
“Yah?”
“Dia tidak pernah seperti ini dengan wanita lain, hanya sama kamu saja aku baru melihat dia sebegitu uring-uringannya! Jadi...., mulai mencoba lihat ketulusan hatinya yah! Tidak salah kan? Aku juga lihat sepertinya kamu suka juga dengan dia, walau masih agak malu-malu. Tapi yaaaa, aku tidak memaksakan! Semua keputusan ada di diri kamu sendiri, Nate maaf mengganggu jam istirahat kamu yah! Semoga ucapan aku ini bisa membantu kamu! Dadah...” ucap Wira yang melambaikan tangannya padaku tanda pamit dan segera pergi meninggalkanku yang masih diam sendiri merenungi ucapannya itu.
(Apa yang Kak Wira ucapkan tadi sih, ada benarnya juga kok...)
Batinku yang menyadari.
Aku kembali melanjutkan makan siangku, sambil mendengarkan musik dari ponselku. Cuaca hari ini sangat indah dan cerah, perlahan tanpa sadar aku menikmati suasana yang ditimbulkan ini. berhembus angin yang terasa sejuk, seakan-akan memberikan ketenangan pada pikiranku ini. Aku melirik jam tanganku, sudah satu jam lebih aku istirahat waktunya aku kembali lagi.
“Wah sial, nanti Rere mencariku!” gumamku sendiri.
Aku berjalan menuju arah kembali dan ternyata masih ramai sekali kafenya. Aku masuk ke dalam ruang panitia, aku merapihkan make up untuk segera keluar kembali untuk melayani pengunjung kafe.
“Nate?” tegur Rere yang menyadari kehadiranku.
“Yah?”
“Kamu baru datang kembali?” tanyanya kembali.
“Iya, maaf aku istirahatnya terlalu lama yah..” ucapku yang tak enak.
“Oke. Sekarang kamu cepat ke depan yah bantu-bantu dengan yang lain.” ucap Rere yang kemudian pergi meninggalkanku.
Aku segera cepat merapihkan make up ku dan berjalan keluar dari ruangan. Ternyata semakin sore semakin ramai kafe nya, entah karena makanan yang kami sajikan enak di lidah atau harga yang memang masuk kantong mahasiswa atau mungkin dekorasi kami yang begitu menarik. Untungnya saja aku sudah terbiasa membantu Ayah bekerja di toko rotinya jadi aku terbiasa dengan pekerjaan semacam ini.
(Kak Jun?)
Bantinku sambil melirik padanya.
(Kenapa dia datang kesini? Terus itu siapa?)
Aku yang tak mau penasaran dengan siap dia datang segera mengalihkan ke yang lain. Aku melayani kembali pelanggan yang memesan menu di kafe. Aku yang hilir mudik tanpa sadar ternyata mataku dan mata Jun saling bertemu, tapi Jun segera mengalihkan pandangannya kembali dariku.
Aku terdiam.
(Tadi dia melihatku kan? Tapi tatapannya kenapa seakan-akan dia...)
Batinku sambil kedua tanganku memegang dadaku. Aku kembali melanjutkan aktifitasku, tak lama Jun selesai dan segera keluar dari kafe.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tak terasa. Kafe sudah ditutup dari jam 5 sore dan semua melakukan brifeing dahulu. Aku berisap-siap akan pulang, aku segera kembali ke ruangan panitia untuk menghapus make up dan mengganti baju. Di meja dekat dengan tasku ada minuman yang sudah disediakan untukku oleh panitia untuk kami yang bekerja di depan. Bisa dilihat tertulis namaku didepan minuman tersebut.
“Green tea latte?” gumamku sendiri sambil melihat minumannya.
“Ternyata cocok juga yah kostum itu dengan kamu?” ejek Fiona yang menghampiriku sendirian diruang make up.
Aku melihat kearahnya sekilas, dan mengacuhkannya.
“Bukan urasan kamu!” jawabku ketus.
“Tidak usah ketus Nate, aku datang kesini tidak mencari masalah kok ke kamu!” ucap Fiona sambil tersenyum.
“Terus mau apa?” tanyaku balik.
Fiona hanya terdiam tanpa berkata, “Hanya mau mengambil ini saja kok.” ucap Fiona sambil berjalan menuju meja tempat tasku untuk mengambil barang yang terletak disampingnya.
“Itu punya kamu?” tanyaku memastikan.
“Bukan, punya Annisa aku dimintain tolong dengan dia.” ucap Fiona dengan santai.
“Oh, oke.” kataku yang tak peduli dan mengabaikan kehadiran Fiona. Aku segera menghapus make upku.
“Di minum dong Nate, minuman kamu.” celetuk Fiona sambil ngeluyur pergi meninggalkanku diruang.
(Apa sih itu anak? Berlagak perhatian!)
Batinku yang mendengarnya masih terheran-heran. Namun Fiona belum keluar ada yang meghadangnya, menarik tangan Fiona berusaha menahannya agar tidak jadi pergi. Aku spontan melihat ternyata...
(Jun? Kenapa dia?)
“Kak Jun?” Fiona keheranan secara tiba-tiba Jun menarik lengannya. Jun meihatku sekilas dan kembali fokus pada Fiona.
“Iya punyaku.” jawab Fiona dengan nada ragu.
“Oh yah? Sejak kapan kamu suka green tea latte? Seinget aku kamu pernah deh menolak waktu aku memberikan rasa ini, karena kamu alergi dengan yang berbau green tea?!” ucap Jun dengan pandangan tajam pada Fiona.
“Y-yah..., A-aku...” jawabnya yang seakan-akan ketakutan.
“Wir, jaga dia!” ucap Jun menyuruh Wira yang menunggu diluar ruangan dan kemudian masuk menuruti sesuai dengan yang diperintahkan Jun.
Aku memandang kepada Wira, dan dia hanya tersenyum padaku tanpa berkata. Jun berjalan mengambil minuman yang berada didekat tasku dan berbalik berjalan ke arah Fiona.
“Minum!” perintahnya sambil menyodorkan pada Fiona.
“Itu kan minuman Nate Kak!” ucap Fiona yang menolak halus.
Jun melirik padaku dengan tatapan dingin tanpa berkata. Aku masih terdiam, menyimak apa yang sebenarnya terjadi.
(Loh? Itu minuman aku! Dan memang Fiona tadi membawa minuman juga yah? Kok aku tak sadar! Dan lagi kok sama sih minumannya?)
Gumam batinku yang masih bertanya-tanya.
“Minum!” kata Jun kembali dengan nada penekanan.
(Ada apa ini?)
Bantinku. Aku masih terdiam melihat sikap Jun yang dihadapanku, Fiona melirik kepadaku dengan tatapan kesal.
“Ada apa?” tanyaku pada keduanya.
Mereka kompak memandangku tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Kalau kamu merasa tidak ada apa-apa dalam minuman ini kenapa juga kamu harus ragu dan mengelak?” jelas Jun dengan masih posisi yang sama. Fiona terdiam sejenak meihat Jun, dan melirik kepadaku. Kali ini tatapan yang ada di matanya adalah amarah.
Fiona pun meraih minuman yang berada di tangan Jun, dan bukannya dia minum malah dia lempar. Semua isi minuman tersebut pun berserakan di lantai, dan membuat basah. Beberapa orang yang penasaran apa yang sedang terjadi berdatangan ke ruangan tersebut.
“Puas kamu?” ucap Fiona yang melihatku, kemudian pergi keluar menabrakkan bahu Wira.
Aku masih terdiam, dan aku lihat pada Jun. Dia membalas dengan wajah datar.
“Lain kali hati-hati kamu!” ucapnya tegas dan beranjak pergi meninggalkanku.
Wira menghampiriku, “Dia menukar minuman kamu Nate, yang tadi dia letakkan untukmu itu ada obat supaya kamu buang air besar terus!” ucapnya kemudian dia pergi meninggalkan aku.
Aku masih tak menyangka apa yang di perbuat Fiona. Segera berjalan keluar dari ruangan, aku melihat Jun sedang jalan meninggalkan tempat panitia namun sudah agak menjauh.
“Terima kasih Kak!” balasku dengan nada kencang. Jun diam sebentar mendengar suaraku, namun tak menggubris dia hanya terus lanjut berjalan disusul oleh Wira. Dia menenggok sekilas padaku dengan melambaikan tangan tanda pamit. Aku masih terdiam dan bertanya-tanya dalam diriku sendiri.
(Itu obat biar aku merasakan mulas sakit perut? Jahat banget kamu Fi!)
Batinku yang kesal megetahuinya.
*****
“Hei sayang, sudah makan?” kecup Ayah pada rambutku.
“Belum.” balasku yang masih dengan posisi tiduran di meja makan.
“Mau berbagi cerita dengan Ayah?” tanya Ayah yang cemas melihat putri kesayangannya dari beberapa hari lalu memasang wajah sendu. Aku hanya menghelas nafas tanpa menjawab pertanyaan Ayah.
“Seandainya Ayah punya lampu cristal ajaib, pasti Ayah akan tahu putri Ayah sedang memikirkan masalah apa saat ini dan Ayah bisa memberikannya solusi padanya...” celetuk Ayah dengan wajah akting sedihnya sambil menopang dagu yang posisi sudah disampingku. Aku membalas dengan meliriknya tanpa masih berkata-kata.
“Yah, Ayah merasa sedih dan kecewa dengan diri Ayah sendiri, karena masih tidak benar merawat anaknya sendiri...” lanjut Ayah kembali, aku masih terdiam saja tidak berucap.
“Kau tahu, terkadang Ayah ingin sekali mengadu pada Ibu mu tapi pasti dia akan kecewa sekali dengan Ayah...” lanjutnya kembali, aku mulai tak enak hati setelah mendengar ucapannya.
“Oh, Lily seandainya kamu masih disini! Pasti anak-anak akan....”
“Cukup Ayah!” potongku dengan memegang tangan Ayah.