
“Ca, tahun lalu ketika perkumpulan anak-anak jurusan ada hal menarik yang terjadi ya?” tanyaku kepada Caca yang sedang menulis materi kuliah.
Caca pun melihat ke arahku dengan wajah mimik muka heran.
“Memang kenapa? Kok tiba-tiba kamu tanya?” Caca pun balik bertanya kepadaku.
“Yah menurut kamu? Aku suka melupakan Ca, siapa tahu kamu mengingatnya.” tanyaku balik kepadanya.
Caca pun menghela nafas. “Tidak ada..”
“Serius?”
“Serius! Hanya saja hal yang menarik ketika waktu itu Edo menyatakan suka kepada Kak Gisel.” jawab Caca sambil memainkan pulpen yang dipukul-pukul ke wajahnya.
“Memang kenapa sih?” tanyanya kembali dengan heran.
“Sudah ke bilang tidak kenapa-kenapa Caca!” jawabku dengan nada sedikit keras.
“Ssssssssttt!! Berisik!” timpal mahasiswi yang duduk didepanku.
“Iya, iya maaf.” balasku sambil berbicara pelan-pelan.
Aku masih tidak puas dengan jawaban Caca.
“Kamu mengenal Kakak tingkat jurusan yang namanya Jun?” tanyaku kembali kepada Caca.
Caca menoleh ke arahku. “Maksud kamu itu Jun, Junior? Junior Lee Salim?”
“Menurut kamu? Iya mungkin Ca.” jawabku bingung
“Kalau yang kamu maksudkan dia semua orang juga mengenal dengan Kak Jun.” balas Caca dengan snatai.
“Memang siapa sih dia?” tanyaku dengan bingung.
“Seius kamu tidak tahu?” tanya balik Caca dengan heran.
“Serius..”
“Yah ampun Nate!! Lelaki setampan, sepintar, seterkenal, seramah, sebaik, sekaya, seidola wanita-wanita kampus begitu saja kamu tidak mengenalnya? Aku akan kasih tahu Junior Lee Salim atau Kak Jun dia itu Kakak Dua tingkat di atas kita. Dia tuh lelaki terkenal Nate! Tidak ada yang tak kenal dengannya pasti semua mengenalnya. Terlebih dia anak pengusahan sukses Gusti Agung Salim. Yah dia tidak pernah secara langsung memperkenalkan diri dia bahwa dia anak Gusti Agung Salim atau dia anak orang kaya, tapi kamu tahulah orang-orang terkadang terlalu ingin tahu dengan hal-hal kayak begitu.” jelas Caca kepadaku.
(Pantas saja aku tidak pernah melihat dia. Aku mengira memang ada sesuatu pas kumpul-kumpul tahun lalu.)
“Hmm, oke aku mungkin kurang informasi, tapi aku masih penasaran ada hal atau kejadian apa mungkin yang berhubungan aku dengan dia?” tanyaku dengan penasaran.
Caca hanya memandangku dengan bingung.
“Kamu yakin lupa?” tanya balik Caca sambil menaikkan alis matanya.
“Iya..”
“Kamu pernah menjatuhkan sup krim jagung satu panci ke badan dia.” jawab Caca datar.
“Bohong!”
“Serius deh, mau aku tunjukkan bukti videonya?” tantang Caca.
“Mana?”
Caca segera membuka ponselnya dan membuka video, dia pun memasangkan earphone kepadaku Nih, lihat saja.”
Aku segera mengklik untuk putar video, dan....
(Sumpah ini aku? Ah gila-gila aku malu!! Kenapa aku bisa melupakan hal memalukan kek gini?)
“Sudah teringat tidak?” tanya Caca sambil menarik satu bagian earphone yang ada di telingaku.
“Ca...”
“Hm?”
“Ca....”
“Hm? Apa?”
“Aku malu....” kataku sambil menundukkan kepala ke meja.
“Yah kamu segala melupakan dengan kejadian ini.” balas Caca sambil membereskan earphone dan ponselnya.
“Sial! Aku malu sekali.” kataku sambil menutup wajahku dengan buku.
“Mangkanya kamu kalau tidak kuat minum tidak usah minum jadi saja kamu bertingkah memalukan seperti ini.” kata Caca sambil kembali fokus ke materi kuliah.
“Bukan salahku! Salah Kak Aldo Ca. Aku sudah memberitahukannya, tapi dia memaksa saja memberikanku bir. Ketika waktu itu kenapa kanu tidak menolongku?” kataku sambil menaruh buku yang ada di wajahku.
“Aku kan sudah berterika kearahmu Nate! Kamu saja yang tidak mendengarkanku!” balas Caca sambil cemberut.
“AH! Aku malu! Pantas saja sehabis acara itu aku dijadikan bahan candaan anak-anak. Aku tidak menyadarinya juga lagi. AH! Bodoh.. bodoh..” kataku sambil memukul-mukul wajah.
"Aku sih tidak mengerti dengan awal yang kamu tanyakan padaku, namun ketika kamu menanya-nanyakan kembali tentang Kak Jun, aku jadi kembali mengingat dengan kejadian yang kamu perbuat tahun lalu.” terang Caca sambil menunjuk telunjuknya ke dahiku.
“Tapi kamu masih menyimpan videonya sih? Kamu jahat itu namanya Ca.” aku pun segera bangkit dan menoleh ke arah Caca.
Caca pun menoleh ke arahku, dan posisi kita berdua pun saling berhadap-hadapan.
“Memang sengajaku simpan supaya kalau ada acara kumpul-kumpul lagi dan kamu disuruh minum lagi aku bisa menunjukkan video memalukan kamu!” balas Caca dengan mengancam.
Aku pun memandang ke arahnya dengan sebal dan tidak bisa berkata banyak lagi.
“Oke!” Aku pun kembali menundukkan kepalaku ke meja, dan dalam pikiranku terbayang-bayang kembali hal memalukan itu yang sempat aku lupakan.
(Bodoh.)
*****
“Natasha?” tegur seseorang kepadaku.
Aku segera menoleh ke arah yang memanggilku.
(Kak Jun!)
Jun pun duduk disampingku.
“Sedang apa kamu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Oh, ini sedang mengerjakan tugas untuk besok Kak.” jawabku sambil membereskan buku-buku yang berserakan.
“Tidak usah dibereskan jika belum selesai?”
Aku pun mengehentikannya.
“Iya sih. Hehehe...”
(Sial! Kenapa juga aku membereskan ini buku? Kok aku jadi salah tingkah juga sih.)
“Hmm, sendirian aja?” tanyanya sambil menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan.
Aku pun spontan ikut gerakkan yang dia lakukan.
“Ah! Iya Kak.” jawabku.
“Sudah makan siang?”
“Belum Kak.”
“Mau makan bersama?”
Aku pun terdiam mencerna ucapannya tadi sambil memasang wajah konyol.
(Ini serius Kak Jun?)
“Natasha?”
Aku masih terdiam dengan ekspresi konyolku.
“Ah? Boleh Kak.” kataku sambil tersenyum.
(Kenapa jawab Iya? Haduh!)
“Oke!” jawabnya sambil tersenyum.
(Ah! Sial kenapa sih dia tersenyum tampan begitu, tapi benarkah dia mengajakku makan siang bersama? Memang teman-teman dia kemana? Mendadak sekali! Curiga juga dia tiba-tiba begini.)
“Masih belum selesai tugasnya?” sambungnya kembali.
“Ini sih udah selesai kok Kak, hehehe. Tinggal aku rapihkan saja sedikit-dikit.” jawabku sambil membereskan kembali buku-buku dan materi tugasku yang berserakkan di meja. Jun pun membantu aku merapihkan tugas-tugasku.
“Nih..” katanya sambil menyerahkan kertas-kertas yang tadi berantakkan.
“Terima kasih Kak.”
Aku segera memasukkan semuanya ke dalam tasku.
“Yuk!” ajaknya kepadaku.
Kami pun beranjak dari bangku taman tersebut dan berjalan menuju kantin kampus. Dalam perjalanan menuju kantin pikiranku masih bertanya-tanya bisa ya Kak Jun mengajakku makan siang? Namun, di balik pertanyaan itu masih terbayang-bayang dengan video tahun lalu itu. Ah! Sial malunya!
“Teman-teman Kakak pada kemana?” kataku agar tidak canggung.
Jun pun menoleh ke arahku sambil tersenyum.
“Ada..”
“Oh...., tidak bersama dengan mereka saja Kak makan siangnya?” tanyaku kembali.
Jun pun menoleh kembali kepadaku dan kali ini senyumnya lebih manis.
“Memang kalau mau makan siang sama kau tidak boleh Natasha?” tanyanya kembali kepadaku.
Aku pun terkejut.
“Ah! Boleh kok hahaha.” balasku sambil berpura-pura senyum, aku pun melirik ke arahnya dan dia pun membalas dengan tersenyum kembali kepadaku.
(Ah! Tampannya.)
“Oh, iya Kak jangan panggil aku Natasha terus, aku agak tak suka mendengarnya panggil saja aku Nate, oke?” pintaku kepadanya sambil tersenyum.
“Loh? Tapi kan nama kamu memang Natasha kan? Natasha Canvill? Seharusnta tak apa-apa kan jika ku panggil nama kamu Natasha?” belanya sambil melihat ke arahku.
“Iya sih, yah sudah terserah Kakak saja.” kataku yang tidak mau meperpanjang.
“Oke. Oke..” jawabnya sambil tersenyum.
(Tapi tunggu tadi.. dia...)
“Kak kok tahu nama lengkapku?” tanyaku kembali sambil menghentikkan jalan.
Jun pun ikut berhenti.
“Yah, tahulah. Tidak akan aku melupakan nama kamu.” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman dan melanjutkan jalannya. Aku masih terdiam masih tidak yakin kalau yang barusan bilang adalah Jun. Yah! Junior Lee Salim yang terkenal dan semua orang tau siapa diri dia.
“Kok masih diam? Masih terkejut?” tanyanya dari kejauhan yang sedang menungguku untuk jalan.
Aku pun masih terdiam.
“Hei Natasha! Ayo!” ajaknya kepadaku.
Aku pun melihat ke arahnya dan segera menghampirinya.
(Ini namanya keberuntungan!)
*****