
Jun berjalan menuju ruangan yang dijadikan untuk kafe jurusan Manajemen. Disana sudah ramai orang yang sibuk mempersiapkan acara untuk esok hari. Orang yang mengetahui kehadiran Jun begitu sangat bersemangat, seperti ada energi baru masuk ke ruangan tersebut.
Namun Jun acuh tak mempedulikan mereka yang berusah ingin dekat padanya, dia hanya membalas dengan senyuman dan menyapa sekedarnya. Sebab dia sedang fokus melihat sekitarnya mencari seseorang yang ingin sekali dia temui. Tanpa disadari orang yang dimaksudkan tersebut tak jauh dari jangkauannya.
(Itu dia!)
Batin Jun. Segeralah dia menghampirinya untuk menyapanya terlebih dahulu.
“Nate?” tegur Jun, Nate yang tak tahu akan kehadiran Jun mendadak memasang mimik terkejut. Jun yang melihat reaksi Nate hanya tersenyum kecil.
“Kak Jun? Kok disini? Bukan panitia kan?” tanyaku yang terkejut akan kehadiran Jun ini.
“Bukan. Tapi aku jadi sukarela untuk membantu seksi dekorasi.” balas Jun yang sekaan-akan sudah siap membantu.
“Oh oke, kalau begitu Kak Jun kebetulan aku ingin meminta tolong untuk dekorasi diatas situ.” tunjuk Nate ke arah yang dimaksudkan, Jun melihat yang dimaksudkan Nate dan dia mengerti akan tugasnya.
“Hanya ditempelkan begitu saja?” tanya Jun dengan melihat ke arah Nate.
“Yup! Sini aku bantu memegang tangga dari bawah dan dekorasinya. Kakak fokus naik dahulu saja nanti kalau butuh aku tinggal angkat ke Kakak dekorasinya.” terangku sambil berusaha mengambil tangga yang tak jauh dari situ. Jun segera membantuku dan tidak membiarkanku membawa tangga tersebut.
“Posisinya disini Nate?” tanya Jun yang memastikan posisinya sesuai yang dimaksudkan Nate.
“Iya Kak, yuk cepat Kak Jun naik. Aku pegangkan ini tangganya agar tidak bergeser. Tidak takut ketinggiankan?” tanyaku kembali meyakinkan Jun.
“Yah tidaklah! Kalau takut aku tidak akan lulus dan dapat lisensi penerbangan.” Celetuk Jun sambil berusaha naik tangga.
(Serius? Keren juga!)
Batinku dengan mimik wajah tak menyangka.
“Mana Nate kemarikan..” pinta Jun yang sudah diposisi, dan mengulurkan tangannya padaku.
“Oh, ini Kak..” balasku dengan memberikan dekor padanya, tak sengaja tanganku bersentuhan dengan tangan Jun. Aku yang menyadari merasa kikuk sendiri, Jun pun menyadari namun dia hanya tersenyum kecil dan pura-pura tak menggubrisnya.
(Tangannya dingin. Jadi kikuk begini sih ke dia.)
Aku berusaha biasa saja dan mengganggap kejadian tadi hanya kebetulan. Jun fokus memasang dekorasinya, aku menunggu dibawah tangga sambil menahan tangganya agar tak bergeser sambil mengawasi Jun.
“Ini disini Nate?” tanya Jun sambil menahan dekornya.
“Agak ke kanan dikit Kak.” aku memandunya.
“Begini?”
“Dikit lagi”
“Sudah?”
“Iya sip!”
“Lem tembaknya?” pinta Jun sambil mengulurkan tangannya.
“Ini..” aku memberikan dan tanganku bersentuh lagi dengannya, sedangkan Jun hanya tersenyum.
(Sengaja mungkin yah?)
Aku memasang mimik wajah yang mencurigai Jun.
“Ada lagi?” tanya Jun sambil menoleh ke bawah melihatku.
“Sudah Kak.”
“Oke, aku turun!” Jun segera turun dari tangga perlahan, aku fokus memeganggi tangganya. Namun tak sengaja Jun hampir terpleset sedikit ketika tangga terakhir, aku segera memegang tangannya untuk menahan agar dia tidak jatuh ke bawah.
“KAK JUN!” kataku dengan nada sedikit keras karena khawatir. Semua orang menoleh ke arahku, mungkin khawatir juga atau sekedar ingin tahu.
“Haha, tak apa-apa aku menahan juga ini.” balas Jun yang menahan badannya dengan memegang tembok. Yang lain pun segera menghampiri Jun untuk memastikan dia baik-baik saja. Aku melihat beberapa wanita melirik dengan tatapan sinis, seakan-akan aku tak becus menjaga barang berharga yang mereka miliki. Aku hanya terdiam, karena aku tak mau memperpanjang itu semua.
Jun segera berdiri dan meyakinkan orang yang mendekatinya bahwa dia baik-baik saja dan tak terluka. Lalu semuanya pun bubar dan meninggalkan aku dan Jun saja.
“Benar tidak apa-apa?” aku memastikan kembali pada Jun dengan nada cemas.
“Iya, lihat saja.” ucapnya sambil memastikan padaku. Aku melihat-lihat memang tidak ada yang terluka atau lainnya.
“Hati-hati yah Kak.”
“Kamu khawatirkan aku?”
“Iyalah, nanti kalau Kak Jun jatuh aku yang akan dimusuhin satu jurusan.” balasku dengan mimik wajah serius.
“Bukan urusan mereka untuk memusuhi kamu karena aku!” jawab Jun yang tak suka mendengarnya. Aku terkejut mendengarnya.
“Tapi Kak Jun kan ‘kekasihnya’ anak wanita jurusan Manajemen..” terangku. Jun melihatku dengan tatapan tak suka mendengar hal tersebut, aku yang menyadari hanya terdiam karena merasa salah berucap.
“Mereka semua tidak punya hak untuk memberikan julukan seperti itu kepada aku! Mereka pikir, mereka itu siapa?” balas Jun dengan memasang mimik wajah tak enak dan segera berjalan meninggalkan aku yang masih terdiam.
Namun langkah Jun terhenti sejenak dan menoleh sedikit padaku.
“Kamu lebih suka yah menyentuh tanganku? Dibandingkan meyentuh perasaan tulusku?” Aku terkejut dengan ucapannya itu. Belum aku membalas pertanyannya itu Jun sudah berjalan kembali pergi keluar ruangan meninggalkan aku yang masih terpaku terdiam mendengarkan ucapannya itu.
“Apa sih yang dia pikirkan?” gumamku sendiri.
*****
“Tidak!”
“Ketus sekali.” Keluh Wira dengan mimik heran.
“Biarkan! Belum habis juga minuman aku!” ucap Jun dengan kembali menenggak minuman.
“Sudah sih, tidak usah uring-uringan begini. Cerita!” perintah Wira yang sudah tak betah dengan kelakuan temannya dari tadi.
“Wanita itu rumit yah Wir?!” Jun mulai membuka bahasan, Wira membalas dengan memandangnya kebingung.
“Baru aku mendengar kamu membahas wanita segininya sekali.” ujar Wira yang masih tak nyangka.
“Jawab!” kata Jun yang tak suka bertele-tele.
“Oke, oke..! Tidak rumit sih Jun, tergatung kamu bersikapnya saja.” balas Wira sambil minum.
“Maksudnya?”
“Yah tergantung kamu bersikap, memang kamu kenapa lagi? Kamu kan sedang dekat dengan Natasha?” terangnya yang memastikan apa yang sedang Jun maksudkan.
“Bisa dibilang!”
“Loh?”
“Kalau yang didekati tidak peka bagaimana?” tanya Jun kembali.
“Serius deh, kamu tuh sudah mendekati dia bagaimana saja?” Wira memasang mimik wajah yang masih bingung.
“Yah pada umumnya saja. Perhatian, peduli, dan khawatir.” terangnya dengan santai.
“Terus?”
“Yah dia masih berpikir aku itu ‘kekasihnya’ wanita anak jurusan! Dia tidak bisa membedakannya mungkin yah, bagaimana aku bersikap dengan dia dan wanita-wanita lain?” terang Jun sambil memijit perlahan di dahinya.
“Yah, mungkin dia masih berpikir begitu karena selama ini kamu memang baik ke semua wanita jurusan. Mungkin kamu harus mengurang-ngurangi dalam hal seperti itu, supaya dia bisa melihat kamu Jun..” terangnya. Jun terdiam sesaat, masih tidak yakin dengan yang diucapkan Wira.
“Tapi kan aku mengajaknya makan hanya ke dia saja..”
“Berdua saja?”
“Iyalah..”
“Oke berarti dia yang tidak peka!”
“Serius?”
“Iyalah..Cindy saja peka!”
“Siapa lagi Cindy?”
“Kekasih baru aku lah!”
“Loh! Itu kan Cindy, ini Natasha?!”
“Yah iya kamu harus yang lebih dan lebih ke dia. Dahulu ketika Cindy aku berikan sinyal-sinyal suka saja dia sudah sadar kalau aku tertarik dengannya. Mungkin Nate itu tidak terbiasa dekat dengan lelaki lain selain sahabat dan keluarganya jadi dia tidak peka dengan yang kamu lakukan ke dia sekarang.” jelas Wira sambil makan kacang, Jun diam dahulu sejenak memikirkan sesuatu.
“Kalau aku menarik ulurya, bagaimana?"
Wira menaikan satu alisnya mendengar ucapan Jun.
“Layang-layang mungkin kamu tarik ulur Jun!” sontak Wira menepak bahu Jun, namun Jun yang kena pukulannya memandang dengan wajah sebal.
“Ini hati bos! Bukan mainan!” celetuk Wira dengan nada mengejek.
“Wanita itu simpel! Hanya disabarkan saja dan dimengerti! Kamu dan dia baru saja dekat belum lama Jun! Kamu berharap ingin dia cepat-cepat peka dengan perasaan tulus kamu, kamu kira dia wanita jadi-jadian? Instan bisa paham perasaan kamu?” jelas Wira dengan wajah serius. Jun hanya terdiam mendengar ucapannya.
“Mainnya pelan-pelan saja, kalau memang kamu tulus dengan dia jangan pernah pamrih! Mengharapkan dia bisa membalas perasaan kamu! Kalau pun dia menyadari ketulusan kamu, dia akan senang hati membukannya untuk kamu.” ceramah Wira dengan gaya sok bijaknya.
“Kamu tulus dengan Cindy?” tembak Jun tanpa basa basi.
“Hm...”
“Kamu saja tidak tahu kan? Sok tahu sih, sok seperti dukun kamu!” celetuk Jun sambil menepak pundak Wira.
“Tapi kamu bisa ambil resiko? Kalau dia semakin tidak sadar kalau kamu tertarik dengan dia bagaimana?” jelas Wira.
“Masih aku pikirkan. Aku hanya ingin dia suka denganku secara tulus saja sih..”
“Memang apa sih yang membuat kamu suka dengan Natasha?” tanya Wira yang masih bingung dengan semua keadaan Jun.
Jun hanya tersenyum, “Memang harus ada alasannya?”
“Aihhhh, romeo! Hahaha..” ledeknya, Jun membalas dengan memberikan jari telunjuk tengahnya. Sesaat Jun terdiam sejenak memikirkan semua yang tadi sedang dibahas. Tak lama Jun pun segera beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana?” tanya Wira cemas.
“Toilet..”
“Oke."