NIRBANA

NIRBANA
Episode 17



“Hallo?” tegur Ayah yang sudah ada disampingku dan Axel.


“Oh hallo Om!” balas Axel yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menjulurkan tangannya. Ayah yang melihat sikap sopannya itu pun segera meraih tangan Axel untuk membalasnya.


“Lama tak jumpa yah Om?” kata Axel yang berjabat tangan dengan Ayah.


“Memang kamu siapa yah?” balas Ayah yang masih kebingungan dengan siapa yang berada didepannya.


“Saya Axel Om! Axel Gunawan, anaknya Bapak Aryo Utomo Gunawan. Om lupa dengan saya?” jelasnya dengan bersemangat dan berusaha mengingatkan tentang dirinya kepada Ayah.


“Oh yah Tuhan! Yah saya ingat kamu! Kamu itu Axel yang dahulu temannya Nathan kan? Yang dahulu gigi kamu ompong!” ujar Ayah yang bersemangat juga, sambil berjabat tangan Ayah pun menepuk-nepuk pundaknya Axel yang kemudian melepaskan jabat tangannya itu. Axel yang menerima pukulan dari Ayah hanya mengusap-usap kembali pundaknya. Aku hanya tersenyum melihatnya diperlakukan begitu oleh Ayah.


“Nate kamu kapan bertemu dengan dia? Kok tidak berbicara dengan Ayah?” tanya Ayah yang kini melihat kepadaku.


“Sudah beberapa minggu yang lalu sih.” jelasku sambil menggaruk kepala.


“Kenapa kamu tidak cerita?” tanya Ayah.


“Aku sudah cerita dengan Kak Nathan dan aku kira Ayah sudah tahu dari dia!” jelasku.


“Sudah Om tak masalah kok! Kan sekarang saya sudah datang ke toko Om!” ujar Axel yang menengahi dengan tangan kiri yang memegang pundak Ayah.


“Yah semestinya mereka berdua berbicara dengan saya, tapi yah sudahlah.. Oh, iya kamu kembali ke sini karena ada urusan pekerjaan atau memang mau pulang ke kampung halamanmu?” tanya Ayah kembali pada Axel.


“Sebenernya saya ada urusan pekerjaan ditambah yah saya juga mau liburan mengunjungi tempat saya waktu kecil dahulu..” jelas Axel sambil tertawa kecil pada Ayah.


“Ah apa Ayah kamu ikut pulang juga ke sini?” tanya Ayah.


“Oh Papa tidak ikut pulang kesini, saya disini diam di apartement milik Papa saja kok Om.” terang Axel kembali.


“Yah sudah, kamu mengobrol kembali saja dengan Nate! Dia dari tadi melamun terus tidak tahu apa yang dengan dipikirkannya!” ujar Ayah sambil melirik kepadaku, aku yang mendengarnya pun membalas dengan lirikan sinisku kepada Ayah.


“Oh yah ampun! Nathan tidak datang kesini yah? Saya coba untuk menghubunginya deh..” kata Ayah kembali sambil mencari-cari ponselnya disaku bajunya.


“Tidak usah Om! Nanti saya akan menghubungi Nathan sendiri..” cegah Axel sambil memegang lengan Ayah.


“Yah sudah kalau begitu, kamu sudah makan? Saya ambilkan roti yah untuk kamu? Sudah lama juga kan kamu tidak makan roti saya! Hahaha..” usul Ayah dengan antusias.


“Tidak usah repot-repot Om, kan saya juga akan datang kembali kesini.” ujar Axel yang menolak dengan sopan.


“Tidak apa-apa sekarang yah sekarang, besok yah besok.” jawab Ayah santai kemudian beranjak pergi menuju belakang kasir untuk ke tempat pembuatan roti-roti yang masih baru dan hangat.


“Ayah kamu masih tetap sama yah, selalu memaksa aku untuk makan rotinya.” ujar Axel sambil senyum kepadaku.


“Yah dia memang begitu kalau dengan orang yang sudah dia kenal lama.” balasku sambil cuek.


“Iya hehe, oh kamu dari tadi kenapa duduk disini? Tidak main dengan teman-teman kamu? Atau mungkin dengan kekasih kamu?” tanya Axel.


“Sedang tidak ada acara dengan teman, aku sedang kepengen sendiri dahulu hari ini.” balasku dengan nada malas.


“ Loh kekasih kamu kemana? Sedang berselisih yah?” tanya Axel kembali.


“Aku tidak memiliki kekasih Kak! Mengejek saja.” balasku dengan tatapan sinis, Axel yang melihatku seperti itu hanya membalas dengan tertawa terkekeh. Aku pun segera beranjak berdiri dari bangku karena sudah merasa bosan ditambah dari tadi Axel tidak beranjak pergi juga.


“Loh? Kok kamu mau pergi Nate?” tegur Axel yang kemudian ikut berdiri juga.


“Bosan aku! Ditambah ada Kak Axel.” balasku dengan cuek sambil memandang sinis kepada Axel.


“Loh maaf-maaf! Kamu duduk saja aku yang beranjak pergi deh.” ujar Axel sambil menahan lengannku. Aku melihat ke arah tangannya yang memegang lengannku, Axel yang menyadari segera melepaskannya.


“Maaf lagi!” ujar Axel dengan posisi tangan meminta maaf.


“Tunggu Nate! Mau aku temani tidak?” ajaknya padaku.


“Tidak usah! Nanti Ayah mencari kamu loh.” balasku sambil senyum.


“Besok-besok kan datang kembali lagi.. santai saja!” balasnya dengan senyum juga.


“Yah terserah..” kataku yang tak peduli. Axel pun tersenyum dan segera berjalan ke arahku.


“Mau kemana? Mau makan yang manis-manis atau mau pergi ke tempat yang belum kamu kunjungin?” tawar Axel sambil berjalan disampingku.


“Menurut Kak Axel enaknya bagaimana?” tanya balikku kepada Axel.


“Hmm, sebentar..” ujar Axel sambil berfikir.


“Nate? Axel? Kalian mau pergi?” tegur Ayah yang sudah berada di luar kasir sambil membawa roti yang akan diberikan pada Axel. Aku dan Axel kompak menoleh ke arah Ayah.


“Oh Om! Iya aku dengan Nate akan keluar.” ujar Axel yang berbalik dan menghampiri Ayah.


“Mau kemana?” tanya Ayah sambil melihat kepadaku.


“Mau keluar saja Ayah mencari angin.” kataku sambil menghampirinya juga.


“Mau membawa rotinya?” tanya Ayah yang menawarkan kepada Axel. Aku memandang ke arah Axel dan begitupun dengan Axel kepadaku. Axel pun langsung tersenyum dan segera mengambil roti yang berada di tangan Ayah.


“Boleh Om!” katanya yang sekarang sudah memegang roti yang tadi Ayah bawakan.


“Jangan pulang terlalu malem yah Nate!” tegur Ayah sambil tersenyum melihat kepadaku.


“Iya..” balasku.


Aku dan Axel segera berpamitan dengan Ayah yang kemudian kami pun berjalan menuju pintu keluar toko. Axel segera berjalan agak cepat menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari toko roti Ayah. Aku yang melihat dari kejauhan agak kebingungan untuk mengatakannya bahwa aku tidak terbiasa menaiki motor.


(Serius menaiki motor? Lebih baik aku naik bis umum saja! Dari pada aku dimarahi oleh Kak Nathan.)


Axel pun menungguku sambil memanaskan motornya. Aku yang sudah sampai disampingnya hanya terdiam karena bingung.


“Kok diem saja? Yuk naik!” ajaknya sambil memberikan helm kepadaku. Aku menerima helm yang diberikan olehnya dan masih kebingungan. Axel pun kembali menegurku.


“Loh? Kok tidak dipakai sih itu helm? Yuk cepet! Sudah penah menaiki motor kan?” tanyanya kembali yang memastikan.


“Sudah sih Kak! Hanya aku tidak biasa naik motor!” jelasku sambil mengigit bibir. Axel memandangku dengan seksama karena tak yakin.


“Serius? Tapi waktu itu kamu naik motor dengan teman kamu?!” ujarnya kembali.


“Itu terpaksa! Kalau sampai Kak Nathan dan Ayah tahu aku naik motor bisa terkena marah!” terangku dengan muka memelas. Axel yang melihat langsung memasang ekpesi bingung.


“Begini saja deh aku tidak akan membawa dengan mengebut kok! Kalau aku mengebut kamu teriak saja! Oke?” ujarnya yang memberikan solusi.


“Hmm, oke kalau begitu!” balasku yang kemudian menggunakan helm yang diberikan oleh Axel. Aku pun segera menaiki motornya dengan hati-hati dan kedua tanganku memegang pinggang Axel karena takut. Axel yang menyadari bahwa aku memegang kepadanya hanya melihat ke bawah dan tersenyum.


“Sudah siap?” tanyanya sambil senyum yang tetap fokus ke depan.


“S-Sudah!” balasku dengan tegang.


“Oke!” ujarnya yang kemudian menjalankan motornya dengan perlahan.


*****