
“Kak Jun?” tanyaku ragu kepada Jun.
“Yah?” balasnya sambil melihat kepadaku.
“Kalau makan pecel lele Kak Jun mau?” tanyaku yang masih ragu.
“Pecel lele? Memang lele bisa dimakan?” balasnya dengan muka bingung, aku yang mendengar jawabannya itu pun terkejut.
“Kak Jun tidak pernah memakan lele?” tanyaku kembali yang masih keheranan.
“Tidak tuh! Sebabkan lele itu makanannya kotoran kan? Aku pernah main dengan Ayah ke luar kota kebetulan tempat yang kami tuju itu suasana masih pedesaan. Aku jalan-jalan saja ke daerah rumah penduduk kebetulan ada rumah penduduk yang memiliki kolam isinya lele besar-besar, tapi ketika aku lihat di atasnya ada kandang ayam dan kamu tahu kan.. Hahaha.” jelasnya sambil tertawa.
“Hahaha tapi Kak itu kan di pedesaan siapa tahu saja dikota pakai khusus makanan lele.” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala.
(Itu kan di desa, kalau dikota tidak kan?)
“Jadi Kak Jun tidak makan nih?” tanyaku kembali pada Jun.
“Hmm, bagaimana yah hehehe..” balasnya dengan ragu.
Aku dan Jun segera berjalan menuju tempat pecel lele. Ketika aku dan Jun masuk ke dalam tenda suasana sudah ramai, ada tersisa tempat agak pojokkan dan kami berdua segera menempati tempat itu.
“Tidak apa-apa kan Kak makan disini?” tanyaku kembali sambil menarik bangku dan mulai duduk.
“Yah tidak apa-apa kok Natasha..” balasnya yang juga mulai duduk.
“Mau pesan apa?” tanyaku kepada Jun.
“Hmm, ada ayam? Kalau ada aku mau ayam saja..” balasnya sambil melihat sekitarnya.
“Ada kok, nasinya mau apa? Biasa apa uduk? Minumannya juga deh sekalian..” kataku kembali kepada Jun yang segera bergegas untuk diri.
“Nasi uduk boleh, minumannya the tawar hangat aja.” pintanya.
“Oke, tunggu yah!” kataku yang kemudian berjalan menuju tempat pemesanan makanan. Setelah selesai aku memesan dan menunjuk dimana tempat duduknya, aku pun segera berjalan munuju mejaku.
“Kenapa Kak Jun?” tanyaku sambil kembali duduk.
“Ah tidak apa-apa hanya saja ini hal pertama untuk aku makan berdua dengan wanita di tempat warung tenda..” balasnya sambil menggaruk dahinya.
“Serius?!” kataku yang masih tak percaya.
“Yah serius! Aku paling makan di model-model kantin begitu atau di tempat makan biasa hehe.” jelas Jun sambil menopang dagu.
“Berarti ini pertama kali dong?” tanyaku kembali yang masih tak yakin.
“Hmm, iya Natasha..” balasnya sambil tersenyum.
“Memang dahulu waktu memiliki kekasih Kak Jun tidak pernah diajak ke tempat seperti ini? Atau jangan-jangan bekas kekasih Kak Jun orang kaya semua..” ucapku dengan muka menginterogasi.
“Kamu penasaran?” goda Jun kepadaku.
“Ah tidak kok! Kalau Kak Jun tidak mau cerita tidak masalah.” sanggahku yang membuang muka.
“Aku dahulu memiliki kekasih tidak ada yang istimewa kok. Aku menjalin sebuah hubungan lebih banyak dijodohkan dengan Ayahku atau yah terkadang memiliki kekasih karena untuk hal-hal tertentu..” terang Jun sambil memasang wajah tak nyaman.
“Wah! Kak Jun jahat yah! Kak Jun suka mempermainkan para wanita-wanita juga ternyata! Bekas kekasih sepertinya banyak nih..” kataku sambil melihat ke arah Jun.
“A-Aku tidak seperti yang kamu maksudkan kok Natasha! Selama menjalin hubungan tidak ada yang sungguh-sungguh aku suka!” terang Jun yang berusaha meyakinkanku.
“Tapi bekas kekasih Kak Jun banyak!” kataku kembali yang menggodanya.
“Semua itu bukan hal spesial kok! Dibanding sekarang yang aku lakukan ke kamu.” terangnya sambil melihat ke arahku dengan tatapan serius. Aku yang menyadari maksud ucapan Jun pun sedikit salah tingkah. Jun yang menyadari aku seperti itu pun hanya tersenyum melihatnya.
(Tolong dia cuma menggoda kamu saja kok! Tidak usah salah tingkah Nate!)
“Pesanan ayam goreng 2, nasi uduk dan nasi putih, es teh manis dan teh tawar hangat?” tanya pegawai pecel lele yang ternyata sudah ada disampingku.
“Iya mas!” kataku.
Pengawai pecel lele itu pun meletakkan pesananku dan Jun diatas meja setelah itu dia pun beranjak pergi meninggalkan mejaku.
“Iya Kak Jun mendadak ingin makan ayam goreng! Lelenya besok-besok saja hehe..” balasku sambil beralasan dan mencuci tangan di mangkok yang telah disediakan.
“Bukan karena ucapanku kan?” tanya Jun kembali.
“Hahahaha yah bagaimana yah hahahahaha..” kataku yang tidak bisa menjawab pertanyaannya.
“Kamu lucu Natasha!” kata Jun sambil tersenyum kepadaku dan memulai untuk makan. Aku yang menerima senyumannya itu pun tak sadar bahwa pipiku memerah karena malu.
(Sabar Nate! Ini cobaan! T,T)
*****
“Aku ingin berbicara dengan kamu sebentar!” tegur Fiona kepadaku dengan gayanya yang congkak.
“Ingin berbicara tentang apa?” tanyaku kembali kepada Fiona.
“Hhhh! Kamu ingin aku berbicara di tempat ini saja?” ujar Fiona mengancam.
“Yah silahkan..” balasku dengan santai.
Fiona pun mengambil ponsel yang berada ditasnya lalu dia pun membuka-buka ponselya. Entah apa yang mau dia cari di ponselnya itu, aku hanya menunggunya. Aku melihat keselilingku semua anak dikelas memasang muka penasaran, seakan-akan menunggu hal yang menarik untuk mereka semua bahas nantinya.
“Lihat! Coba kamu jelaskan padaku!” ujar Fiona sambil menunjukkan foto aku dan Jun tengah berada di restaurant.
“Kamu mau membahas hal seperti ini denganku?” tanyaku kembali pada Fiona dengan muka tak nyaman.
“Iya! Tolong jelaskan dong ini kenapa?” ulang Fiona kepadaku dengan muka sinis.
“Bukan urusan kamu Fiona!” balasku yang segera beranjak berdiri untuk keluar kelas. Fiona segera menahanku dengan mendorongkanku kembali untuk duduk.
“Tidak usah kabur! Jelaskan cepat! Anak-anak dikelas juga mau mendengarkannya tuh..” kata Fiona sambil melihat sekeliling. Anak-anak yang tadinya tidak peduli mendadak melihat ke arahku seakan-akan ini adalah tontonan yang menarik.
“Fiona kenapa sih?!!” bentakku kepadanya.
“Kamu yang kenapa hah?! Kamu kalau suka dengan Kak Jun berbicara saja dong!” balas Fiona sambil berteriak.
“Kekanakan sekali sih Fi!” balasku yang segera mendorong Fiona agar dia mau menyingkir dari hadapanku. Fiona pun meraih lenganku dengan paksa, aku yang menerima terkejut spontan mendorong Fiona hingga jatuh. Aku yang menyadari langsung terdiam melihat sekelilingku yang sudah saling berbisik membicarakanku yang tidak-tidak. Caca yang saat ini baru masuk ke dalam kelas melihat keadaan kelas sudah tak enak pun segera menghampiriku.
“Kamu kenapa Nate?” tanya Caca yang sudah disampingku.
“Tidak ada apa-apa!” balasku yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Caca.
“Tidak usah kabur Nate! Jelaskan sekarang tentang masalah foto itu!” teriak Fiona padaku yang posisi masih terduduk di lantai kelas.
“Foto? Foto apa Nate?” tanya Caca sambil menahan lenganku.
“Bukan apa-apa! Ca, tidak usah mendengarkan ucapan Fiona yah!” kataku dengan nada kesal.
“Satu kelas saksi Nate! Sudah pada menunggu tuh penjelasan kamu!” teriak Fiona kembali kepadaku yang kali ini sudah beranjak berdiri.
“Bukan hal besar kok! Aku dengan Kak Jun memang pergi kemarin! Aku memang makan malam dengan dia! Memang ada masalah apa antara kamu dengan Kak Jun? Kamu kekasihnya? Tunangannya? Atau orang yang spesial untuk dia?” bentakku kepada Fiona karena sudah tak tahan dengan sikapnya.
“Kamu kemarin pergi dengan Kak Jun? Kamu bilang pulang dengan Kak Nathan?” tanya Caca padaku yang masih tak percaya.
“Lihat saja nih di foto aku! Aku mengambil itu foto langsung kok semalam!” ujar Fiona yang sekarang posisi sudah berdiri dan menyodorkan ponselnya pada Caca. Segera Caca mengambil ponsel Fiona dan melihat foto tersebut. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Fiona. Disitu ada foto aku dan Jun sedang masuk ke dalam restaurant. Aku juga masih tidak tau dimana posisi Fiona ketika mengambil foto tersebut. Sementara itu Caca merasa kecewa denganku karena sebelumnya aku berbohong kepadanya.
“Kamu bilang dengan Kak Nathan! Ini apa?” tanya Caca dengan nada kesal padaku.
“Aku memang mau menceritakannya dengan kamu Ca!” pembelaanku sambil menarik lengan Caca.
“Mengakunya sahabat! Buat hal seperti ini saja kamu berbohong denganku?!” ujar Caca yang kemudian melepaskan tanganku yang di lengannya dan menabrak bahuku untuk berjalan keluar kelas.
“Ca!! Caca!!” teriakku pada Caca, namun Caca tidak mengubris dan tetap berjalan keluar kelas. Saat itu Dion berpapasan dengan Caca.
“Ca?” ujar Dion yang berusaha menarik lengannya namun segera di tepis oleh Caca. Dion pun langsung melihat ke arahku dengan gerakan tubuh bertanya ada apa? Aku hanya membalas dengan gelengan kepala dan segera beranjak keluar meninggalkan kelas.
“Kamu hutang penjelasan Nate denganku dan anak-anak dikelas!!” teriak Fiona padaku. Aku hanya menoleh kepadanya dengan membalas mengacungkan jari tengahku kepadanya. Fion tidak terima dia semakin berteriak yang macam-macam padaku. Aku tidak menggubrisnya segera pergi meninggalkan kelas sambil menarik lengan Dion yang masih berdiri di depan pintu kelas. Anak-anak kelas yang tadinya sibuk menonton kami pun segera bubar karena sudah tidak ada hal yang menarik lagi untuk mereka tonton.