
“Kamu hari ini kenapa sih? Senyum-senyum seperti itu? Aku takut deh Nate.” ujar Caca yang keheranan dengan sikapku dari tadi.
“Hahahaha..” balasku yang tidak peduli dengan ucapannya itu.
Pesanan kami berdua pun akhirnya datang dan diantarkan langsung oleh Oliver.
“Terima kasih Paman..” ujar kami berdua kompak.
“Sama-sama!” balasnya sambil senyum dan pergi meninggalkan kami berdua untuk melayani pelanggan lainnya.
“Heran yah dengan Paman, dia tak mau memperkerjakan orang lain apa? Bekerja sendiri begitu aku pasti sudah kelimpungan deh.” ujar Caca sambil mengaduk-ngaduk minuman yang dipesannya.
“Mungkin dia masih belum mendapatkan orang yang sesuai saja Ca. Untuk kasus seperti itu kan mudah-mudah susah.” balasku santai sambil menyeruput minumanku.
“Padahal cafenya sudah cukup ramai juga loh Nate! Tidak lelah apa yah dia.” ujarnya lagi masih tidak puas sambil melihat ke arah Oliver.
“Ramai juga karena pelanggan setia dia saja kok Ca kalau aku melihatnya. Orang barunya hanya beberapa saja sih itu juga yang hanya menumpang wi-fi dan duduk-duduk santai saja, barangkali paman merasa masih bisa dia kerjakan sendiri.” terangku yang tak mau ambil pusing.
“Ah kamu Nate kebiasaan deh tidak pekanya!” balas Caca sambil memasang muka sebalnya kepadaku. Aku yang melihatnya hanya tersenyum.
(Aku tidak peka ya?)
Gumamku sendiri dalam hati sambil melihat ponselku. Aku pun menarik nafas panjang dan mulai membahas hal-hal lainnya dengan Caca. Kami berdua pun mengobrol dengan sangat asik sampai tak kerasa jam sudah menunjukkan jam 16.45 aku yang menyadari segera menyudahi obrolanku dengan Caca.
“Ca sepertinya sudahi dahulu yah kita berbincangnya karena sudah sore nih.” kataku sambil melihat jam tangannku. Caca yang tak suka jika aku menyudahi pembicaraan yang sedang asik dia bahas pun memasang wajah cemberut.
“Ah sampaika kepada Kak Nathan agak terlambat saja sih menjemput kamunya! Aku kan masih belum selesai ini berceritanya.” ujar Caca yang masih tak terima jika aku menyudahi pembicaraannya.
“Duh Ca! Besok lagi saja deh dikampus! Seperti besok tidak akan berjumpa denganku saja.” ujarku dengan tetap beralasan.
“Besok ada Dion Nate! Aku tidak mau ada dia...” balas Caca yang masih merengek meminta agar aku masih mau mendengarkannya.
“Yah sudah sih mudah, nanti aku atur atau mengusir Dion deh supaya dia tidak ikut pembicaraan kita.” usulku kepada Caca sambil berusaha merayunya agar menyudahi.
“Ih! Yah sudah deh besok yah janji? Awas kamu kalau bohong! Tanggung soalnya ini aku sedang bercerita juga..” balas Caca sambil mengancamku.
“Iya.. Iya... Janji!” kataku sambil membuat tanda damai kepada Caca.
Kami berdua segera beranjak dari tempat duduk menuju kasir untuk membayar tagihan menu yang kita berdua pesan.
“Berapa Paman?” ujar Caca sambil membuka tas untuk mengambil dompetnya.
“Loh? Tidak sampai malam kalian? Tidak seperti biasanya deh..” jelas Oliver dengan wajah heran.
“Nate akan pergi dengan Nathan jadi kita sore-sore sudah selesai deh..” jelas Caca kepada Oliver sambil tetap fokus mencari dompetnya.
“Memang mau kemana sih Nate?” tanya Oliver kepadaku. Aku pun bingung menjelaskan dan terpaksa berbohong juga kepada Oliver.
“Aku mau beli action figure Paman hehehe...” jawabku sambil menggaruk-garuk rambut karena gugup.
“Serius? Kamu sudah besar Nate! Yah ampun..” ujar Oliver yang tak percaya dengan alasanku.
“Seriuslah Paman! Masa aku berbohong..” ucapku yang masih berusaha menutupi, Oliver hanya membalas dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Berapa Paman? Aku mau membayar sekalian dengan punya Nate juga.” ujar Caca sambil menyodorkan kartu kreditnya.
“Tidak usah Ca! Aku tidak enak! Aku bisa membayarnya sendiri kok.” ujarku sambil menahan lengan Caca.
“Tidak apa-apa Nate! Tidak apa-apa kok! Tadi siang kan aku yang mengajak kamu pergi jadi hitung-hitung aku mentraktir kamulah sekarang..” jelas Caca yang tetap menyodorkan kartu kreditnya kepada Oliver.
“Tapi..” kataku yang terpotong dan ponselku bunyi tanda pesan masuk.
Tring!
(Aduh! Kak Jun sepertinya deh ini yang chatting aku!!)
Gumamku sambil menahan agar tidak segera membuka ponselku.
“Kita kan sahabat masih saja canggung! Sudah paman ini bayar yah sekalian dengan Nate..” ujar Caca yang menyodorkan kartu kreditnya dan Oliver pun menerima yang segera memproses pembayarannya.
“Tidak ada tambahan menu kan?” tanya Oliver kepada Caca.
“Tidak ada kok Paman... Eh tunggu Paman itu kue apa?” kata Caca sambil berjalan menuju etalase kue diikuti oleh Paman yang berjalan menghampirinya. Aku yang masih menunggu di meja kasir segera mengambil kesempatan untuk membuka ponselku dan ternyata benar Jun yang mengirimkan pesan kepadaku.
Kak Jun:
Aku sudah di cafe Oliver Natasha..
Me:
Tunggu yah Kak! Aku lagi membayar dahulu..
Kakak di mobil atau bagaimana?
Balasku sambil was-was menunggu balasan dari Jun sambil melihat kearah Caca.
Tring!
Kak Jun:
Yah aku menunggu di dalam mobil, tidak apa-apa kan? Apa perlu aku masuk ke dalam cafe Olivernya?
Aku segera membalas pesannya lagi dengan cepat sebelum Caca selesai dengan pilihan kue yang ingin dia beli kembali.
“Nate kata kamu lebih baik fruit miracle cake atau green tea smoke cake?” ujar Caca sambil melihat kearahku. Aku yang terkejut segera melihat kearahnya sambil memegang ponselku.
“Hah? Kue macem apa lagi itu?” kataku yang berusaha sambil membalas pesan Jun.
Me :
Tidak usah Kak nanti aku keluar..
“Kue modifikasi aku Nate, cobalah mangkanya lain kali..” balas Oliver sambil melihat kearahku. Aku yang mendengar berusaha untuk fokus dengan pertanyaan yang Caca ajukan kepadaku.
“Apa saja lah Ca yang menurut kamu suka..” kataku dengan singkat. Caca yang mendengar ucapanku itu kembali berbincang dengan Oliver untuk menentukan kue jenis apa yang akan dibelinya.
“Sepertinya aku mau coba kue yang baru kamu buat ini deh Paman..” tunjuk Caca kepada kue yang dimaksudkan. Oliver dengan sigap mengeluarkan kue tersebut dan menaruhnya satu loyang didepan Caca.
“Ini saja? Mau satu slice apa satu loyang begini?” tanya Oliver kepada Caca.
“Semuanya saja aku beli Paman...” ujarnya dengan santai.
“Oke! Tunggu yah aku ambilkan dahulu kardusnya..” ujar Oliver beranjak menuju meja yang dimaksudkan untuk mengambil kardus sebagai wadah kue yang akan dibeli oleh Caca. Aku masih menunggu balasan pesan dari Jun.
Tring!
Kak Jun:
Oke! Tapi aku tidak pakai mobil yang biasa aku bawa ke kampus yah! Aku pakai mobil sedan Mer** warna hitam..
(Gila Kak Jun ini orang kaya sekali! Mobil aja ganti-ganti seperti ini..)
Me :
Oke Kak! Tunggu yah...
Aku segera menaruh ponselku ke dalam tas dan segera berjalan ke arah Caca.
“Ca aku pamit dahulu yah? Sepertinya Kak Nathan sudah sampai menjemput.” ujarku sambil melihat ke arah pintu cafe.
“Serius? Kok tidak masuk dahulu sih dia?” balas Caca sambil melihat ke arah bersamaan denganku.
“Yah, mungkin dia sedang malas Ca untuk turun. Yah sudah deh aku mau pergi nanti takut terlalu malam..” ungkapku yang tak mau memperlambat situasi karena aku tak enak Jun sudah lama menunggu.
“Oh yah sudah hati-hati yah Nate!” ujar Caca sambil memelukku.
“Oke Ca! Terima kasih yah atas traktirannya! Lain waktu aku yah yang mentraktir kamu..” ujarku sambil membalas pelukannya.
“Santai saja Nate kan aku juga suka makan roti di Toko kamu hahaha..” balas Caca sambil tertawa.
“Haha dasar kamu! Yah sudah aku pulang dahulu yah! Dadah Ca hati-hati yah kamu juga, dadah Paman lain waktu aku datang kembali lagi..” ujarku sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua sambil membuka pintu cafe.
“Dadah cantik! Ditunggu lagi kedatangannya yah..” balas Oliver sambil tersenyum melambaikan tangannya kepadaku, dan Caca pun melakukan hal yang sama. Aku segera berjalan menuju mobil Jun sambil menebak-nebak mobilnya yang mana. Namun tanpa harus menebak mobilnya pun sudah aku kenali duluan, mobilnya sudah terparkir beda dengan mobil disekitarnya. aku segera berjalan menuju sisi satu mobilnya sambil mengetuk jendela kaca mobilnya.
Tok! Tok!
Jun segera membuka kunci pintu mobilnya, setelah mendengar terbuka aku pun segera membuka pintunya dan ternyata benar ini mobil Jun. Aku tersenyum ke arahnya dan Jun pun membalas senyumanku dengan ramah, aku pun segera memasang sabuk pengaman dan mobil pun segera melaju pergi meninggalkan cafe.
“Lama yah Kak? Maaf yah..” kataku yang tak enak.
“Tidak apa-apa Nate santai aja..” balas Jun melihat kepadaku sebentar sambil tersenyum. Aku yang melihat lirikan matanya itu sedikit canggung.
(Duh kok aku malah deg-degan begini)