NIRBANA

NIRBANA
Episode 31



Ayah terhenti sejenank, lalu.. “Oh Lily..”


“Ayah...” kataku sambil meremas tangannya


Ayah melihatku dan membalas dengan tersenyum.


“Jadi apa?”


Aku terdiam sejenak dan memandang Ayah, aku ragu untuk bercerita padanya.


“Masalah laki-laki Ayah..” ucapku pelan.


“Apa?? Kamu berbicara apa sayang???” ujar Ayah yang sepertinya pura-pura tak mendengar ucapanku.


“Laki-laki Ayah!” ucapku kembali dengan nada sedikit kencang.


“Laki-laki?” tanya Ayah sekali lagi dengan menaikkan satu alisnya. Aku membalas dengan anggukan saja, Ayah melihatku dan menghela nafas dalam-dalam.


“Nate, sayangku! Sepertinya Ayah memang harus siap mendengar dan menerima bahwa putri kecil Ayah ini sudah beranjak menjadi seorang gadis dewasa yang sewaktu-waktu akan disukai oleh seorang lelaki...” terangnya panjang lebar.


“Jadi siapa?” lanjutnya kembali.


Aku melirik Ayah sesaat dan mengumpulkan tekadku padanya.


“Senior kampus Ayah..”


“Yang waktu itu kamu ajak untuk menonton pertandingan baseball Nathan?” tanya Ayah memastikan, aku membalas dengan menggangguk.


“Siapa namanya? Ayah lupa...”


“Jun, Ayah!”


“Oh, yah dia! Laki-laki necis itu...”


Aku melirik Ayah mendengar ucapannya itu.


“Apa yang membuatmu begini gusar?” lanjut Ayah kembali.


“Aku..”


Ayah masih menunggu.


“Aku, tidak tahu Ayah kalau memang dia itu benar-benr suka atau tidak padaku..” terangku sambil melirik pada Ayah.


“Kok bisa?”


“Iya, jadi mungkin selama ini aku memang tidak ada pengalaman dalam hal percintaan. Ayah tahu sendiri, setiap ada lelaki yang dekat denganku selalu saja Nathan yang menghentikannya dahulu..” jelasku.


“Yah memang betul, karena Ayah yang menyuruh Nathan untuk menjagamu dengan baik-baik. Tapi Ayah tidak memberikan dia perintah untuk menghambat urusan asmara kamu loh...” bela Ayah padaku, aku membalas dengan menatapnya.


“Oke, lanjut...”


“Yah, jadi selama ini aku dan Jun memang hanya sebatas Junior dan Senior di kampus! Aku pernah ada insiden juga Ayah yang aku menumpahkan sup krim jagung satu panci padanya!” terangku.


“Efek kamu mabuk kan?” balas Ayah dengan menatapku tajam, aku terkejut selama ini Ayah tahu akan insiden itu.


“Ayah kok tahu?” kataku yang masih terkejut.


“Kamu pikir Ayah tidak tahu Nate? Ayah tahu akan semua kegiatan anak Ayah!” jawab Ayah dengan nada tegas.


“Dari siapa?” ucapku yang takut-takut.


“Dion dan Caca.” jawabnya santai


(Mereka?!!)


“Ayah marah sekarang padaku?” tanyaku kembali memastikan dengan takut ingin melihat padanya.


“Yah sedikit, tapi itu kan kejadian lalu untungnya kamu tidak berbuat hal lebih jauh lagi.” jelasnya kembali dengan muka santai.


“Tapi Nathan tahu juga?” tanyaku memastikan lagi.


“Hmm, tidak! Ayah tidak menceritakannya kepada dia kok.” ucapnya, kali ini dengan tersenyum. Aku sedikit lega melihatnya.


“Terima kasih Ayah.” ucapku dengan kedua tanganku memegang tangannya.


“Tapi kalau sampai kamu mabuk lagi, tidak ada toleransi ya?” tegasnya dengan muka serius.


“Oke.” jawabku dengan tersenyum. Ayah pun membalas dengan senyum mengejek padaku, aku membalas dengan mencubit pinggang Ayah.


“Awww!!!” teriak Ayah.


“Oke, sayang lanjutkan ceritamu...”


“Yah dari kejadian itu aku sih berusaha untuk tidak mau menginggatnya tapi, sepertinya tidak untuk dia?! Karena ketika awal semester kemarin aku dan dia masuk satu kelas dengan mata kuliah yang sama, dan disitu dia masih ingat dengan kejadian itu! Yang mengingatkan sih Seniorku yang lain, dan dia teman baiknya Jun...”


“Lalu?”


“Lalu aku kan dengan dia menjadi sering bertemu, mengajak makan bersama, dia mengajak aku menonton juga! Tapi itu untuk tugas yah Ayah! Dan yang terakhir kemarin-kemarin dia membantuku dalam menghias dekorasi untuk acara dies natalis itu loh Ayah...”


“Yah Ayah tahu...”


“Disitu aku mungkin membuat hatinya sedih? Atau mungkin kecewa?! Karena aku tuh memang tidak tahu perasaan dia dengan aku seperti apa?! Selama ini yang aku tahu dia berbuat baik dengan aku, dan dia pun tidak menunjukkan bahwa dia mau pendekatan diri dengan aku!! Sempat terlintas seperti itu, tapi aku tidak mau percaya diri sekali! Temanku Dion dan Caca pun sudah menyadarinya dan mereka berdua pun memberitahuku, tapi aku menepis semuanya...” aku tertunduk sejenak, Ayah mengelus-elus rambutku.


“Apa yang memang kamu bilang ke Jun?”


“Kekasihnya anak jurusan manajemen...” ucapku pelan dan Ayah menatapku.


“Aku punya alasan Ayah kenapa aku berbicara seperti iu! Karena selama ini dia baik ke semua anak wanita jurusanku. Sampai kemarin Caca memberitahuku bahwa Jun memang suka mentraktir atau pun berbaik hati kepada semua wanita disana, tapi itu pada saat berkumpul ramai-ramai saja. Sedangkan denganku, dia hanya khusus mentraktirku dan mengajakku makan ke tempat berbeda...” balasku dengan nada lesu.


“Aku tau aku salah, seharusnya tidak berbicara begitu dengan Jun! Sampai kemarin sikap dia dingin kepadaku dan entahlah aku jadi....” ucapku yang tak melanjutkan dan meringkuk dengan menutupi wajahku dengan tanganku.


“Sudah, setidaknya kamu menyadari kamu salah dan Ayah rasa mungkin benar dengan yang diucapkan Caca mungkin dia memang tertarik denganmu. Ayah menyarankan padamu, sebaiknya kamu bertemu dengannya dan mengakui secara langsung bahwa kamu memang salah dalam berucap...” terang Ayah sambil memelukku dan menghibur.


“Kalau Ayah jadi Jun, Ayah juga akan terluka kok kalau dikatakan ‘Kekasihnya anak Jurusan Manajemen’ oleh gadis yang disukainya...” lanjutnya kembali.


“Yah aku memang harus bertemu dengan Jun dan menjelaskan inti semuanya! Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman saja dengannya, karena rasanya itu tak enak...” rengekku pada Ayah.


“Kamu suka dengan dia?” celetuk Ayah yang menggodaku.


“Apa sih Ayah...” bantahku dengan memalingkan muka darinya.


“Suka juga tidak apa-apa kok...” tambahnya yang sengaja menggodaku kembali.


“Bukan urusan Ayah ah!” jawabku sedikit kesal.


“Dia laki-laki yang baik, cerdas, bertanggung jawab dan kelihatnya dia dari orang yang kaya juga?!” ujar Ayah yang masih menggodaku.


“Yah, dia memang orang kaya! Anak pengusaha Gusti Salim..” terangku dengan tegas.


“Oh ya? Wow! Ayah akan kerja lebih giat lagi kalau begitu...” balas Ayah sambil merangkulku.


“Untuk apa? Kan toko roti kita ini terbilang sukses dan maju...” tanyaku yang bingung.


“Yah, barangkali saja kan malu...” celetuk Ayah.


“Kalau dia malu dia tidak usah mengenalku!” belaku.


“Hahahaha, bercanda! Ayah rasa dia tidak akan begitu karena dari sorot matanya terlihat tulus kok dengan kamu sayang..” Ayah mengecup kembali rambutku dan mulai beranjak dari kursi.


“Yuk, makan dulu! Ayah tahu kamu sudah lapar. Soalnya dari tadi cacing diperut kamu sudah teriak-teriak meminta makan kepada Ayah...” ucap Ayah mengejekku dengan tertawa terkekeh.


“Ah, Ayaaaahhhh!!!!” balasku dengan menyusulnya ke dapur.


******


Penantianku akhirnya selesai, kelas yang sedari tadi ku tunggu akhirnya selesai. Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan tersebut. Aku mengenali beberapa orang seniorku dan aku menyapa dengan tersenyum, mereka pun tak penasaran apa yang sedang aku lakukan disitu.


Aku menggamati satu persatu yang keluar dari ruangan tersebut. Ada pemandangan baru untuk beberapa hari ini, aku tidak melihat Fiona. Setelah insiden terakhir yang dia lakukan padaku, segelintir orang bilang bahwa dia akhirnya memutuskan untuk cuti dari perkuliahan. Mungkin dia merasa malu dengan kelakuannya yang kekanakan itu atau mungkin dia malu terhadap aku dan Jun.


Aku menemukan seseorang yang kucari tersebut.


“Kak Jun!” tegurku yang berada didepan pintu kelas. Jun melihat padaku, aku bisa menebak pasti di pun tidak menyangka akan kehadiranku tiba-tiba menemuinya.


“Nate?” balasnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sekitarnya.


“Kamu ada apa?” tanyanya kembali.


“Aku mau berbicara dengan Kak Jun, boleh?” pintaku dengan muka memohon. Jun memperhatikan wajahku sejenak.


“Tentu, mau dimana?” tanyanya kembali dengan nada datar.


“Di kafe?”


“Oke, yuk ke parkiran. Kita naik mobilku saja.” ajak Jun padaku sambil dia berjalan duluan, aku segera mengikutinya dibelakang.


Sepanjang perjalanan kami berdua hanya terdiam, aku bingung dan canggung akan memulai pembicaraan dari mana dulu dengannya. Sesekali aku menoleh padanya aku kira mungkin dia juga bingung akan memulai pembicaraan dari mana, namun dia hanya diam terpaku pada jalan yang ada di hadapannya. Jun terlalu fokus untuk menyetir saat ini.


Kami berdua pun duduk saling berhadapan satu sama lain. Saling kikuk dan canggung, lama kelamaan suasana ini membuatku tak betah. Aku harus segera memulai pembicaraan ini karena aku duluan yang mengajaknya untuk berbicara.


“Kak, bagaimana kabarnya?” sapaku dengan sedikit tersenyum.


“Yah, baik.” balas Jun sekenanya.


“Bagaimana kuliah hari ini?” tanyaku kembali basa basi.


“Lancar..” balas Jun dengan wajah tak suka.


“Hm...”


“Kalau kamu mau kita bertemu sekedar basa basi begini lebih baik aku pergi saja yah Nate? Karena aku masih ada mata kuliah lainnya setelah ini..” tegas Jun dengan mimik wajah serius.


“Oh, oke! Maaf!”


“Jadi apa?” tanya Jun dengan serius.


“Aku minta maaf..”


“Untuk apa?”


“Untuk pembicaraan mengenai ‘kekasihnya anak jurusan’ Kak..”


“Bagus kalau kamu sadar kamu salah..” balas Jun dengan nada ketus.


“Terus?” lanjutnya kembali.


“Yah sudah itu saja..” balasku sekenanya.


“Tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi gitu? Maksudnya kamu tidak berpikir memang kenapa aku tidak suka dibilang seperti itu?” ucap Jun yang masih tak puas.


“Apa?” balasku polos.


“Kamu tahu, aku tuh tidak suka dengan ucapan kamu itu! Memang kamu tidak bisa lihat perhatianku dengan yang lain tuh berbeda tidak seperti ke kamu. Karena yah aku suka dengan kamu!” jelas Jun dengan muka sedikit memerah karena malu. Aku yang mendengarnya berucap terdiam karena kaget, Jun yang melihat mimik wajahku sedikit kesal dan segera mencubit kedua pipiku.


“Ah sudah deh membuat aku malu saja..” ucapnya dengan sedikit ketus.


Aku yang melihatnya menahan bibirku untuk tertawa dengan kedua tanganku. Untuk saat ini Jun sangat gemas dengan tingkahnya.


“Apa sih pasti tertawa kan?” ucap Jun yang mencoba memaksa membuka kedua tanganku.


“Aku tidak tertawa kok.” bantahku yang melepaskan kedua tanganku dan menahan senyum.


“Bohong..”


“Sumpah..”


“Tidak yakin..”


“Aku tahu kok Kak Jun suka dengan aku..” ucapku pelan.


“Yah sudah kalau begitu nyatakan saja perasaan Kak Jun..” ujarku kembali dengan malu-malu.


Jun terdiam sambil melihatku lekat-lekat.


“Yah aku suka dengan kamu! Puas?” balas Jun sambil menatap wajahku dengan dalam. Aku yang merasakannya perkataan yang tulus darinya mulai merasa deg-degan. Refleks aku memegang tanganku ke arah dadaku sebelah kiri, Jun yang melihatnya senyum mengejekku.


“Yah kesenengankan...” ejek Jun dengan menopang satu tangannya di dagunya.


“Tidak!” jawabku tegas dengan muka memerah.


“Yakin?” Aku hanya terdiam.


“Nate..”


“Yah?”


“Kamu mau menjadi kekasihku?” ucap Jun sambil meraih kedua tanganku. Aku yang merasa sedang di beri pernyataan cinta olehnya pun salah tingkah karena tak percaya.


“Kak...aku...”


“Kenapa? Kamu juga pasti sadarkan kalau aku memang tertarik dengan kamu?” lanjut Jun kembali yang masih memegang kedua tanganku.


“Hm...”


“Hm apa?”


“Hm...”


“Tidak bisa jawab ‘Yah’ aja Nate?”


“Euh...”


“Yah, kan?”


“Yah...” ucapku sambil menundukkan kedua kepalaku karena malu. Jun tertawa terkekeh dan mengusap-usap kepada kepalaku.


“Terima kasih..” ucapnya dengan tersenyum. Aku menoleh padanya, dan hanya terdiam sejenak karena malu.


Pesanan yang kami pun sudah datang, kami berdua mulai menikmati hidangannya tersebut. Aku hanya memesan es krim, sedangkan Jun hanya secangkir teh.


“Kak..”


“Yah?” jawabnya sambil menyeruput tehnya.


“Soal yang Fiona kenapa Kakak tahu dia memberikan obat pelancar buag air ke minumanku?” tanyaku.


“Itu sebenernya tak sengaja, aku hanya berjalan dengan Wira untuk pulang tak sengaja lewat ke ruangan panitia dan aku lihat dia diluar ruangan sedang sibuk memasukkan sesuatu diminuman yang dibawanya. Aku perhatikan itu green tea, dan ingat dia kan alergi. Aku masih memperhatikan dia ternyata di dalam ada kamu. Aku lihat dia menukar minuman yang kamu taruh di meja dekat tasmu saat kamu tak peduli dengan kehadirannya disitu. Dia membeli sesuai pesanan minuman punyamu, agar saat ditukar mungkin kamu tak akan curiga.” terang Jun santai.


“Wow, tebakan Kakak kuat yah..” ucapku takjub.


“Yah begitulah...” sambil menenggak kembali tehnya.


“Wanita tuh kalau bersaing atau ribut serem yah?” celetuk Jun kembali dengan menatapku. Aku terdiam sesaat sambil menyendokkan es krim yang sedang aku nikmatin.


“Jadi kita sudah resmi menjadi pasangan kan?” tembak Jun sambil mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum padaku. Aku hanya membalas dengan tersenyum menahan malu.


*****