
“Nate kamu masuk ke bagian seksi dekorasi yah?” tanya seseorang.
“Aku? Yah sudah oke.” balasku singkat.
“Serius nih! Ide kamu harus bagus, beda dari yang lain!” tanyanya kembali dengan mimik muka serius.
“Iya serius kok.” balasku ogah-ogahan.
“Oke!”
Hari ini aku ada rapat untuk acara di Dies Natalis kampusku, semua jurusan dikampusku di perbolehkan membuka stand bazar oleh pihak kampus. Masing-masing jurusan harus menentukan stand bazar yang akan mereka buat dan akan didata oleh panitia kampus untuk dimasukkan ke dalam brosur yang akan disebar. Kebetulan jurusan Manajemen akan membuka cafe bertema rumah hantu. Tahun ini angkatanku ditunjuk sebagai panitia inti untuk acara ini, karena banyak Kakak tingkat yang sudah praktik kerja lapangan dan sibuk dengan urusan kelulusannya. Ketua panitia tahun ini Rere, dia termasuk anak yang aktif di semua kegiatan Mahasiswa di kampus. Aku ditunjuk oleh dia sebagai panitia seksi dekorasi. Ini pertama kalinya aku jadi sebagai panitia.
“Terus Fiona kamu juga jadi seksi dekorasi yah?” tanya Rere sambil menunjuk ke arahnya.
“Aku? Jangan aku lah! Aku mau seksi acara aja.” balas Fiona kepada Rere dengan menawar.
“Seksi acara sudah penuh Fiona! Aku suruh seksi dekorasi karena kurang orang ditambah dengan kamu jadi pas bersepuluh.” balas Rere yang menjelaskan.
Fiona pun menerima sambil menggerutu karena tak terima keputusan Rere. Dia pun melihat ke arahku dengan tatapan tak suka.
“Oke ini semua sudah aku bagi, jadi sekarang duduk sesuai seksi masing-masing. Kalian diskusi berdasarkan masing-masing seksi. Inget biaya sudah aku kasih tahu jadi aku harap kalian membuat perkiraan biaya yang dikeluarkan perseksi tidak berlebihan dari perkiraan yang kita hitung. Paham kan semua?” tanya Rere dengan tegas.
“PAHAAMMMM!!!” serempak kami semua menjawabnya.
Semuanya pun duduk di masing-masing perseksi, begitu pun juga denganku. Di seksi dekorasi rata-rata Laki-laki semua dan wanitanya hanya ada Aku, Fiona dan Vania.
“Hai Vania.” sapaku kepadanya.
“Oh hai Nate, sini duduk kita diskusi mau membeli apa saja untuk dekorasinya.” balas Vania yang segera menggeserkan kursinya.
Aku pun duduk disampingnya.
“Kalian berdua saja yang berdiskusi, aku cuma terima hasil aja!” ucap Fiona yang tiba-tiba baru datang sudah mengeluh dulu saja kepadaku dan Vania.
“Tidak bisa Fi, kamu juga harus ikut diskusi.” balas Vania dengan tegas.
“Kamu berani denganku?” tantang Fiona kepada Vania dengan nada mengancam.
“Kamu memang siapa? Cuma anak Bupati saja banyak tingkah.” balas Vania sambil meremehkan.
“Eh! Hati-hati kamu kalau berbicara! Mau rumah kamu aku gusur?” tantang balik Fiona dengan emosi.
“Fiona cukup! Jangan ribut!” timpalku yang menenggahi mereka berdua.
“Ada apa disitu? Kalian ribut?” tanya Rere yang dari kejauhan melihat ke arah seksi kami.
“Tidak ada apa-apa kok Re.” balasku yang menutupi.
“Buat apa kamu menengahi? Mau jadi pahlawan kesiangan kamu?” tanya Fiona dengan kesal kepadaku.
Aku menoleh ke arahnya karena jengkel dengan sikapnya itu yang seenaknya.
“Kamu kalau tidak suka disini keluar saja Fiona! Kita tuh disini buat saling kerja sama bukan bersikap seenaknya!” balasku kepada Fiona dengan menantangnya.
“Oh! Nate sudah mulai merasa berani? Baru diajak makan bersama Jun saja sudah banyak tingkah yah kamu Nate? Merasa sudah dekat dan punya kuasa yah kamu? Jadi sekarang banyak gaya begini?” ujar Fiona dengan gaya menantangku.
“Apa sih? Tidak ada hubungannya Fiona! Tidak nyambung kamu yah!” jawabku sambil memasang mimik muka yang bingung.
“Kamu mengira aku tidak tahu apa? Kamu kan kemarin habis makan siang dengan Jun? Bertingkah paling manis, paling lugu, paling lucu, paling cantik pula!” ujar Fiona dengan nada emosi.
“Itu tidak ada hubungannya dengan ini Fiona!” balasku yang terbawa emosi.
“FIONA!” teriak Rere.
Semua pun serempak menoleh ke arahku dan Fiona.
“Kamu kalau cuma mau cari ribut tidak usah bergabung jadi panitia. Sekarang kamu keluar saja! Aku tidak mau acara berantakan hanya karena kamu!” timpal Rere dengan nada jengkel.
“Oh begitu? Oke aku keluar!” jawab Fiona dengan marah.
Fiona pun keluar ruangan dengan melihat ke arahku dan Vania, terpancar mimik wajahnya yang masih kesal kepada kami berdua.
“Ayo semua lanjutkan kembali! Kita ada tenggang waktu yang harus dikejar!” perintah Rere kepada semuanya.
*****
“Hei Natasha?” sapa seseorang dari belakangku.
Aku segera menoleh ke belakang dan...
“Kak Jun?” jawabku yang terkejut karena posisi kami berdua sangat berdekatan. Jun pun tersenyum kepadaku menahan pundakku yang hampir jatuh.
“Hati-hati Natasha!” kata Jun sambil memegang pundakku.
Aku segera berbalik ke arahnya agar dia tidak menahan pundakku lagi.
“Maaf Kak.” balasku dengan tidak enak.
“Tidak apa-apa kok! Santai aja.” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Oh, ngomong-ngomong habis apa kamu?” tambahnya lagi.
“Oh, kamu panitia?” tanyanya kembali.
“Iya aku panitia, aku menjadi seksi dekorasi.”
“Asik dong? Sayang aku tidak bisa ikut bergabung menjadi panitia.” ujarnya dengan raut muka sedih.
“Loh kan Kakak sibuk mengurus persiapan praktik kerja lapangan kan?” tanyaku kembali.
“Iya sih, tapi sekarang aku lagi mengambil mata kuliah yang belum sempat aku ambil sambil menyelesaikan nilai-nilaiku yang kecil dulu.” balasnya sambil terseyum.
“Memang nilai Kakak masih ada yang kecil?” tanyaku kembali.
“Yah beberapa ada nilai B jadi mau aku perbaiki jadi A, hahahaha.” balasnya santai.
(Nilai B menurut dia jelek? Astaga! Ternyata beda jauh dengaku! Aku dapat nilai B saja sudah senang sekali >,<)
“Ayahku terlalu menilai sempurna hehehe, jadi yah aku memperbaiki dahulu nilai selama satu semester ini sebelum praktik kerja lapangan.” tambahnya kembali.
“Susah yah Kak jadi anak tunggal?” tanyaku.
Jun melihat ke arahku dengan senyuman dia membalas.
“Hehehehe.”
“Oh, Natasha mau ke mana? Masih ada jadwal kuliah?” tanyanya kembali.
“Hari ini aku sudah selesai semua kok.”
“Hmm, mau penyegaran dahulu kah?” tanyanya kembali menawarkan kepadaku dengan ramah.
“Ke mana?” jawabku penasaran.
“Ada tempat yang mau aku kunjungi, tapi itu juga kalau kamu tidak keberatan.” ujarnya kembali.
“Harus sekarang?” tanyaku sambil melihat jam tangannku yang menunjukkan pukul 5 sore.
“Yah itu kalau kamu mau.” balas Jun dengan santai.
“Hmm, oke! Tapi tunggu dulu yah aku mau telepon Kakak ku dulu. Takutnya dia menjemput aku ke kampus.” ujarku sambil menggambil ponsel dalam tas.
“Oke, Natasha..”
Aku segera menjauh darinya dan mencari kontak Nathan untuk segera menghubunginya.
Rrrrrrrr! Rrrrrrrr! Rrrrrrrr!
"Yah? Hallo?"
"Kak? Sudah dijalan kekampus belum?"
"Belum masih di Toko Roti Ayah, kenapa?"
"Hari ini tidak usah jemput aku ya?"
"Kenapa?"
"Soalnya aku ada keperluan dulu Kak."
"Kemana? Sama siapa?"
"Emm, sama Kak Jun aku perginya"
"Jun?"
"Iya Kak Jun! Yang waktu itu Caca bilang loh"
"Oke, nanti Kakak jemput kamu ya!"
"Tidak usah Kak!"
"Oke, tetap hubungin Kakak ya!"
"Oke, oke.."
"Hati-hati Nate."
Aku pun mematikan teleponku dengan Nathan dan menoleh ke arah Jun. Dia sudah menungguku dengan santai sambil melemparkan senyuman. Aku segera menghampiri dirinya.
“Sudah selesai Natasha?” tanyanya kepadaku dengan ramah.
“Hmm, sudah Kak.” balasku sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
“Mau berangkat?” tanyanya kembali.
“Oke yuk!” jawabku singkat.
Kita berdua pun jalan ke arah parkiran mobil. Disitu terpakir mobil Jun, dilihat dari mobil Mahasiswa yang lain mobilnya bisa terbilang mewah.
*****