas dengan menutupi didepan orang. Padahal kalau ada hal yang mau dibicarakan saling keluarkan saja, yah tidak?” lanjutnya kembali dengan menyindir sambil menghela nafas berat.


(Maksudnya yang satu lagi Kak Jun yah?)


Batinku sambil melirik ke Wira yang masih memasang mimik wajah meledekku.


“Kenapa Nate? Tersindir?” tanyanya dengan muka mengejek.


“Iya, mau Kak Wira apa sekarang? Puas mengejek dan menyindirku? Huh!!” kataku dengan wajah sebal, Wira hanya membalas dengan tertawa renyah karena puas.


“Yah kalau kalian memang ada masalah, selesaikan dong! Jangan sampai orang lain, seperti aku jadi sadar kalau kalian ada sesuatu. Kalian tuh lucu! Padahal sudah sama-sama besar bukan anak TK lagi. Nate, kamu peka sedikit dengan dia...” celetuk Wira padaku dengan menasehati.


Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya itu, “Tapi Kak, apa benar Kak Jun...”


Aku tidak melanjutkan karena tiba-tiba saja orang yang di maksudkan berada tak jauh dariku dan Wira. Jun sedang memandang ke arahku dan Wira, sepertinya dia sedang mencari Wira.


“Kenapa Nate?” tanya Wira yang penasaran dengan apa yang aku lihat dan melihat ke arah yang di maksudkan.


“Waaaa, panjang umur yah!” celetuknya sambil tersenyum keci, Wira melambaikan tangan pada Jun, memberi isyarat bahwa dia akan menyusul Jun.


Jun membalas dengan memberikan tanda ‘Oke’ pada Wira, dan dia pun segera membalikkan badannya pergi jalan menjauh dariku dan Wira.


“Sepertinya dia mencariku Nate, dilanjutkan nanti lagi yah pembicaraannya.” ucap Wira yang beranjak berdiri seperti akan meninggalkanku.


“Iya, Kak!” kataku.


“Oh, yah Nate....”